Dicari: Gadis/Jejaka

jodoh

Gadis Jawa, 27, 165/50, S1, karyawati, sawo matang, manis, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, tidak materialistis, apa adanya, sehat jasmani-rohani, senang menjahit dan memasak, serius, siap nikah.

Mendambakan jejaka, 30-40 tahun,  min.165cm, Diploma/S1/S2, kerja tetap/PNS/BUMN/swasta, menarik, baik, sabar, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, terbuka, sehat jasmani –rohani, tidak materialistis, tidak merokok/judi/miras/narkoba, menerima apa adanya, serius, siap nikah.

Jangan tertipu! Deskripsi di atas bukan tentang saya, karena deskripsi perempuan di atas terlalu bagus untuk saya. Ini hanya petikan dari salah satu rubrik tetap di sebuah surat kabar. Iya, biasanya di surat kabar atau di majalah terdapat rubrik yang menyediakan jasa perjodohan seperti di atas. Buat saya, hal ini menarik. Tujuan dari rubrik ini mulia adanya, sarana untuk membantu mempertemukan mereka yang menantikan pasangan hidupnya, jodohnya, atau tulang rusuknya yang hilang yang sekian lama dicari tak kunjung ditemukan. Sarana-sarana lain yang bertujuan mulia juga misalnya ajang pertemanan maya seperti Friendster & Facebook (hmm, setidaknya 3 orang teman dekat saya menikah berkat dunia maya ini, senangnya!). Atau, yang bisa kita saksikan di televisi, yang ratingnya lagi top-topnya adalah acara Take Him Out atau Take Me Out (saya sendiri belum pernah nonton acara ini secara tuntas sih, hehehe)

Kembali ke rubrik jasa perjodohan di surat kabar/majalah, pada dasarnya saya mendukung rubrik seperti ini.  Hanya saja, semakin saya perhatikan isi rubrik ini, isinya kok semakin monoton ya. Maksud saya monoton ya itu..ya  seperti contoh di awal tulisan ini. Semua laki-laki/perempuan/gadis/jejaka/janda/duda yang mengisi rubrik ini, sepertinya memiliki karakter yang sama satu dengan yang lainnya dengan deskripsi di atas. Semua mengedepankan yang baik-baik tentang dirinya, dan mengharapkan yang baik-baik dari calon pasangannya.

Ah, pasti anda akan mengatakan “Ya jelas tho.. Semua orang pasti mengharapkan yang terbaik untuknya”. Saya setuju 100% untuk itu. Tapi, yang menjadi ganjalan buat saya adalah hal-hal berikut ini:

1)      Hal-hal fisik selalu dijelaskan dan sepertinya mendapat tempat utama di rubric itu, misalnya usia. Apa salahnya jika usia berbeda jauh atau misalnya yang perempuan lebih tua dibanding yang laki-laki. Tingkat kedewasaan seseorang juga tidak diukur dari usia bukan? Kemudian tinggi badan/berat badan. Duh, penting ya? Bukankah tiap orang unik adanya?

2)      Sifat-sifat yang dideskripsikan tentang mereka atau yang diharapkan dari pasangannya kok bagus-bagus semuanya  ya? Rasanya mustahil, meskipun bisa saja ada mereka yang seperti itu, tapi saya dan orang-orang/teman-teman yang saya kenal selama ini jarang banget tuh yang memenuhi kriteria  semua sifat itu (apa saya salah pergaulan ya? * berefleksi mode on*).

Sebagian dari sifat-sifat baik itu pastinya ada di diri tiap manusia. Tapi jika semua sifat tersebut ada dan semua orang seperti itu, kok saya jadi ngeri ya hidup dengan manusia yang homogen, yang sama semua, dan baik-baik semua (dan saya pasti akan berefleksi lagi, saya masih di dunia ataukah sudah di surga? Hihihi).

Harusnya sifat yang baik diimbangi dengan sifat yang masih harus diperbaiki, misalnya: baik dan ramah, tapi mudah emosi, tidak suka masak, tapi suka belanja makanan sekaligus pintar menawar . Nah, cukup seimbang kan 🙂

Namun, di samping ganjalan-ganjalan itu, ada hal-hal yang saya suka dari rubrik tersebut, antara lain sudah mulai terlihat adanya mereka yang terbuka terhadap masa lalu calon pasangannnya. Misalnya, tidak ada syarat khusus untuk asal suku/etnis pasangannya demi terciptanya Indonesia Raya. Lalu, seorang gadis tidak hanya menginginkan jejaka, tapi juga ok-ok saja dengan duda (meskipun kadang-kadang masih ada embelnya: duda yang ditinggal meninggal istrinya. Duh!). Para jejaka juga sudah mulai membuka diri terhadap janda (meskipun kasus ini jaraaannngg sekali saya temui).

Saya juga suka dengan satu pernyataan sifat yang sering muncul, yakni memiliki sifat “apa adanya”. Apa adanya bukan berarti “saya ada apa-apa” (hehehe), tapi berarti “saya ya begini keadaannya (baik dan buruk)”.  Harusnya pernyataan ini cukup, tanpa harus dibumbui (terlalu) banyak sifat baik, yang jadi terlihat dibuat-buat.

Saya orang yang percaya bahwa manusia pada dasarnya tidak sempurna, masih banyak memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Dengan menjadi makhluk sosial, salah satunya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis, maka terbukalah ruang untuk saling memperbaiki diri masing-masing, belajar menjadi yang terbaik untuk pasangannnya dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang terus-menerus berproses, bukan makhluk ting ketiplak ketipluk sudah terbentuk sempurna sifatnya.

Ah, saya terlalu banyak cakap ya. Menikah saja belum, sudah banyak omong mengenai harus dan tidak harus dalam sebuah jalinan asmara laki-laki & perempuan! Tua juga belum, sudah banyak omong tentang manusia sebagai makhluk berproses! :p

Saya hanya seorang perempuan cerewet yang tiba-tiba kepikiran kalau saya gabung di rubriktersebut, saya akan menuliskan seperti ini:

Gadis (sepertinya sih masih), 27 tahun (itu hanya usia lho, karena kata orang-orang: tampang saya jauh lebih tua dari usia saya, kelakuan saya jauh di bawah usia saya, kekanak-kanakan maksudnya), bentuk tubuh tidak seproporsional orang pada umumnya (tapi saya bersyukur pada Tuhan untuk tubuh saya), warna kulit belang-belang putih-coklat-hitam, dengan beberapa bekas luka di kaki (waktu kecil pernah korengan soalnya, hihihi), ga manis, ga terlalu cantik (meski saya suka narsis di depan cermin), kurang bertanggung jawab, kurang perhatian, sehat jasmani (sejauh ini) dan rohani (dalam arti tidak gila), ga merokok tapi suka minum anggur/bir (meski tak pernah sampai mabuk), ga bisa masak, ga bisa jahit, belum siap menikah dan belum tahu akankah setia atau tidak, karena sampai sekarang masih suka lirak-lirik laki-laki yang ok punya, hihihi

Dan saya mendambakan………….  laki-laki yang mencintai saya apa adanya 🙂

Kira-kira, ada ga ya yang mau sama saya? Hehehe..

Latest posts by virtri (see all)

5 thoughts on “Dicari: Gadis/Jejaka

  1. Hmm, aku lihat ada sindiran tapi bercampur dengan keinginan dari simpenulis (eh pengetik 🙂
    Gw boleh pasang iklan juga khan? he2..

  2. @Chaplin
    hah?? seorang Chaplin mau pasang iklan? yakinnn masih perlu? 🙂

    @mbak nia
    ya gitu deh, mbak.. sapa tau ada yang baguss.. tapi rupanya sama semua.. kurang cihuy ah! jadi, kembali ke selera asal sajaa.. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.