Pindah ke Berlin

Awalnya

Keinginan untuk merasakan tinggal di luar Indonesia sudah lama ada di hati kami. Pemicunya tentu saja ketika kami sedang jalan-jalan menikmati berbagai kota di belahan lain dunia, terutama ketika berada di negara yang sudah lebih maju peradabannya. Pemicu lainnya adalah pengalaman beberapa sahabat dan teman, yang kebanyakan mengambil kuliah S2 dan S3. Sepertinya menarik sekaligus menantang tinggal di luar negeri, itu yang kerap kami percakapkan.

Sempat terlintas di pikiran saya untuk mengikuti jejak teman-teman, kuliah mengambil master. Saya suka belajar, kuliah menarik buat saya. Yang saya kurang suka adalah ujian dan tugas akhirnya, hehehe. Tapi masih okelah itu menurut saya, bisa diatur itu. Hasrat kandas ketika membaca persyaratan ribetnya administrasi untuk mengambil beasiswa. Duh, malas benar rasanya saya mengisi formulir-formulir yang ada, lalu menulis esai, lalu meminta rekomendasi mantan dosen dan mantan bos. Keinginan untuk kuliah benar-benar hanya berjalan dalam lintasan pendek di kepala saya, bahkan ia belum sempat terbang.

Bekerja di luar negeri, penempatan untuk beberapa bulan hingga 1 atau 2 tahun sempat menjadi pilihan ketika saya masih bekerja di kantor lama, di Johnson & Johnson. Pak bos dulu menaruh nama saya di daftar tunggu penempatan ke luar negeri. Masih dalam kawasan Asia Tenggara sih, tapi lumayan seru lah itu pikir saya.

Namun dalam masa penantian, ada tawaran menarik untuk bekerja di Disney. Tawaran yang mungkin tidak datang dua kali itu saya sambar. Tapi di Disney, penempatan kerja di luar negeri ternyata lebih kecil peluangnya. Harus inisiatif sendiri. Saya pun sok-sok-an berinisiatif. Setelah sekitar dua tahun kerja di Disney, saya sempat mencoba melamar ke Disney di Melbourne untuk posisi yang serupa namun lebih senior. Hanya selang sehari dari lamaran saya kirim, langsung ditolak, Saudara-saudara! Hahaha.

Memang nekat sih ngelamarnya. Di postingan tersebut tidak ditulis tentang pengurusan visa kerja yang disediakan. Lagipula, selain visa kerja, saya rasa pekerjaan di bidang yang saya geluti memang lebih mengutamakan orang lokal yang lebih tahu bisnis, konsumen berikut strategi penjualan juga pemasarannya ke konsumen di tempat itu. Saya pun tahu diri, kemampuan saya belum mumpuni, hehehe.

Ketika peluang untuk saya kecil, ada Kakilangit, sang sahabat! Bukan, tentu saja bukan untuk kuliah. Kalau masalah kuliah, dia lebih tidak berminat dibanding saya. Pekerjaannya! Iya, syukurlah dia tidak bekerja di bidang yang sama dengan saya. Pekerjaan yang ia geluti dan keahliannya yang ia miliki, lumayan sedang dibutuhkan di dunia teknologi informasi yang sedang berkembang pesat ini! Peluang dia tentunya jauh lebih besar. Sekali dua, sempat dia mencoba melamar ke beberapa tempat dalam daftar kota yang kami inginkan. Belum berhasil juga.

Lalu Kelana Lahir

Kakilangit seperti mendapat pemicu berlipat ganda untuk kembali meluncurkan lamaran-lamarannya. Membayangkan membesarkan Kelana di kota yang ramah anak, di tempat tinggal yang menyenangkan yang ada di dunia ini, dengan kualitas hidup yang lebih baik, mengobarkan semangatnya. Lamaran yang dia kirim pun tidak hanya satu atau dua.

Kali ini, respon yang didapat sangat positif. Setidaknya tiga perusahaan memproses lebih jauh lamarannya. Dua dari Berlin, satu dari Singapura. Dengan waktu yang terbatas karena tidak mudah menjalani proses seleksi kerja pada saat masih aktif bekerja di Jakarta, yang ditekuni hanya yang dua yang dari Berlin. Iya lah ya, dibandingkan ke Singapura, tentulah kota di Eropa, si ibukota Jerman itu, lebih memikat hati. Kota di belahan bumi yang lain, di benua yang berbeda, benua yang memiliki daftar negeri-negeri cantik yang ingin kami jajaki satu per satu.

Masih lekat dalam ingatan saya akan malam-malam sepulang dari kerja kami di ibukota, ketika Kakilangit dites dan diwawancarai. Sebelum tes atau wawancara, Kakilangit tidak pernah bisa makan malam dengan enak. Saya rasa ada ratusan kupu-kupu terbang di perutnya. Ketika waktunya tiba, saya mencoba menjaga Kelana tetap tertidur supaya di tengah-tengah wawancara tidak diselingi kegaduhan suara Kelana yang membahana. Entah delapan atau sembilan malam kami lewati seperti itu.

Setiap berhasil melewati tingkatan seleksi dan menuju jenjang berikutnya, saya selalu berkata padanya “Lolos gak lolos, dapet gak dapet, you’ve come this far, Sayang! Really proud of you!”

Iya, saya bangga sekali padanya, keahliannya, dan pencapaian-pencapaiannya. Meski saya buta bahasa pemograman, sedikit banyak saya tahu bagaimana tantangan yang ada dan kinerja baiknya di kantor tempat dia bekerja di Jakarta selama dua tahun terakhir. Itu akan memiliki dampak positif dalam seleksi ini. Tapi jikapun belum atau tidak lolos, ya belum jodoh saja, demikian pikiran saya.

Eh, ternyata berjodoh! Dua jodoh dalam satu kota! Betapa hati kami dipenuhi rasa syukur ketika kedua perusahaan Berlin ini memberikan penawaran kerja pada Kakilangit di dua malam yang hanya sehari berseling. Kami berpelukan bahagia bak Teletubies (iya, kami berdua sudah berperut bundar), sambil menatap Kelana yang tertidur pulas. Kakilangit diterima untuk menjadi karyawan permanen di sana! Kami jadi pindah, Kelana akan tumbuh besar di Berlin!

Banyak yang bilang, ini adalah rejeki anak, rejeki Kelana. Bahkan beberapa bilang, ini adalah jawaban doa kami ketika kami memberi nama anak ‘Kelana’ (karena nama adalah doa), sehingga kami akan berkelana jauh.

Menurut saya selain rejeki Kelana, ini adalah buah kerja keras Kakilangit. Tapi lebih dari itu semua, hal besar yang sampai sekarang kadang sulit kami percayai ini adalah karunia Tuhan, Dia yang beri.

Akhirnya

Akhir cerita, kami berdua berhenti dari tempat kerja masing-masing di Jakarta, dan Kelana berhenti dari daycare yang sudah dia jalani selama dua bulan.

Lalu kami mengurus visa untuk kepindahan kami ke sini, menikmati bulan-bulan terakhir kami di Indonesia dengan menghabiskan banyak waktu kami dengan keluarga di Yogyakarta dan Cilacap; mengabadikan serunya makan siang dengan sahabat-sahabat dan teman-teman beserta cerita-cerita mereka; memuaskan lidah dengan berbagai makanan dan jajanan yang pasti akan kami rindukan; dan menyempatkan diri untuk mengajak Kelana berlibur sejenak di Pulau Dewata.

Sebenarnya tidak tepat jika sub-judulnya saya tulis ‘Akhirnya’. Karena kepindahan kami ke Berlin berarti awal cerita kami yang baru. Awal cerita Kakilangit dengan pekerjaannya di sini, awal cerita saya dengan dunia saya yang baru ini, dan awal cerita Kelana dengan kisah hidupnya.

virtri
Latest posts by virtri (see all)

12 thoughts on “Pindah ke Berlin

  1. Bagus banget tulisan dan gaya bahasanya enak dan ringan dibaca. Saya ikut ngebayang malam2 penantian dan ekspresi bahagia ketika mimpi itu jd kenyataan. Menulis terus ya mba…..

  2. Benar2 keinginan menjadi kenyataan…bukan impian jadi kenyataan seperti orang biasa bilang…tapi keinginan kuat dari kalian yang membuat semua ini terwujud…GBU Virthri/Kakilangit/Kelana….❤❤❤

  3. “Saya suka belajar, kuliah menarik buat saya. Yang saya kurang suka adalah ujian dan tugas akhirnya, hehehe.”

    TOSS!!! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.