Menanti Senja

Senja di Jogja

“Larutan Senja”

Rasa: Hangat.
Warna: Elegan.

Perasaan yang ditimbulkan: Damai.

—–

Ah, Ratih Kumala menuliskan resep membuat larutan senja dengan pas, tidak berkekurangan, tidak berlebihan. Pas juga untuk cerpennya saya baca di sini, di sebelah laki-laki yang saya cintai yang sedang menuliskan kode-kode yang sulit saya pahami, di ruang membaca berdinding buku-buku di suatu sudut di Kemang Timur, di sore hari seperti saat ini, sambil kami menantikan senja.

Saya suka dengan senja dan saya suka menantikan kedatangannya. Ketika ia mengintip di jendela kantor saat langit Jakarta cerah, atau ketika ia datang berlatar sawah yang merentang saat kita pulang ke rumah di Jogja. Oh iya, saya juga suka senja ketika kami sedang berpergian, berjalan-jalan ke tempat baru. Dia muncul melenggak-lenggok berlatar rupa-rupa.

Apapun bentuknya, senja selalu hangat, elegan, dan menimbulkan perasaan damai.

—–

Tepat setelah saya menyelesaikan kumpulan cerpen saya membuka Path, media sosial yang sedang saya gandrungi belakangan ini. Lalu mata saya terpaku dengan sebuah foto 7 produk kecantikan yang berjejer merek ternama, diposting oleh seorang teman dengan tulisan demikian (versi yang saya sudah edit) yang menyertai foto itu:

“This is my anti-aging treatment commitment, an award winning product for many years. Dulu pas kuliah pernah pakai tapi ga diterusin karena ga punya duit. Sekarang sudah kerja harus beli sendiri. Semoga investasi jangka panjang ini berbuah manis. Supaya kalau suami makin kinclong di umur 40-nya nanti, saya juga tetap kinclong.”

Tidak hanya dia, beberapa teman saya juga sangat peduli dengan perawatan wajah untuk membuat diri mereka tetap terlihat muda dan menawan. Menjadi tua buat banyak orang mungkin sangat menakutkan.

Saya tidak pernah takut untuk menjadi tua. Saya memang tidak menaruh perhatian saya untuk membeli produk-produk yang akan menahan datangnya kerutan di wajah saya, saya justru ingin tahu seperti apa rupa saya kelak. Tapi saya juga bukan kemudian tidak peduli pada apa pun. Saya mencoba memberikan perhatian pada kesehatan saya. Saya mau tetap sehat di usia tua saya. Meski dijaga dengan cara bagaimanapun, saya sadar tubuh saya tidak akan pernah sama kelak. Mungkin saya akan bungkuk, mungkin saya akan renta dan peyot, tapi saya akan tetap mencoba menikmati setiap saatnya, saat saya menjadi tua nantinya.

—–

Saya membayangkan menikmati saat saya tua, saat kami tua, sama seperti saat menikmati senja.

Apapun bentuknya, senja selalu hangat, elegan, dan menimbulkan perasaan damai.

(Reading Room – Kemang, pada sebuah penantian senja)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.