Jakarta, Sephia dan Ruci

Tinggal di Jakarta terkadang bukan suatu pilihan. Ada gula, ada semut. Ketika perputaran uang di negeri ini terpusat di ibukota, di sinilah berkumpul para pekerja.

Sudah tujuh tahun saya bekerja di ibukota. Sebelumnya, saya sempat menyicipi kerja di Jogja, Malang, Surabaya, dan sekitarnya. Jika dibandingkan, saya yang menyukai ketenangan, tentu saja lebih nyaman bekerja di daerah. Tapi lagi-lagi, kesempatan mengembangkan diri lebih jauh, tempatnya adalah Jakarta.

Selama tujuh tahun saya tinggal di sini, sebenarnya Jakarta gak horor-horor amat sih. Horor hanya terjadi sewaktu Jumat malam jam pulang kantor. Ditambah jika hari tersebut hujan atau awal dari akhir pekan yang panjang. Nah, saya dan Kakilangit biasanya memilih untuk tidak ke mana-mana di saat seperti itu. Iya, di saat itu saja. Selebihnya, Jakarta sebenarnya cukup menarik. Banyak taman yang cantik-cantik, banyak jadwal pertunjukkan seni untuk ditonton, transportasi umumnya cukup terintegrasi, makanannya juga banyak variasi. Banjir sudah mulai berkurang, pembangunan sudah mulai terasa. Tidak wah, tapi okelah.

Horornya Jakarta adalah soal kemacetannya. Tapi ada satu hal yang membuat tinggalnya kami di Jakarta jadi asik dan tidak horor lagi, terutama selama hampir 3 tahun belakangan ini: kami memiliki Sephia! Iya, Sephia adalah tempat kos kami di hari-hari kami bekerja. Kamu yang lahir di generasi Sheila on Seven, tentu paham dengan konsep Sephia. Buat kamu yang belum lahir, selamat kamu masih sangat muda belia! 

Sephia terletak di jantung kota, tepatnya di belakang kantor saya sehingga saya sebenarnya bisa flying fox-an menuju kantor. Sephia juga dekat dengan halte transjakarta yang jika ditarik garis lurus sudah sampai ke kantor Kakilangit, sehingga dia cukup naik sekali saja, terus sampai deh.

Lalu bagaimana dengan Ruci? Ruci, si Rumah kecil kami, adalah kekasih sejati kami.  Cinta kami dengannya tidak akan pudar. Kami hanya in long distance relationship dengannya selama hari-hari kami bekerja. Iya, semata-mata karena tidak efektif buat waktu dan tenaga kami jika kami harus tinggal di Ruci setiap hari kami bekerja dengan posisi kantor kami saat ini.

Di akhir pekan, Rucilah tempat kami pulang, menyelonjorkan kaki, menyandarkan hati. Meski kecil, Ruci adalah tempat paling nyaman buat kami. 

Mungkin kelak Jakarta bebas macet. Mungkin nanti kami mendapat pekerjaan bagus di dekat Ruci. Mungkin akan tiba saatnya kesempatan pekerjaan yang baik datang di Jogja atau di Bali atau di luar Indonesia. Mungkin kami bisa tidak perlu kerja di Jakarta dan bisa pensiun dini. Mungkin ini, mungkin itu. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Tapi saat ini, konsep Jakarta dengan Ruci dan Sephia adalah konsep yang paling tepat untuk kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.