Berani Beda

“Pin lo berapa, Vir? Tar gw bbm ya.” “Nope, gw ga pake bb!”

“Hah, serius lo ga pake bb? Hari gini ga pake bb”

“Iya. Emang kenapa? Ada yang salah?”


Iya, ada yang salahkah  ketika saya tidak menggunakan BB sampai saat ini?

Sejak Blackberry (BB) baru muncul hingga berjamur luar biasa di Indonesia saat ini, saya tidak pernah tertarik menggunakannya. Di awal kemunculannya, tentu saja alasan utama saya tidak menggunakannya karena mahal harganya. Bentuknya pun menurut saya terlalu serius. Setiap melihat BB, saya teringat akan kerjaan. Duh, gawat kan! Saat ini, ketika harga dan bentuk BB semakin bervariatif, semakin saya enggan menggunakannya. Masalahnya cuma satu, hampir semua orang memilikinya!

Saya jadi teringat akan masa jaya Nokia di waktu silam, ketika BB belum agresif. Nokia adalah HP sejuta umat kala itu. Semua orang, dari anak kecil hingga kakek-nenek menggunakannya. Dan saya memilih untuk memiliki HP lain, Motorola dilanjutkan dengan Sony Ericsson, menjadi partner saya sehari-hari.  Tiga empat tahun terakhir ini, ketika BB yang berjaya, saya memilih Nokia (Keea) dan dilanjutkan dengan Samsung (Lubi) untuk menemani saya. Sebenarnya cinta saya pada iPhone. Namun, setelah dipikir-pikir, yang layak menemani saya adalah mereka yang murah, meriah dan tahan banting. Jadi, iPhone masih saya kesampingkan saat ini. Lagipula, Lubi punya berbagai sifat yang mirip dengan iPhone sejauh ini. Saya akan gunakan iPhone ketika mungkin kelak semua akan berpindah ke Samsung.

Iya, entah mengapa saya tidak nyaman memiliki barang yang digunakan oleh orang banyak. Menjadi berbeda buat saya lebih menyenangkan. Lebih variatif dan tidak membosankan. Bukankah tiap orang seharusnya unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing? Mengapa harus memiliki HP yang sama?

Dulu keunggulan BB adalah sistem push mail-nya. Namun sekarang hampir semua smart phone bisa melakukannya. Beberapa teman berkata alasan menggunakan BB adalah aplikasi BBM (Blackberry Messenger)-nya. Tapi sekarang ada ‘Whatsapp‘ (dan teman-temannya). Aplikasi yang mirip dan bahkan lebih ramah karena tidak eksklusif dari segi penggunanya. Jadi sejauh ini saya belum melihat alasan menarik untuk saya berpaling dan menggunakannya. Yang iya, sindrom saya teringat kerjaan setiap kali melihat BB masih tetap ada sampai sekarang. Membuat saya lebih tidak ingin menggunakannya.

Tapi saya menghargai mereka yang memilih BB memang karena mereka menyukainya. Yang saya kurang setuju adalah mereka yang memilih karena gensi tiada henti untuk menyamakan diri dengan lingkungannya atau akibat dorongan sosial.

Tidak hanya untuk urusan pilihan BB, tapi juga dalam banyak pilihan-pilihan dalam hidup. Opini, pandangan hidup, pekerjaan, pendidikan, bahkan jalan hidup.

Berbeda dalam pilihan? Kenapa tidak! 🙂

Latest posts by virtri (see all)

6 thoughts on “Berani Beda

  1. and I do that too….aku juga belum tertarik pada BB. pilihan kerjaku lebih ajaib lagi, beda dengan perempuan kebanyakan, terutama perempuan karier. hehehe…

  2. Yah berbeda yang akhirnya menjadikan kita orang yang special di lingkungan kita dengan berbeda akhirnya kita di lihat, tapi untuk hal ini jarang orang yang brani beda sekarang ini, bahkan ini sampai di industri musik, film dll di Indonesia. Termasuk gw apakah udah brani tampil beda? untuk itu orang lain yang lihat. deh :D.

  3. High 5! Aku juga nggak tertarik sama si bebek, sampai Nokia juaraku dicuri orang dan datanglah si Tante memberikan seonggok bebek buatku. Sampai skrg, hp jagoan buatku adalah si Tampan Mas Galaxy dikala semua orang memuja Sepotong Apel. Berani beda, kenapa enggak 😉

Leave a Reply to virtri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.