Ketika Imajinasi ‘Perahu Kertas’ Direalisasi

Takut merusak imajinasi. Itu selalu yang membuat saya khawatir jika menonton film yang diadaptasi dari buku cerita, apalagi buku cerita yang saya suka. Hal itu terjadi lagi ketika pertama kali saya mengetahui bahwa ‘Perahu Kertas’ akan diangkat ke layar lebar.

Saya pencinta novel Perahu Kertas! Saya menghabiskannya hanya dalam waktu satu hari saja. Novel ini berbeda seratus delapan puluh derajat dari kakak pertamanya ‘Supernova’ dan itu yang membuat saya jatuh cinta. Dari semua karya Dee (ya, saya membaca semuanya, kecuali Partikel yang masih menunggu di rak buku untuk dibaca), Perahu Kertas lah yang paing saya suka. Ceritanya sederhana, namun mengalir dengan begitu indah. Karakter-karakternya menarik, tidak ada yang benar-benar jahat, atau keterlaluan baiknya, yang membuat mereka sebagai cerminan manusia yang sesungguhnya.

Hari pertama ‘Perahu Kertas’ ditayangkan, saya diajak sahabat saya, Natalia, menontonnya di Blitz Pasific Place. Kami menonton pukul 10 malam. Hanya belasan orang yang menonton kala itu, mungkin karena sudah malam, atau mungkin karena menjelang libur panjang. Dengan pop corn manis asin, kopi vietnam Liberica, dan seorang sahabat, saya pun siap berlayar menyaksikan Perahu Kertas versi layar lebar.

Apik! Saya memberikan tiga jempol buat Film Perahu Kertas sekuel satu ini!!!

Jempol pertama tentu saja buat pemilihan ceritanya. Memindahkan seluruh lembaran cerita yang ada di buku ke dalam film yang dibataskan satuan menit tentu saja tidak mudah. Jika semua diangkat, tentunya akan terkesan terburu-buru, namun jika tak cermat dalam proses penyeleksian, akan berakhir dengan banyaknya bagian penting yang hilang. Film Perahu Kertas menurut saya mampu menyeleksi mana yang harus diangkat, mana yang harus direlakan sehingga racikan ceritanya pas untuk dikonsumsi sebagai film.

Jempol kedua saya adalah untuk para pemerannya dan tentunya sang sutradara yang mengarahkan mereka. Saya suka penggambaran keempat pemeran utama! Menurut sahabat saya, Kugy di sini kurang ‘gila’. Namun menurut saya sudah pas, sesuai imajinasi saya. Kegilaan yang ditunjukkan dalam visual memang tidak boleh kelewatan. Lebih dari itu akan menjadi lebay! Keenan memang kurang tampan, namun tidak masalah, jika terlalu tampan nanti menggangu jalannya cerita. Hihihi. Saya juga suka dengan casting Lude yang manis dan kalem. Lebih dari semua pemeran yang ada, yang paling sesuai dengan imajinasi saya adalah Remi! Keika membaca bukunya, saya jatuh cinta dengan tokoh Remi. Rasanya saya mau menulis surat ke Dee untuk meneruskan cerita Perahu Kertas dengan tokoh utama Remi dan saya. Hahaha. Dan ah, Reza Rahadian meneguhkan keinginan saya itu!

Terakhir, last but not least, jempol ketiga saya adalah buat sinematografi yang mengemas cerita ini menjadi sangat-sangat indah dan mempesona. Meskipun tengah malam, tak sedikit pun rasa kantuk datang ketika menontonnya. Sungguh, Hanung memang konsisten dalam menampilkan potongan-potongan cerita dalam visual yang tiada tara. Menyaksikan bagaimana tiap sudutnya diambil membuat saya tak henti-henti berdecak kagum. Dan penggambaran film ini tentang Sekolah Alit, melebihi imajinasi saya. Keinginan saya untuk membuat sekolah kelak pun kian membuncah! Potret sekolah yang ditampilkan, sekolah sederhana di tengah sawah yang menginspirasi, begitu sempurna.

Hanya ada dua hal kecil yang sedikit mengganggu saya ketika menonton.

Yang pertama adalah ketidakkonsistenan penyebutan diri Keenan ke Kugy, kadang-kadang dia menyebut dirinya ‘aku’ kemudian ‘saya’, kemudian ‘aku’ lagi. Minor memang, tapi saya sempat gatal dibuatnya.

Yang kedua adalah pemunculan Dee dalam cerita. Hanya sebentar  memang dan Dee bermain bagus. Kakilangit, sahabat saya, mengatakan kemunculan sang penulis atau si pembuat cerita adalah wajar dan lumrah. Dia menyebutkan beberapa contoh untuk itu. Tapi buat saya, saya tidak rela ada Dee dalam mahakaryanya ini. Ini seperti melihat sang arsitek menjadi pegangan pintu rumah megah yang dibuatnya; seperti mengetahui  sang komposer menjelma menjadi salah satu nada ‘sol’ dalam lagu gubahannya. Buat saya, Dee harusnya tetap menjadi dia yang berada di balik indahnya karyanya. Bahwa seorang Dee adalah keseluruhan Perahu Kertas. Buat saya loh ya. Kamu boleh berpendapat lain kok.

Lepas dari apapun, tidak ada alasan untuk tidak menikmati film ini. Film ini berhasil mewujudkan imajinasi saya dalam potongan-potongan cerita.

Latest posts by virtri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.