keluh

Minggu pagi. Aku pergi ibadah di sebuah gereja di Panglima Polim. Meski aku memiliki phobia pada ketinggian, duduk di balkon adalah kesukaanku. Mengambil tempat yang satu garis lurus dengan mimbar pendeta, hingga leherku tidak perlu sakit menoleh ke kanan atau ke kiri, dan mataku berhenti sejenak dari kebiasaan melirik-lirik, hihihi.

Suasana teduh. Semua telah siap. Ibadah dimulai. Pada lagu pertama, pendeta yang memimpin ibadah memasuki ruangan. Dan aku terkesiap!

Pagi itu, ibadah dipimpin seorang pendeta yang kukenal melalui tulisan-tulisannya. Pendeta itu sudah tidak muda lagi. Entah karena usia atau karena sakit yang menimpa, beliau jalan tertatih-tatih, tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya seorang diri. Perlu dua orang majelis yang mengapit tangannya untuk menyanggah tubuhnya dari gontai.

Tak kuasa untuk menaiki tangga, beliau menggunakan mimbar yang di bawah, yang sejajar dengan jemaat. Ketika kedua tangan telah menggapai mimbar, beliau dilepas dan mulai memimpin ibadah.

Votum diucapkan, salam disampaikan, pujian dihaturkan, firman didengungkan, pengajaran diperdengarkan, doa dipanjatkan, berkat dibagikan.

Ada getar dalam suara yang menggelegar. Meski tak fasih lagi mengucapkan beberapa aksara, semangatnya dalam kata, begitu menggetarkan jiwa.

Sejenak aku teringat akan seorang oma; dalam renta tujuh puluh tahunnya masih setia belajar ke tempat yang tidak bisa dibilang dekat dengan rumahnya, meski tak ada yang mengantar; untuk dapat memberi nasihat yang tepat pada anak dan cucunya; tanpa berkeluh.

Sejenak aku teringat pada Nick; tanpa kedua kaki dan kedua tangan, ia memberi semangat pada mereka yang memiliki keutuhan fisik; tanpa berkeluh.

Sejenak aku terkenang akan Morrie; dalam menghadapi mati, ia memberi makna hidup; tanpa berkeluh.

Aku terdiam dalam nada piano dan saxophone yang mengalun. Air mata mulai menggenang. Terbayang percakapanku dengan seorang sahabat di saat ketika aku membuka mata pagi ini:

“Ada tiga jerawat mampir di wajahku sejak kemarin. Aku sama sekali tidak bermasalah dengan penampakanku. Bagiku jerawat membuatku lebih manis J, tapi suakiiitttnya ini loh. Yang dua itu guede-guede, kalo disentuh sakit. Hu uh, sebel deh.. Mana ga bisa dipencet lagi.. ”

Ini hanya satu contoh kecil. Ah, aku masih seringkali berkeluh untuk banyak hal yang sebenarnya tidak pantas dikeluhkan dalam utuhnya fisikku, sehatnya ragaku, mudanya usiaku.

Aku malu. Ampuni aku ya, Tuhan.

One thought on “keluh

  1. G mugkin gak tau Nick, g juga gk kenal Maurie dan g gak tau pendeta yang lo tulis, tapi yang g tau setelah orang baca tulisan ini akan banyak orang yang sadar kayak lo termasuk gua…! Thx GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You can use markdown, yes that awesome markdown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.