Tentang ASI, bukan sekedar Basa-Basi

Dua kali tangisan saya pecah di hari kelahiran Kata Kelana.

Pertama, ketika dia keluar dari rahim saya untuk pertama kalinya menghirup udara dunia ini, setelah puluhan jam kontraksi dan puluhan menit proses mengejan.

Kedua, ketika dia berhasil menyesap air susu saya setelah sebelumnya dengan lincahnya dia bergerak pada IMD, inisiasi menyusu dini, proses pertama kalinya kulit kami bertemu.

Selama hamil, saya sudah menyiapkan diri (dan hati) untuk menghadapi persalinan dan untuk pemberian susu buat Kelana.

Untuk persalinan, saya mencoba sebisa mungkin untuk melahirkan tanpa operasi. Saya mencoba rutin berolahraga untuk menjaga badan saya fit dan memeriksakan kehamilan secara rutin untuk memantau perkembangan janin supaya bisa melahirkan secara alamiah. Tapi saya juga sudah siap jika ada kondisi-kondisi yang mengharuskan saya dioperasi jika itu memang untuk kebaikan kami, saya dan Kelana. Bagi saya, melahirkan secara alamiah dan dengan operasi setara nilai perjuangannya. Kudos untuk semua ibu yang melalui proses persalinan.

Untuk susu buat Kelana, saya juga mencoba sebisa mungkin untuk bisa memberikan ASI buatnya, bahkan sebelum saya melahirkan, kami sempat konsultasi ke klinik laktasi untuk mempersiapkan diri. Tapi saya juga sudah siap jika karena satu dua atau tiga hal, kondisi saya tidak memungkinkan untuk bisa memberikan ASI. Saya tidak anti jika pilihannya adalah mendapat ASI dari donor atau memberikan susu formula.

Tentang nutrisi, saya percaya jika kandungan ASI adalah yang terbaik untuk bayi. Jadi saya akan melakukan segala hal yang bisa untuk memperjuangkan Kelana mendapat ASI. Tapi jika susu formula harus jadi pilihan, saya tidak masalah, toh kandungan susu formula juga sudah dibuat sedemikian rupa untuk mendekati kandungan ASI.

Tentang penghematan, konon memberikan susu formula mahal, harus punya pos dana tersendiri. Tapi memberikan ASI juga tidak murah loh, apalagi jika ibunya seperti saya yang makannya harus super duper banyak tiap harinya (menghabiskan dana banget kan ini!!) untuk meyakinkan diri bahwa ASI cukup ketika asupan banyak. Hehehe, padahal ASI yang dihasilkan tdk seberapa, yang ada malah peninggalan lemak di beberapa bagian tubuh melimpah. Ups.

Meski sudah menyiapkan diri untuk memberikan susu formula, ketika mengetahui saya bisa memberikan ASI dan Kelana pintar sekali bekerja sama menyesapnya di IMD saat itu, saya begitu bersyukur dan tak kuasa menahan tangis.

Pada saat itu saya semakin semangat memberikan ASI buat Kelana. Meski tampilan ukuran payudara saya tidak meyakinkan untuk memberikan ASI, ternyata itu bukan masalah. Yup, size doesn’t matter untuk hal ini. Hihihi.

Rupanya semangat saja tidaklah cukup. Dibutuhkan ketahanan diri yang tinggi dan mental positif hari demi hari.

Di hari pertama dan kedua, saya tidak kuatir, saya cukup percaya diri. Masuk hari ketiga, puting mulai lecet, menyusui terasa begitu nyeri. Minggu pertama pulang dari rumah sakit, saya sempat mengalami pembengkakan dan peradangan payudara hingga sempat sekali waktu saya menggigil setelah mandi karenanya. Berbekal membaca artikel kesehatan yang tepat, pijatan ampuh suami, bantuan Kelana untuk tetap menyusu, dan semangat yang tak padam, lecet dan radang berangsur-angsur sembuh.

Ketika sudah bisa menyusui dengan lebih santai, masuk ketika Kelana satu bulan, Kelana dinyatakan dokter kenaikkan berat badannya kurang. Paniklah saya, gak santai lagi saya dibuatnya. Pasalnya, Kelana pintar menyusunya. Jadi, asumsi saya nutrisi ASI saya kurang oke nih. Sejak saat itu, kalap lah saya makan! Sepertinya hampir setiap 2-3 jam saya makan (dan itu berlangsung hingga sekarang!). Teori saya, semakin banyak dan sering saya makan, ASI bisa lebih melimpah. Ya, alesan makan banyak aja sih teori ini.

Kelana berusia 2 bulan, kenaikkan berat badannya dinyatakan oke, bahagialah saya. Teori saya berhasil! Pada usia Kelana 3 bulan pun juga oke. Tenang hati ini. Meski kenaikkan berat badan Kelana juga berarti kenaikkan (signifikan) berat badan saya. Kelana naik 600-800 gram tiap bulannya, saya naik 2-3kg per bulan. Hehehe.

Kurang lebih sebulan sebelum saya masuk kerja, ketika Kelana berusia 3 bulan-an, kembali saya tidak tenang karena saya mulai mempersiapkan stok ASI Perah (ASIP) untuk Kelana. Awal-awal memompa, hanya 30ml-an saja, Saudara-saudara! Berbagai jenis makanan, minuman, cemilan, suplemen saya konsumsi. Saya juga langsung tanya-tanya beberapa sahabat dan kawan yang berpengalaman. Nasihat dan semangat yang diberikan cukup menentramkan hati meski hasil pompa juga belum juga maksimal. Tapi saya tetap “keras kepala” memompa seperti saran seorang ibu yang saya baca tulisannya di salah satu blog (sudah lupa tautannya).

Januari. Kelana berusia 4 bulan dan mulai masuk daycare karena saya akhirnya masuk kerja. Minggu pertama, saya langsung hitung-menghitung kebutuhan dia sehari dibandingkan dengan kemampuan memompa saya sehari. Duh, gap-nya cukup besar yah! Untunglah ada cicilan stok sebulan sebelum masuk kerja. Meski saya tahu, stok itu akan melorot drastis di beberapa minggu awal.

Pompa, pompa dan pompa. Beberapa teknik saya coba supaya hasil bisa lebih banyak. Bahkan saya sempat menyewa pompa yang biasa digunakan di RS atas saran teman kantor saya yang ketika dia memompa dengan alat pompa sewa itu bisa menghasilkan 500ml sekali pompa! Warbyasaaaakk kaan! Tapi dengan alat pompa yang sama, tetap saja hasil pompa saya ya segitu-segitu saja. Rata-rata sekali pompa saya menghasilkan 60-80ml jika di rumah dan 130-160ml di kantor. Paling banyak, rekor saya sekali pompa adalah menghasilkan 200ml dan 250ml. Tapi itu hanya sekali dua.

Akhir Februari pun tiba, hingga hari terakhir Kelana masuk daycare dan hari terakhir saya bekerja, stok ASIP ternyata cukup. Dua bulan yang dipenuhi proses kejar tayang drama pompa-memompa selesai juga (iya, ada drama ketika saya lupa memasukkan empat buah kantung ASIP ke freezer sehingga harus saya buang. Sedih rasanya).

Betapa hati saya dipenuhi rasa syukur pada Tuhan dan rasa bahagia yang membuncah di 8 Maret kemarin. Kelana berusia 6 bulan dan kami lulus masa ASI eksklusif! Kelana sudah bisa diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang artinya dia bisa dikenyangkan dan tercukupi selain lewat ASI saya. Hore!

Oh ya, bahagia lainnya adalah Kelana suka sekali dapat MPASI. Lahap bukan main. Melihat dia makan membuat hati senang!

2 thoughts on “Tentang ASI, bukan sekedar Basa-Basi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.