Kata Kelana di Kita

Di bulan Agustus ini, Kelana sudah masuk KITA selama setahun (dikurangi libur karena pandemi dan libur musim panas, total sekitar 8 bulan). KITA adalah tempat penitipan anak/daycare di sini. Kependekan dari Kindertagesstätte (Kindergarten). Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Kelana di daycare. Sewaktu kami masih di Jakarta dan saya kembali bekerja setelah melahirkan, Kelana bayi sempat masuk daycare selama 2 bulan.

Mengapa ke KITA?

Ada beberapa alasan mengapa kami bersepakat memasukkan dan memberi kesempatan buat Kelana ke KITA padahal ada saya yang bisa menjaganya.

Pertama, tujuan utamanya adalah supaya Kelana bisa berinteraksi dengan teman sebayanya. Tanpa saudara kandung dan jauh dari saudara2 sepupu, perlu baginya untuk bergaul juga dengan anak-anak. Jika dia hanya dikelilingi orang dewasa dia terbiasa diberikan apa pun yang dia mau dan orang dewasa cenderung mengalah. Tapi jika dengan anak-anak lain, hubungannya pasti akan dinamis. Rebutan, berantem, saling tidak mau mengalah, tapi juga belajar saling sayang. Akan seru untuknya.

Kedua, agar dia mengenal orang-orang dewasa lain selain orangtuanya yang mengajarkan nilai-nilai yang serupa, sesederhana misalnya ketika kami orang tuanya berkata cuci tangan dulu sebelum makan, ternyata juga diterapkan oleh para pendidiknya di KITA.

Ketiga, karena di Berlin KITA-nya gratis. Aka dibayarin pemerintah. Kami hanya diminta membayar €23 per bulan untuk makan siang. Ini tidak berlaku di setiap daerah di Jerman. Pendidikan gratis di Jerman dimulai di tingkat Grundschule (setara SD) hingga Universitas. Tapi karena kami berlokasi di Berlin, bahkan sejak KITA sudah gratis, yeay!

Keempat, alasan terakhir Kelana masuk KITA adalah saya! Supaya saya bisa mengistirahatkan punggung dan pinggang. Hihihi. Selain itu, di jam-jam sewaktu Kelana di KITA, saya bisa ambil kursus bahasa Jerman secara intensif supaya bisa membantu keseharian kami di sini.

Perjuangan mendapatkan KITA

Untuk mendapatkan KITA di Berlin tidaklah mudah. Mungkin karena gratis jadi demand jauh lebih tinggi dibanding supply. Beberapa ibu-ibu yang saya temui di Familiezentrum (pusat keluarga – kapan-kapan saya tulis tentang ini ya) atau yang saya baca kisahnya di grup Facebook yang saya ikuti, mengatakan mereka mendaftar ke ratusan KITA dan menunggu tahunan sampai bisa akhirnya mendapatkan tempat untuk anaknya. Sempat goncang juga saya mendengar dan membacanya. Daftar ke ratusan! That’s a lot of numbers and efforts ya!

Tapi saya tetap mencoba mendaftar. Pertama, saya harus meminta KITA Gutschein (voucher/kupon) ke Pemda Berlin (kita sebut saja Pemda yah) bagian anak. Jika saya bekerja kantoran penuh waktu, kupon yang saya dapatkan adalah pengasuhan anak di KITA selama 7-9 jam. Jika saya bekerja di rumah/paruh waktu/kursus, kupon yang didapat adalah untuk 5-7 jam.

Setelah saya mendapatkan kupon, saya mendaftar ke KITA yang berada dekat dengan tempat tinggal kami. Tidak seperti mereka yang daftar hingga ke ratusan tempat, saya mendaftar ke 30-an tempat. Saya membuat bagan di Ms.Excel untuk mendata KITA mana saja yang sudah saya daftar, lokasinya, siapa kontaknya, detil lainnya, lalu saya cek secara berkala status pengajuan saya bagaimana.

Awal tahun 2019 saya memulai pencarian saya, dan enam bulan setelahnya (syukurlah ga sampai tahunan) penantian kami berbuah manis. Ada 2 KITA yang menerima kami, satunya yang saya daftar, satunya yang Kakilangit daftar melalui perusahaan tempat dia bekerja. Yang pertama KITA-nya besar dengan bangunan dan fasilitas yang lengkap, tapi jumlah anaknya sekitar 200 anak. Yang kedua KITA-nya kecil, yang hanya memiliki 4 ruangan dan taman bermain yang manis, dengan jumlah anak yang diasuh 40. Kami pun memilih yang kecil karena merasa lebih nyaman dan Kelana mulai sekolah bulan Agustus tahun lalu.

Tentang Komunikasi, Sosialisasi, dan Kemandirian

Yang saya syukuri adalah bukan saja Kelana mendapat tempat sebelum saya mendaftar hingga ratusan atau menunggu tahunan (saya sudah siap untuk ini), tapi bagaimana di luar ekspektasi saya, dia bisa menjalani masa adaptasi dan aklimatisasinya (Eingewöhnung) dengan sangat baik. Dan setelahnya begitu menikmati sekolahnya setahun belakangan ini. Iya, kami menyebutnya sekolah karena Kelana belajar banyak hal di sana. Bukan tentang belajar huruf dan angka atau belajar membaca dan menghitung. Tapi di KITA Kelana belajar komunikasi, sosialisasi dan kemandirian.

Dari yang sehari-harinya hanya dengan saya dan Kakilangit, dia bisa masuk dan berada di tempat yang begitu baru buatnya, yang awalnya pasti sangat asing. Dia bisa dekat dengan pengasuh sekaligus pendidik yang berkomunikasi dengannya dengan bahasa yang berbeda (Bahasa Jerman). Dia bahkan cepat sekali belajar dan mengaplikasikannya. Masih belepotan tentunya, tapi lebih baik dari bapak dan ibunya. Terutama dalam hal pengucapannya. Pendidiknya melaporkan ke kami, kata-kata atau kalimat dalam Bahasa Jerman apa yang Kelana kuasai. Mau tau kalimat lengkap pertamanya? “Darf ich bitte mehr Brot haben?” (Bolehkah aku mendapat roti lagi?). Hahaha, kalimat penting banget ini dalam bertahan hidup.

Dari dia yang tiap harinya menjadi satu-satunya perhatian di rumah kami, sekarang dia memiliki puluhan teman yang usianya beragam, lebih kecil dan lebih besar, yang dengan mereka, dia berbagi. Dia belajar bermain bersama mereka, makan, tidur siang, melakukan aktivitas bareng-bareng, dan belajar bersikap yang baik sebagaimana layaknya makhluk sosial. Dia punya beberapa teman yang dia selalu ceritakan. Ada satu teman yang berusia 3 tahun lebih besar darinya (yang sekarang sudah masuk Grundschule/SD) sayang sekali dengan Kelana. Jika saya antar Kelana, dia menyambut Kelana dengan gembira. Jika saya jemput Kelana, dia akan membantu Kelana siap-siap pulang dan memeluk Kelana dengan erat. Hangat sekali melihat hubungan mereka. Seperti melihat Kelana dengan kakak sepupunya di Jogja.

Dan oh, Kelana juga belajar tentang kemandirian lebih pesat dari sebelumnya. Hanya dalam beberapa minggu di KITA, dia mulai mau melakukan apa-apa sendiri, misalnya memakai baju, celana, sepatu, cuci tangan, bersih-bersih, buang sampah. Tentunya masih untuk hal-hal yang sederhana. Tapi kami lihat bagaimana dia meminta kami tidak membantunya dan dia mau berusaha sendiri lebih dahulu. Kan terharu ya melihatnya.

Dan yang paling penting..

Setelah kami mudik di bulan Maret dan kembali lagi ke Berlin dan KITA tutup karena pandemi, percakapan tentang KITA masih menghiasi hari-hari kami. Misalnya ketika Kelana main peran atau ketika dia mengingat peristiwa-peristiwa di KITA dan menceritakannya. Terlihat sekali betapa dia suka di sana.

Tapi sempat di hari pertamanya masuk kembali setelah libur musim panas, dia berkata di waktu sarapan, “Kelana gak mau ke KITA, maunya main sama Ibu aja!” Saya sempat agak khawatir, mungkin efek libur panjang pikir saya. Di satu sisi, manis sekali terdengarnya, karena kan berarti dia menikmati kebersamaan kami berdua selama bermain bersama. Namun kami tetap berangkat tanpa drama. Dan sesampainya kami di KITA, dia melesat masuk, menyapa riang para pendidiknya dan bersiap mau langsung bermain bersama teman-temannya; seakan lupa pas sarapan di rumah, bilangnya mau main dengan saya. Hihihi.

Kelana menikmati masa-masa di KITA-nya, adalah yang terutama.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.