Catatan 2019

Jika saya harus merangkum tahun 2019 dalam satu kalimat, itu adalah “saya mendapatkan lebih dari cukup”.

2019 adalah tahun yang baik.

Tidak berarti segala sesuatunya berjalan lancar, mudah, dan menyenangkan.

Tentang kesehatan misalnya, batuk, pilek, dan pusing masih menyerang kami sesekali.

Kecelakaan juga sempat datang pada mama sebelum ulang tahunnya hingga mama sempat harus menjalani operasi, meski saat ini mama sudah baik-baik lagi.

Kakilangit mengalami kehilangan mbahnya yang tinggal satu-satunya pada akhir tahun 2019.

Penyesuaian terhadap lingkungan hidup yang baru di tahun kedua ini juga belum mulus: saya masih gagap dalam berkomunikasi misalnya, atau masih kedinginan jika musim dingin datang. Rasa sedih sesekali datang jika kangen mengenang mereka yang tersayang.

Tapi secara keseluruhan, saya bersyukur sekali untuk tahun 2019.

Selain batuk, pilek, dan pusing, tidak ada sakit yang perlu dikhawatirkan di tahun 2019. Bahkan untuk Kelana, pada cek kesehatannya di usia yang kedua, hati kami begitu bungah dengan hasil pemeriksaan dokter. Semua baik, Kelana sehat dengan tumbuh kembang sesuai usianya.

Sahabat dan kawan juga masih terus berkunjung ke Berlin di tahun 2019, senang sekali rasanya.

Kami juga mendapat seorang ponakan baru dari adiknya Kakilangit. Yeay!

Kami pun juga mendapat kesempatan untuk menjelajah lebih banyak tempat menarik dan cantik di tahun ini: Larnaca, Athena, Santorini, Zurich, Munchen, Venezia, Brussel. Belum lagi tempat-tempat baru di Berlin.

Banyak sekali hal yang patut disyukuri tapi saya mau mencatat dalam tulisan yang terpisah tentang tiga hal besar di tahun 2019.

Pertama, bagaimana saya bisa bertahan dan tetap menikmati profesi baru saya sebagai stay-at-home-mom di tahun kedua di Berlin padahal tantangannya semakin tinggi karena Kelana semakin aktif. Terdengar sebagai hal sederhana dan biasa tapi tidak buat saya. Ini hal besar dan saya harus menuliskan ini karena menurut saya ini adalah pencapaian yang tidak kalah penting dengan pekerjaan-pekerjaan dan profesi-profesi saya sebelumnya.

Kedua, di luar dugaan kami, Kelana mendapat tempat di KITA (iya, sulit sekali mendapat tempat untuk dapat KITA/daycare. Saya sudah mempersiapkan diri jika Kelana baru akan dapat di usianya yang ketiga atau keempat.). Kelana mulai sekolah di bulan Agustus. Kelana melangkah ke tahap berikutnya dalam hidupnya, sebuah langkah besar yang menguras emosi baik Kelana maupun kami orangtuanya (saya sih ya terutamanya). Dan Kelana bisa beradaptasi dengan baik dan sekarang dia menyukai aktivitas sekolah. Lagi-lagi, untuk saya ini adalah hal besar yang patut disyukuri.

Ketiga, saya pun mulai sekolah lagi seiring dengan Kelana mulai KITA. Sekolah adalah sebutan untuk mereka yang mengambil kursus bahasa di sini. Saya mengambil kursus Bahasa Jerman sekaligus orientasi bagaimana hidup di Jerman. Nama programnya Integration Course. Direkomendasikan untuk mereka yang menetap di Jerman. Saya sekolah empat jam lebih setiap harinya selama tujuh bulan yang diakhiri dengan ujian (duh!). Rencananya setelah usai (dan dinyatakan lulus, hehehe), saya berencana melanjutkan ke level berikutnya. Doakan saya.

Iya, di 2019 saya mendapatkan lebih dari cukup. Lebih dari yang saya perkirakan, lebih dari yang saya inginkan (dan doakan). Tuhan baik pada saya, pada kami. Hidup baik pada saya, pada kami.

Membuat saya bertanya, jika saya mendapat lebih dari cukup, sudah cukupkah saya memberi? Berbagi pada sesama, bersyukur pada Tuhan, bersyukur pada kehidupan itu sendiri?

Semoga di tahun 2020 saya bisa mencintai kehidupan dengan lebih baik, berbagi lebih banyak, dan bersyukur lebih lagi.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.