(Belajar) Masak

Saya suka makan! Suka sekali. Buat saya, makan bukan hanya tentang cara bertahan hidup. Makan adalah perayaan menikmati rasa.

Jika sedang makan, apalagi yang enak, lidah saya seperti sedang berpesta pora, hati rasanya bahagia, dan perut terasa damai.

Saya juga mudah celamitan ketika melihat orang lain sedang makan enak. Bawaannya pengen mencoba juga. Atau ketika melihat foto dan gambar makanan yang tampaknya lezat, saya bisa langsung membayangkan rasa makanan itu menari di lidah saya.

Selama lebih dari tiga puluh tahun, kesukaan makan saya tidak pernah didukung dengan kesukaan (apalagi keahlian) saya akan memasak.

Ketika saya kecil, papa dan mama saya jarang memasak di rumah. Mereka menyediakan makanan di rumah dengan langganan dari katering rumahan atau beli makanan jadi. Beda dengan kedua kakak saya yang akhirnya belajar dan jago masak, saya mengikuti perilaku orang tua saya untuk membeli makanan jadi saja. Baik ketika saya mulai ngekos ketika bekerja, pun ketika sudah menikah, saya selalu membeli makanan jadi atau makan di luar. Praktis.

Dengan maraknya Go-Food di Indonesia, semakin praktis urusan bagaimana makanan tersedia. Dan semakin menggila saya untuk mencoba makanan demi makanan demi memuaskan lidah, perut, dan hati. Tanpa perlu memasak.

Semua berubah!

Setahun terakhir ini, kami hidup di Berlin. Jika setiap hari saya beli makan di luar, di sekitar tempat tinggal kami, pilihan yang sesuai dengan lidah Indonesia/Asia kami terbatas. Kami pun mudah bosan dibuatnya. Jika melebarkan sayap, mencoba aplikasi antar makanan seperti Go-Food (di sini namanya Foodora), bahasa Jerman saya masih amburadul. Belum percaya diri saya kalau nanti makanannya yang ada tidak sesuai aplikasi kemudian si abang atau si warung makan menelepon saya ber-cas-cis-cus tanya-tanya.

Akhirnya, saya pun mulai belajar masak.

Iya, saya sendiri takjub dengan kalimat itu. Demi terpuaskannya lidah dengan masakan yang pas bumbunya, dan bisa menggugah selera, saya belajar pelan-pelan.

Pengetahuan saya tentang memasak sungguhlah sangat minim. Saya harus berkenalan dulu dengan jenis-jenis bumbu masak di luar bawang merah, bawang putih, dan cabe. Saya harus memastikan bedanya jahe dan lengkuas. Saya juga belajar kenal lebih dalam dengan daun salam dan sereh. Dan saya akhirnya tahu yang namanya kemiri, yang awalnya hanya saya temukan namanya di botol sampo.

Terima kasih kepada penemuan bumbu-bumbu instan yang membantu saya di bulan-bulan awal saya belajar. Dari bumbu ayam goreng, sop, rawon, hingga rendang, ah ini andalan sekali. Saya sempat membeli stok bumbu instan dari Jakarta sebelum pindah. Tapi rupanya, di sini tersedia juga di toko-toko asia (dan ada juga toko Indonesia!). Lumayan untuk pemula seperti saya yang tak tahu apa-apa ini.

Adalah teman-teman saya yang bertandang dan menginap di rumah kami di sini yang berandil besar dalam proses saya belajar masak.

Ika mengenalkan saya pada telor dadar daun bawang, pasta tuna, dan pasta carbonara. Kelana suka sekali dengan resep pasta-pastanya.

Lalu Fajar yang sudah bersemangat untuk masak jauh sebelum dia datang. Dengan berapi-api, selama seminggu dia di sini, dia masak dan menghidangkan banyak sekali resep “masakan rumahan” a la Indonesia. Sebut saja semur, rica-rica, tumis-tumisan, perkedel, bakwan sayur, hingga bubur ayam. Iya, bubur ayam! Sekitar seminggu dia di sini, lidah saya dan kakilangit bersorak-sorai. Dan saya masih sering mengulang resep-resep peninggalannya.

Dari Fajar juga saya belajar beberapa teknik dasar masak, misalnya bawang mana yang harus dimasukkan lebih dulu supaya ketika matang bisa berbarengan (iya, saya setidaktahu itu).

Kemudian Tenny. Semasa bekerja di kantor Disney, Tenny kerap membawa nasi goreng buatannya ke kantor. Nasi gorengnya sungguh favorit, tandas dalam sekejap di kantor. Oleh karenanya ketika dia di sini, resep nasi goreng dan mie gorengnya pun diajarkan pada saya. Selain itu, dia juga membuat tahu telur, opor ayam, dan sop jagung.

Terakhir, datang Vera dan mamanya, Tante Justina. Jika Fajar mengajarkan berbagai resep masakan rumahan, Vera, umm, lebih tepatnya Tante Justina, mengajarkan saya berbagai jenis resep restoran chinese food (plus resep plecing kangkung yang aduhai rasanya).

Kenapa saya sebut resep restoran, karena tidak hanya rasa, tampilan masakannya juga mempesona bak di restoran ternama. Belasan menu dimasak dan dihidangkan ketika mereka di sini. Nasi hainam, mie ayam, bistik, cah kailan, capcay, kwetiaw, buncis sezuan, tempe dan kentang kecap! Duh, banyak sekali.

Resep-resep peninggalan mereka menjadi menu sehari-hari di rumah saat ini. Saya juga mulai bereksplorasi dengan resep-resep dari internet atau dari teman yang lain (dalam hal ini, ada juga teman yang tinggal di sini, Mira, yang sering banget saya tanya-tanya, hihihi). Dan jika saya membayangkan dan ngiler akan makanan tertentu, saya coba cari bahan-bahannya dan masak. Puas rasanya ketika berhasil.

Tentu saja tidak semua berhasil. Ya, namanya juga belajar. Pemula lagi. Hambar, keasinan, kurang mateng, dan gosong masih kerap terjadi. Kakilangit dan Kelana adalah saksi sekaligus korban. Eh.

Kini saya memasak hampir tiap hari (akhir pekan kami masih sering makan di luar atau sesekali ‘Indomie time’!).

Ternyata saya mulai menyukai aktivitas ini.

Dan pundi-pundi tabungan untuk jalan-jalan sepertinya semakin bertambah seiring pertambahan frekuensi memasak di rumah. Lumayan menghemat juga.

Memang lama waktu memasak juga masih tidak sebanding dengan kecepatan waktu memakan. Tapi saya orang yang lebih menghargai momen dibanding waktu. Tiap momen makan saya yang hanya hitungan menit, saya rayakan! Saya abadikan kebahagiaan saya makan (terutama masakan yang berhasil dan enak) dalam ingatan dan kenangan.

Saya memaknai memasak dengan berbeda sekarang. Ada proses kreatif di sana; sebuah seni mencipta, mengolah, dan mencampur rasa, untuk menghasilkan secercah bahagia.

Latest posts by virtri (see all)

9 thoughts on “(Belajar) Masak

  1. Happy cooking!!! kayaknya walaupun gue (selalu) merasa gue suka masak, dan selalu masak di Singapore, tapi tetap ga bisa bedain jahe dan lengkuas, daun salam dan sereh apalagi kemiri!!!
    Modal masakan saya cuma bawang merah, bawang putih, kecap, cabe, garam merica!! yg penting sesuai selera lidah hahahaha.

  2. Ahhh… Jadi ini alasannya… 😀

    Tetap semangat masak ya Bu!
    Btw.. Udah pernah nonton Babette’s Feast? Kalo itu kejadulan, mungkin Julie & Julia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.