Bumil Traveling

Ada serorang teman yang ketika mengetahui saya hamil, menyandang predikat bumil, langsung bertanya apakah saya sanggup tidak traveling selama sembilan bulan.

Iya, traveling memang tidak sekedar hobi buat saya. Hasrat traveling sudah mengalir dalam darah saya dan membuat hati saya berdesir setiap kali merencanakan dan membayangkannya, dan girang ketika mengingat-ingatnya setelah pulang.

Setidaknya di bulan Januari ketika saya mengetahui saya hamil, saya sudah memiliki tiga agenda traveling di bulan tersebut. Yang pertama adalah pergi ke Bali, bulan madu yang kesekiankalinya dengan Kakilangit, mengoptimalkan voucher menginap yang kami dapatkan dari salah grup hotel. Tiket sudah dibeli dari beberapa bulan sebelumnya. Yang kedua adalah trip bisnis ke Manila yang sudah saya rencanakan untuk memperpanjangnya dengan mengambil cuti dan berlibur di daerah wisata di dekatnya (dan diving di sana!). Tiket pun sudah dibeli dan janjian dengan teman yang tinggal di sana sudah dilakukan. Yang ketiga adalah pergi ke Jogja untuk menghadiri undangan pernikahan dan partisipasi dalam Kelas Inspirasi Yogyakarta.

Ketika bertanya ke dokter dan rajin-rajin membaca artikel, usia kehamilan yang masih muda memang masih rentan untuk pertumbuhan janin dan potensi keguguran masih tinggi. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, kondisi rahim, kondisi janin, atau memang faktor luar. Naik pesawat itu sendiri sebenarnya tidak berbahaya, tapi karena banyak faktor yang bisa menyebabkan keguguran dalam fase trimester pertama kehamilan, dokter maupun arikel yang saya baca mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada perjalanan menggunakan pesawat, tendensi bumil adalah menyalahkan diri sendiri mengapa mengambil resiko terbang lalu perasaan bersalah itu akan mengikuti.

Menurut saya hal tersebut masuk akal, saya pun mematuhi sang dokter dan artikel yang saya baca tersebut. Tiket-tiket yang sudah dibeli pun kami batalkan. Untunglah semua bisa di-refund, meski tidak utuh.

Lalu, apakah itu berarti bumil benar-benar tidak boleh traveling? Tentu saja tidak! Jika kondisi bumil dan kondisi janin tidak mengharuskan sang bumil bedrest, boleh kok bumil berpergian dalam kondisi traveling yang gak aneh-aneh. Maksudnya di sini adalah traveling dengan aktivitas skydiving, diving, rafting, paralayang, naik kuda, sepak bola, trek-trek-an ya sebaiknya dihindari dulu. Hehehe. Kami memantau perkembangan kondisi saya dan kondisi janin secara rutin seusai bulan Januari, dan puji syukur sejauh ini kondisinya aman. Jadilah kami tetap melakukan ibadah traveling kami dengan konsep aman dan nyaman versi kami.

Glamping di Bandung

Di bulan Februari, pada usia kehamilan 11 minggu, kami ke Bandung. Sesuai dengan saran lagu anak-anak yang kami kenal sejak kecil, kami naik kereta api, tut..tut..tut.. Hehehe. Kami ke Trizara Resort, di Lembang, menginap di tenda yang glamorous, bak sebuah kamar hotel. Aktivitas itu disebut glamping, glamorous camping. Sangat tidak berbahaya buat bumil dan sangat saya anjurkan. Cari kamar dengan pemandangan gunung, jangan yang pemandangannya taman.

Pagi hari adalah surga di tempat ini. Bangunlah subuh hari, buka tenda bagian depan dan jendela-jendela tenda. Panaskan air dalam teko yang tersedia di dalam tenda, buatlah teh atau kopi panas. Ditemani minuman hangat, sambil duduk depan tenda, nantikanlah matahari yang terbit malu-malu dengan pemandangan langit jingga menemani fajar yang merekah. Matahari pagi yang perlahan naik membuat sinarnya masuk menyusup manis ke dalam tenda. Cantik sekali. Belum lagi karena itu di daerah yang rimbun, burung-burung tidak segan-segan bersenandung.

 

Keliling-keliling UK

Salah satu mimpi kami adalah bisa pergi ke United Kindom. Tiket sudah kami beli sejak bulan Oktober tahun lalu, tiket perjalanan langsung pulang pergi dengan harga miring. Di bulan Januari, ketika mengetahui saya menjadi bumil dan masa traveling paling aman adalah di usia kehamilan trimester kedua, saya langsung menghitung. Dengan kemampuan matematika saya yang a la kadarnya, saya menghitung usia kehamilan saya dan saya bersorak karenanya. Pada tanggal kepergian tiket di akhir Maret, usia kandungan saya memasuki 16 minggu, sudah masuk trimester kedua. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan visa ke UK (yang dokumen persyaratannya banyak banget!) jadilah kami jalan-jalan ke London, Cambridge dan Edinburgh selama dua minggu.

Tips dari dokter untuk bumil ketika traveling dengan penerbangan jarak jauh dan lama adalah pastikan kondisi sedang sehat, duduk di dekat gang, tiap beberapa jam jalan kaki, minum yang banyak, jangan tahan pipis. Tips dari saya, pertahankan rasa syukur dan bahagia yang ada.

Berbeda dari perjalanan-perjalanan travelish sebelumnya, fase traveling kami lebih santai. Dalam sehari, kami hanya berjalan-jalan santai empat hingga lima jam saja. Dan aktivitas yang lebih kami ambil adalah yang  banyak in-door dan banyak duduknya, termasuk menikmati pertunjukkan-pertunjukkan keren di London’s West End: the International Smash Hit “Stomp”, hilarious and full of critics musical drama “The Book of Mormon”, dan beautiful mix of musical and ballet “An American in Paris”.

London, Cambridge dan Edinburgh punya pesonanya masing-masing yang tidak pas jika ditulis dalam judul Bumil Traveling ini (terlalu banyak angan-angan mau menulis banyak topik, akhirnya gak nulis apa-apa, sigh).

 

Jogja, Bogor, Anyer, Cilacap

Setelah kembali dari dua minggu perjalanan ke UK, kami masih melanjutkan hasrat traveling di periode trimester kedua saya ini. Yang berhasrat lebih ke saya sih, Kakilangit lebih mendukung dan menjadi penjaga dan pengingat ketika saya terlalu antusias dalam beraktivitas, hehehe, maklum saya termasuk kategori bumilin, bumil lincah, hihihi.

Seminggu setelah kami kembali dari UK, kami ke Jogja. Kangen dengan keluarga di Jogja karena sudah lama tidak berkunjung. Di Jogja, atas permintaan ponakan-ponakan, kami sempat mengunjungi dan bermain di Pantai Baru yang terletak sejajar dengan Pantai Parangtritis. Ombak di pantai bagian selatan Jogja tergolong tinggi sehingga tidak aman untuk berenang-renang di lautnya. Kita hanya bisa bermain dan berlari-lari di tepiannya. Pasirnya pun hitam. Pantai yang bagus di Jogja di daerah Gunung Kidul, tapi untuk ke sana baiknya menginap sebelumnya atau berangkat subuh-subuh benar. Oleh karena tidak memungkinkan saat itu, menikmati Pantai Baru pun cukup menghibur.


Tak lama setelah dari Jogja, ada acara outing kantor di Bogor. Tempatnya di Highland Park Resort Bogor yang dikenal dengan hotel dengan konsep Perkemahan Mongolian di bawah kaki Gunung Salak. Menurut saya lokasinya bagus, aktivitas outdoor-nya seru, konsep kamar yang dibungkus nuansa tenda menarik, tapi saya tidak suka dengan suasana dalam tendanya, seperti berada dalam tenda sirkus berwarna-warni. Pada saat outing ini, saya asyik aktif dalam permainan-permainannya. Fasilitator outing sempat mengingatkan jika ada yang sedang tidak fit atau sedang hamil boleh tidak turut serta. Tapi saya saya pikir kondisi saya sedang fit-fit-nya dan permainan-permainannya pun terbilang aman untuk bumil, jadilah saya kembali menjadi bumilin dan menang dalam salah satu kompetisinya. Begini nih kalo bumiln kompetitif, hihihi.


Belum genap sebulan setelah pulang icip-icip pantai di Jogja, kerinduan saya akan pantai kembali terulang. Belum puas karena pasir di Pantai Baru hitam dan karena tidak bisa berenang di laut, kembali saya mengemukakan keinginan saya pada Kakilangit. Sempat terpikir untuk pergi ke Pulau Macan atau ke Bali atau ke Lombok. Setelah mengecek harga ke Pulau Macan, kembali saya mengurungkan niat saya. Iya, niat besar saya sering terhambat oleh harga yang tinggi, hehehe. Untuk ke Bali atau Lombok, rasanya harus diurungkan. Perut saya yang sudah semakin membuncit cukup menarik perhatian petugas bandara dan para pramugara/i yang biasanya akan mengajukan banyak pertanyaan tentang usia kehamilan, ijin dokter dan meminta saya menandatangani surat pernyataan.

Tidak hanya saya yang sedang rindu pantai, beberapa sahabat dekat juga memiliki kerinduan yang sama, ingin melepas penat sejenak dari riuh Jakarta. Seorang teman kantor pun menyarankan nama Aston Anyer. Entah sudah beratus purnama terakhir kali atau sekali-kalinya saya ke Anyer, entah waktu saya TK atau SD. Memikirkan ‘Antara Anyer dan Jakarta’ yang terpikir adalah kemacetannya, bukan lagu yang dipopulerkan Sheila Majid. Tapi demi kerinduan akan pantai dan berpikir bahwa perjalanan yang dilakukan bersama sahabat-sahabat pasti tetap seru meski macet, maka berangkatlah kami di awal bulan Juni.

Aston Anyer ini sangat saya rekomendasikan untuk mereka yang sedang rindu pantai dengan budget yang terbatas. Hotelnya masih terbilang cukup baru, modern, bersih, tidak besar tapi tertata apik, memilki banyak fasilitas permainan buat kumpul bersama teman dan untuk keluarga. Memiliki pantai pribadi yang meskipun kecil tapi cukuplah untuk berenang di laut dan bermain. Yang juara adalah kolam renangnya yang panjang yang sejajar dengan pantai. Dengan suasana mirip di Kuta dan Seminyak, Aston Anyer ini seperti Bali kecil. Jangan lupa memesan kamar dengan tipe Ocean View, kamar yang menghadap ke laut sekaligus kolam renang. Bahkan dengan bersantai di tempat tidur atau di balkon kamar, deru ombak dan suasana pantai sudah terasa. Puas rasanya.


Saya juga masih sempat ke Jogja satu kali lagi dalam rangka mengunjungi papa yang sedang dalam kondisi tidak fit dan ke Cilacap dalam rangka pulang ke rumah orang tua Kakilangit. Naik pesawat dan naik kereta. Oh iya, sekarang untuk naik kereta pun bumil juga diminta mengisi surat keterangan. Sama rupanya dengan persyaratan naik pesawat.

Ketika menulis ini, saya sedang di Cilacap dan sudah bersiap pulang ke Jakarta lagi. Usia kehamilan saya saat ini memasuki trimester ketiga. Rasanya bumil sudah harus memasuki fase yang lebih santai lagi untuk urusan traveling. Traveling Sudirman – Kebagusan cukuplah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.