Archive

Archive for January, 2010

Hidup Suster!

January 6th, 2010

nurse

Setelah Suster Ngesot di tahun 2007, sekarang lagi diputar Suster Keramas di bioskop-bioskop Indonesia. Yang pertama masuk kategori film horor murni, yang kedua masuk kategori film horor plus (horor plus bokep! whew!).

Saya belum (dan tidak tertarik) menonton kedua film tersebut, namun saya sudah melihat trailer-nya dan juga membaca beberapa ulasan tentangnya. Tidak, saya tidak ingin mereview lagi tentang kedua film ini. Hanya saja, saya gatal dengan digunakannya profesi ini dalam kedua kategori film tersebut. Saya bukan suster, namun saya pembela profesi ini!

Setidaknya ada 3 profesi suster yang saya kenal: (1) suster yang bekerja di rumah sakit, (2) suster yang bekerja di rumah, baik itu membantu mengasuh adik bayi/batita, maupun mengasuh kakek/nenek yang sudah tua atau sakit-sakitan, dan (3) suster yang mengabdikan dirinya untuk melayani Tuhan di biara atau di masyarakat, nama lainnya adalah biarawati.

Suster di rumah sakit

Profesi dokter memang bagus, mereka bertugas mengobati orang-orang sakit. Namun buat saya, profesi yang mulia adalah sang suster. Merekalah yang dengan sabarnya merawat pasien. Tidak hanya sekedar mengecek suhu tubuh atau memberikan makanan dan obat, mereka jugalah yang memandikan sang pasien, menggantikan pakaian, membersihkan tubuh dari luka, muntah atau darah, bahkan ketika anggota keluarganya tidak bisa melakukannya. Saya teringat akan wajah-wajah tulus suster-suster yang membantu ibu, kakek, atau keluarga saya lainnya ketika mereka berada di rumah sakit.

Suster di rumah

Kedua orang tua saya bekerja ketika saya masih kecil. Oleh karenanya, mereka mengambil seorang suster untuk mengasuh saya di kala mereka bekerja. Saya sayang sekali dengan suster saya, demikian juga dengannya. Tak heran jika kala itu saya memanggilnya “mama-ute” (baca:  “mama-suster”). Ketika saya berusia 4 tahun, orang tua saya merasa saya sudah cukup usia untuk tidak diasuh oleh suster lagi (atau mungkin juga karena faktor biaya kali yaa.. ;) ). Namun karena keterikatan yang cukup tinggi, baik saya maupun sang suster menangis tidak rela ketika hendak dipisahkan. Tidak berhenti sampai di situ. Saya pun sakit selama seminggu akibat kepergian suster saya.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, datang lagi beberapa suster yang dipanggil ke rumah untuk mengasuh kakek saya (almarhum) yang dulu sakit-sakitan. Beberapa suster yang saya maksud di sini bukan langsung beberapa orang untuk mengurus dalam satu waktu, tapi bergantian satu demi satu karena tidak tahan dengan perlakuan kakek saya. Kakek saya waktu itu sakit stroke. Stroke tersebut menyerang saraf bicaranya, sehingga susah dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk para suster. Ketika tidak dimengerti apa keinginannya, kakek saya menjadi keras sehingga wajar jika para suster itu kewalahan. Tapi usaha mereka untuk memahami kakek saya dan juga kasih sayang mereka ke kakek saya dapat kami rasakan. Mereka pernah menjadi bagian dari keluarga kami.

Suster yang mengabdi pada Tuhan dan sesama

Saya tidak akan bercerita banyak tentang hal ini. Saya memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan profesi ini. Tapi ada sosok yang saya sangat kagumi: Suster Teresa. Kamu pasti tahu betapa mulianya beliau dalam aksi kemanusiaan, bukan? :)

Tidakkah ketiga profesi tersebut sungguh sangat mulia? Saya tidak rela dan tidak habis pikir kenapa ada yang menggunakan profesi ini untuk film-film tersebut sehingga berdampak akan muncul label yang tidak baik bagi profesi tersebut. Yuk, lebih kreatif dalam membuat karya kreatif! Sound of Music atau Sister Act misalnya. Jelas mutunya, kan?

Stop penggunaan suster dalam film horor (apalagi film bokep)!!

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

jelang tahun baru

January 6th, 2010

New_Year

Tiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah :) ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

Saya juga memiliki resolusi tahun baru. Bukan sebuah resolusi baru sebenarnya. Ketika resolusi yang lama belum kita jalankan dengan baik, rasanya tidak bijak jika membuat begitu banyak resolusi yang baru, begitu pikir saya. Oleh karenanya, saya akan meneruskan sebuah resolusi yang saya namakan “a better me-project” yang telah saya mulai beberapa bulan di tahun kemarin:

(1) Body: makan dengan teratur dan mengkonsumsi vitamin, berolahraga teratur 1x setiap minggu;

(2) Soul: memiliki waktu-waktu khusus dengan Tuhan setiap hari untuk saat teduh dan berefleksi, jalan-jalan ke tempat yang baru (dan seru!) 1 kali setiap 2 bulan;

(3) Mind: membaca sampai habis 1 buku setiap minggu, menulis 1 artikel setiap minggu (ups! ketawan deh kalo suka alpa! hehe);

(4) Smile: membuat Tuhan tersenyum dengan lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh, membuat orang lain tersenyum dengan lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara (apalagi mengeluarkan kata-kata pedas! duh, virtri!)

Membandingkan resolusi saya dengan harapan dan resolusi kedua teman saya di atas membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, saya masih belum fokus, keinginan saya masih banyak. Kedua teman saya itu memiliki hanya satu resolusi, sedangkan saya memiliki beberapa. Salahkah itu? Tentu tidak! Bermimpilah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, dan tak lupa juga untuk mewujudkannya, itu yang saya pegang. Namun keahlian untuk memfokuskan diri dan belajar tentang prioritas mungkin harus saya kembangkan mulai saat ini.

Kedua, ini yang lebih penting: mereka mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan orang lain, bahkan alam, dibanding dengan diri mereka sendiri. Teringat oleh saya sebuah konsep bahagia yang pernah saya dapatkan ketika kuliah “J-O-Y: Jesus-Others-You”. Tuhan dan alam ciptaannyalah yang utama, kemudian orang lain, dan terakhir barulah kita sendiri.

Ketika kita tidak mengutamakan diri sendiri, kita telah berbuat sesuatu untuk diri kita; menjadikannya manusia yang selangkah lebih baik.

Selamat tahun baru!!! Apa resolusimu di tahun yang baru ini?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags: