Petualangan Baru yang Seru


Sekitar lima tahun yang lalu,  dalam acara ice breaker perkenalan rotasi team yang baru, si bos yang juga berlaku sebagai fasilitator, meminta kami memilih salah satu tokoh kartun yang paling mewakili kepribadian diri kami masing-masing dan menjelaskan alasannya pada yang lain.

Saya masih ingat sekali, saat itu saya memilih Dora. Iya, Dora the Explorer! Tentu saja karena pada saat itu saya masih bekerja di perusahaan yang lama, di Johnson & Johnson. Jika saya sudah bekerja di Disney, pastilah saya memilih tokoh Disney 🙂

Dora suka petualangan, senang mengeksplorasi tempat-tempat yang baru. Dengan kulit coklat sawo matang, penampilannya begitu sederhana namun terlihat sangat nyaman dan asik. Menggunakan kaos, celana, sneakers, dan selalu membawa ransel (yang di dalamnya ada peta itu loh!). Saya bisa melihat diri saya pada Dora. Bos dan teman-teman saya pada saat itu pun secara berjamaah mengamininya!

Iya, saya suka sekali jalan-jalan, menjelajah tempat-tempat yang asing buat saya, mengekplorasi hal-hal yang baru saya temui.

Nah, di awal tahun baru kemarin, tepatnya tanggal 2 Januari 2017, untuk pertama kali saya mengetahui bahwa saya mengawali petualangan baru. Tepatnya bukan petualangan saya sendiri, tapi petualangan saya dan Kakilangit. Petualangan kami jilid dua setelah jilid pertamanya adalah ketika kami menikah dan berjanji bahwa kami rela mengganggu dan diganggu satu sama lain setiap harinya. Hehehe.


Jilid duanya adalah ketika kami melihat dua garis yang membuat kami senang bukan kepalang namun belum sepenuhnya yakin. Kami tidak berpengalaman masalah ini. Ini hal asing, hal baru buat kami. Testpack yang saya gunakan adalah sisa ketika pada tahun sebelumnya atau mungkin tahun sebelumnya lagi (saking sudah lamanya! Tapi tenang, belum kadaluarsa kok!) ketika saya belum tahu bahwa ada polip di rahim saya. Begitu mengetahui ada polip, saya langsung ambil tindakan untuk minta diangkat. Bulan Juni tahun lalu, saya menjalani operasi kecil pengangkatan polip. Yang saya pikir operasi kecil itu saya kira bius lokal dan dilakukan di ruang dokter. Semacam operasi cabut gigi geraham bungsu yang pernah saya lakukan sebelumnya. Ternyata tidak. Saya dibius total dan dilakukan di kamar bedah. Kapan-kapan deh saya tulis pengalaman operasi saya ini. Cukup seru soalnya!


Kembali ke testpack, setelah mengetahui hasilnya, saya langsung berselancar di internet, apakah hasil testpack itu bisa dipercaya atau tidak. Kemudian, saya juga mengirim pesan pendek ke grup sahabat yang sudah lebih berpengalaman mengenai hal ini. Mereka berseru kegirangan menyelamati. Hati kami hangat dibuatnya. Berbagai tips diberikan oleh mereka, tapi tips yang paling saya ingat di hari itu adalah, “Nikmatilah masa saat semua orang memanjakanmu!” Saya mencatat pesan itu baik-baik dalam hati saya. Hahaha, saya akan buktikan hal itu, pikir saya.

Malam harinya, kami ke dokter kandungan untuk mengecek lebih lanjut. Sebenarnya kami ingin ke dokter yang mengoperasi polip saya karena kami jatuh cinta dengan caranya menghadapi pasiennya. Tapi berhubung dia sedang cuti di minggu itu, kami ke dokter yang sedang berjaga di RS terdekat. Tak mengapa pikir kami, toh hanya mengkonfirmasi benar tidaknya hasil testpack di pagi harinya. Oleh karena baru awal kehamilan, USG yang dilakukan dokter tidak lewat perut, tapi lewat vagina. Hasilnya? Dokter memberi ucapan selamat sambil menunjuk-nunjuk dengan panah ke arah sebuah titik yang katanya adalah kantong janin. Saya yang kurang peka ini mengangguk-angguk tapi sebenarnya tidak bisa melihat apa yang dia lihat. Kakilangit seakan lebih mengerti dari saya. Dia mengatakan bisa melihatnya. Tapi ketika sampai di rumah, dia juga kesulitan untuk menunjukkan titik yang dimaksud itu. (Fiuh. Maafkan kami, Nak.)


Setelahnya dokter memberi deretan nasihat untuk ibu hamil. Jangan ini, jangan itu, sebaiknya begini dan begitu. Tidak perlu lari dulu, jalan saja. Jangan makan yang mentah-mentah, jangan angkat beban berat-berat, jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, dan seterusnya. Banyak yang saya setuju, tapi beberapa saya kurang setuju dan saya berketetapan untuk mengeceknya lagi. Iya, mesti itu keluar dari mulut dokter, cek dan ricek memang sepertinya sudah menjadi gaya hidup saya. Yang segera saya setujui adalah untuk tidak menggunakan sepatu dengan hak tinggi. Memiliki saja saya tidak. Pernah punya satu dikasih beberapa sahabat, tapi tidak sanggup saya menggunakannya.

Pulang dari dokter, kami segera mengabari kedua keluarga kami. Lebih dari sekedar mengabarkan kabar bahagia, doa dari mereka kami sangat butuhkan.

Saya hamil! Jarang sekali hal ini terlintas dibenak saya sebelumnya. Saya memang punya keinginan memiliki seorang anak, entah anak sendiri atau adopsi. Hal ini pun sudah saya dan Kakilangit bicarakan, bahkan sebelum kami menikah. Tapi memiliki anak memang bukan tujuan utama kami menikah. Kami menikah karena kami merasa nyaman dan merasa menjadi manusia yang lebih baik ketika kami hidup bersama. Juga betapa lebih iritnya biaya traveling jika dilakukan berdua. Juga menyenangkan sekali memiliki orang yang dapat diganggu setiap harinya! *tetep! 🙂

Mengenai anak, kami menyadari bahwa tidak setiap orang dikaruniai anak dan Tuhan memiliki rencana indah pada tiap-tiap makhluk ciptaan-Nya tanpa perlu Ia menyamaratakan karunia-Nya. Kami juga menyadari adanya berbagai pilihan dalam hidup, tentang adopsi anak atau tidak, tentang menikah atau tidak, pun semua konsekuensi baik dalam pilihan-pilihan itu. Dan tiap pilihan itu sifatnya sangat personal.

Jika di tanggal 2 Januari itu, Tuhan mengaruniakan janin dalam rahim saya sehingga testpack dan dokter menyatakan saya hamil, tentu saja hati ini diliputi kebahagiaan tak terhingga. Meski sebenarnya terbersit sedikit cemas yang menyelip di dada. Bisa tidaknya saya menjaga janin dalam tubuh saya. Bisa tidaknya saya melewati proses kehamilan yang banyak tantangannya itu. Bisa tidaknya saya dan Kakilangit menjadi orang tua yang baik kelak.

Tapi kemudian saya teringat bahwa saya adalah pencinta petualangan. Tentu saja di dalam petualangan ada berbagai perasaan girang, bahagia, takut dan cemas. Apalagi petualangan yang baru. Dan kehamilan buat saya adalah sebuah petualangan baru yang seru!

 

*menulis ini di masa kehamilan 21 minggu, sudah bertualang setengah perjalanan, dan memang seru!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.