Gnicuk

Tadi malam lagi-lagi aku bertemu dia. Dia berdiri tiga meter di depanku. Dia menatapku tajam, seakan penuh murka. Pandangannya sangat menusuk, mengarah tepat ke wajahku, ke kedua bola mataku. Aku tak tahu apa lagi salahku di saat itu. Tapi aku tak berdaya jika harus bertanya padanya. Biasanya kami memang hanya bungkam ketika bersua, tanpa kata-kata.

Tanpa kata-kata, aku mencoba mencari tahu alasan murka matanya. Satu, dua, tiga detik aku masih bisa bertahan untuk menatapnya balik. Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dia tak satu kalipun berkedip. Ah, aku tak tahan sudah. Lagi-lagi aku yang lebih dulu berkedip, menunduk, lalu memalingkan wajah. Aku tak kuat melihat tajam matanya.

Aku melihat sekeliling, ada banyak orang. Aku dan orang-orang itu sama keadaanya. Tapi mengapa dia hanya mengarahkan matanya padaku. Aku tak mengerti mengapa aku lagi sasarannya.

Oh tidak, dia mulai melangkah mendekatiku. Aku tak ingin didekatinya, aku pun kembali menghindarinya. Untunglah langkahnya tidak secepat langkah kakiku. Aku segera mencari tempat perlindungan. Fiuh, aku aman.

Pertemuan aku dengannya adalah sesuatu yang tak terelakan. Kami bisa bertemu di sudut-sudut kota manapun. Aku tidak ingin mengulang kejadian yang sama dari waktu ke waktu. Aku ingin sekali bisa berteman dengannya dan tak perlu takut dengan tatapan matanya.

Ah, andaikan tatapan matamu bisa lebih bersahabat, Gnicuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.