Di Sini Calo, Di Sana Calo

Tadi malam saya berkeinginan untuk menonton sebuah pertunjukkan sendratari di Taman Ismail Marzuki. Saya yang tidak pernah bertobat-tobat dari kebiasaan go show (langsung datang ke tempat tujuan dan membeli tiket di tempat) mengulangi hal yang sama tadi malam. Alhasil, seperti yang sudah ditebak, saya tidak kebagian tiket, sudah terjual habis kata mereka yang di belakang loket tiket. Hiks.

Iya, benar, sudah terjual habis. Tapi tidak semuanya terjual habis untuk mereka yang ingin menonton. Sebagian lainnya jatuh ke tangan para calo. Calo-calo itu berdiri tepat di pintu masuk tempat penjualan tiket dan tempat pertunjukkan. Satu, dua, ah.. saya melihat lebih dari dua orang yang gelagatnya serupa. Sambil melangkahkan kaki ke tempat parkir sembari mengurungkan niat untuk menonton, saya didekati mereka.

“Tiket, Mbak!”

“Tiketnya, Kak!”

“Mau tiket, Bu? Ini saya ada tiketnya.”

Mereka tentu saja tahu bahwa saya tidak kebagian tiket. Baik dari raut wajah saya, maupun dari arah langkah kaki saya untuk kembali ke parkiran padahal baru kurang dari lima menit sebelumnya saya masuk ke dalam gedung, mencerminkan apa yang terjadi dengan saya.

“Memang berapa harga tiketnya?” tanya saya sekedar ingin tahu.

“75,000 rupiah” sahut salah seorang dari mereka.

“Tidak, terima kasih” ujar saya sambil menggeleng dan melanjutkan langkah kaki.

“Itu sudah murah, sebelumnya delapan puluh, sebelumnya lagi lebih mahal” sayup-sayup saya dengar suaranya.

Ya, itu memang murah. Selisih 25,000 dari harga aslinya, yakni 50,000. Tapi itu kan berarti sudah 150%. Jika harga aslinya 500,000 seperti pertunjukkan lainnya dan dijual calo dengan harga 150% artinya 750,000. Wah, besar sekali, bukan? Tapi ini bukan hanya sekedar masalah besar atau kecil. Bahkan selisih 25,000 tidak membuat saya tertarik, meski mungkin saat sekarang ini saya mampu untuk membayar selisih 25,000 tersebut. Lagipula buat saya, banyak pertunjukkan seni yang memang patut diapresiasi tinggi.

Adalah praktek percaloan yang tidak saya suka. Saya teringat akan praktek calo yang terdapat di stasiun, terminal, airport, atau di stadion seperti pada peristiwa Piala AFF yang masih terekam jelas di otak saya. Belum lagi mewabahnya calo untuk pengurusan administrasi publik seperti KTP, SIM, atau akte-akte.

Di satu sisi, di satu sudut hati saya, saya susah untuk menyalahkan mereka karena lapangan pekerjaan di Indonesia itu sulitnya bukan main jika memang tidak punya keahlian dan ketekunan. Sementara kebutuhan hidup kian tinggi. Menjadi calo membuat mereka mendapatkan uang secara instan untuk menyambung hidup.

Namun di sisi lain, saya tak segan-segan menolak praktek percaloan itu.

Bayangkan jika ada seorang pelajar dari kelas ekonomi pas-pas-an, sudah mengumpulkan uang sakunya seribu demi seribu selama berbulan-bulan sampai terkumpul 50,000 untuk menonton sebuah pertunjukkan seni yang dibintangi aktor favoritnya, namun tidak bisa membeli tiket karena harganya menjadi 75,000 di hari dia ingin menonton.

Bayangkan, berapa banyak penumpang kereta api atau bis yang tidak mampu, yang harus segera pulang kampung karena sanak keluarganya sakit tapi tidak bisa pulang dengan segera di hari tersebut karena tiket habis (oleh para calo).

Bayangkan berapa banyak penonton dengan semangat penuh membara membela Timnas yang ingin menonton langsung, tak kebagian tiket karena penuhnya semangat mereka, tidak sepenuh isi kantong mereka. Mereka tidak mampu jika harus membeli dari para calo (maaf jika jadi curhat, hehe).

Lalu bagaimana? Sambil berharap pemerintah memperhatikan masalah ini di samping pekerjaan rumah mereka  lainnya yang luar biasa banyaknya itu, saya mau berusaha untuk tidak turut ambil bagian dari praktek percaloan di negri ini. Sulit memang, seringkali saya tergoda dan beberapa kali pernah terjerumus oleh problema sistemik ini. Tapi sekali ini, saya mencoba membulatkan tekad untuk di kali-kali lainnya saya tidak bermain-main dengan calo-calo ini. Harapan saya, mereka kapok karena tidak punya konsumen, lalu mereka memikirkan mereka yang tak mampu membayar mahal karena ulah mereka, dan mereka berhenti jadi calo dan mencari pekerjaan lain.

Saya juga akan mengajak kawan-kawan saya ikut mengurangi praktek calo di negri ini dengan tidak menggunakan jasa mereka. Mau bergabung?

Latest posts by virtri (see all)

2 thoughts on “Di Sini Calo, Di Sana Calo

  1. Umm,,, itu dia Vir yang bikin aku (hampir) gak pernah mau, apa tuh istilahnya? Go show. Apalagi kalo mo naek kereta. Ampyun deh kalo dah kena calo… Wong kamu sendiri yang pernah bilang ke aku: Gpp Da repot dikit di awal daripada nanti ribet belakangan… Huayo… Lupa ya? Gpp sih, maklum: faktor U. 🙂

    Adek-adek, moral dari cerita ini adalah dapatkanlah tiketnya jauh-jauh hari sebelumnya. Jangan malu dan malas untuk bertanya, mencari tahu dan membeli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Haha!

  2. hihihi!

    lah ya itu, da… kan aku bilang “beberapa kali pernah terjerumus oleh problema sistemik ini” jadi memang saya tidak bersih di masa lalu, tapi membulatkan tekad untuk tidak terperangkap lagi 😀

    btw itu yang mana ya? waktu buat SIM ya? :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.