Suka jalan-jalan: kaya?

NewBackpackRainCoat

Setiap kali saya memikirkan tentang jalan-jalan, jantung saya berdegup kencang, melebihi ketika saya ditembak seseorang yang menyatakan cintanya pada saya.

Saya suka sekali jalan-jalan, apalagi ke tempat-tempat baru, belajar tentang pengetahuan di tempat tersebut, berkenalan dengan masyarakatnya, membuka wawasan saya akan cakrawala budayanya. Tak ketinggalan kulinari dan alamnya tentunya.

Jalan-jalan ke luar Jakarta minimal 2 bulan sekali adalah resolusi saya yang paling berhasil yang saya lakukan dibanding 2 resolusi lainnya, tentang membaca dan tentang menulis.

Di tahun ini, saya melakukan perjalanan-perjalanan yang belum sempat saya bagikan dalam cerita:

berdua ke Jogja untuk melepas rindu akan keramahan kotanya; ke Balikpapan bersama keluarga tercinta untuk mengunjungi kakak di sana; ke Padang-Bukittinggi untuk merasakan kulinari luar biasa tanah Minang dan menikmati alamnya; ke Cebu di negeri Filipina setelah bekerja di ibukotanya, Manila bersama teman-teman sekerja; ke Magelang untuk turut dalam perayaan Waisak; ke Gunung Bromo menikmati merdu dan indahnya irama jazz di pegunungan; ke Semarang dan Pekanbaru untuk urusan kerja namun disambi berwisata; ke Cilacap bersilahturahmi sekaligus ke Pantai Teluk Penyu-nya; atau berakhir pekan ke Bogor untuk bersantai sejenak di rerimbunan sejuk pohonnya, pun sekedar mencicipi makanan lokalnya.

Ah, jangankan berbagi tentang perjalanan tahun ini, perjalanan impian kami ke benua Eropa akhir tahun lalu juga belum saya bagikan dalam cerita, padahal hati saya riang bukan kepalang dan senyum ini selalu mengembang ketika mengingat detil perjalanan. (Fiuh, ini adalah contoh resolusi tentang menulis yang tidak jalan yang sebelumnya saya katakan)

Teman-teman saya selalu beranggapan jalan-jalan kami mahal harganya, terutama karena seringnya kami berpergian. Wajar saja anggapan tersebut dikemukakan, mengingat saya tidak punya banyak simpanan. Padahal anggapan jalan-jalan saya mahal tidaklah tepat. Jadi, sudah saya tidak punya banyak simpanan, perjalanan saya pun murahan! Hahaha.

Kakilangit pernah berkata pada saya, baiknya kita memang memiliki prinsip untuk berinvestasi lebih pada kekayaan yang kami dapatkan dari pengalaman berjalan-jalan, dari pada investasi pada kekayaan harta. Tapi jujur kami tetap perlu harta, kami juga punya mimpi di masa depan yang harus diraih dengan harta. Mimpi tersebut salah satunya tetap bisa berjalan-jalan di usia senja, hihihi.

Hingga saat ini, saya masih terus berupaya untuk bisa jalan-jalan ke banyak tempat, dengan modal seadanya, supaya hati tetap bahagia dan pengalaman hidup menjadi lebih kaya.

Ah, Kakilangit sayang, aplikasi jalan-jalan ‘Travelish-Spend’ nya cepat dijadikan ya, agar bisa membantu mengelola anggaran yang cuma segitu-gitunya untuk kita berpergian ke berbagai pelosok dunia.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.