Dua Kursi dan Satu Meja

Malam ini aku butuh dua kursi dan satu meja, untuk aku letakkan di sudut kamarku. Iya, jangan berada di tengah, bantu aku untuk meletakkannya di dekat jendela, bersisian dengan balkon yang menghadap ke luar. Balkon tempat kita bisa menatap langit bertabur bintang dan sepotong bulan bulat penuh. Aku ingin kita bisa merasakan udara segar malam yang menyusup ke dalam kamar, membiarkan angin sesekali menyapa kita yang duduk di atas dua kursi dan ditemani satu meja itu. Akan kubuatkan dua cangkir kopi hitam untuk kuletakkan di atas meja, satu untukmu dan satu untukku.

Beberapa kawanku pernah tergelak mendengar keinginanku meletakkan dua kursi dan satu meja di dalam kamar. Apalagi ketika mendengar bahwa dua kursi dan satu meja yang kumaksud adalah yang terbuat dari kayu atau bambu yang terjalin anyaman lipat, bukan sofa empuk. “Untuk apa dua kursi dan satu meja berada di dalam kamar?” tanya mereka.

Untuk apa? Ah, aku membutuhkannya di saat-saat seperti sekarang. Ketika aku ingin bercakap mengenai rasa, karsa, karya. Bercakap tentang bahagia, sedih, lega dan penat. Tentang keluarga, sahabat, dan juga kawan. Pun mereka yang baru kutemui. Meski tidak kukenal namun raut wajah mereka melekat dalam ingatan. Mereka yang berada di sekitar kita. Ada yang berpeluh karena kerja keras, dan membuatku belajar tentang arti semangat. Ada yang memancarkan guratan duka yang menyentuh hati, dan membuatku ingin menggantinya dengan lukisan senyum. Ada yang tak henti menabur kasih dan menginspirasi untuk berbuat lebih hari demi hari, dan mengajarku arti berbagi.

Aku juga ingin mempercakapkan mimpi-mimpi. Mimpiku, mimpimu, mimpi kita. Tentang esok dan tentang masa depan. Tentang tujuan dan kekhawatiran yang sesekali menyergap. Tentang cita-cita dan semangat untuk meraihnya. Bercakap dan bercakap. Tentang manusia, lingkungan, dan alam. Tentang Tuhan, tuhan dan setan. Tentang imajinasi dan tentang realitas. Bercakap dan bercakap dan bercakap. Aku dan kamu bergantian. Tentang hidup dan setiap titik makna di dalamnya. Bercakap dan bercakap dan bercakap dan bercakap. Hingga tidak ada lagi yang bisa dipercakapkan karena hari benar-benar larut malam dan subuh telah menjelang. Hingga letih. Hingga hanya bisa diam. Hingga hanya terdengar bunyi kita menyeruput kopi bergantian.

Dua kursi dan satu meja. Untuk menikmati percakapan dan untuk menikmati diam.

5 thoughts on “Dua Kursi dan Satu Meja

  1. buatkan tempat yang lebih luas untuknya (rumah) nanti ku kan berkunjung ke sana, tapi ku tak suka kopi hitam, Green tea aja ya? ada kan? πŸ˜‰

    btw, ini oleh-oleh dari karimunjawa (Jepara) ya? Bagus kursinya, sayang didudukin, diliat aja, duduknya di meja πŸ˜€

  2. Senangnya kalau ku bisa ikut merasakan salah satu dari kursi itu dan seperti katamu “bercakap mengenai rasa, karsa, karya. Bercakap tentang bahagia, sedih, lega dan penat. Tentang keluarga, sahabat, dan juga kawan”

    Akan ku tunggu saat itu πŸ™‚

  3. @mbak mirs, di jogja mungkin masih ada oolong tea dari shanghai! lebih enak dr green tea! coba deh πŸ™‚

    @gesa, kapan mau ngopi bareng?

    @ika, menikah lagi saja! (dengan suami yg sama tentunya)

    @deyt, belon deyt! nunggu dapet hadiah dari kamu πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.