Menuju Ujung Barat Indonesia

ke ujung barat indonesia

Tepat satu bulan lalu, di pergantian tahun 2013 menuju 2014, kami menuju ke ujung barat Indonesia. Iya, kami ke kilometer nol Indonesia yang berada di Sabang, Aceh.

Perjalanan menuju ujung barat Indonesia, seperti halnya perjalanan-perjalanan lainnya tidak memerlukan perencanaan yang panjang. Adalah @twiras yang meracuni kami untuk ke sana di akhir tahun. Aceh memang ada di daftar panjang tempat yang harus kami kunjungi, jadi mudah sekali meracuni kami. Saya, Kakilangit, dan Twiras. Perjalanan berjumlah 3 orang itu nanggung. Nanggung dari segi akomodasi dan transportasi (jika menyewa mobil). Lalu kami mulai meracuni beberapa teman lainnya. Akhirnya, orang keempat yang berhasil terkena racun adalah Ima.

Tanpa itinerary, kami biarkan perjalanan kami bergulir apa adanya. Tiap-tiap kami hanya berbekal keinginan untuk ke beberapa titik yang ingin kami datangi di sana atau melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sana.

Bagi saya sendiri, inilah 5 alasan saya ingin melakukan perjalanan menuju ujung barat:

Alasan #1: Kopi Aceh

Kopi Sanger

Saya penyuka kopi dan beberapa kali dibawakan oleh teman-teman kopi dari Aceh. Mereka mengatakan bahwa cara membuat kopinya sangatlah unik. Hal itu membuat saya ingin mencicipi kopi Aceh di tempat aslinya sambil melihat sendiri bagaimana mereka meracik dan menyajikannya.

Dalam 5 hari kami di sana, hanya beberapa yang enak. Dan kamu tahu, justru kopi Aceh paling enak yang kami temui justru di parkiran bandara, di Kedai Kopi Yukee Ulee Kareng. Yang spesial bukan kopi hitamnya, melainkan kopi susu Sanger. Lebih sedap tak terucapkan lagi ketika kamu menyeruputnya ditemani roti tawar berisikan selai kental srikaya. Hmmmm.

Alasan #2: Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk

Di Pantai Lampuuk ini terdapat gabungan sejuta keindahan alam: garis pantai yang panjang, air yang tenang untuk berenang yang seimbang dengan gulungan ombak untuk berselancar, bungalows, pohon cemara, danau kecil, bahkan sekumpulan sapi yang sedang berjemur di pinggirnya. Jika tidak hujan, kami sebenarnya berencana ke Pantai Merah Muda yang terletak dekat dengan Pantai Lampuuk, tapi medan yang ditempuh cukup sulit membuat kami urung melihat cantiknya.

Pantai Lampuuk yang berlokasi di dekat Lhoknga ini dulu habis diterjang Tsunami. Ketika kami di sana, kami bertemu dengan saksi hidup Tsunami dan kami beruntung bisa dibagi cerita olehnya. Ah, mereka, para penduduk di sana adalah orang-orang kuat. Mereka sudah berhasil membangun kembali Pantai Lampuuk dan mengembalikan keindahannya meski dibayang-bayang trauma kelabu.

Alasan #3: Kuliner Aceh

Mie Aceh

Bolak-balik saya merasakan Mie Aceh di restoran-restoran di Jakarta atau Jogja, tidak ada yang pas dengan lidah. Ketika di sana, saya menemukan Mie Aceh yang enak di rumah makan di sebelah penginapan kami di Lhoknga. Mie Aceh yang enak menurut saya yang kuah atau rebus dan yang mencampur kepiting atau udang di dalamnya. Slurp!

Selain Mie Aceh, kuliner wajib coba di sana adalah Ayam Tangkap. Banyak yang menyebutnya juga dengan Ayam Tsunami atau Ayam Sampah karena penampakannya yang tertutup rupa-rupa daun kering. Asal nama Ayam Tangkap itu menurut bapak yang mengantar kami adalah dari cara menyajikannya. Mereka yang memesan menu ini harus rela menunggu 20-30 menit lamanya karena ayam harus ditangkap dulu dan dimasak langsung. Biasanya ayam kampung yang masih remaja yang jadi korban. Saya bukan orang yang suka membayangkan behind the scene dari suatu masakan, intinya, Ayam Tangkap enak!

Alasan #4: Pulau Weh

Pulau Weh

Pucuk Kepulauan Indonesia. Iya, inilah yang membuat saya ingin ke sana. Pulau ini cantik. Di Indonesia, ia dikenal dengan nama Sabang tapi turis mancanegara lebih mengenalnya dengan Pulau Weh. Ada 4 pusat keramaian di sini: Kota Sabang, Iboih, Sumur Tiga dan Gapang.

Kami menginap di Iboih, di Yulia Resort, penginapan paling ujung di Iboih. Pemandangan dari bungalow kami adalah Pulau Rubiah. Jika matahari bersinar, air laut berwarna hijau toska. Cantik sekali. Cara menikmati Pulau Weh dapat disesuaikan keinginan: jalan-jalan ke kota naik motor atau mobil, diving, snorkeling, berenang, berjemur di pantai, bersantai di bungalows dengan duduk-duduk di atas hammock sambil membaca buku, bebas!

Alasan #5: Ke Kilometer Nol dan Menyanyikan Lagu “Dari Sabang….”

yuk ke kilometer 0

Ini adalah alasan terutama saya pergi ke ujung barat Indonesia, ingin menyanyikan lagi ‘Dari Sabang Sampai Merauke’ di Kilometer Nol di Barat Indonesia. Berhubung kami belum pernah ke Merauke, kami hanya menyanyikan sepenggal lagu saja “Dari Sabang……” dengan paduan nada lagu wajib nasional dan nada lagu Indomie. Kami bernyanyi dengan berharap bahwa kami harus ke Merauke suatu saat untuk menuntaskan penggalan lagu itu.

Oia, di Kilometer Nol, kita juga bisa mendapatkan, lebih tepatnya membeli sertifikat yang menyatakan kita telah mencapai ujung barat Indonesia. Seru ya!

sertifikat km 0

5 alasan itu membuat saya begitu menikmati perjalanan ke ujung barat bulan lalu. Tapi, selain 5 alasan di atas, saya juga menikmati perjalanan yang membuat saya memiliki pengalaman pertama menggunakan kerudung sehari-hari jika berjalan-jalan di tempat umum, menikmati keindahan masjid raya di kota yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekah ini, menikmati percakapan demi percakapan dengan penduduk lokal yang tidak selamanya ramah, menikmati hujan yang datang seharian di Lampuuk dan Lhoknga yang membuat kami hujan-hujanan, menikmati gelak tawa dan cerita bersama ketiga teman seperjalanan, menikmati perjalanan tanpa ada alasannya.

Iya, seringkali tidak perlu alasan untuk pergi ke suatu tempat. Pergi dan nikmati saja 🙂

ayo ke aceh

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.