Kartu pos bercerita untuk seorang sahabat

image

Di minggu siang ini saya ingin mengirimkan kartu pos bercerita.

Biasanya kartu pos bercerita saya kirimkan kepada keluarga, sahabat dan teman ketika saya dan Kakilangit sedang jalan-jalan ke tempat-tempat yang baru pertama kali kami kunjungi.

Saat ini, kami sedang tidak jalan-jalan. Saya sedang menyeruput secangkir kopi di kedai kopi kesayangan dekat rumah. Tapi saya ingin mengirimkan kartu pos bercerita saya.

Saya ingin mengirimkan kartu pos bercerita saya kepada seorang sahabat perempuan saya. Sahabat yang dengannya saya biasa bercerita tentang apa pun juga.

Saya ingat awal kami dekat enam tahun silam. Kami berbagi banyak hal yang sama. Sebut saja hobi dan kesukaan kami akan kopi, pijat, berenang, buku, komik, film, jalan-jalan dan tentu saja makan enak. Kami juga memiliki irisan pengalaman dengan beberapa bos yang sama di kantor lama kami. Topik tentang bos jelas menjadi selipan di sela-sela percakapan kami akan hobi dan kesukaan kami.

Persahabatan kami menjadi mendalam ketika kami di tahun 2010 jalan-jalan berdua menghabiskan akhir pekan di Cirebon. Perjalanan pergi dan pulang menggunakan kereta, perjalanan dengan berjalan kaki dan naik becak mengunjungi kesultanan Cirebon, tempat-tempat bersejarah di sana, batik Trusmi, dan titik-titik kuliner nan lezat dan menggoda lidah. Adalah pada perjalanan pulang, ketika sahabat saya bercerita tentang rahasia-rahasia hidupnya. Kami pun berbagi air mata di kereta.

Hari-hari selanjutnya, ganti saya yang kerap membagi rahasia hidup saya dengannya. Percakapan-percakapan kami semakin melebar dan mendalam. Di kantor, jika saya atau sahabat saya sedang butuh bercerita, kami tinggal memberi kode yang artinya ‘Jika sedang tidak sibuk, ke dapur atau ke lantai-7 yuk’. Dan kami pun bergegas ke tempat tujuan.

Lalu ada beberapa saat ketika kami tidak berbagi cerita, kami sudah mengetahui apa yang terjadi dengan satu sama lain, tanpa bertanya apa pun, kami hanya saling memandang, dan kami berbagi peluk.

Ketika sahabat saya pindah kerja ke tempat lain mendahului saya, saya sedih sekali. Tidak ada lagi orang di kantor yang dengannya saya bisa sewaktu-waktu berbagi pelukan dan cerita. Tapi ternyata itu tidak mengubah persahabatan kami. Kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang berdua, kadang bersama sahabat-sahabat kami lainnya.

Kami juga tetap jalan-jalan bersama ke Chiang Mai, ke Padang dan Bukittinggi dan ke banyak tempat yang akhirnya tidak kami realisasikan karena sahabat saya seringkali tidak bisa ikut karena sakit (meski tiket sudah dia beli).

Jika menelepon, kami menghabiskan pulsa berjam-jam. Jika sedang bertemu, sepertinya tidak pernah ada kata cukup untuk waktu. Sahabat saya adalah pencerita sekaligus pendengar yang sangat baik. Hatinya yang terbuat dari emas berlapis pualam itu membuat dia semakin mendapat tempat khusus di hati saya dan saya belajar banyak darinya, tentang murah hati, tentang memaafkan, tentang tidak menjadi egois, tentang keberanian, tentang ketabahan, dan tentang kesabaran.

Saya ingin mengirimkan kartu pos bercerita saya saat ini.

Ke tempat yang belum pernah saya kunjungi tapi akan saya kunjungi kelak. Ke tempat yang konon hanya ada bahagia di sana. Ke tempat tinggal sahabat saya yang hampir empat puluh hari dia di sana, beristirahat dengan tenang.

Dear Sharon,

Apa kabar? Ah ya, kabar kamu pasti baik-baik di surga sana. Di sini, aku kangen banget sama kamu! Dan ga cuma aku, banyak yang kangen sama kamu, Shar.

Aku punya banyak cerita untuk kamu yang tidak cukup ditulis jika hanya di sehelai kartu pos. Jadi, aku tulis dan kirimkan satu-satu ya.

Cerita pertama…

2 thoughts on “Kartu pos bercerita untuk seorang sahabat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.