pilih nyaman atau tampil cantik?

Kemarin waktu saya ulang tahun, ketika teman-teman di kantor saya menyalami saya, ada salah seorang teman yang ketika menyalami dan mengecup kedua pipi saya berkata demikian, “Selamat ulang tahun yaaa….” kemudian ucapannya terputus sejenak. Dia mundur satu langkah, memandang saya dari atas kepala sampai ke bawah, dari rambut pendek saya yang tergerai bebas, wajah saya yang polos tanpa polesan make-up, kemeja cantik (menurut saya sih cantik), celana panjang saya, hingga ke sepatu teplek yang saya kenakan. Lalu dia meneruskan ucapannya, “…sepertinya kita harus membuat Program Putri untukmu!”

*gubrak!*

Dan seorang teman yang lain menyahut, “Coba aja kalo bisa!”

*glek!*

Di hari yang lain, pernah saya memuji (dengan tulus) penampilan seorang teman kantor saya yang lain lagi. Menurut saya cara berpakaiannya menarik. Baju-baju yang ia gunakan sampai dengan aksesoris yang melekat sungguh enak untuk dilihat. Secara spontan saya mengatakan padanya “Ah, kamu modis sekali! Kamu cocok sekali dengan pakaian-pakaian yang tiap hari kamu kenakan!”. Saya tidak sadar pada saat itu suasana kantor sedang hening, sehingga suara saya cukup terdengar ke berbagai sudut. Setelah saya menyelesaikan kalimat saya, tersebutlah suara teman saya yang lain, kali ini seorang laki-laki, “Pakaian dia sih biasa aja! Loe itu loh yang ancur!”

*ketimpa tangga!*

Baiklah..baiklah..harus saya akui, saya memang tidak oke dalam urusan merias diri, baik itu merias wajah ataupun merias diri. Saya bukan seorangyang tomboy, saya bahagia mengetahui saya seorang perempuan. Hanya, saya perempuan yang sederhana dalam urusan rias-merias. Terlalu simpel, demikian ujar teman-teman saya.

Saya sebenarnya tahu bagaimana cara menggunakan make-up. Meski terbatas pada yang dasar-dasar saja: (1) membersihkan wajah, (2) memberikan pelembab wajah, (3) memberi bedak, (4) memfokuskan diri merias mata dengan segala warna yang diinginkan, (5) memberikan pewarna pipi, dan terakhir (6) mengoleskan bibir dengan pelembab, pewarna, dan pengkilat. Benar kan langkah-langkah saya? Saya diajari hal ini sekitar 11-12 tahun lalu oleh sahabat-sahabat saya di waktu SMU *bangga mode on karena masi ingat, yay!* Tapi saya tidak pernah mempraktekkannya. Alasannya satu: ribet! Saya tidak suka yang ribet-ribet.

Bukan berarti wajah saya benar-benar polos. Sehabis mandi, saya menggunakan pelembab wajah yang mengandung perlindungan terhadap sinar matahari untuk kesehatan kulit wajah saya dan menggunakan bedak (bayi) untuk membuatnya segar. Sudah, itu saja. Lumayan kan? 🙂

Mengenai merias diri dengan pakaian, saya mencoba sebisa mungkin agar orang lain tidak sakit mata jika melihat saya. Maksudnya, saya tidak mengenakan warna-warna yang terlalu menyolok mata atau berkilau gemerlap di matahari siang hari, atau menabrakkan pola kotak-kotak dengan bunga-bunga di tubuh saya. Untuk menggunakan rok, saya beberapa kali mencobanya kok. Setidaknya saya punya 2 potong rok di lemari saya. Jika saya tidak sangat jarang sekali mengenakannya, itu karena saya tidak nyaman. Saya tidak bisa bergerak bebas. Pernah ketika saya menggunakan rok dan saya sedang duduk, seorang teman saya dari kejauhan memberikan tanda-tanda dengan tangannya. Ternyata dia memberikan saya tanda untuk mendekatkan kedua kaki saya satu dengan lainnya supaya tidak ada jarak diantaranya. Ahh, repot sekali menggunakan rok.

Menggunakan sepatu berhak tinggi? Itu sama saja dengan menyiksa saya. Saya salut dengan mereka yang mampu menggunakannya. 3cm, 5cm, 7cm, bahkan 12cm! Ckckckck… Saya punya dua pasang sepatu dengan hak 1cm untuk saya gunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman-teman saya. Saya mampu bertahan sampai dengan 2jam. Tapi jika lebih dari itu? Keram kaki sudah menanti saya dan saya kapok dengannya.

Menjadi seorang saya artinya harus berani tampil berbeda dengan perempuan-perempuan di sekeliling saya, terutama teman-teman kantor saya. Tapi saya tidak masalah. Meski saya tidak tampil dengan riasan di wajah dan pakaian oke, saya rasa saya cukup rapi dan tidak bau, sehingga saya tidak akan mengganggu mata dan hidung orang-orang di sekeliling saya 🙂

Kenyamanan saya dan orang lain harus ditempatkan di atas kecantikan dan estetika, bukan?

Latest posts by virtri (see all)

2 thoughts on “pilih nyaman atau tampil cantik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.