Membangun Mimpi Anak-anak Lereng Merbabu Merapi

Adalah SDN 4 Jrakah; sebuah sekolah dasar sederhana yang terletak di lereng hijau Gunung Merbabu, menghadap paras elok Sang Merapi.

Di sana, sebanyak kurang lebih tujuh puluh anak menimba ilmu; meski harus menanjak berpuluh-puluh menit, setiap hari.

Di sana, dalam sehari kami mencoba menabur benih-benih mimpi sambil berharap semangat yang besar tumbuh di tiap-tiap hati.

Awal bulan September, saya kembali bergabung dengan Kelas Inspirasi, kali ini di Boyolali.

Saya mengambil satu hari cuti di hari Jumat untuk Hari Inspirasi yang jatuh pada hari Sabtunya.

Hari Kamis malam saya berangkat dari Jakarta menuju Jogja untuk bermalam di rumah orang tua saya, sekaligus melepas rindu pada mereka.

Jumat siang, kakak dan mama saya mengantar ke Stasiun Tugu. Iya, dari sana saya bertolak dari Jogja ke Solo menggunakan kereta api sampai Stasiun Solo Balapan, lalu lanjut naik becak ke terminal dan naik bus ekonomi ke Boyolali. Perjalanan kecil menuju Boyolali memberi nuansa tersendiri.

Setelah sampai di Boyolali, saya bergabung bersama puluhan, ah tidak, ratusan teman lain yang bergabung dalam kegiatan ini untuk saling mengenal dan berbagi kelompok.

Hari sudah sore dan kami bergegas ke desa tempat kami masing-masing ditempatkan. Saya mendapat kelompok SDN 4 Jrakah yang berlokasi di Selo, dataran tinggi lereng Merbabu. Perjalanan ke sana dengan motor-motor dan saling berboncengan mengingatkan saya pada masa saya kuliah, ketika banyak aktivitas dilakukan di Kaliurang. Ada kenangan terselip di hati ketika semilir angin menemani kami yang menanjak beriring-iringan.

Nasi putih yang mengepul, sayur lodeh dengan kuah kental dan panas, ayam goreng garing, tahu, tempe, sambal pedas, kerupuk dan teh panas, begitu lezat terasa ketika dinikmati di malam hari yang dingin di penginapan sederhana di Selo.

Renyahnya percakapan perkenalan dan asyiknya diskusi dalam membahas persiapan yang tinggal hitungan jam, membuat saya lupa bahwa saya baru mengenal mereka. Mungkin tujuan yang sama untuk berbagi pada adik-adik yang membuat kami langsung dekat. Atau mungkin karena pisang rebus, jadah, tempe bacem, kacang dan gorengan yang mengalir dihidangkan oleh pemilik penginapan yang sama antusiasnya dengan kami menghadapi esok hari.

Hari Sabtu, Hari Inspirasi yang dinanti datang!

Dini hari kami menggeliat dari sleeping bag kami masing-masing. Iya, karena kami hanya tidur di dipan dengan kasur seadanya dan karena kami tahu bahwa daerah tempat kami menginap itu dingin, tanpa janjian kami masing-masing membawa sleeping bag untuk menghangatkan tubuh. Badan hangat setelah bangun, tapi ujian datang menyambut kami. Kami harus mandi dengan air sedingin es batu! Brrrr.. Sebenarnya ada satu kamar mandi yang memiliki penghangat. Tapi kami belasan orang. Jadi kami harus menggunakan kamar mandi lainnya jika ingin semua siap pada waktunya.

Jam menunjukkan pukul enam ketika kami ke luar dari penginapan dan disambut lekuk Gunung Merapi di depan kami. Ketika hari sebelumnya kami sampai, hari sudah gelap, lekuk itu tidak terlihat.

Kembali kami melaju dengan motor beriringan. Jalan menuju ke SDN 4 Jrakah tidak mudah. Menanjak dan berbatu. Harus lihai mengendarai motor si sini. Anak-anak berpakaian putih merah terlihat berjalan menuju ke tempat kami juga menuju. Perjalanan mereka tidak dekat dan juga tak mudah. Lelah juga pastinya jika tiap hari. Tapi lihat, senyum mereka terlihat mengembang.

Udara masih saja dingin meski matahari sudah naik cukup tinggi. Desiran angin bergantian mengecup kulit wajah kami yang terbuka. Tapi lagi-lagi, dingin dan angin tidak mampu mengalahkan semangat mereka yang menanti apa yang akan terjadi di hari itu.

Lokasi sekolah mereka yang cantik, tidak selaras dengan fasilitas sekolah dan keadaan para pengajar. Fasilitas seadanya, 6 ruang kelas, 1 ruang guru. Sudah itu saja. Tidak ada kamar mandi untuk siswa. Jika siswa ingin buang air, mereka pergi ke sisi samping atau belakang sekolah. Ini menyedihkan sekali buat saya. Sebenarnya ada kamar mandi guru yang bisa juga digunakan untuk siswa, tapi pada prakteknya tidak demikian, karena untuk mencapainya harus masuk dan melewati ruang guru. Mungkin para siswa tidak nyaman. Pun untuk kamar mandi guru yang seadanya itu, tidak ada air yang cukup di sana. Duh.

Lalu tentang para pengajar, yang jumlahnya tidak seberapa itu, tidak setiap hari mereka muncul untuk mengajar. Sebelum hari inspirasi, ketika panitia melakukan survei ke sekolah ini, beberapa guru tidak ada di hari itu. Sebagian anak-anak main di kelas, di lorong, dan sebagian tidur-tiduran. Beberapa guru yang tidak disiplin datang ini menunjukkan wajah kepala sekolahnya. Pada hari inspirasi, kepala sekolah tidak menunjukkan mukanya. Fiuh.

Hari itu, anak-anak begitu semangat mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi yang kami bawa. Kami, para relawan pengajar, bertugas untuk berbagi cerita, tentang macam-macam profesi yang kami jalani. Bahwa mereka bisa berprofesi menjadi apa pun yang mereka mau, bisa bercita-cita tinggi. Lebih dari berbagi cerita, kami berusaha untuk membuat mereka tetap semangat sekolah. Ya, setidaknya untuk tidak putus di jalan dengan segala kondisi yang ada ini. Kami sedih mendengar bahwa banyak dari mereka yang tak selesai SMP, lalu mengambil pilihan menikah muda. Hari itu, kami mengajak mereka untuk bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi mereka.

Hanya satu hari. Meski kami sadar itu tidak cukup, kami berharap semoga ada semangat-semangat yang kami coba tanam di hati mereka.

Hanya satu hari memang, namun kami saat ini sedang mengumpulkan buku-buku dan membuat rak-rak buku yang bisa kami tempatkan di ruang kelas-kelas mereka. Perpustakaan kecil di kelas. Siapa tahu, buku-buku bisa menyirami hati mereka untuk menumbuhkan benih semangat untuk mewujudkan mimpi mereka. Mimpi anak-anak lereng gunung Merbabu Merapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.