
Setelah Suster Ngesot di tahun 2007, sekarang lagi diputar Suster Keramas di bioskop-bioskop Indonesia. Yang pertama masuk kategori film horor murni, yang kedua masuk kategori film horor plus (horor plus bokep! whew!).
Saya belum (dan tidak tertarik) menonton kedua film tersebut, namun saya sudah melihat trailer-nya dan juga membaca beberapa ulasan tentangnya. Tidak, saya tidak ingin mereview lagi tentang kedua film ini. Hanya saja, saya gatal dengan digunakannya profesi ini dalam kedua kategori film tersebut. Saya bukan suster, namun saya pembela profesi ini!
Setidaknya ada 3 profesi suster yang saya kenal: (1) suster yang bekerja di rumah sakit, (2) suster yang bekerja di rumah, baik itu membantu mengasuh adik bayi/batita, maupun mengasuh kakek/nenek yang sudah tua atau sakit-sakitan, dan (3) suster yang mengabdikan dirinya untuk melayani Tuhan di biara atau di masyarakat, nama lainnya adalah biarawati.
Tiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah