from malang to surabaya

(ini bukan tulisan tentang mudik. kalo mudik, judulnya akan “from surabaya to jogja”, hehe. oia, selamat idul fitri ya untuk kamu yang merayakannya. aku minta maaf untuk segala tuturku yang bercela dan lakuku yang tak berkenan di hatimu. kamu mau memaafkanku, kan?)

Delapan bulanku tinggal di Malang sudah tuntas. Akhir September kemarin aku pindah ke Surabaya untuk tinggal di kota pahlawan ini.

Malang yang sejuk, Malang yang cantik, Malang yang nyaman, tak akan kudapati lagi tiap harinya. Bagaimana aku bisa mudah melupakan kota itu, delapan bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Malang untuk menawan hatiku. Tiap pagi dan sore aku disuguhi pemandangan liuk siluet pegunungan yang hingga sekarang tak dapat kuhafal satu per satu gunung apa saja yang mengelilingi kota indah itu. Kota yang dicintai gunung-gunung, demikian sapa sahabatku pada kota ini. Wajar saja jika hawa di kota ini begitu bersahabat. Hembusan angin yang lembut, hijau pohon di sisi kiri dan kanan jalan-jalan kota, dipadu dengan beberapa bangunan tua jaman Belanda menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum tiap aku menyusurinya.

Ada beberapa sudut yang membuatku betah berlama-lama untuk menikmati kota ini:

 

Alun-alun. Di pusat kota ini terdapat tiga bangunan rumah ibadah yang bersisian: Masjid, Gereja Katolik, dan Gereja Kristen. Kuno memang, namun justru di situlah letak keindahannya. Ah ya, di Gereja Kristen itu, GPIB, di sanalah orang tuaku mengucapkan ikrar suci mereka tiga puluh dua tahun lalu. Hmmm..

Masih di alun-alun,  di sana terdapat “Warung Es Krim Oen”. Ini pilihan tepat untuk mereka yang mau merasakan jaman tempoe doeloe. Warung atau lebih tepatnya restoran ini masih mempertahankan suasananya: dandanan para pelayannya, dekorasi ruangnya, maupun meja dan kursi anyaman tempat kita duduk.

 

Sepanjang Jalan Ijen. Ada perumahan di tengah kota yang memiliki bangunan Belanda. Boulevard ada ditengahnya. Juga tugu bunga. Hijau mendominasi sepanjang jalan yang lebar ini. Sejuk sekali. Di minggu pagi, jalanan ini ditutup untuk kendaraan untuk menyediakan ruang publik bagi mereka yang ingin berolah raga pagi atau menikmati berbagai jajanan. Ah, mengingatkanku pada seputaran kampus UGM. Jika kota Malang sedang berulang tahun, sepanjang jalan ini menjadi tempat untuk diadakannya festival rakyat: Malang Kembali atau Malang Tempo Dulu. Ketika mengunjunginya kemarin, aku senang sekali. Senang melihat bagaimana rakyat Malang antusias mengetahui sejarah negeri ini di kota mereka. Senang juga dengan kumpulan manusia yang mencintai karya tradisional yang bangsanya hasilkan sendiri.

 

Nasi Pecel Mbok Djo, Sop Buntut Aroda, dan Tahu Telor Pak Pedes. Hahaha, iya tiga tempat makan ini memang tidak besar dan tidak sepopuler Pecel Kawi misalnya. Namun, kurang ajar! Aku benar-benar menyukai tiga makanan ini!

Masih banyak lagi sudut-sudut yang kusuka: Taman Tugu di depan Balai Kota, Perjalanan menyusuri Batu, Pujon hingga Pare, Gerejaku di Bromo, Pantai Balekambang nan menakjubkan, hingga kamar kosku yang nyaman.

Belum lagi kenangan akan kita; kebersamaan kita. Kencan-kencan irit dan kencan-kencan boros, demikian kita menamainya. Hahaha, itu bukan kencan, sahabat, itu perjalanan. Iya, penjalanan yang selalu saja menyenangkan jika bersamamu.

Sekarang, aku berada di Surabaya. Belum genap satu bulan aku mendiaminya. Panas, beda dengan Malang. Airnya juga tidak sesejuk di sana. Bau tak sedap sering tak sengaja kuhirup jika bertemu dengan kali-kali di tengah kota. Pemandangan yang kudapatkan tiap harinya juga berbeda. Tidak ada pegunungan yang bisa dengan leluasa kupandangi ketika aku menyusuri jalan-jalannya. Yang ada sekarang adalah mal-mal dan plasa-plasa, kerumunan mobil dan motor yang saling berpacu di jalan tanpa toleransi, pasar yang tumpah hingga ke badan jalan; ruwet.

Namun aku percaya, pasti terdapat banyak sudut-sudut yang bisa kunikmati juga di sini. Beberapa sudah kudapat. Memang masih dalam hitungan jemari tangan tapi akan bertambah tiap harinya, aku yakin kok. Setidaknya, kamar kost-ku saat ini begitu cantik.

CA

Seperti halnya aku terbiasa mencintai setiap manusia yang kutemui dalam hidupku ini, tanpa memandang rupa; aku juga akan mencintai kota yang akan kudiami saat ini: Surabaya.

virtri
Latest posts by virtri (see all)

2 thoughts on “from malang to surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.