Kamu Layak Bahagia

Kedai kopi, Februari

Kamu datang sambil berlari-lari kecil. Perasaan senang jelas terlukis di wajahmu.

“Aku jadiaaannnnnn!!!!”, teriakmu sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekeliling kita menoleh dan tersenyum.

“Oh ya?? Selamaatt yaa!! Dengan dia yang kamu ceritakan padaku itu?” sambutku dengan peluk hangat.

“Iyaaaaaa.. Ah, aku seneng banggeettt. Akhirnya kami kopi darat hari minggu lalu, terus ketemu lagi hari selasa dan jalan lagi kemarin malam. Nah, kemaren itu dia nembak, dan aku terimaaa donk!”

“Wahh.. selamat ya, sayang! Aku turut senang untukmu. Facebook emang hebat deh! Mak comblang elektronik yang jitu!”

“Tulll.. Aku cinta facebook! Aku cinta dia! Kamu tau ga? Dia itu baik banget loh… Dia itu orangnya… Dia itu yaa…. dan kami… terus….”

Kita tersenyum-senyum sepanjang sore itu. Kamu berperan sebagai pencerita dan aku berperan sebagai pendengar; pendengar cerita orang yang dilanda jatuh cinta.

Restoran Padang, April

“Hai! Maaf ya aku datang sedikit terlambat”, katamu sambil menarik kursi

“Gapapa, aku juga baru nyampe kok.”

Krriiiinnnngggg….

Baru saja kamu duduk, ponselmu berbunyi.

“Bunyi hp-mu jadul amat”

“Hehe, iya. Bentar yaa…

Halo sayang… Iya, aku baru mau makan siang….. Sama sahabatku…… Ya perempuanlah, dia belum ganti jenis kelamin kok! Hehehe….. Di food court tempat kita biasa makan itu loh… Kenapa?… Engga, cuma sama dia doang, kita berdua aja kok….. Ok… I love you too, honey. Bye”

“Cieee… mesra amaatt!”, godaku.

“Iya donk.. Dia sayang banget sama aku. Aku selalu di telepon, dibangunin pagi-pagi, terus ditanyain udah sarapan, makan siang, makan malem, sampai dengan udah bobo atau belum..”

“Wah, reminder gratis tuh!”

“Hihihi, iya. Terus dia juga jaga aku banget loh. Dia mau aku aman dan baik-baik saja. Dia selalu tanya aku dimana dan dengan siapa saja.”

“Hmm, kok jadi kayak polisi. Terus kayak yang di iklan ga? Selalu tanya “Di mana? Sama Siapa? Ngapain?” Hehehe.. Ati-ati cowok posesif loh!”

“Engga lah.. Beda tau antara cowok posesif dengan cowok yang sayang banget!”

Lagi-lagi, siang itu kamu banyak bercerita tentang dia. Bagaimana dia sayang denganmu, perhatian, berusaha keras menjemput dan mengantarmu dari kost ke tempat kerja dan sebaliknya; hampir setiap hari.

Iya, semenjak kamu jadian dengannya, memang aku jadi kesulitan mengajakmu jalan-jalan seperti biasanya. Sebagian besar waktu luangmu, kamu habiskan dengannya.

Namun, aku pikir itu wajar, toh kalian memang butuh banyak waktu untuk mengenal satu dengan yang lain.

Kostmu, Agustus

Kamu yang dulu seorang yang ceria kini menjadi pendiam.

“Aku bingung! Apa aku berhenti kerja aja ya? Aku lelah dicemburui…” sembari mengatakannya, matamu sembab.

“Ngawur! Kamu kan udah mati-matian dapetin pekerjaan ini! Ini pekerjaan yang kamu impikan sejak SMA kan! Masa hanya karena dia ga suka dengan teman-teman kerjamu, kemudian kamu harus behenti kerja!”

“Yaa.. aku cari kerja lainnya aja. Yang ga banyak berhubungan dengan teman-teman kerja, dengan orang-orang lain, terutama kaum laki-laki..…”

“Fiuuuhhhh……” aku menarik napas panjang

Sekarang, kamu memang benar-benar berubah. Kadang aku tidak mengenalmu. Kamu mulai menarik diri dari Cihui Club – kumpulan 5 orang yang maniak dengan kopi & buku yang sejak di bangku kuliah sudah berteman akrab. Kamu juga tidak datang di acara reuni SMA kita di bulan Juni lalu, padahal dulu kamu ketua OSIS angkatan kita. Alasannya sederhana, karena kamu menghindar bertemu dengan mantan pacarmu dulu. Kemudian kamu meng-non-aktifkan account-mu di Facebook & Friendster, dengan alasan kamu ingin fokus kerja dan sibuk. Belakangan aku tau hal itu karena dia melarangmu menjalin relasi yang akrab dengan teman-temanmu. Huh, aku memang merasa dia sangat pencemburu. Posesif kronis lebih tepatnya. Jika saja dia tidak sedang keluar kota minggu ini, bisa jadi tidak diperbolehkannya aku main ke kostmu saat ini.

“Sepertinya dia sangat posesif terhadapmu. Kamu seperti tidak diperbolehkan bertemu dengan orang-orang lain.”

“Bukan begitu. Dia hanya sayang sama aku. Cemburu kan berarti sayang. Dia bersikap begini karena mantan pacarnya dahulu berhianat dan meninggalkan dia karena laki-laki lain. Aku harus membuktikan aku beda dengan mantannya”

“Helloooowww.. Cemburu = Sayang? Sayang caranya begini? Membuatmu tertekan? Sampai mau berhenti kerja segala?”

“Iya. Pada dasarnya dia itu baik, aku seperti menemukan sosok ayahku dalam dirinya, dia sangat perhatian dan melindungi aku. Dia juga romantis, begitu memujaku. Dia hanya keras jika ada teman laki-lakiku mendekatiku. Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan kepercayaannya kepada perempuan. Dia janji dia akan berubah suatu hari untuk tidak sekeras saat ini dalam hal itu.”

Kostku, Desember

Hari sudah larut malam dan layar ponselku menyala, ada sms masuk darimu:

“Kami baru saja bertengkar hebat. Aku di UGD sekarang, bibirku harus dijahit. Dia menamparku keras tadi. Aku sangat takut.”

Aku segera meneleponmu, namun kamu tidak jua mengangkatnya. Segera aku bergegas ke rumah sakit. Ini sudah keterlaluan!

Rumah sakit

Aku mendekati ruang UGD dan aku berhenti di samping tirai yang memisahkan aku dengan tempat tidurmu. Terdengar jelas suaranya, dengan sesenggukan dia memohon-mohon maaf padamu, dengan menangis dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

Ah, aku muak mendengarnya, kamu layak bahagia, sahabat..

Latest posts by virtri (see all)

6 thoughts on “Kamu Layak Bahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.