Awan

Awan di Himalaya

Di ujung semesta.

Kita terbangun jam 5.45. Kamu membuka jendela, hari sudah terang. Aku melompat, mengetahui kita terlambat menyaksikan matahari terbit malu-malu.

“Awan kelabu. Meski kita bangun lebih awal, kita tak bisa menyaksikan matahari terbit” serumu.

Tak mengapa. Kita sudah terbiasa jika hal terjadi tidak sesuai kehendak.

Kita kemudian berjalan-jalan pagi menghirup segarnya udara pegunungan Nagarkot. Lalu kita mulai memesan sarapan di tempat duduk dekat jendela.

“Lihat itu!” tunjukmu.

Rupanya awan menipis seketika dan langit berubah menjadi begitu menakjubkan.

Ah, kenapa kita selalu lupa, selalu ada hal baik menanti di balik awan kelabu, entah pemandangan, entah pelangi.

Bukankah kita telah terbiasa juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.