Singapore on a shoestring! (part 2)

Hari Kedua

Sudah pernah sarapan di backpacker hostel? Seru loh! Kita dikasih jatah 2 potong roti tawar, dengan selai berbagai rupa, 2 telur mentah, kopi dan atau teh yang bisa diambil sesukanya. Disediakan kompor, berikut pan dan minyak goring untuk kita memasak sendiri telur kita. Setelah selesai makan, jangan lupa untuk mencuci piring dan gelasnya masing-masing ya. Itu memang aturannya, mandiri! 🙂

Perjalanan hari kedua pun kami mulai. Tujuan utama hari itu adalah National Museum. Oleh karena salah membaca peta, kami turun di stasiun MRT Orchard dan bukannya di City Hall. Tanggung karena sudah sampai di Orchard Road dan kalau menurut Pak Satpam Plaza yang kami temui, kami bisa berjalan kaki 15-20menit saja untuk mencapai National Museum, berjalanlah kami.

Orchard Road

Ini tempat berkumpulnya plaza dan mal yang menjual barang-barang bermerek ternama. Sebut saja merek apa yang kamu mau, kamu akan mendapatkannya di sini. Pusat belanja! Tempat berkumpulnya para shopaholic. Yang dari Indonesia? Tentu saja banyak ditemui di tempat ini (iya, perasaan ini tempat kedua terbanyak saya bertemu  orang-orang dari Indonesia setelah bandara ). Tidak ada yang special selain mal-mal yang bertebaran. Umm, ada dink! Ada istana negara di jalan ini, tapi kita tidak diperkenankan masuk. Ada juga Singapore Management University yang sejuk dan bisa dijadikan tempat beristirahat ketika lelah datang. Gimana ga lelah.. 15-20menit dari Stasiun Orchard ke National Museum yang dimaksud oleh Pak Satpam itu sebenarnya bukan ditempuh dengan berjalan kaki, tapi jika kita lari! Capek banget, saudara-saudara! Hihihi.

National Museum

Takjub! Sangat tidak rugi masuk ke museum ini! $10 untuk masuk ke 6 buah galeri yang ada setiap harinya, dan $10 untuk masuk ke Quest of Immortality Exhibition yang sedang berlangsung di bulan Maret kemarin. Harusnya $20 tidak mahal, sebanding dengan apa yang didapat. Tapi Master Card membuat hidup jauh lebih menyenangkan! Tiket masuk per orang jika membayar dengan Master Card hanya $10.5! Yay! :))

Duh, negara ini benar-benar niat banget membuat museum! Pertama-tama Quest of Immortality Exhibition yang di dalamnya terdapat banyak sekali benda-benda peninggalan Mesir Kuno, Sphinx, Mummy, sampai dengan permainan tentang huruf dan angka Mesir jaman dahulu kala. Keren! Lalu ada juga Food Gallery, Film and Wayang Gallery, Photography Gallery,  Fashion Gallery, Plastic & Bag Gallery, yang semuanya dibuat dengan kesungguhan. Tapi yang paling mencengangkan adalah ketika masuk ke Historic Gallery! Duh, sungguh, ngiri! Seandainya kita punya seperti ini di Indonesia. Lengkap banget! Mereka memperlengkapi kita dengan techno-guide, sebuah companion yang berbentuk ipad. Canggih, diperlengkapi dengan data-data, music, video, dll, yang bisa menemani kita dengan bercerita sesuai dengan keinginan kita, apa yang kita mau lihat atau ketahui di dalamnya. Huhuhu, sungguh diri ini mengiri! *sambil mebayangkan museum-museum yang ada di tanah air*

Ayam Penyet Ria

Mungkin kita harus menghabiskan seharian penuh untuk benar-benar puas di National Museum. Tapi berhubung (lagi-lagi) perut sudah sangat keroncongan, kami tak sanggup meneruskan perjalanan. Pilihan jatuh pada Ayam Penyet Ria, hahaha! Kamu pasti mentertawakan kami! Jauh-jauh ke sana, makanannya tetep Ayam Penyet (dan minumannya tetep Teh Botol loh! Hihihi). Sebagai pembelaan diri, saya harus katakana bahwa itu sangat wajar, mengingat saat itu sudah sore hari, kami berjalan kaki sangaaaaaaaaattt jauh di hari itu, dan sarapan kami pagi itu cuma 1 telur (di samping 2 roti). Kami langsung bertekad, mulai besok, tidak ada lagi yang namanya 1 telur! Harus 2! Jatah maksimal dari hostel harus diambil semua! 😀 Total makan di Ayam Penyet Ria, Lucky Plaza sekitar $8. Nikmaaaatt banget! Masakan Indonesia emang ga ada yang ngalahin deh! Oia, Lucky Plaza itu tempatnya Gayus kemarin ditangkap itu loh! Emang dasar orang Indonesia, kalo makan larinya ke tempat yang itu-itu juga (FYI, Gayus kemarin ditangkap di Restoran Padang di Lucky Plaza)

Sky view, Singapore River and Cavenagh Bridge

Setelah kenyang dan tidak pusing lagi (kalo laper emang sering buat pusing), kami pun melanjutkan perjalanan hari itu. Tujuan utama malam itu adalah Gedung Pertunjukan Esplanade yang menjadi salah satu ikon kota ini. Sambil menuju ke Stasiun MRT, kami sempat mampir di Toko Buku Kinokuniya yang berada di Orchard Road. Fiuh, kirain lebih murah, ternyata harganya sama aja, bahkan banyak yang lebih mahal bahkan. Kami pun tidak berlama-lama di sana.

Ada 2 pilihan, berhenti di Stasiun City Hall atau di Raffles Place. Cap cip cup, sok tahu, kami pun ke Raffles Place. Padahal, sebenarnya lebih dekat jika dari City Hall. Tapi memang Tuhan berpihak pada orang-orang sok tahu yang haus pemandangan apik dan tempat-tempat menarik. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pun berbuahkan bahagia mendapatkan spot-spot cantik yang kami anggap bonus karena tidak masuk ke dalam list.

Harusnya keluar dari Stasiun MRT Raffles Place, kami belok kanan. Tapi dasar kaum sok tahu, kami pun ke kiri, ke pusat kantor-kantor berada. Sambil mempelajari peta apakah lewat Culia St. atau Battery St., kami pun tak sengaja mendongak ke atas, dan huaaa… kami mendapatkan spot cantik: sky view from pillars of the earth!

Setelah menenangkan diri sejenak, mata kami tiba-tiba tertuju pada satu titik, yang harusnya dicapai jika tadi kami belok kanan: Singapore River. Hahaha, kami pun melangkah ke sana. Dan… EUREKA! Terlihatlah Esplanade dari tempat kami berdiri. Tapi kami tidak bergegas ke sana, karena Singapore River ini terlalu cantik jika tidak diabadikan. Juga Cavenagh Bridge yang melintang di sana. Maunya sih upload semua foto-foto kami di blog ini, tapi nanti kamu muntah-muntah lagi :p

Merlion dan Esplanade

Setelah menikmati senja cantik di tepian Singapore River, kami pun beranjak menuju Esplanade. VOILA, Merlion di depan mata kami! Lengkap dengan bayi-nya 🙂 Jepret sana-jepret sini! Buat fotografer seperti Kakilangit, itu salah satu episode yang dia sukai, foto sesukanya, sampai kepleset-pleset, hihihi. Ini benar-benar kejadian nyata loh! Photograph to death! 😀

Dan kami pun tiba di Esplanade. Lagi-lagi, kejutan menanti para penghemat dari mancanegara seperti kami. Mosaic Festival sedang berlangsung dan 2 pertunjukan di malam itu GRATIS!! Ah, siapa yang tidak senang coba? Yang satu, bernuansa Jazz (cihuy!), berada di dalam gedung. Yang satu lagi konser, bernuansa lebih ngepop, hip hop, dan reggae, berada di panggung lepas sungai, outdoor. Yay!!! *girang*

Malam sudah larut. Pulanglah kami kembali ke penginapan. Kali ini dari Stasiun MRT City Hall (yang lebih deket itu loh kalo dari Esplanade!). Makan malam cukup di POW saja. Italian Food dengan harga $6 dan tentu saja Bir xxxx yang kita dapatkan setengah harga, $5 saja dari harga aslinya $9.

Hoaaeemmm, capeknya hari kedua kami!

2 thoughts on “Singapore on a shoestring! (part 2)

  1. Wooouw… cerita yg sangat menarik & menyenangkan utk dibaca! Thanks.
    Yg bikin tertarik adl ‘shopping’ kuliner & buku murah-nya itu looh… hmmm sampe ngebayangin gmn rasanya fried prawn noodle itu yach (di hari ke-4 ya kalo ga salah), kyknya enak bgt! 🙂

    Emang asyiknya kalo jalan2 tanpa rencana itu serasa bertualang gitu deh… iya ga? emang disitu seninya…
    Tp Mb ni sampe ngebayangin kalo papa diajak dlm perjalanan “tanpa rencana & penuh dg kesalahan2” itu, yg ada, bukannya ‘kesalahan2’ itu dibuat jd menyenangkan, malah…… (tau sndiri kan papa, smua hrs terencana… hehe… kalo pas nyetir mobil aja kita ga dr jauh2 udah ada rencana mo belok kemana, waaah… ngomelnya bisa ampun2 tuh… hehe ;p).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.