Suatu Sore di Hari Bintang

Pernah jalan-jalan (baca: berjalan kaki) di Fly Over Semanggi? Aku pernah, pada suatu sore di hari bintang. Setelah satu bulan tinggal kembali di Jakarta, baru saat itulah aku benar-benar jalan-jalan. Mencoba menikmati Jakarta. Ternyata Jakarta memiliki satu sudut cantik juga!:)

45 menit sebelumnya, Kaos merah marun, celana jeans biru, dan sandal jepit kamar mandi. Apalagi ya? Hmm, dompet dan HP. Sudah. Ransel kesayangan? Hmm, tidak perlu, toh aku Cuma membawa dompet dan HP. Keduanya cukup kusimpan di saku celana. Dan aku melenggang ringan.

Sore itu aku ke Plaza Semanggi. Iya, memang tidak boleh ke sana dengan sandal jepit, saat banyak (bahkan hampir semua) perempuan-perempuan di sana, kecil-besar, muda-tua, mengenakan seluruh “perlengkapan perang” mereka! Tidak, aku bukan sinis dengan mereka, hanya terkadang aku tidak habis pikir, untuk berbelanja, makan, atau sekedar main, perlukah tas pesta, rok cantik, high heels, dan kosmetik di wajah (lengkap dengan bolak balik ke kamar mandi untuk melihat apakah kosmetik yang mereka gunakan sudah luntur ditelan AC). Duh, aku harusnya tidak boleh seperti ini! Ya, mereka punya keunikan tersendiri yang aku tak punya dan aku akan menghargai mereka. Namun bagiku, untuk urusan penampilan: FuNGsI itu nomor 1 dan EsTeTiKa nomor 10. Dan nomor 2 – 9 nya adalah KeNYaMANan!

Dari kost-ku, aku harus menaiki 2 bis untuk dapat mencapai tempat tujuan. Di bis yang kedua, aku terpesona oleh suara seorang pengamen: seorang bapak separuh baya, dengan sepasang kaki yang panjangnya tidak lebih dari 30cm. Dia bernyanyi dengan semangat, tidak minta dikasihani seperti yang lainnya yang justru memiliki tubuh normal. Dan suaranya.. aih, sungguh merdu! Aku tersenyum padanya kala ia menyayikan sebuah lagu Kang Ebiet. Dan ia membalas senyumku. Ah, aku suka dengan semangatnya! “Senayan, senayan!” ujar Pak Kondektur membuayarkan kekagumanku pada sang pengamen. Gubrak, Plaza Semanggi sudah lewat! “Kiri, Bang!”

Ada dua pilihan, menyebrang dengan jembatan penyebrangan dan menaiki bis yang ke arah Plaza Semanggi atau berjalan kaki saja dan menyebrang jika sudah di depan Plaza Semanggi. Aku pilih yang kedua. Kapan lagi berjalan kaki di tengah keruwetan Jakarta. Hmm, lagipula sore itu tidak ruwet, itu sebabnya aku suka.

Aku mulai berjalan. Beriringan dengan dua lelaki yang tak kukenal, yang pada akhirnya aku tinggalkan mereka jauh di belakang. Aku berjalan lambat, tapi mereka sungguh amat lambat. Kemudian aku beriring dengan ibu pedagang siomay yang menggunakan caping di kepalanya. Ia membawa dagangan di sepedanya. Kita bersama-sama melewati satu sisi panjang Hotel Hilton dan akhirnya kita berpisah di tikungan. Ia berbelok, sementara aku berjalan lurus saja. Hati-hati, Bu!

Berjalan lagi, menikmati mobil-mobil yang di bawah Fly Over, berderet dan menanjak. Kali ini aku kembali berpapasan dengan 2 pedagang rujak tumbuk. Mereka memikul dagangannya. Sempat terbersit untuk membeli dan memakannya di tengah perjalanan itu. Aku sudah lama sekali tidak makan rujak tumbuk Jakarta. Tapi ah, tidak. Aku belum makan siang.

Berjalan lagi, melewati bapak polisi yang sigap bertugas (Pak, Bapak juga sedang menikmati sudut ini; seperti saya? Atau sudah bosan dengan pemandangan yang menjadi makanan sehari-hari Bapak ini?)

Berjalan lagi, melewati taman-taman kecil pembatas jalan (Hey, ada satu kursi panjang di taman! Waduh, untuk apa yah? Oh, aku tau, untuk para pedagang yang kelelahan dan ingin mengaso sebentar mungkin)

Berjalan lagi, memandang ke depan, ke belakang, dan sekitar. Hmm, tidak buruk. Cantik juga pemandangan gedung-gedung ini. Berjalan lagi, melewati kuli-kuli bangunan yang sedang bekerja mencangkul parit di sepanjang sisi sebuah bangunan.

Berjalan lagi, melewati percik-percik kecil air dari keran yang tertanam, yang digunakan untuk menyejukkan tanah dan rumput taman kota.

Berjalan lagi, hingga akhirnya sampai di jembatan penyebrangan yang kumaksud. Banyak orang di sini. Tangga yang tinggi dan seorang ibu yang terengah-engah menaikinya. “Mari berjalan bersama saya, Bu! Mau saya gandeng?”

Berjalan lagi, dan sampai di Plaza Semanggi untuk menyelesaikan sebuah perjalanan lima setengah tahun yang indah.

– Terima kasih untuk perjalanan 5,5 tahun itu; aku tau jika maaf tidak akan pernah cukup –

11 thoughts on “Suatu Sore di Hari Bintang

  1. Heiiii….sempet juga yah jalan lewat ‘kolong’ itu? 🙂 Pa kabar, neh? Jakarta bisa begitu indah di “sudut2” tertentunya… ^^

  2. kamu juga menulis dengan indahnya, virtri…
    keep on blogging!

    hei, dirimu sudah di jakartakah? ayo kita ketemu
    biar aku bisa mendengarmu langsung menceritakan sudut2 cantik kota jakarta…
    Ayo, kita berbagi cerita

  3. ini lu yg nulis vir???….waw…engkau berbakat…kolong fly over aja jadi menarik bgt klo lu yg nulis..gmn klo lu nulis ttg gw..pasti laku keras..hehehe

  4. rouf: iya betul, harus lebih sering berburu nih ^^
    ika: yup, honey! ayo ketemuan! kangen aku!
    bemby: waa, lo ga percaya gw yg nulis? kan keluaran kelas bahasa! hehe, ngaruh gtu! cuma kebetulan koq! but thank you anyway 🙂

  5. huaa….
    tulisannya keren banget kak.
    huaaa….
    kalo m’nunung liat, dia pasti akan menarik pujiannya buat tulisanku kala itu dan mengalihkannya buat tulisanmu ini. (pdhal kan jarang2 tulisanku di puji. tapi toh bukan pujian fana yang kucari)
    huaaaa…
    ajarin donk, kak.

    huaaaaa…
    sarat makna banget. kenapa hanya selalu bilang “doain aj, ya, Dey” tanpa pernah memberitau aku apa yang harus aku doain dan bagaimana akhirnya jawaban doa itu.

    huaaaaaa…..

  6. Hi vir serius lo udah di jakarta apa itu cuma tulisan doang??? btw lo ngapain di jakata pa cuma mau ke plangi doang :)pliss call me y kalo bisa ketemuan sama anak2x !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.