jelang tahun baru

New_YearTiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah 🙂 ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

Saya juga memiliki resolusi tahun baru. Bukan sebuah resolusi baru sebenarnya. Ketika resolusi yang lama belum kita jalankan dengan baik, rasanya tidak bijak jika membuat begitu banyak resolusi yang baru, begitu pikir saya. Oleh karenanya, saya akan meneruskan sebuah resolusi yang saya namakan “a better me-project” yang telah saya mulai beberapa bulan di tahun kemarin:

(1) Body: makan dengan teratur dan mengkonsumsi vitamin, berolahraga teratur 1x setiap minggu;

(2) Soul: memiliki waktu-waktu khusus dengan Tuhan setiap hari untuk saat teduh dan berefleksi, jalan-jalan ke tempat yang baru (dan seru!) 1 kali setiap 2 bulan;

(3) Mind: membaca sampai habis 1 buku setiap minggu, menulis 1 artikel setiap minggu (ups! ketawan deh kalo suka alpa! hehe);

(4) Smile: membuat Tuhan tersenyum dengan lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh, membuat orang lain tersenyum dengan lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara (apalagi mengeluarkan kata-kata pedas! duh, virtri!)

Membandingkan resolusi saya dengan harapan dan resolusi kedua teman saya di atas membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, saya masih belum fokus, keinginan saya masih banyak. Kedua teman saya itu memiliki hanya satu resolusi, sedangkan saya memiliki beberapa. Salahkah itu? Tentu tidak! Bermimpilah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, dan tak lupa juga untuk mewujudkannya, itu yang saya pegang. Namun keahlian untuk memfokuskan diri dan belajar tentang prioritas mungkin harus saya kembangkan mulai saat ini.

Kedua, ini yang lebih penting: mereka mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan orang lain, bahkan alam, dibanding dengan diri mereka sendiri. Teringat oleh saya sebuah konsep bahagia yang pernah saya dapatkan ketika kuliah “J-O-Y: Jesus-Others-You”. Tuhan dan alam ciptaannyalah yang utama, kemudian orang lain, dan terakhir barulah kita sendiri.

Ketika kita tidak mengutamakan diri sendiri, kita telah berbuat sesuatu untuk diri kita; menjadikannya manusia yang selangkah lebih baik.

Selamat tahun baru!!! Apa resolusimu di tahun yang baru ini?

Latest posts by virtri (see all)

5 thoughts on “jelang tahun baru

  1. oia, terima kasih buat sahabat saya, yang telah menginspirasi saya, umm.. lebih tepatnya mengingatkan saya untuk tidak mengutamakan diri sendiri, di awal tahun baru ini. love you, deyt!

  2. Uhuy!!! ada namaku disebut.
    makasih doanya ya, Kak. Bapak belum sembuh banget. tapi aku semakin percaya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.