Cek film ‘Cek Toko Sebelah’


Ada tiga alasan saya ingin mengecek film ‘Cek Toko Sebelah’: (1) Takjub mengetahui jumlah penonton menembus angka lebih dari 600,000 di hari ke-5 film ini ‘buka toko’; (2) Penasaran dengan penampilan kilat Kaesang, sang anak bungsu presiden; dan (3) ingin melihat bagaimana Ernest menggarap film. 

Saya mengenal Ernest sebagai komik yang dibesarkan melalui tayangan Stand Up Comedy Indonesia, baik di Youtube maupun di TV. Saya menikmati materi-materi yang dibawakan Ernest, setiap kali dia tampil. Menurut saya, materinya jujur dan selalu berdasarkan pengamatan detil hal-hal kecil di sekelilingnya.  Pembawaanya pun santai, membuat gelak tawa tidak terasa dikejar-kejar. Mengetahui dia membuat film, membuat saya penasaran, apa yang akan dikupasnya.

Malam ini saya dan Kakilangit pergi ke bioskop. Seperti biasa jika ingin menonton, kami biasanya membeli tiket lewat layanan internet. Keputusan kami tepat! Antrian film yang panjang di loket tidak perlu kami lalui. Ketika kami masuk ke dalam bioskop, sampai dengan baris terdepan, iya baris pertama dari depan, dipenuhi penonton! Ini hari kerja loh. Terakhir, film Indonesia yang saya tonton yang kursi-kursi bioskopnya penuh seperti ini adalah AADC 2.

Lalu bagaimana dengan review film a la a la saya setelah menontonnya? Menurut saya film ini patut diacungi empat jempol! Karena saya hanya memiliki empat! Saya memberi penilaian 4/5. Bagus! Sangat menghibur. 

Pertama, alurnya tertata apik. Tidak segala hal perlu dijelaskan seperti di sinetron. Ernest memperlakukan penonton sebagai penonton cerdas. 

Kedua, seimbangnya peran antar karakter-karakter. Karakter utamanya secara keseluruhan pas sekali dalam berakting meski saya kurang begitu sreg dengan si kakak yang menurut saya terlalu cengeng. Tentu saja favorit saya adalah sang bapak. Tokoh yang begitu alami dalam membawakan berbagai ekspresi. Favorit kedua adalah Ayu yang sangat ayu di film ini. Namun karakter-karakter pendukung juga tak kalah asik membangun suasana. Dinamika interaksi mereka begitu menyegarkan. Jika tugas karakter-karakter utama di sini membawa alur drama, para pendukung menyuguhkan gelak tawa. Tak terkecuali cameo yang saya tunggu, si Kaesang. Tapi di sini tokoh favorit saya adalah Bu Sonya. 

Ketiga, tema yang diangkat menurut saya sangat dekat. Tema tentang keluarga dengan komplikasi permasalahan di dalamnya. Sebenarnya sederhana bagi orang lain yang melihatnya, tapi bagi yang menjalaninya pasti tidak sesederhana itu. Persis sama seperti yang kita jalani. 

Terakhir, lagi-lagi Ernest dengan keahliannya sebagai pemerhati sosial, pandai dalam mengangkat potret masyarakat. Sebut saja bagaimana ribetnya perempuan jika difoto, atau tentang esensi selfie. Hal-hal kecil yang ketika disuguhkan menyentil mereka yang berperilaku sama.

Yang membuatnya tidak menjadi 5 menurut saya terletak pada beberapa adegan komedi yang menyuguhkan sensualitas perempuan sebagai materi komedi. Padahal ada satu adegan yang menjadi kontra dari topik ini, tapi di adegan-adegan lain sampai terakhir, masih saja diangkat dan saya menyayangkannya. Film ini padahal sukses tidak terjebak dalam komedi slapstick dan mengangkat materi-materi komedi yang begitu kaya di film ini. Tapi sayang masih terjebak remeh temeh isu sensualitas. Sayang.

Anyway, untuk yang belum nonton, coba cek film ini deh sebelum toko tutup! Nanti kita ngobrol lebih jauh tentangnya. Ngobrol sambil ngemil cakwe, wafer coklat dan eskrim kayaknya asik.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.