Soalnya…

Seiring dengan bertambahnya kosa kata dan semakin panjang kalimat-kalimat yang dibentuk ketika bercakap-cakap, Kelana memasuki fase sedikit-sedikit bertanya, “Soalnya?” “Soalnya, Ibu?”

Kata ini sesungguhnya tidak ada di KBBI (iya, saya sebenarnya memiliki kecenderungan suka dengan kata-kata dari KBBI). Namun mungkin karena saya dan Kakilangit dalam bahasa lisan kami seringkali jauh dari KBBI dan ketika menjelaskan sesuatu ke Kelana lebih sering menggunakan kata soalnya dibandingkan dengan kata karena, jadilah kata ini menjadi kata favoritnya jika ingin mengetahui alasan untuk apa pun; mengapa begini dan mengapa begitu.

“Kelana, kita mau berangkat. Yuk dipakai jaketnya.”

“Soalnya?”

“Soalnya di luar sudah dingin dan anginnya kencang.”

“Soalnya?”

“Soalnya musim panasnya sudah selesai, sudah berganti dengan musim gugur yang lebih dingin. Tuh lihat, daun-daun di pohon-pohon sudah menguning lalu jatuh berguguran.”

“Soalnya?”

… dan percakapan dengan kata hubung soalnya bisa berlangsung bermenit-menit sambil kami lanjut beraktivitas.

Fase ini adalah salah satu hal yang saya bayangkan ketika dahulu saya memutuskan apakah saya siap punya anak atau tidak. Apakah saya akan punya setiap jawaban yang tepat dan baik untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak saya. Dan akankah saya sabar untuk menanggapinya.

Ketika saat ini akhirnya benar-benar datang, rupanya saya menikmatinya. Saya justru senang Kelana tidak menjalankan segala sesuatunya dalam diam dan penuh kepatuhan. Saya senang dengan pertanyaan-pertanyaannya. Saya senang jika dia kritis mempertanyakan hal-hal di sekitarnya, apa yang dia lihat dan yang dia dengar. Saya senang tercipta dinamika ruang tanya jawab di antara kami.

Tidak segala sesuatu yang dia tanya bisa langsung saya jawab. Sesekali sambil saya berpikir apa sebaiknya jawaban yang saya berikan, saya lontarkan balik ke Kelana, “Menurut Kelana, karena apa? Soalnya kenapa?” Tentu saja jawaban yang diberikan beragam, kadang benar, kadang diam, seringkali ngawur atau hanya dibolak-balik antara pertanyaan dan jawabannya. Misalnya ketika dia bertanya, “Kok ibu suka pedas? Soalnya?” Lalu saya tanya balik, “Menurut Kelana kenapa?” Jawabnya, “Soalnya ibu suka”. Yah, Nak. Hehehe.

Atau kadang dia dengan jujur mengatakan, “Ana gak tau”. Saya pun menghargai, karena saya juga beberapa kali mengatakan tidak tahu sebagai jawaban atas pertanyaannya. Biasanya jika saya tidak tahu bagaimana menjawabnya, saya akan mengajak dia bertanya ke Kakilangit, yang siapa tahu punya referensi jawaban, sebelum saya lebih lanjut googling jawabannya ketika saya dan Kakilangit tidak tahu.

Iya, itu jalan ninja saya. Pertanyaan-pertanyaannya saat ini mungkin masih sederhana. Jika pertanyaannya kelak akan lebih kritis dan sulit dijawab, saya akan mengajak dia untuk mencari tahu jawabannya bersama-sama, dengan cari di buku atau googling bersama; phone a friend, jika punya kenalan, keluarga atau teman, yang lebih ahli di bidangnya; atau jika kami kelak malas mencari tahu jawabannya, kami akan memilih 50:50, yaitu main tebak-tebakan dengan jawabannya, menjawab asal-asalan, lalu bertaruh mana yang benar pada waktu akhirnya kami menemukan jawabannya, hahaha.

***

“Kelana mau pipis di semak-semak!” serunya tiba-tiba setelah kami kemarin bermain di taman besar dekat rumah yang di sekelilingnya tidak ada toilet umum. Hal ini sudah umum dilakukan buat anak-anak (dan mungkin orang dewasa yang tidak bisa menahan pipis, eh!) Oleh karena tamannya besar bangetttt, banyak pilihan semak-semak yang aman dan nyaman sebagain tempat pipis, hihihi. Kakilangit pun menemaninya dan saya menunggu tidak jauh dari semak-semak tempat mereka berada. Sambil pipis dia berceloteh ke Kakilangit.

“Ana kalo pipis jongkok”

“Soalnya kenapa, Kelana?”

“Soalnya Ana ein großes Mädchen (anak perempuan yang sudah besar). Bapak dan Junge (anak laki-laki) pipisnya berdiri.”

“Soalnya?” bapaknya tidak mau kalah bertanya lebih lanjut.

“Soalnya vagina, pipisnya ga bisa lurus”

Sambil mendengarkan mereka, saya tersenyum. Senang sekali mendengar Kelana bisa berkata-kata demikian.

Saya juga jadi geli sendiri mengingat minggu sebelumnya, kejadiannya juga di taman, ketika dia mau pipis sendiri di semak-semak dan meminta saya berdiri agak jauh darinya. Lalu dia mencoba pipis berdiri dong! Tentu basahlah celana dan kedua kakinya. Hehehe. Untung buk-ibuk selalu punya perlengkapan perang baju ganti anak di tas ya kan ya. Namun gembira sekali hati saya dibuatnya, karena ternyata sesekali dia merasa harus mencoba atau membuktikannya sendiri, tidak berpuas hati jika hanya dengan penjelasan kata-kata.

Akan selalu saya kenang masa-masa dia banyak bertanya dan menjalin kalimat kausalitas dalam pikiran dan percakapannya ini. Waktu akan cepat sekali bergulir dan dia mungkin tak lama lagi akan meninggalkan saya dan Kakilangit sebagai sumber dia mencari jawaban.

Meskipun saya selalu berharap kami, Kelana dan saya, akan terus-menerus menjadi sahabat karib, berharap saya bisa menjadi tempat ternyamannya untuk dia bisa bertanya dan bercerita apa pun sampai dia dewasa nanti.

***

“Ibu, Ana mau bobo di perut Ibu” katanya di hampir setiap malam-malam yang dingin ini, terutama ketika dia kesulitan memejamkan mata.

“Soalnya kenapa, Kelana?”

“Soalnya Ana kangen” ujarnya, yang mungkin memang kangen dengan rumah awalnya. Tempat dia bisa mendengar degup jantung bahagia saya akan keberadaannya; sejak saya melihat dua garis biru dulu, hingga kini.

“Sini, Sayangku, dengan senang hati!”

… soalnya ibu sayang banget sama Kelana.

Latest posts by virtri (see all)

3 thoughts on “Soalnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.