sendiriku

February 7th, 2010

Di cafe.

Di kedai kopi.

Aku lebih senang menyebutnya demikian.

.

Aku di kedai kopi, sendiri.

Iya, sendiri saja.

.

Kesepian?

Kesepian katamu?

.

Ah, tidak.

Aku jarang sekali merasa kesepian.

Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka memang tidak selamanya bersamaku.

Tapi mereka ada.

Di dalam hati ini.

.

Tidak, aku tidak merasa kesepian kok.

Dunia ini terlalu ramai buatku.

Terkadang malah terlalu gaduh.

Bukan, bukan aku ingin mengeluh, tapi itu kenyataannya.

Semua orang ingin bersuara, bercerita, berteriak.

Ada beberapa yang memilih untuk diam.

Namun jarang yang memilih untuk mendengarkan.

Aku pun kerap lupa untuk itu.

.

Lalu, mengapa aku sendiri saja?

Kamu benar-benar ingin tahu?

.

Aku…

Aku…

Umm, aku suka.

Iya, itu saja.

Seringkali aku suka dengan sendiriku.

Aku tahu, hampir semua orang yang mengenalku berkata aku adalah manusia sosial.

Maksudnya, manusia yang senang bergaul, berkumpul dengan teman-teman.

Ah,  jangankan teman, aku juga senang bercakap-cakap dengan orang yang tidak kukenal.

Hahaha, betul, itu memang menyenangkan buatku, berkenalan dan mendapat teman baru

Bisa akrab dengan mereka dan belajar dari hidup mereka.

Tapi, aku juga suka dengan sendiriku.

.

Aku menikmatinya.

.

Aku menikmati sewaktu aku menyeruput secangkir kopi.

Aku menikmati ketika aku membaca sebuah buku.

Aku menikmati saat aku merenung sekali dua.

.

.

.

Aku,

aku juga  menikmati kala aku memikirkanmu,

membayangkanmu,

mengharapkanmu,

.

dalam sendiriku.

.

Kamu apa kabar?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Hidup Suster!

January 6th, 2010

nurse

Setelah Suster Ngesot di tahun 2007, sekarang lagi diputar Suster Keramas di bioskop-bioskop Indonesia. Yang pertama masuk kategori film horor murni, yang kedua masuk kategori film horor plus (horor plus bokep! whew!).

Saya belum (dan tidak tertarik) menonton kedua film tersebut, namun saya sudah melihat trailer-nya dan juga membaca beberapa ulasan tentangnya. Tidak, saya tidak ingin mereview lagi tentang kedua film ini. Hanya saja, saya gatal dengan digunakannya profesi ini dalam kedua kategori film tersebut. Saya bukan suster, namun saya pembela profesi ini!

Setidaknya ada 3 profesi suster yang saya kenal: (1) suster yang bekerja di rumah sakit, (2) suster yang bekerja di rumah, baik itu membantu mengasuh adik bayi/batita, maupun mengasuh kakek/nenek yang sudah tua atau sakit-sakitan, dan (3) suster yang mengabdikan dirinya untuk melayani Tuhan di biara atau di masyarakat, nama lainnya adalah biarawati.

Suster di rumah sakit

Profesi dokter memang bagus, mereka bertugas mengobati orang-orang sakit. Namun buat saya, profesi yang mulia adalah sang suster. Merekalah yang dengan sabarnya merawat pasien. Tidak hanya sekedar mengecek suhu tubuh atau memberikan makanan dan obat, mereka jugalah yang memandikan sang pasien, menggantikan pakaian, membersihkan tubuh dari luka, muntah atau darah, bahkan ketika anggota keluarganya tidak bisa melakukannya. Saya teringat akan wajah-wajah tulus suster-suster yang membantu ibu, kakek, atau keluarga saya lainnya ketika mereka berada di rumah sakit.

Suster di rumah

Kedua orang tua saya bekerja ketika saya masih kecil. Oleh karenanya, mereka mengambil seorang suster untuk mengasuh saya di kala mereka bekerja. Saya sayang sekali dengan suster saya, demikian juga dengannya. Tak heran jika kala itu saya memanggilnya “mama-ute” (baca:  “mama-suster”). Ketika saya berusia 4 tahun, orang tua saya merasa saya sudah cukup usia untuk tidak diasuh oleh suster lagi (atau mungkin juga karena faktor biaya kali yaa.. ;) ). Namun karena keterikatan yang cukup tinggi, baik saya maupun sang suster menangis tidak rela ketika hendak dipisahkan. Tidak berhenti sampai di situ. Saya pun sakit selama seminggu akibat kepergian suster saya.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, datang lagi beberapa suster yang dipanggil ke rumah untuk mengasuh kakek saya (almarhum) yang dulu sakit-sakitan. Beberapa suster yang saya maksud di sini bukan langsung beberapa orang untuk mengurus dalam satu waktu, tapi bergantian satu demi satu karena tidak tahan dengan perlakuan kakek saya. Kakek saya waktu itu sakit stroke. Stroke tersebut menyerang saraf bicaranya, sehingga susah dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk para suster. Ketika tidak dimengerti apa keinginannya, kakek saya menjadi keras sehingga wajar jika para suster itu kewalahan. Tapi usaha mereka untuk memahami kakek saya dan juga kasih sayang mereka ke kakek saya dapat kami rasakan. Mereka pernah menjadi bagian dari keluarga kami.

Suster yang mengabdi pada Tuhan dan sesama

Saya tidak akan bercerita banyak tentang hal ini. Saya memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan profesi ini. Tapi ada sosok yang saya sangat kagumi: Suster Teresa. Kamu pasti tahu betapa mulianya beliau dalam aksi kemanusiaan, bukan? :)

Tidakkah ketiga profesi tersebut sungguh sangat mulia? Saya tidak rela dan tidak habis pikir kenapa ada yang menggunakan profesi ini untuk film-film tersebut sehingga berdampak akan muncul label yang tidak baik bagi profesi tersebut. Yuk, lebih kreatif dalam membuat karya kreatif! Sound of Music atau Sister Act misalnya. Jelas mutunya, kan?

Stop penggunaan suster dalam film horor (apalagi film bokep)!!

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

jelang tahun baru

January 6th, 2010

New_Year

Tiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah :) ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

Saya juga memiliki resolusi tahun baru. Bukan sebuah resolusi baru sebenarnya. Ketika resolusi yang lama belum kita jalankan dengan baik, rasanya tidak bijak jika membuat begitu banyak resolusi yang baru, begitu pikir saya. Oleh karenanya, saya akan meneruskan sebuah resolusi yang saya namakan “a better me-project” yang telah saya mulai beberapa bulan di tahun kemarin:

(1) Body: makan dengan teratur dan mengkonsumsi vitamin, berolahraga teratur 1x setiap minggu;

(2) Soul: memiliki waktu-waktu khusus dengan Tuhan setiap hari untuk saat teduh dan berefleksi, jalan-jalan ke tempat yang baru (dan seru!) 1 kali setiap 2 bulan;

(3) Mind: membaca sampai habis 1 buku setiap minggu, menulis 1 artikel setiap minggu (ups! ketawan deh kalo suka alpa! hehe);

(4) Smile: membuat Tuhan tersenyum dengan lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh, membuat orang lain tersenyum dengan lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara (apalagi mengeluarkan kata-kata pedas! duh, virtri!)

Membandingkan resolusi saya dengan harapan dan resolusi kedua teman saya di atas membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, saya masih belum fokus, keinginan saya masih banyak. Kedua teman saya itu memiliki hanya satu resolusi, sedangkan saya memiliki beberapa. Salahkah itu? Tentu tidak! Bermimpilah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, dan tak lupa juga untuk mewujudkannya, itu yang saya pegang. Namun keahlian untuk memfokuskan diri dan belajar tentang prioritas mungkin harus saya kembangkan mulai saat ini.

Kedua, ini yang lebih penting: mereka mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan orang lain, bahkan alam, dibanding dengan diri mereka sendiri. Teringat oleh saya sebuah konsep bahagia yang pernah saya dapatkan ketika kuliah “J-O-Y: Jesus-Others-You”. Tuhan dan alam ciptaannyalah yang utama, kemudian orang lain, dan terakhir barulah kita sendiri.

Ketika kita tidak mengutamakan diri sendiri, kita telah berbuat sesuatu untuk diri kita; menjadikannya manusia yang selangkah lebih baik.

Selamat tahun baru!!! Apa resolusimu di tahun yang baru ini?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Cicak, Buaya dan Tikus di Taman Belajar

November 8th, 2009

cicak buayaKemarin sore, saya ke rumah sahabat saya. Sahabat saya memiliki taman belajar gratis di tiap sabtu sore bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Sekitar duapuluhan hingga tigapuluhan anak dengan semangat tinggi datang untuk belajar di sana.

Keluwesan sahabat saya dalam bertutur, semangatnya untuk berbagi ilmu, dan kecintaannya kepada anak-anak, telah berhasil menawan hati anak-anak yang berusia lima hingga tiga belas tahun itu. Inti pelajaran yang diberikan adalah bahasa inggris, namun kemasannya sangat beragam. Mulai dari tanya jawab, bertutur, bercakap, bercerita dongeng, bernyanyi, bermain, sampai dengan diskusi.

Nah, kemarin itu sahabat saya cukup mengagetkan saya dengan mengangkat topik diskusi Cicak-Buaya di kelasnya. Iya, sahabat saya itu mengajak anak-anak didiknya untuk berdiskusi mengenai topik hangat yang sedang terjadi di tanah air ini. Rupanya anak-anak itu cukup merasa dekat dengan isu tersebut, namun tidak mengetahui apa yang terjadi. Ya, tentu saja mereka mengetahui isu itu dari bombardir siaran televisi belakangan ini.

Alhasil, jadilah kemarin itu terjadi sebuah diskusi politik yang sederhana. Sahabat saya menjelaskan tentang apa itu lembaga KPK dan perannya, tugas polisi, pengertian korupsi dan koruptor, hingga korelasinya dengan cicak dan buaya (dan juga tikus). Untuk memudahkannya dalam menjelaskan, beberapa anak diminta ke depan untuk berpura-pura menjadi cicak, buaya, dan tikus. Tak lupa, sahabat saya juga menjelaskan tentang istilah-istilah wewenang, menyadap, dan menyogok, lengkap dengan kosa kata bahasa inggrisnya dan moral dari kejadian ini.

Hal yang menarik buat saya adalah ternyata sebagian besar anak-anak itu cukup antusias dalam berdiskusi tentang hal ini. Kedekatan mereka dengan media televisi rupanya membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Informasi yang sepotong-sepotong mereka terima bisa jadi akan menyesatkan cara berpikir mereka. Misalnya, ketika sahabat saya itu bertanya kepada mereka,

“Ayo, siapa yang tahu tugasnya polisi itu apa???”

dan mereka menjawab spontan,

“Menangkap KPK!!!”

(glek, saya tersedak dan tertawa-tawa pada saat ini terjadi)

Adalah kita, saya dan anda, yang dapat berbuat sesuatu kepada adik-adik dan anak-anak di sekitar kita. Bahwa bekal untuk menyongsong masa depan tidak cukup dengan matematika, ilmu alam, bahasa, agama. Bahwa pendidikan politik sejak dini juga akan membantu menciptakan generasi kritis dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

terima kasih buat sahabat saya, si senyumpagi, yang tak henti menginspirasi saya dengan taman belajarnya

Author: virtri Categories: politikana Tags:

Tips Sehat A la Virtri

October 31st, 2009

“HAH?? Sudah habis lagi, Mbak? Padahal cuma minum sendiri ya? Itu pun cuma malam-malam atau pagi-pagi benar!”, demikian komentar mas-mas di tempat kost saya, ketika saya beli 1 galon air mineral barusan.

Menurutnya siklus saya membeli 1 galon air mineral, menghabiskannya (yang hanya di malam dan pagi hari karena pagi sampai malamnya saya pergi bekerja), kemudian membeli lagi, termasuk cukup cepat dibandingkan dengan ke-35 teman-teman kost saya yang lain, termasuk yang tinggal berdua dengan suami/istri mereka.

“Kan sehat, mas minum banyak air putih!” celetuk saya sekenanya.

“Betul juga sih, mbak!”

———

Setelah masuk kamar, saya kemudian berpikir, mungkin benar juga bahwa saya cukup sehat selama ini berkat mengkonsumsi air putih banyak-banyak. Sejauh ini saya belum pernah masuk rumah sakit. Sepertinya dalam daftar catatan penyakit saya selama hidup ini, belum pernah tercatat kasus yang terbilang parah. Sebut saja pilek, batuk, pusing (biasanya karena kerjaan), masuk angin (obatnya cuma minyak kayu putih saja, dijamin langsung sembuh!), jerawatan (terhitung sakit ga?), korengan (waktu kecil sering banget! hihihi),  sakit perut jika sedang haid (ugh, saya kategorikan ini sebagai sakit yang cukup parah), dan yang terparah adalah cacar air (ini pun sembuh hanya dalam hitungan hari). Jadi, boleh dong saya berkata bahwa saya cukup sehat dan saya akan membagi beberapa tips untuk hidup sehat yang tiba-tiba terlintas di benak saya.

1. Konsumsi air putih banyak-banyak

Selain siklus cepat dalam menghabiskan galon di kost, di kantor, ketika saya bekerja, saya pun menghabiskan lebih dari 1 teko air setiap harinya (di luar jam makan siang). Di mobil saya pun hampir selalu tersedia air mineral ukuran kecil yang bisa dihabiskan dan diganti lagi. Selain rasanya yang enak (buat saya, tawar itu terkadang nikmat), khasiat air putih sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Beberapa saudara saya mengkonsumsi air putih sebagai terapi penyembuhan sakit-sakit mereka. Oh iya, selain sehat, air putih juga berkhasiat untuk membuat orang semakin cantik atau ganteng. Maksudnya, membuat kulit lebih sehat.

2. Olah raga

Huahaha, semua orang juga tau kalo olah raga membuat orang menjadi sehat. Tips yang basi dan saya tidak kompeten untuk menulis masalah ini (karena saya termasuk orang yang jarang olah raga, namun sedang mencanangkan diri untuk setidaknya berolah raga 1 kali dalam seminggu). Tips saya dalam hal ini, sederhana saja: cari olah raga yang kamu sukai, dan lakukan! Saya sangat menyukai berenang, buat saya itu olah raga terbaik yang membuat kita tidak berkeringat dan membuat kita senang. Kamu suka apa?

3. Tidur

Tidur itu nikmat banget! Semua lelah akan pulih ketika kita bangun tidur. Ada jam-jam tertentu, jika saya tidak salah di waktu dini hari, ketika hormon-hormon anti-stres akan diproduksi jika kita tidur di jam tersebut. Jadi, jangan sering-sering begadang ya!

4. Mencintai & Dicintai

Ketika mencintai seseorang dan dicintai seseorang, semangat akan muncul dan tubuh dengan sendirinya menjadi lebih sehat. Kita pun cenderung menjaga kesehatan demi bisa melakukan aktivitas bersama orang-orang yang kita cintai.

5. Bahagia

Ada frasa yang cukup populer ‘men sana in corpore sano‘ (bener ga ya ejaannya?), artinya di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Itu benar, tapi menurut saya yang lebih tepat adalah “jiwa yang bahagia membuat tubuh menjadi sehat”. Adakasus-kasus yang menceritakan bahwa perasaan bahagia akan mempercepat proses penyembuhan orang yang sakit, dan ada juga kasus ketika orang yang fisiknya sehat bisa sakit karena tekanan dalam jiwanya.

Ah, dunia dan alam terlalu indah, hidup dan waktu terlalu singkat, sayang jika tidak kita nikmati. Saya yakin, perasaan bahagia akan membuat hidup menjadi lebih sehat.

*karena tulisan ini cuma bersifat ‘tiba-tiba terlintas di benak saya’ dengan kata lain ‘wangsit’ semata, jadi kamu boleh dipercaya, boleh tidak! huehehehe*

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Body, Mind, Heart

October 18th, 2009

mind heart body

 

 

Belakangan ini saya lagi dihinggapi rasa takut kehilangan. Bukan, bukan takut kehilangan dompet atau telepon seluler, karena dua benda ini termasuk hal yang biasa hilang bagi saya. Alasannya bukan karena saya kaya, tapi karena saya super teledor! Duh! :(

Bukan juga takut kehilangan pacar, karena kalau pacar sampai hilang, ya di telepon saja, pasti ketemu! Kan kita sama-sama punya telepon seluler. Eh,tapi kalau telepon seluler saya lagi hilang? (Yaaa, mari kita gunakan peluang ini untuk cari pacar baru! hihihi)

Saya kemudian mencoba membuat daftar tentang hal apa saja dalam diri saya yang akan membuat saya takut jika harus kehilangan. Bagi saya setiap manusia terbangun dari susunan fisik, pikiran dan hati. Bahasa ngetopnya Body, Mind and Heart.

Body

 Saya sempat berpikir, apakah yang akan terjadi jika saya kehilangan anggota tubuh saya?

Misalnya kedua mata saya, hingga saya tidak bisa melihat indahnya alam dan indahnya senyum yang terlukis di wajah manusia-manusia di sekitar saya.

Atau telinga saya, sehingga saya tidak bisa mendengar alunan musik jazz yang biasanya saya nikmati di kala saya bekerja, atau deru suara ombak yang membuat hati tergetar ketika saya menikmatinya di pinggir pantai, atau juga suara merdumu, gelak tawa canda, dan senggukan tangis kita.

Atau lidah saya, sehingga saya tidak bisa lagi mengecap nikmatnya nasi putih yang masih mengepulkan panas dengan kombinasi tempe goreng, pete bakar,  terong rebus dan sambel  terasi pedas (slurp, saya jadi meneteskan air liur ini, hehehe), juga aneka makanan minuman lain yang luar biasa sedap itu.

Atau tangan dan kaki saya, sehingga saya tidak lagi dapat beraktivitas dengan wajar, saya tidak lagi dengan mudahnya berpetualangan menjelajahi pelosok nusantara dan meraih mimpi saya mengarungi dunia.

Ah, tentunya sangat tidak mudah jika saya kehilangan satu atau beberapa bagian anggota tubuh saya. Namun, saya teringat akan orang-orang hebat yang tetap bisa menjalani hidup mereka dengan segala kekurangannya dan hidup mereka begitu luar biasa, begitu bermakna, lebih dari mereka yang sempurna secara fisik.

Dan saya berpikir, saya pasti akan sedih tak terhingga jika harus kehilangan anggota tubuh saya, tapi saya pikir, saya akan bisa menjalaninya jika hal tersebut terjadi pada saya (meski saya tidak mengharapkannya).

 

Mind

Sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri berlebih, saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa saya merasa diri saya cukup cerdas (*gubrak! narsis to the max mode on, hehehe*). Cerdas yang dimaksud di sini adalah kemampuan berpikir dan menalar (jadi, banyak toh yang termasuk orang cerdas, termasuk kamu juga :) ).

Saya tidak pernah terganggu dengan penampilan fisik saya, saya tidak pernah ambil pusing dengan standar kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. Saya tidak pernah iri dengan mereka yang dikatakan cantik dan seksi. Saat ini kulit saya sawo gosong, rambut saya pendek, wajah saya kusam berjerawat, badan saya kurus tidak berbentuk, tapi saya tetap merasa saya cantik. Saya jarang sekali terganggu dengan apa kata orang jika terkait dengan masalah fisik.

Namun jika terkait dengan masalah kecerdasan, jika saya dikatakan bodoh, lambat, kurang berpengetahuan, seringkali saya terusik, tidak gampang terima. Ketika melihat orang-orang di sekitar saya yang cerdas dan tokoh-tokoh  yang pandai, saya kagum dan iri, ingin seperti mereka dan kamu. Iya, kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Meski tidak secerdas mereka dan kamu, saya pikir saya masih masuk dalam kategori cukup cerdas. Saya termasuk pembelajar yang cepat. Saya juga cukup mampu mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di sekitar saya dan memiliki pendapat jika ditanya. Selain itu, saya juga cukup punya sedikit keahlian saya untuk menalar hal-hal yang cukup rumit, memahami hal kompleks dan menganalisanya (kok jadi mengiklankan diri begini, maaph:p)

Akhir-akhir ini, karena tekanan pekerjaan yang sedang tinggi, saya merasa otak saya melemah, tidak bekerja semaksimal biasanya. Dan saya mulai merasa kecerdasan saya menurun :( Saat-saat kecerdasan menurun seperti ini membuat saya sebal. Lalu saya berpikir bagaimana jika saya benar-benar kehilangan kemampuan berpikir saya, kecerdasan saya seutuh-utuhnya? Saya kehilangan kemampuan untuk mencerna buku yang saya baca, saya tidak bisa menuliskan apa yang ada di pikiran saya, saya tidak bisa memberikan opini tentang suatu hal.

Fiuh, ketika saya kehilangan kecerdasan, hal itu pasti akan membuat saya frustasi, rasa percaya diri saya akan hilang terbang seketika. Tapi setelah saya resapi dalam-dalam, mungkin saya akan tetap baik-baik saja juga. Kepercayaan diri saya luntur, namun saya masih akan ada. Keluarga dan sahabat-sahabat saya pasti akan selalu setia hadir bagi saya dan mencintai saya dengan apa adanya saya.

(Duh, saya kok tiba-tiba jadi merasa bersalah jika selama ini saya kerap bercanda, mengganggu teman-teman saya yang ‘tidak cepat’ bereaksi jika diajak bicara, tidak sabaran dengan mereka yang tidak bisa mengeluarkan pendapatnya, dan kadang menganggap rendah orang-orang yang yang selama ini dikatakan memiliki tingkat intelejensi rendah menurut standar IQ masyarakat kita. Ah, maafkan saya yaa..)

Heart

Jika kehilangan anggota tubuh dan kecersasan membuat saya sedih tapi saya yakin masih bisa mengatasinya, ada hal penting yang saya rasa saya tidak sanggup jika harus kehilangannya: hati.

Iya, bagi saya, inilah inti dari hidup manusia. Hatilah yang membuat saya amat sangat takut jika kehilangannya.

Kehilangan hati berarti kehilangan iman. Saya akan kehilangan kepercayaan saya kepada Tuhan. Hatilah yang selama ini membuat saya percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, yang tidak kasat mata. Hati memampukan saya merasakan keberadaan kasih Tuhan dalam dunia.  Hati membuat saya berharap akan kehidupan setelah dunia ini tidak ada. Jika hati hilang, yang tersisa adalah kekosongan jiwa dan matinya pengharapan.

Kehilangan hati berarti kehilangan seluruh perasaan dalam diri. Saya tidak bisa membayangkan jika saya kehilangan hati. Saya tidak lagi bisa merasa bahagia, sedih, bangga, cemas, kagum, khawatir, senang, semangat, puas, kecewa, iba, bersyukur dan seluruh warna perasaan yang ada di dalamnya. Hampa.

Kehilangan hati berarti kehilangan welas asih terhadap sesama; hidup yang menjadi tidak bermakna, ketidak pekaan terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, ketidakpedulian terhadap keluarga, sahabat, teman, orang lain, dunia, dan alam.

Kehilangan hati berarti kehilangan cinta.

Kehilangan hati berarti kehilangan hidup.

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Kamu Layak Bahagia

September 26th, 2009

Kedai kopi, Februari

Kamu datang sambil berlari-lari kecil. Perasaan senang jelas terlukis di wajahmu.

“Aku jadiaaannnnnn!!!!”, teriakmu sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekeliling kita menoleh dan tersenyum.

“Oh ya?? Selamaatt yaa!! Dengan dia yang kamu ceritakan padaku itu?” sambutku dengan peluk hangat.

“Iyaaaaaa.. Ah, aku seneng banggeettt. Akhirnya kami kopi darat hari minggu lalu, terus ketemu lagi hari selasa dan jalan lagi kemarin malam. Nah, kemaren itu dia nembak, dan aku terimaaa donk!”

“Wahh.. selamat ya, sayang! Aku turut senang untukmu. Facebook emang hebat deh! Mak comblang elektronik yang jitu!”

“Tulll.. Aku cinta facebook! Aku cinta dia! Kamu tau ga? Dia itu baik banget loh… Dia itu orangnya… Dia itu yaa…. dan kami… terus….”

Kita tersenyum-senyum sepanjang sore itu. Kamu berperan sebagai pencerita dan aku berperan sebagai pendengar; pendengar cerita orang yang dilanda jatuh cinta.

Restoran Padang, April

“Hai! Maaf ya aku datang sedikit terlambat”, katamu sambil menarik kursi

“Gapapa, aku juga baru nyampe kok.”

Krriiiinnnngggg….

Baru saja kamu duduk, ponselmu berbunyi.

“Bunyi hp-mu jadul amat”

“Hehe, iya. Bentar yaa…

Halo sayang… Iya, aku baru mau makan siang….. Sama sahabatku…… Ya perempuanlah, dia belum ganti jenis kelamin kok! Hehehe….. Di food court tempat kita biasa makan itu loh… Kenapa?… Engga, cuma sama dia doang, kita berdua aja kok….. Ok… I love you too, honey. Bye”

“Cieee… mesra amaatt!”, godaku.

“Iya donk.. Dia sayang banget sama aku. Aku selalu di telepon, dibangunin pagi-pagi, terus ditanyain udah sarapan, makan siang, makan malem, sampai dengan udah bobo atau belum..”

“Wah, reminder gratis tuh!”

“Hihihi, iya. Terus dia juga jaga aku banget loh. Dia mau aku aman dan baik-baik saja. Dia selalu tanya aku dimana dan dengan siapa saja.”

“Hmm, kok jadi kayak polisi. Terus kayak yang di iklan ga? Selalu tanya “Di mana? Sama Siapa? Ngapain?” Hehehe.. Ati-ati cowok posesif loh!”

“Engga lah.. Beda tau antara cowok posesif dengan cowok yang sayang banget!”

Lagi-lagi, siang itu kamu banyak bercerita tentang dia. Bagaimana dia sayang denganmu, perhatian, berusaha keras menjemput dan mengantarmu dari kost ke tempat kerja dan sebaliknya; hampir setiap hari.

Iya, semenjak kamu jadian dengannya, memang aku jadi kesulitan mengajakmu jalan-jalan seperti biasanya. Sebagian besar waktu luangmu, kamu habiskan dengannya.

Namun, aku pikir itu wajar, toh kalian memang butuh banyak waktu untuk mengenal satu dengan yang lain.

Kostmu, Agustus

Kamu yang dulu seorang yang ceria kini menjadi pendiam.

“Aku bingung! Apa aku berhenti kerja aja ya? Aku lelah dicemburui…” sembari mengatakannya, matamu sembab.

“Ngawur! Kamu kan udah mati-matian dapetin pekerjaan ini! Ini pekerjaan yang kamu impikan sejak SMA kan! Masa hanya karena dia ga suka dengan teman-teman kerjamu, kemudian kamu harus behenti kerja!”

“Yaa.. aku cari kerja lainnya aja. Yang ga banyak berhubungan dengan teman-teman kerja, dengan orang-orang lain, terutama kaum laki-laki..…”

“Fiuuuhhhh……” aku menarik napas panjang

Sekarang, kamu memang benar-benar berubah. Kadang aku tidak mengenalmu. Kamu mulai menarik diri dari Cihui Club – kumpulan 5 orang yang maniak dengan kopi & buku yang sejak di bangku kuliah sudah berteman akrab. Kamu juga tidak datang di acara reuni SMA kita di bulan Juni lalu, padahal dulu kamu ketua OSIS angkatan kita. Alasannya sederhana, karena kamu menghindar bertemu dengan mantan pacarmu dulu. Kemudian kamu meng-non-aktifkan account-mu di Facebook & Friendster, dengan alasan kamu ingin fokus kerja dan sibuk. Belakangan aku tau hal itu karena dia melarangmu menjalin relasi yang akrab dengan teman-temanmu. Huh, aku memang merasa dia sangat pencemburu. Posesif kronis lebih tepatnya. Jika saja dia tidak sedang keluar kota minggu ini, bisa jadi tidak diperbolehkannya aku main ke kostmu saat ini.

“Sepertinya dia sangat posesif terhadapmu. Kamu seperti tidak diperbolehkan bertemu dengan orang-orang lain.”

“Bukan begitu. Dia hanya sayang sama aku. Cemburu kan berarti sayang. Dia bersikap begini karena mantan pacarnya dahulu berhianat dan meninggalkan dia karena laki-laki lain. Aku harus membuktikan aku beda dengan mantannya”

“Helloooowww.. Cemburu = Sayang? Sayang caranya begini? Membuatmu tertekan? Sampai mau berhenti kerja segala?”

“Iya. Pada dasarnya dia itu baik, aku seperti menemukan sosok ayahku dalam dirinya, dia sangat perhatian dan melindungi aku. Dia juga romantis, begitu memujaku. Dia hanya keras jika ada teman laki-lakiku mendekatiku. Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan kepercayaannya kepada perempuan. Dia janji dia akan berubah suatu hari untuk tidak sekeras saat ini dalam hal itu.”

Kostku, Desember

Hari sudah larut malam dan layar ponselku menyala, ada sms masuk darimu:

“Kami baru saja bertengkar hebat. Aku di UGD sekarang, bibirku harus dijahit. Dia menamparku keras tadi. Aku sangat takut.”

Aku segera meneleponmu, namun kamu tidak jua mengangkatnya. Segera aku bergegas ke rumah sakit. Ini sudah keterlaluan!

Rumah sakit

Aku mendekati ruang UGD dan aku berhenti di samping tirai yang memisahkan aku dengan tempat tidurmu. Terdengar jelas suaranya, dengan sesenggukan dia memohon-mohon maaf padamu, dengan menangis dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

Ah, aku muak mendengarnya, kamu layak bahagia, sahabat..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Dicari: Gadis/Jejaka

August 31st, 2009

jodoh

Gadis Jawa, 27, 165/50, S1, karyawati, sawo matang, manis, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, tidak materialistis, apa adanya, sehat jasmani-rohani, senang menjahit dan memasak, serius, siap nikah.

Mendambakan jejaka, 30-40 tahun,  min.165cm, Diploma/S1/S2, kerja tetap/PNS/BUMN/swasta, menarik, baik, sabar, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, terbuka, sehat jasmani –rohani, tidak materialistis, tidak merokok/judi/miras/narkoba, menerima apa adanya, serius, siap nikah.

Jangan tertipu! Deskripsi di atas bukan tentang saya, karena deskripsi perempuan di atas terlalu bagus untuk saya. Ini hanya petikan dari salah satu rubrik tetap di sebuah surat kabar. Iya, biasanya di surat kabar atau di majalah terdapat rubrik yang menyediakan jasa perjodohan seperti di atas. Buat saya, hal ini menarik. Tujuan dari rubrik ini mulia adanya, sarana untuk membantu mempertemukan mereka yang menantikan pasangan hidupnya, jodohnya, atau tulang rusuknya yang hilang yang sekian lama dicari tak kunjung ditemukan. Sarana-sarana lain yang bertujuan mulia juga misalnya ajang pertemanan maya seperti Friendster & Facebook (hmm, setidaknya 3 orang teman dekat saya menikah berkat dunia maya ini, senangnya!). Atau, yang bisa kita saksikan di televisi, yang ratingnya lagi top-topnya adalah acara Take Him Out atau Take Me Out (saya sendiri belum pernah nonton acara ini secara tuntas sih, hehehe)

Kembali ke rubrik jasa perjodohan di surat kabar/majalah, pada dasarnya saya mendukung rubrik seperti ini.  Hanya saja, semakin saya perhatikan isi rubrik ini, isinya kok semakin monoton ya. Maksud saya monoton ya itu..ya  seperti contoh di awal tulisan ini. Semua laki-laki/perempuan/gadis/jejaka/janda/duda yang mengisi rubrik ini, sepertinya memiliki karakter yang sama satu dengan yang lainnya dengan deskripsi di atas. Semua mengedepankan yang baik-baik tentang dirinya, dan mengharapkan yang baik-baik dari calon pasangannya.

Ah, pasti anda akan mengatakan “Ya jelas tho.. Semua orang pasti mengharapkan yang terbaik untuknya”. Saya setuju 100% untuk itu. Tapi, yang menjadi ganjalan buat saya adalah hal-hal berikut ini:

1)      Hal-hal fisik selalu dijelaskan dan sepertinya mendapat tempat utama di rubric itu, misalnya usia. Apa salahnya jika usia berbeda jauh atau misalnya yang perempuan lebih tua dibanding yang laki-laki. Tingkat kedewasaan seseorang juga tidak diukur dari usia bukan? Kemudian tinggi badan/berat badan. Duh, penting ya? Bukankah tiap orang unik adanya?

2)      Sifat-sifat yang dideskripsikan tentang mereka atau yang diharapkan dari pasangannya kok bagus-bagus semuanya  ya? Rasanya mustahil, meskipun bisa saja ada mereka yang seperti itu, tapi saya dan orang-orang/teman-teman yang saya kenal selama ini jarang banget tuh yang memenuhi kriteria  semua sifat itu (apa saya salah pergaulan ya? * berefleksi mode on*).

 Sebagian dari sifat-sifat baik itu pastinya ada di diri tiap manusia. Tapi jika semua sifat tersebut ada dan semua orang seperti itu, kok saya jadi ngeri ya hidup dengan manusia yang homogen, yang sama semua, dan baik-baik semua (dan saya pasti akan berefleksi lagi, saya masih di dunia ataukah sudah di surga? Hihihi).

 Harusnya sifat yang baik diimbangi dengan sifat yang masih harus diperbaiki, misalnya: baik dan ramah, tapi mudah emosi, tidak suka masak, tapi suka belanja makanan sekaligus pintar menawar . Nah, cukup seimbang kan :)

 Namun, di samping ganjalan-ganjalan itu, ada hal-hal yang saya suka dari rubrik tersebut, antara lain sudah mulai terlihat adanya mereka yang terbuka terhadap masa lalu calon pasangannnya. Misalnya, tidak ada syarat khusus untuk asal suku/etnis pasangannya demi terciptanya Indonesia Raya. Lalu, seorang gadis tidak hanya menginginkan jejaka, tapi juga ok-ok saja dengan duda (meskipun kadang-kadang masih ada embelnya: duda yang ditinggal meninggal istrinya. Duh!). Para jejaka juga sudah mulai membuka diri terhadap janda (meskipun kasus ini jaraaannngg sekali saya temui).

 Saya juga suka dengan satu pernyataan sifat yang sering muncul, yakni memiliki sifat “apa adanya”. Apa adanya bukan berarti “saya ada apa-apa” (hehehe), tapi berarti “saya ya begini keadaannya (baik dan buruk)”.  Harusnya pernyataan ini cukup, tanpa harus dibumbui (terlalu) banyak sifat baik, yang jadi terlihat dibuat-buat.

 Saya orang yang percaya bahwa manusia pada dasarnya tidak sempurna, masih banyak memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Dengan menjadi makhluk sosial, salah satunya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis, maka terbukalah ruang untuk saling memperbaiki diri masing-masing, belajar menjadi yang terbaik untuk pasangannnya dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang terus-menerus berproses, bukan makhluk ting ketiplak ketipluk sudah terbentuk sempurna sifatnya.

 Ah, saya terlalu banyak cakap ya. Menikah saja belum, sudah banyak omong mengenai harus dan tidak harus dalam sebuah jalinan asmara laki-laki & perempuan! Tua juga belum, sudah banyak omong tentang manusia sebagai makhluk berproses! :p

 Saya hanya seorang perempuan cerewet yang tiba-tiba kepikiran kalau saya gabung di rubriktersebut, saya akan menuliskan seperti ini:

 Gadis (sepertinya sih masih), 27 tahun (itu hanya usia lho, karena kata orang-orang: tampang saya jauh lebih tua dari usia saya, kelakuan saya jauh di bawah usia saya, kekanak-kanakan maksudnya), bentuk tubuh tidak seproporsional orang pada umumnya (tapi saya bersyukur pada Tuhan untuk tubuh saya), warna kulit belang-belang putih-coklat-hitam, dengan beberapa bekas luka di kaki (waktu kecil pernah korengan soalnya, hihihi), ga manis, ga terlalu cantik (meski saya suka narsis di depan cermin), kurang bertanggung jawab, kurang perhatian, sehat jasmani (sejauh ini) dan rohani (dalam arti tidak gila), ga merokok tapi suka minum anggur/bir (meski tak pernah sampai mabuk), ga bisa masak, ga bisa jahit, belum siap menikah dan belum tahu akankah setia atau tidak, karena sampai sekarang masih suka lirak-lirik laki-laki yang ok punya, hihihi

Dan saya mendambakan………….  laki-laki yang mencintai saya apa adanya :)

 Kira-kira, ada ga ya yang mau sama saya? Hehehe..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

ketika aku mati

July 31st, 2009

Ceritanya aku baru pulang dari acara perpisahan teman kantor. Dua orang sekaligus. Sedih deh :(

Namun kali ini aku tidak akan berbicara banyak tentang acara perpisahan kedua temanku itu. Hanya saja, sepulang acara itu aku jadi berpikir mengenai saat ketika aku mati :)

Hihihi, aku tidak berencana menakut-nakuti kamu dengan berbicara mengenai kematian, yang banyak orang katakan tabu untuk menyebut-nyebutnya. Aku juga tidak bermaksud lancang melanggar papaku yang pernah menegurku ketika aku berbicara mengenai kematianku kelak, ketika aku mengatakan aku mau menyerahkan anggota-anggota tubuhku yang masih bisa berfungsi untuk orang-orang yang membutuhkan (ah, semoga saja masih banyak yang bisa berfungsi dengan baik, mengingat pola makan dan olah ragaku yang semrawut, hehehe). Waktu itu papa berkata, “Hush, kamu ini ngomong apa tho, de? Ga baik ngomong2in kematian diri sendiri! Ga bagus!” Tanpa mengurangi rasa hormatku pada papaku tercinta, bagiku, berbicara mengenai kematian adalah hal yang wajar, sama seperti kita berbicara mengenai kelahiran, pernikahan, atau hal-hal lain dalam hidup.

Iya, tadi pada inti acara itu – seperti halnya pada acara perpisahan2 lainnya – tersebutlah sesi menyampaikan ucapan perpisahan. Setiap orang bergiliran menyampaikan perasaan, pendapat & kenangan pada orang yang akan berpisah, dalam hal ini mereka meninggalkan kita dan pindah ke kantor yang baru. Biasanya yang disampaikan adalah hal-hal baik yang kita alami dan kenang dengan dan dari orang tersebut. Aku yakin kamu pernah juga mengalami momen-momen ini bukan? Entah kamu yang meninggalkan atau kamu yang ditinggalkan.

Pikiranku pun melayang, ke saat ketika aku mati, kelak. Itu juga menjadi sebuah ajang perpisahan. Setiap orang yang kukenal dalam hidupku, yang memiliki pengalaman denganku, baik pengalaman manis atau pahit, akan memiliki pendapat dan perasaan tersendiri terhadapku. Kamu misalnya. Cara kamu mengenangku, pasti akan berbeda dengan orang lain yang mengenalku: keluargaku,sahabat-sahabatku, teman-teman sekolah, teman-teman kantor, teman-teman sepermainan, bahkan dengan mereka yang hanya sekali dua atau mungkin kerap bersua denganku lewat sapa atau kata.

Ketika aku mati, saat itu adalah saat terbaik untuk kamu dan mereka jujur mengatakan – meskipun tanpa suara – tentang siapa aku sebenarnya; tentang bagaimana aku dikenang.

Bila saat itu datang, aku jadi bertanya-tanya sudahkah aku mencapai tujuan hidupku pada orang-orang yang kutemui dalam hidupku?

Sudahkah aku berhasil melukis senyum pada wajahmu dan wajah-wajah mereka yang pernah dan kerap bersua dan bersapa denganku?

Atau justru sebaliknya, sedih dan luka pernah kubuat sehingga meninggalkan gores pada hatimu, juga pada hati mereka?


(ah, mumpung saat itu belum tiba! aku harus lebih banyak bekerja keras untuk menjadi seorang pelukis senyum! belakangan ini lidahku sangat tajam, sangat mungkin banyak hati yang tersayat olehnya. juga raut wajahku yang kerap kulihat masam akibat berbagai tekanan yang harusnya tidak perlu aku lebih-lebihkan atau tunjukkan. bagaimana bisa aku menjadi pelukis senyum di wajah orang jika tidak bisa kuawali dengan melukisnya di wajahku terlebih dulu. dan ah benar, kedua telingaku, juga hatiku, sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan untuk menjadi pendengar yang baik. ayo virtri, bekerja keraslah untuk itu!)

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Si Biang Kerok Kemacetan jakarta

June 11th, 2009

macet1

Jakarta macet? Perjalanan ke kantor memakan 2 – 3 jam? Ah bukannya itu soal biasa, makanan sehari-hari warganya bukan?

Masalah kemacetan di ibukota ini sudah menjadi pekerjaan rumah bagi gubernur Jakarta dari waktu ke waktu. Masalah yang sulit sekali diselesaikan. Mobil, motor, bis, angkot, truk, dan kendaraan lainnya yang tumpah ruah di jalan tidak sepadan dengan kapasitas jalannya. Bayangkan saja, 8.5 juta penduduk ada di kota ini. Dan jumlah itu membengkak di siang hari akibat para penglaju yang datang bekerja dari daerah lingkar luar Jakarta.

Penyebab kemacetan itu banyak sekali. Arus padat di jam pergi dan pulang kerja, lampu lalu lintas yang tidak berfungsi, kecelakaan lalu lintas, pembenahan jalan (baik penyempitan atau pelebaran jalan, dua-duanya membuat jalanan bertambah macet), banjir, kampanye Pemilu dengan pengerahan massa besar-besaran, dan sederetan penyebab lainnya.

Namun, ada 2 penyebab yang saya unggulkan sebagai nominator penyebab kemacetan yang paling menyebalkan hati saya.

Si Raja Jalan

Bis kota yang ugal-ugalan. Si raja jalan yang nekad, demikian saya menyebutnya. Mereka ini melaju seenak hatinya dan berhenti seenak perutnya. Berebutan mengambil dan menurunkan penumpang tepat di tengah-tengah jalan, itu kebiasaan mereka. Mengambil jalan yang berada di bahu jalan, menghegemoni jalan yang diperuntukkan untuk transjakarta, melintang di tengah jalan (berhenti dalam posisi miring dengan kecondongan sempurna) dalam rangka menyalip kendaraan di sekitarnya, meraung-raung dengan keras dan mengeluarkan kepulan asap hitam dari knalpotnya, sampai dengan berputar balik arah dengan cara menaiki batas jalan, itu semua keahlian mereka. Tidak perlu kaget dengan hal ini.

Mereka tidak akan pernah berhenti beraksi demikian sampai dengan ada pengaturan yang proporsional pada transportasi umum ini. Sejauh ini tidak pernah ada sanksi yang berat jika mereka melanggar peraturan lalu lintas. Jika mereka melanggar, polisi menangkap dan mendenda. Denda tersebut besarnya terbilang kecil jika dibandingkan dengan denda untuk mobil pribadi, tapi buat mereka sebenarnya cukup mengurangi jatah setoran harian. Tapi apa yang terjadi setelahnya? Mereka tancap gas lagi, memaki-maki sang polisi, dan kembali melakukan aksi mereka. Mereka mencari jumlah setoran yang hilang dengan cara yang sama. Bahkan harus lebih lagi aksinya agar bisa mencari penumpang lebih banyak sehingga setoran tak hanya balik modal, tapi harus menyisa untuk uang rokok atau kebutuhan rumah tangga mereka.

Jika si raja jalan ini bersenggolan dengan mobil pribadi, yaah si pemilik mobil pribadi terpaksa hanya bisa mengelus-elus dada. Atau jika emosi sedikit tersulut, paling mentok yang bisa dilakukan adalah memaki-maki sang supir dan kondekturnya sambil sudah mulai membayangkan akan merogoh uang berapa banyak untuk memperbaiki mobilnya itu. Tak bisa berbuat lebih jauh. Mengharapkan mereka mengganti uang untuk mereparasi mobil? Itu sama saja dengan membuat anak-anak mereka putus sekolah; sama juga dengan mengurangi uang belanja istri mereka yang tak seberapa untuk makan keluarga mereka tiap harinya.

Si Raja Rusuh

Saya bingung harus menamai mereka apa. Beda dengan bis kota yang kondisi bisnya sudah sepatutnya mendapat perhatian oleh menteri & dinas perhubungan, si raja rusuh ini tampil memukau di jalan. Biasanya berwarna hitam legam. Nomor plat kendaraannya tidak banyak dan biasanya berakhiran ‘RI’. Sebelum mereka melintas, kita akan melihat iring-iringan motor dan mobil polisi yang sirenenya memusingkan mata dan memekakkan telinga. Setelah mereka melintas, iring-iringan karnaval sirene ini pun masih ada juga.

Saya tak habis pikir. Isi mobil hitam tersebut paling hanya satu atau dua orang saja. Tapi korbannya? Mereka semua (termasuk saya yang seringkali mendapati kejadian ini, ugh!) harus berhenti dan mengalah. Menambah waktu macet di jalan lebih dan lebih lagi. Jumat sore minggu lalu misalnya, dalam perjalanan saya dari Jakarta selatan menuju bandara, entah ratusan atau ribuan mobil dari Gatot Subroto sampai dengan Slipi, tidak bisa masuk ke jalan tol karena jalan tol terebut harus dikosongkan atau dilengangkan karena hendak digunakan oleh Si Raja Rusuh. Pada saat-saat biasa saja, ketika tiap kendaraan bisa masuk jalan tol, Jakarta sudah macet, apalagi mereka dipaksakan semuanya berada di jalanan luar tol. Bisa membayangkan betapa sumpek dan tidak bisa bergeraknya kendaraan-kendaraan tersebut bukan?

Demi kepentingan satu atau beberapa orang di dalam mobil hitam legam itu, kepentingan banyak orang harus dikorbankan. Kita ambil contoh mereka yang akan ke bandara, hitung saja berapa orang yang jadi terlambat ke bandara karena terhambat kemacetan tersebut. Dan mungkin saja sejumlah dari mereka yang hendak ke bandara itu, mereka sudah menabung cukup keras untuk membeli tiket pesawat dan pergi karena urusan penting yang tak bisa ditunda. Oleh karena kejadian tersebut, uang hilang, kesempatan pun melayang.

Melanggar peraturan lalu lintas? Tentu saja! Jelas-jelas mereka tetap melaju di kala lampu berwarna merah.

Didenda? Jelas tidak! Lha wong polisinya ikut rombongan mereka kok. Polisi juga yang mengijinkan mereka tetap berjalan di lampu berwarna merah (dan memberhentikan kendaraan-kendaraan dari arah lain meski lampu di sana sudah berwarna hijau).

Disenggol kendaraan lain? Mana bisa! Rombongan polisi yang mengawalnya itu jelas memberikan jarak pada kendaraan-kendaraan di sampingnya. Jika ada kesempatan, saya pengen banget bisa ‘mengenalkan’ atau menyentuhkan mobil saya dengan mobil mereka :) (vandalisme mode on nih jadinya, hehehe)

Pemenang

Pada akhirnya, dengan mempertimbangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh kedua nominator di atas, saya menobatkan Si Raja Rusuh sebagai pemenang untuk kategori Si Biang Kerok Kemacetan Jakarta!!

Hal ini terjadi karena setelah saya pikir-pikir, Si Raja Jalan setidaknya punya kelebihan khusus. Mereka membantu menyehatkan jantung para penumpangnya, memacu adrenalin, dan memberikan kesempatan pada mereka yang malas ke Dufan dengan menyediakan wahana seru nan menantang yang tak kalah dengan Halilintar atau Tornado :D

Epilog

Si Raja Rusuh seringkali disebut wakil rakyat atau pengabdi masyarakat. Saya kok suka mulas mendengar sebutan itu. Mereka jelas-jelas tidak mencerminkan hal tersebut. Jika tidak pernah merasakan apa yang rakyat rasakan, bagaimana mereka bisa mewakili rakyat atau menyatakan dirinya pro-rakyat. Ini baru soal macet lho, belum soal perut dan lainnya.

Author: virtri Categories: politikana Tags: