Nepal: Perjalanan ke ujung semesta (hari-1)

Yuk ke ujung semesta

“Ke #nepal tidak mahal, 3jt an bolak-balik, apakah kata himalaya tidak membuatmu ingin mengepak tas dan pergi? #travelish”

Itu adalah salah satu kicauan Kakilangit di Twitter. Terdengar provokatif? Memang! Tujuannya berkicau tiada henti atau tujuan saya yang kerap membagi foto di Instagram, Path dan Facebook adalah untuk memanasi kamu, kalian, untuk dapat merasakan pengalaman yang kami dapatkan di sana, di ujung semesta.

Awalnya tidak sengaja, Kakilangit sedang mencari-cari tempat tujuan di Asia Tenggara sekitar seminggu sebelum Lebaran. Entah Kamboja, Myanmar, Laos, atau di mana pun boleh lah, sebagai tujuan kaki-kaki kami yang gatel jalan-jalan di minggu setelah Lebaran yang kami (saya lebih tepatnya) belum efektif untuk masuk kerja.

Ketika sedang membuka-buka website penerbangan kesayangan Air Asia (disayang karena murahnya) , Kakilangit teriak memanggil saya “Sayang!!!” (saya juga dipanggil sayang! Pasti gara-gara saya murahan! Eh!)

“Jakarta-Kathmandu, Sayang!!”

Ukiran JKT-KTM lewat Kuala Lumpur dengan harga bolak-balik per orang sekitar 4jt terpampang indahnya di layar komputer. Jika kita kaya waktu sedikit lagi saja, harga itu turun menjadi 3jt.

“Beraaangkaaattt!!”

Semakin dekat dengan hari keberangkatan, semakin berdegup hati kami, senang bukan kepalang.

Hari-1

image

Penerbangan kami pukul 6.25 pagi. Jam 4.30 kami sudah sampai di terrminal 3. Lebih baik datang lebih awal untuk perjalanan yang sudah kami tunggu-tunggu. Kami tidak ingin ketinggalan pesawat, fatal akibatnya. Kami menunggu di J-co sambil menyeruput kopi dan melumat donat keju. Masih ada waktu juga untuk saya membuat satu tulisan untuk blog tercinta.

Jam 6, pesawat boarding tepat waktu, berangkat tepat waktu, tiba di Kuala Lumpur tepat waktu juga. Kira-kira 1 jam kami transit, kami pun berangkat menggunakan pesawat Airbus A330-300 ke Nepal, ke ibukotanya di Kathmandu. Kurang lebih 5 jam lamanya perjalanan dari KL ke KTM.

Ketika diumumkan oleh awak kabin bahwa pesawat kami akan mendarat, kembali hati ini berdebar-debar. Sampai. Kami sukses menginjakkan kaki kami untuk pertama kalinya di Nepal (jelas maksud saya menulis pertama kali adalah doa supaya ada kedua dan ketiga kalinya kelak)

Bandara di Kathmandu jelek. Ya, sulit buat saya untuk menuliskan dengan kata-kata indah untuk sebuah bandara yang memang jelek. Suasananya muram, tidak terawat dan petugasnya lamaaaaaa bekerjanya, sehingga apa-apa mesti nunggu dan antri panjaaang. Tapi semua hal ini tidak membuat semangat saya padam untuk menikmati Nepal.

Bandara Kathmandu

Visa on arrival! Mengurus visa pada waktu kedatangan adalah pertama kalinya buat kami. Berbekal informasi yang kami cari sebelumnya di internet, kami menyiapkan pas foto 4×6, uang $25 dan senyum mengembang. Jika pun kamu tidak punya pas foto, ada tempat untuk membuat pas foto langsung jadi di sana. Tapi saya lupa berapa harganya.

Kami sudah memesan penginapan kami untuk hari pertama kami di Nagarkot, lengkap dengan transportasi penjemputan dari bandara. Harga penginapan kami di Nagarkot, satu kamar, kamar mandi dalam, air panas, hanya $17 saja semalam! Harga memang belum termasuk sarapan, tapi murah kan! Sedangkan untuk harga transportasi yang menjemput dan mengantar kami dari dan ke bandara (esoknya) total $54, jauh lebih mahal dari harga kamar. Tapi cukup masuk akal mengingat jarak tempuh bandara-Nagarkot 35km, jalan yang ditempuh meliuk-liuk dan harus naik turun gunung selama 1,5jam. Ada moda transportasi menggunakan bis yang lebih murah, tapi konsekuensinya lebih lama.

imageDari Kathmandu ke Nagarkot itu mirip ke Puncak dari Jakarta. Kenapa Nagarkot? Karena kota tersebut jauh dari keramaian kota, dingin, dan salah satu tempat terbaik untuk menikmati keindahan pegunungan Himalaya. Adalagi? Ya, karena di Nagarkot, terdapat penginapan, sebuah hotel yang dinamakan Hotel At The End Of The Universe, Hotel Di Ujung Semesta! Tidakkah hal itu membuat hatimu tergetar: sebuah perjalanan ke ujung semesta?

Lalu kami menutup hari pertama kami di ujung semesta dengan sepiring Banana Pancake hangat, sebotol bir Everest, dan sebongkah ucapan syukur.

image

7 thoughts on “Nepal: Perjalanan ke ujung semesta (hari-1)

  1. hi saya tarri
    saya pengen banget ke nepal tpi masih bingung ni pertama kalinya nepal jdi tujuan saya.thanks tuk infonya ya?kantong gak perlu tebal2 amat untuk ke nepal.
    temanan di facebook yuk.jdinya saya bisa nanya2 lebih banyak
    thangkssss a lot.
    God bless

  2. Dear Via,

    thanks udah share cerita tentang Nepal. sangat menarik! bisa minta Itinerary nya tidak? kebetulan saya berencana ke Nepal tanggal 30 mei sd 4 juni 2015. better mana pakai jasa agent tour local nepal atau backpackeran sendiri? dan berapa cost yang Via keluarkan selama berada disana?. anyway, numpang share juga yah. kalau ada yang mau joint tanggal segitu bisa hubungi saya di [email protected] . saya solo traveler.

    thanks via.

    regards

    1. Halo Erwin, Sorry baru bales. Saya dan sahabat saya hampir tidak pernah pakai agenn tour 🙂 Jalan-jalannya kami atur sendiri sesuai hati membawa dan kaki melangkah, hehehe. Cost yang dikeluarkan lupa detailnya. Tapi untuk makan dan penginepan ga mahal kok. Rata-rata kalo jalan di Asia. Selamat jalan-jalan ke Nepal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.