Kelana 3.5 tahun

Kata Kelana 3.5 tahun dengan poni yang tidak mau dipotong dan tidak mau dijepit
Kata Kelana 3.5 tahun, poni tidak mau dipotong dan tidak mau dijepit 😅

Kelana saat ini berusia 3.5 tahun. Sejak dia lahir hingga dia berusia 3 tahun, setiap bulan setiap tanggal 8 (tanggal kelahirannya) biasanya saya mengunggah postingan fotonya di Instagram dan kadang memberi keterangan pencapaiannya atau apa hal yang dia senang lakukan di tiap tahapan usianya tersebut. Setelah dia melewati usia 3 tahun, tidak lagi, hehehe. Padahal ada saja hal baru tentangnya yang membuat saya tidak pernah bosan dibuatnya.

Nah, tepat di usianya yang ke-3 sebenarnya ada catatan tersendiri. Kelana benar-benar selesai minum ASI dan lepas popok. Lebih setahun dari rencana awal untuk bisa lulus di usianya yang ke-2. Rencana tinggal rencana. Untuk Kelana, ternyata dua hal ini tidak bisa dipaksakan, prosesnya sangat perlahan.

Tentang lepas popok

Untuk lepas popok (diapers), kami sudah menyiapkan pispot dan tangga/tempat duduk toilet untuk anak-anak sejak usianya 1.5 tahun. Tapi memang kami tidak pernah mengharuskannya dia menggunakannya. Pernah beberapa metode kami coba, tapi belum berhasil. Di usia 2 tahun kami mulai mencoba pagi-sore lepas popok dan hanya malam yang pakai (karena kami tidak telaten untuk sering ganti seprai/jemur kasur :p). Pada saat Kelana pagi hingga sore, mudah buat Kelana untuk buang air kecil di toilet/pispot, tapi tidak untuk BAB. Dia lebih nyaman BAB di popok.

Di Kita/daycare-nya, para pengasuhnya juga sudah memperhatikan kesiapannya lepas popok mulai dia 2.5 tahun. Perlahan namun pasti, akhirnya lepas juga si popok darinya. Sebelum usia 3, sesekali dia masih kesulitan mengetahui waktu pastinya dia harus beranjak ke kamar mandi. Ada beberapa waktu dia pipis ketika menuju kamar mandi atau ketika buka celana. Tapi setelah usia 3 tahun, hal tersebut tidak pernah lagi terjadi. Mulus.

Tentang lepas ASI

Nah, tentang lepas dari ASI, saya yang takjub. Ternyata bisa juga ya. Proses menyusui sifatnya emosional sekali. Diawali dengan drama serba-serbi bagaimana bisa menyusui Kelana dengan baik, bisa menghasilkan ASI yang cukup, dan akhirnya merasakan indahnya momen-momen manis menyusui, kok ya setelah 2 tahun harus disudahi. Jadi sebenarnya tidak mudah tidak hanya buat Kelana, tapi juga buat saya.

Ketika dia sudah melewati usia 2 tahun, saya mantap memutuskan untuk pelan-pelan membuatnya lepas ASI. Tapi melihat gelagatnya yang kayak kecanduan ASI, terutama sebelum tidur, jika terbangun tengah malam, atau ketika bangun pagi, sempat saya merasa seperti tidak ada harapan. Padahal ketika dia di Kita/daycare, dia bisa tidur siang tentunya tanpa ASI. Tapi jika ada saya di dekatnya, minum ASI adalah keharusan. Dan saya biasanya menurutinya sambil terus bernegosiasi kapan dia mau dan bisa selesai menyusu.

Untungnya saya memiliki mama, kakak dan sahabat-sahabat yang selalu mendukung saya. Tidak apa-apa jika masih belum mau selesai, demikian ujar mereka. Well, WHO juga menyarankan agar menyusui minimal di 2 tahun usia anak kan. Tidak tertulis tuh batasan usia maksimalnya, hihihi.

Saya juga membaca beberapa referensi literatur di internet mengenai manfaat perpanjangan minum ASI. Teryata positif! Konon anaknya lebih cerdas, koneksi anak dan orang tua sangat kuat, dan bisa beradaptasi cepat di tempat baru karena rasa percaya diri tinggi. Cocok sebagai pembenaran, hahaha.

Lalu saya mencoba menerapkan metode mengurangi satu-persatu jadwal menyusuinya. Sama seperti lepas popok, awalnya lepas ASI diawali pada pagi hingga sore. Kemudian mengurangi jadwal minum ASI-nya ketika dia bangun pagi, lalu setelahnya mengurangi ketika dia terbangun tengah malam. Jadi ketika beberapa hari sebelum usianya beranjak 3, minum ASI-nya hanya sekali sebelum tidur malam, sambil kami selalu berkata bahwa 3 tahun adalah tanda dia sudah besar dan tidak perlu ASI lagi. Beberapa hari menjelang dia ulang tahun, benar-benar saya maksimalkan momen yang saya tahu akan berakhir itu.

Cukup ajaib! Tepat usia 3 tahun, di malam harinya dia benar-benar tidak menyusu lagi. Kami hanya berpelukan hingga dia tertidur. Terharu saya dibuatnya.

Dan sekarang..

Sudah lebih dari tujuh bulan Kelana tidak menggunakan popok dan tidak menyusu. Setiap malam sebelum tidur, kami masih berpelukan. Sesekali dia tertidur dengan kepalanya terkulai di lengan/dada saya ketika saya membacakannya buku. Kadang dia meminta tidur di atas badan saya agar bisa mendengar detak jantung saya dan mendapatkan kehangatan terutama di musim dingin. Lain waktu sebelum dia tertidur, jari-jarinya mengusap-usap muka saya dan memegang-megang bibir saya, hingga dia tertidur. Di waktu yang berbeda lagi, dia tertidur dengan bibir mungilnya yang melekat ke bibir saya.

Meski sudah tidak menyusui, saya tidak kehilangan momen spesial saya bersamanya. Terasa mesra dan begitu hangat di hati.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.