Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)

Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku.  Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.

Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.

Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen – jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.

Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.

Sekolahnya akan berada di sebuah pendopo tak berdinding, di atas halaman depan rumahku yang dihiasi rumput hijau muda. Rumahku akan kecil saja; seperti paviliun, berdinding dan berlantaikan kayu. Di sebelah pendopo tersebut akan ada ruang kecil sebagai perpustakaan. Di sebelahnya lagi, ada taman kecil yang nyaman yang memiliki kolam yang juga kecil yang bersenandungkan suara gemericik air kecil-kecil.

Sekolah ini bukan sekolah formal. Ini hanya tempat belajar. Untuk anak-anak yang berada di lingkungan setempat. Pelajaran yang diberikan adalah tambahan dari apa yang mereka dapatkan di sekolah dengan gaya belajar yang berbeda tentunya. Atau tentang sesuatu yang tidak mereka dapatkan di sekolah, misalnya aplikasi seni atau mengenal alam dan budaya secara lebih riil (iya, bagiku secara umum kurikulum sekolah saat ini terlalu kaku). Mereka yang tidak bersekolah secara formal, juga boleh belajar di sini. Ini sekolah yang terbuka. Kamu juga boleh datang ke sini.

Kita akan selalu punya kelas “bercerita”, mengungkapkan pendapat tentang buku-buku yang kita baca, film yang kita tonton, keluarga dan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi, atau hal-hal kecil yang kita rasakan. Kelas ini akan membiasakan budaya bertutur, belajar mengungkapkan pendapat.

Ah ya, tentu saja kita juga memiliki pelajaran bermain! Misalnya permainan-permainan tradisional berkelompok yang sudah lama ditinggalkan. Pelajaran tentang kerja sama, keberanian, strategi, sikap menghadapi kemenangan dan hati yang lapang menghadapi kekalahan. 

Dalam mewujudkan mimpi ini, setidaknya aku sudah punya 3 orang yang akan mendukungnya: seorang sahabat nyamanku yang bersamanya aku membangun mimpi ini sebentuk demi sebentuk sambil tidak melupakan mimpinya; seorang sahabatku yang luar biasa yang sudah menyatakan diri ingin bergabung dalam mengembangkan sekolah ini (ah, jika dia bergabung, aku tidak bisa membayangkan betapa menariknya sekolah ini kelak, betapa mereka yang belajar di sini akan tidak takut untuk bercita-cita); dan kakakku sayang yang aku yakin akan berkarya dengan hati untuk mereka yang belajar di sekolahku ini (kecintaannya pada anak dan dunia pembelajaran, tak perlu kuragukan lagi).

Aku juga sudah punya daftar sahabat dan kawan yang akan kutawari menjadi pengajar di sekolahku ini. Sebagai pengajar tetap atau tamu. Sahabat dan temanku saat ini terbilang lebih dari banyak yang hebat-hebat; termasuk kamu.

Dan, ketika saat itu tiba, dalam karyaku mengelola sekolah sederhana ini, aku juga memiliki profesi sampingan sebagai seorang penulis ternama (mimpi bangettt yaaa).

“Ah, rasanya mimpiku sulit untuk kuraih,” sempat kulontarkan hal itu pada sahabat nyamanku.

lalu katanya:

“Buatku, mimpi itu justru memang sesuatu yang tidak mungkin untuk saat ini; masih terlihat sulit untuk diraih.  Jika saat ini kita sudah menjalaninya, itu bukan mimpi lagi.”

 Yuk kita wujudkan mimpi kita!

4 thoughts on “Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

  1. aku mau daftar, kak…
    jadi guru tamu tapi ya.
    karna aku juga harus membangun mimpiku. barangkali mimpi kakak dan mimpiku saling bertautan.

  2. Ingat waktu kecil banyak mimpi yang gw pingin, tapi semakin tambah dewasa mimpi2x itu sepertinya hilang satu per satu. Dan setelah membeca ini akhirnya gw berfikir mungkin gak sekarang, dan mungkin juga tidak tapi kita di haruskan u/ selalu berusaha sampai batas max kita.

    Makasih untuk mengingatkan bahwa gw masih punya mimpi (“,)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.