Archive for the Category »karang-karang «

Di Sebuah Kotak, Di Tengah Jalan

BIP BIP

Telepon selularku berbunyi pelan tanda ada pesan pendek masuk. Sambil tetap berjalan menuju kotak mungil tempat kerjaku, kubuka pesan itu.

“Selamat pagi. Sekali lagi makasih ya, San! Kamu memang malaikatku!”

Pesan dari Mbak Kanti rupanya. Aku menggantikan shift kerjanya hari ini setelah dia membujukku mendadak tadi malam selagi kita bersiap pulang. Tanpa ia bujuk, sebenarnya aku akan dengan senang hati menggantikannya. Bukan, bukan karena aku suka bekerja keras di hari yang seharusnya aku libur. Hanya saja, Mbak Kanti bercerita ia ingin mengajak anak-anaknya yang libur di Hari Libur Imlek ini. Mereka ingin pergi ke Ragunan katanya. Aku bisa membayangkan wajah-wajah anak-anak Mbak Kanti ketika bertemu dengan hewan-hewan di sana. Mereka pasti bersorak-sorak kegirangan.

“Sama-sama, Mbak. Semoga jalan-jalannya seru yah! Salam buat Kaka & Kiki” kubalas pesan pendek itu.

Jam menunjukkan pukul 5 dini hari. Musim hujan di bulan Januari ini menghasilkan angin kencang di pagi hari yang kerap menyusup sendi-sendi, membuat gigi-geligi tak jarang bergemeletuk. Pak Tono sepertinya sudah berbenah, siap untuk kugantikan.

more »

ketika aku menyeruput kopi, tadi

Srupuuttt..

Ah, sedapnya kopi hitam ini! Menyeruputnya sambil menghirup wangi aromanya adalah cara terbaik menikmatinya. Sudah cangkir kedua. Mataku agak lelah rupanya. Tiga jam terus menerus memandang layar laptop memang tidak baik. Aku melihat pemandangan dari balik jendela di belakangku. Aku duduk di pojok ruangan di sebuah kedai kopi, dekat dengan pintu masuk dan jendela. Tapi karena kedai kopi itu terbilang sepi, dekat dengan pintu masukpun tidak mengapa, tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja.

Srupuuttt..

Kali ini aku memandang ke sekelilingku, ke dalam ruangan di kedai kopi itu. Aku baru sadar, ruangan ini memiliki interior menarik rupanya. Warna coklat mendominasi ruangan ini. Dekorasinya sederhana, tapi cita rasanya pas. Gulungan kuno yang berisi perjalanan kopi di Indonesia misalnya. Kemudian ada juga lukisan budaya tradisional yang dibingkai pigura bambu, dan oh… mataku menangkap bayangan sosok seorang laki-laki! Dia sedang duduk di meja seberang sana. Aiihh, dia cukup tampan!!!

Srupuuttt..

more »

Kamu Layak Bahagia

Kedai kopi, Februari

Kamu datang sambil berlari-lari kecil. Perasaan senang jelas terlukis di wajahmu.

“Aku jadiaaannnnnn!!!!”, teriakmu sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekeliling kita menoleh dan tersenyum.

“Oh ya?? Selamaatt yaa!! Dengan dia yang kamu ceritakan padaku itu?” sambutku dengan peluk hangat.

“Iyaaaaaa.. Ah, aku seneng banggeettt. Akhirnya kami kopi darat hari minggu lalu, terus ketemu lagi hari selasa dan jalan lagi kemarin malam. Nah, kemaren itu dia nembak, dan aku terimaaa donk!”

“Wahh.. selamat ya, sayang! Aku turut senang untukmu. Facebook emang hebat deh! Mak comblang elektronik yang jitu!”

“Tulll.. Aku cinta facebook! Aku cinta dia! Kamu tau ga? Dia itu baik banget loh… Dia itu orangnya… Dia itu yaa…. dan kami… terus….”

Kita tersenyum-senyum sepanjang sore itu. Kamu berperan sebagai pencerita dan aku berperan sebagai pendengar; pendengar cerita orang yang dilanda jatuh cinta.

more »