Jendela

Jendela

Delapan tahun lalu, siang hari. Aku sedang di kampus ketika sms darimu datang, “Bisa bertemu di kedai kopi biasanya?”

Kedai kopi sedang sepi. Aku datang lebih dulu. Tak lama berselang kamu datang dengan wajah sendu. Awalnya basa-basi. Lalu setelah ada dua cangkir kopi, kamu mulai bercerita. Tentang hal yang tidak kusangka, cerita tentang luka. Luka akibat masa lalu.

Sudah lazim jika sebuah luka ditutup rapat, dengan plester atau perban. Luka tidak cantik, tidak untuk dipamerkan. Tapi siang itu kamu tunjukkan lukamu.

Mungkin kamu hanya lelah menahan sakitnya sendirian.

Lalu kamu mulai membuka diri, membuka jendela hidupmu.

Tapi hanya jendela.

Bukan pintu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.