Rutinitas Baru

Bangun pagi-pagi sekali. Mandi. Sarapan. Antar Kelana ke sekolah. Berangkat ke kantor. Bekerja setidaknya delapan jam lamanya. Pulang. Makan malam. Beraktivitas di rumah yang hanya sebentar. Tidur supaya besok bisa mengulang hal yang sama. Begitu terus. Hingga akhir pekan tiba.

Tiga bulan belakangan, itu rutinitas saya yang baru. Kali ini saya bekerja yang mengharuskan saya datang ke kantor setiap hari, tidak seperti pekerjaan sebelumnya atau profesi lainnya yang bisa dilakukan dari rumah.

Apakah rutinitas ini membuat saya bosan? Sejauh ini tidak belum. Bekerja ternyata membuat saya lebih bergairah. Setiap hari selalu ada hal baru yang saya temui. Ada saja cerita seru dalam pekerjaan dan dalam perjalanan, yang menarik untuk dibagikan malam atau esok harinya dalam percakapan dan pertemuan, ke keluarga atau ke teman-teman.

Pekerjaan saya saat ini terbilang lebih sederhana dibanding pekerjaan saya sewaktu dulu menapaki karir di usia yang muda belia (sekarang masih muda, tapi tak lagi belia). Namun pekerjaan kali ini membuat saya lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang. Dan semakin banyak orangnya, semakin banyak ceritanya! Mengasyikkan bukan.

Perjalanan menuju dan pulang kantor juga belum membuat saya bosan. Meski rute yang saya lalui hampir tiap hari sama, pemandangan setiap harinya menurut saya berbeda. Mungkin karena di sini musim dan cuaca kerap berganti, obyek yang sama tidak sama dalam pandangan mata. Perjalanan saya termasuk menyebrangi jembatan klasik dan sedikit melewati aliran sungai. Salju, kilau cahaya, atau rintik hujan membuat pemandangan selalu berganti rupa.

Namun tentu ada yang saya rindukan yang tidak saya dapati lagi dalam rutinitas baru ini; waktu bermain di taman bersama Kelana sepulang dia sekolah. Rutinitas menjemput Kelana sekarang jadi bagian bapaknya. Bermain ke taman bersama Kelana hanya bisa dilakukan pada akhir pekan.

Akhir pekan pun jadi waktu yang ditunggu-tunggu! Waktu untuk melakukan hal-hal di luar yang harus dilakukan pada hari kerja. Waktu untuk lepas dari rutinitas. Dan ketika tiap akhir pekan digunakan untuk lepas dari rutinitas, maka akhir pekan juga memiliki rutinitasnya. Hahaha.


virtri
Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.