Buku

Dian Sastro for President

Pagi itu aku membuka hari dengan penuh ucapan syukur, usiaku dua puluh tiga.

Belum sempat aku sarapan pagi, terdengar deru motormu, si kayu bakar. Aku bergegas ke luar rumah sebelum ibuku yang ke luar dan menyapamu dengan: “Lho, sudah datang lagi? Bukannya baru pulang jam 1 ya semalam!”

Kamu tersenyum lebar.

Belum pernah aku melihat senyummu yang begitu mengembang. Apalagi setelah puluhan malam panjang, yang kamu habiskan bercerita tentang dia yang meninggalkanmu di belakang.

“Selamat ulang tahun!” sapamu.

Lalu kamu menyodorkan sebuah buku yang dibiarkan telanjang tanpa bungkusan.

Ada aku dalam tulisanmu di halaman 84 dan 85.

Ganti aku yang tersenyum lebar.

Senang.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.