Ilmu Komunikasi kok di FISIPOL

Saya alumnus mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Jogja. Awal dulu saya masuk kuliah, terus terang saya bingung. Mengapa jurusan ini berada di Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik (Fisipol) dan bukan mendirikan fakultas sendiri, seperti halnya di Bandung. Di Jakarta juga demikian, ilmu komunikasi masuk dalam jajaran ilmu-ilmu di Fisip (saat ini saya juga belum tahu kenapa kalau di Jogja disingkat Fisipol, sedangkan di Jakarta disingkat Fisip)

Dalam bayangan saya dulu, dengan kuliah di jurusan Komunikasi, saya akan banyak belajar teori-teori mengenai Kepenyiaran, Jurnalistik, Periklanan, atau Hubungan Masyarakat (konon bagi bangsa yang suka kebarat-baratan ini, nama kerennya Hubungan Masyarakat adalah Public Relation atau Corporate Relation dan nama ga kerennya: Jubir! Ups! ). Atau setidaknya, di jurusan ini saya bisa belajar bagaimana berbicara depan publik dengan lebih baik. Sehingga ketika nanti saya diminta berpidato di acara ulang tahun saya sendiri, saya tidak menjadi gugup.

Saya kemudian beranggapan, mungkin saja karena universitas saya ini tidak punya cukup banyak uang (dulu loh ya!) untuk mendirikan satu fakultas lagi, yakni untuk satu jurusan: Ilmu Komunikasi. Kalau ini masalahnya, saya punya sebuah pendapat, mengapa tidak dimasukkan saja ke dalam Fakultas Psikologi. Toh komunikasi terkait erat dengan ilmu tentang diri. Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, manusia harus mengerti tentang dirinya sendiri dulu kan, bagaimana kepribadiannya, dan seterusnya. Memang, hal ini juga menjadi ambigu ketika pusat kajian hanya diri. Bagaimana jika kelak ilmu komunikasi menjadi salah arah dan malah membuat orang suka berbicara sendiri (dan senyum-senyum sendiri).

Fakultas Ilmu Sosial. Mungkin jika berhenti sampai di situ saja, saya bisa dengan lapang dada menerimanya. Komunikasi setidaknya membutuhkan dua pihak: pemberi pesan dan penerima pesan. Ada hubungan sosial yang terjalin di situ. Ya, itu lebih tepat pikir saya, FIS: Fakultas Ilmu Sosial.

Jadi, sebenarnya yang mengganjal saya itu adalah kata “ilmu politik”-nya itu loh. Politik dulu saya yakini sebagai ilmu yang bersaudara dengan kekuasaan dan hal-hal seram lainnya. Kalau Ilmu Hubungan Internasional itu wajar dilabelkan politik. Ilmu Pemerintahan apalagi. Lha Komunikasi?

Untunglah saya tidak berlama-lama terkebak dalam ruang tanda tanya saya. Kuliah demi kuliah yang saya ikuti akhirnya memberi gambaran secara lugas bahwa kajian komunikasi itu jelas: media. Apapun mata kuliahnya: kepenyiaran, jurnalistik, periklanan, hubungan masyarakat, dst., kita mempelajari media; media sebagai pembawa pesan.

Saya pun juga bisa melihat politik tidak dengan kacamata seram lagi, namun lebih jernih. Saya suka dengan arti politik yang diberi oleh Aristoteles: usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Akhirnya saya mengerti bahwa ilmu komunikasi tidak saja berkawan erat dengan ilmu sosial namun juga bersahabat dekat dengan ilmu politik. Media menjadi tidak bermakna jika ia berada dalam ruang hampa; berdiri sendiri. Ia menjadi berperan ketika ia ditempatkan dalam suatu sistem sosial dan memberi nilai untuk menwujudkan kebaikan bersama. Politikana semoga bisa menjadi salah satunya.

(baru mendaftarkan diri menjadi warga politikana.com nih)

2 thoughts on “Ilmu Komunikasi kok di FISIPOL

  1. dulu sebetannya jurusan “dan” — bukan ilmu sosial, bukan ilmu politik.
    coba tanya ngurah, abrar, atau dosen laki yang pake anting itu. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.