Kamu Layak Bahagia

September 26th, 2009

Kedai kopi, Februari

Kamu datang sambil berlari-lari kecil. Perasaan senang jelas terlukis di wajahmu.

“Aku jadiaaannnnnn!!!!”, teriakmu sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekeliling kita menoleh dan tersenyum.

“Oh ya?? Selamaatt yaa!! Dengan dia yang kamu ceritakan padaku itu?” sambutku dengan peluk hangat.

“Iyaaaaaa.. Ah, aku seneng banggeettt. Akhirnya kami kopi darat hari minggu lalu, terus ketemu lagi hari selasa dan jalan lagi kemarin malam. Nah, kemaren itu dia nembak, dan aku terimaaa donk!”

“Wahh.. selamat ya, sayang! Aku turut senang untukmu. Facebook emang hebat deh! Mak comblang elektronik yang jitu!”

“Tulll.. Aku cinta facebook! Aku cinta dia! Kamu tau ga? Dia itu baik banget loh… Dia itu orangnya… Dia itu yaa…. dan kami… terus….”

Kita tersenyum-senyum sepanjang sore itu. Kamu berperan sebagai pencerita dan aku berperan sebagai pendengar; pendengar cerita orang yang dilanda jatuh cinta.

Restoran Padang, April

“Hai! Maaf ya aku datang sedikit terlambat”, katamu sambil menarik kursi

“Gapapa, aku juga baru nyampe kok.”

Krriiiinnnngggg….

Baru saja kamu duduk, ponselmu berbunyi.

“Bunyi hp-mu jadul amat”

“Hehe, iya. Bentar yaa…

Halo sayang… Iya, aku baru mau makan siang….. Sama sahabatku…… Ya perempuanlah, dia belum ganti jenis kelamin kok! Hehehe….. Di food court tempat kita biasa makan itu loh… Kenapa?… Engga, cuma sama dia doang, kita berdua aja kok….. Ok… I love you too, honey. Bye”

“Cieee… mesra amaatt!”, godaku.

“Iya donk.. Dia sayang banget sama aku. Aku selalu di telepon, dibangunin pagi-pagi, terus ditanyain udah sarapan, makan siang, makan malem, sampai dengan udah bobo atau belum..”

“Wah, reminder gratis tuh!”

“Hihihi, iya. Terus dia juga jaga aku banget loh. Dia mau aku aman dan baik-baik saja. Dia selalu tanya aku dimana dan dengan siapa saja.”

“Hmm, kok jadi kayak polisi. Terus kayak yang di iklan ga? Selalu tanya “Di mana? Sama Siapa? Ngapain?” Hehehe.. Ati-ati cowok posesif loh!”

“Engga lah.. Beda tau antara cowok posesif dengan cowok yang sayang banget!”

Lagi-lagi, siang itu kamu banyak bercerita tentang dia. Bagaimana dia sayang denganmu, perhatian, berusaha keras menjemput dan mengantarmu dari kost ke tempat kerja dan sebaliknya; hampir setiap hari.

Iya, semenjak kamu jadian dengannya, memang aku jadi kesulitan mengajakmu jalan-jalan seperti biasanya. Sebagian besar waktu luangmu, kamu habiskan dengannya.

Namun, aku pikir itu wajar, toh kalian memang butuh banyak waktu untuk mengenal satu dengan yang lain.

Kostmu, Agustus

Kamu yang dulu seorang yang ceria kini menjadi pendiam.

“Aku bingung! Apa aku berhenti kerja aja ya? Aku lelah dicemburui…” sembari mengatakannya, matamu sembab.

“Ngawur! Kamu kan udah mati-matian dapetin pekerjaan ini! Ini pekerjaan yang kamu impikan sejak SMA kan! Masa hanya karena dia ga suka dengan teman-teman kerjamu, kemudian kamu harus behenti kerja!”

“Yaa.. aku cari kerja lainnya aja. Yang ga banyak berhubungan dengan teman-teman kerja, dengan orang-orang lain, terutama kaum laki-laki..…”

“Fiuuuhhhh……” aku menarik napas panjang

Sekarang, kamu memang benar-benar berubah. Kadang aku tidak mengenalmu. Kamu mulai menarik diri dari Cihui Club – kumpulan 5 orang yang maniak dengan kopi & buku yang sejak di bangku kuliah sudah berteman akrab. Kamu juga tidak datang di acara reuni SMA kita di bulan Juni lalu, padahal dulu kamu ketua OSIS angkatan kita. Alasannya sederhana, karena kamu menghindar bertemu dengan mantan pacarmu dulu. Kemudian kamu meng-non-aktifkan account-mu di Facebook & Friendster, dengan alasan kamu ingin fokus kerja dan sibuk. Belakangan aku tau hal itu karena dia melarangmu menjalin relasi yang akrab dengan teman-temanmu. Huh, aku memang merasa dia sangat pencemburu. Posesif kronis lebih tepatnya. Jika saja dia tidak sedang keluar kota minggu ini, bisa jadi tidak diperbolehkannya aku main ke kostmu saat ini.

“Sepertinya dia sangat posesif terhadapmu. Kamu seperti tidak diperbolehkan bertemu dengan orang-orang lain.”

“Bukan begitu. Dia hanya sayang sama aku. Cemburu kan berarti sayang. Dia bersikap begini karena mantan pacarnya dahulu berhianat dan meninggalkan dia karena laki-laki lain. Aku harus membuktikan aku beda dengan mantannya”

“Helloooowww.. Cemburu = Sayang? Sayang caranya begini? Membuatmu tertekan? Sampai mau berhenti kerja segala?”

“Iya. Pada dasarnya dia itu baik, aku seperti menemukan sosok ayahku dalam dirinya, dia sangat perhatian dan melindungi aku. Dia juga romantis, begitu memujaku. Dia hanya keras jika ada teman laki-lakiku mendekatiku. Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan kepercayaannya kepada perempuan. Dia janji dia akan berubah suatu hari untuk tidak sekeras saat ini dalam hal itu.”

Kostku, Desember

Hari sudah larut malam dan layar ponselku menyala, ada sms masuk darimu:

“Kami baru saja bertengkar hebat. Aku di UGD sekarang, bibirku harus dijahit. Dia menamparku keras tadi. Aku sangat takut.”

Aku segera meneleponmu, namun kamu tidak jua mengangkatnya. Segera aku bergegas ke rumah sakit. Ini sudah keterlaluan!

Rumah sakit

Aku mendekati ruang UGD dan aku berhenti di samping tirai yang memisahkan aku dengan tempat tidurmu. Terdengar jelas suaranya, dengan sesenggukan dia memohon-mohon maaf padamu, dengan menangis dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

Ah, aku muak mendengarnya, kamu layak bahagia, sahabat..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Dicari: Gadis/Jejaka

August 31st, 2009

jodoh

Gadis Jawa, 27, 165/50, S1, karyawati, sawo matang, manis, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, tidak materialistis, apa adanya, sehat jasmani-rohani, senang menjahit dan memasak, serius, siap nikah.

Mendambakan jejaka, 30-40 tahun,  min.165cm, Diploma/S1/S2, kerja tetap/PNS/BUMN/swasta, menarik, baik, sabar, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, terbuka, sehat jasmani –rohani, tidak materialistis, tidak merokok/judi/miras/narkoba, menerima apa adanya, serius, siap nikah.

Jangan tertipu! Deskripsi di atas bukan tentang saya, karena deskripsi perempuan di atas terlalu bagus untuk saya. Ini hanya petikan dari salah satu rubrik tetap di sebuah surat kabar. Iya, biasanya di surat kabar atau di majalah terdapat rubrik yang menyediakan jasa perjodohan seperti di atas. Buat saya, hal ini menarik. Tujuan dari rubrik ini mulia adanya, sarana untuk membantu mempertemukan mereka yang menantikan pasangan hidupnya, jodohnya, atau tulang rusuknya yang hilang yang sekian lama dicari tak kunjung ditemukan. Sarana-sarana lain yang bertujuan mulia juga misalnya ajang pertemanan maya seperti Friendster & Facebook (hmm, setidaknya 3 orang teman dekat saya menikah berkat dunia maya ini, senangnya!). Atau, yang bisa kita saksikan di televisi, yang ratingnya lagi top-topnya adalah acara Take Him Out atau Take Me Out (saya sendiri belum pernah nonton acara ini secara tuntas sih, hehehe)

Kembali ke rubrik jasa perjodohan di surat kabar/majalah, pada dasarnya saya mendukung rubrik seperti ini.  Hanya saja, semakin saya perhatikan isi rubrik ini, isinya kok semakin monoton ya. Maksud saya monoton ya itu..ya  seperti contoh di awal tulisan ini. Semua laki-laki/perempuan/gadis/jejaka/janda/duda yang mengisi rubrik ini, sepertinya memiliki karakter yang sama satu dengan yang lainnya dengan deskripsi di atas. Semua mengedepankan yang baik-baik tentang dirinya, dan mengharapkan yang baik-baik dari calon pasangannya.

Ah, pasti anda akan mengatakan “Ya jelas tho.. Semua orang pasti mengharapkan yang terbaik untuknya”. Saya setuju 100% untuk itu. Tapi, yang menjadi ganjalan buat saya adalah hal-hal berikut ini:

1)      Hal-hal fisik selalu dijelaskan dan sepertinya mendapat tempat utama di rubric itu, misalnya usia. Apa salahnya jika usia berbeda jauh atau misalnya yang perempuan lebih tua dibanding yang laki-laki. Tingkat kedewasaan seseorang juga tidak diukur dari usia bukan? Kemudian tinggi badan/berat badan. Duh, penting ya? Bukankah tiap orang unik adanya?

2)      Sifat-sifat yang dideskripsikan tentang mereka atau yang diharapkan dari pasangannya kok bagus-bagus semuanya  ya? Rasanya mustahil, meskipun bisa saja ada mereka yang seperti itu, tapi saya dan orang-orang/teman-teman yang saya kenal selama ini jarang banget tuh yang memenuhi kriteria  semua sifat itu (apa saya salah pergaulan ya? * berefleksi mode on*).

 Sebagian dari sifat-sifat baik itu pastinya ada di diri tiap manusia. Tapi jika semua sifat tersebut ada dan semua orang seperti itu, kok saya jadi ngeri ya hidup dengan manusia yang homogen, yang sama semua, dan baik-baik semua (dan saya pasti akan berefleksi lagi, saya masih di dunia ataukah sudah di surga? Hihihi).

 Harusnya sifat yang baik diimbangi dengan sifat yang masih harus diperbaiki, misalnya: baik dan ramah, tapi mudah emosi, tidak suka masak, tapi suka belanja makanan sekaligus pintar menawar . Nah, cukup seimbang kan :)

 Namun, di samping ganjalan-ganjalan itu, ada hal-hal yang saya suka dari rubrik tersebut, antara lain sudah mulai terlihat adanya mereka yang terbuka terhadap masa lalu calon pasangannnya. Misalnya, tidak ada syarat khusus untuk asal suku/etnis pasangannya demi terciptanya Indonesia Raya. Lalu, seorang gadis tidak hanya menginginkan jejaka, tapi juga ok-ok saja dengan duda (meskipun kadang-kadang masih ada embelnya: duda yang ditinggal meninggal istrinya. Duh!). Para jejaka juga sudah mulai membuka diri terhadap janda (meskipun kasus ini jaraaannngg sekali saya temui).

 Saya juga suka dengan satu pernyataan sifat yang sering muncul, yakni memiliki sifat “apa adanya”. Apa adanya bukan berarti “saya ada apa-apa” (hehehe), tapi berarti “saya ya begini keadaannya (baik dan buruk)”.  Harusnya pernyataan ini cukup, tanpa harus dibumbui (terlalu) banyak sifat baik, yang jadi terlihat dibuat-buat.

 Saya orang yang percaya bahwa manusia pada dasarnya tidak sempurna, masih banyak memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Dengan menjadi makhluk sosial, salah satunya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis, maka terbukalah ruang untuk saling memperbaiki diri masing-masing, belajar menjadi yang terbaik untuk pasangannnya dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang terus-menerus berproses, bukan makhluk ting ketiplak ketipluk sudah terbentuk sempurna sifatnya.

 Ah, saya terlalu banyak cakap ya. Menikah saja belum, sudah banyak omong mengenai harus dan tidak harus dalam sebuah jalinan asmara laki-laki & perempuan! Tua juga belum, sudah banyak omong tentang manusia sebagai makhluk berproses! :p

 Saya hanya seorang perempuan cerewet yang tiba-tiba kepikiran kalau saya gabung di rubriktersebut, saya akan menuliskan seperti ini:

 Gadis (sepertinya sih masih), 27 tahun (itu hanya usia lho, karena kata orang-orang: tampang saya jauh lebih tua dari usia saya, kelakuan saya jauh di bawah usia saya, kekanak-kanakan maksudnya), bentuk tubuh tidak seproporsional orang pada umumnya (tapi saya bersyukur pada Tuhan untuk tubuh saya), warna kulit belang-belang putih-coklat-hitam, dengan beberapa bekas luka di kaki (waktu kecil pernah korengan soalnya, hihihi), ga manis, ga terlalu cantik (meski saya suka narsis di depan cermin), kurang bertanggung jawab, kurang perhatian, sehat jasmani (sejauh ini) dan rohani (dalam arti tidak gila), ga merokok tapi suka minum anggur/bir (meski tak pernah sampai mabuk), ga bisa masak, ga bisa jahit, belum siap menikah dan belum tahu akankah setia atau tidak, karena sampai sekarang masih suka lirak-lirik laki-laki yang ok punya, hihihi

Dan saya mendambakan………….  laki-laki yang mencintai saya apa adanya :)

 Kira-kira, ada ga ya yang mau sama saya? Hehehe..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

ketika aku mati

July 31st, 2009

Ceritanya aku baru pulang dari acara perpisahan teman kantor. Dua orang sekaligus. Sedih deh :(

Namun kali ini aku tidak akan berbicara banyak tentang acara perpisahan kedua temanku itu. Hanya saja, sepulang acara itu aku jadi berpikir mengenai saat ketika aku mati :)

Hihihi, aku tidak berencana menakut-nakuti kamu dengan berbicara mengenai kematian, yang banyak orang katakan tabu untuk menyebut-nyebutnya. Aku juga tidak bermaksud lancang melanggar papaku yang pernah menegurku ketika aku berbicara mengenai kematianku kelak, ketika aku mengatakan aku mau menyerahkan anggota-anggota tubuhku yang masih bisa berfungsi untuk orang-orang yang membutuhkan (ah, semoga saja masih banyak yang bisa berfungsi dengan baik, mengingat pola makan dan olah ragaku yang semrawut, hehehe). Waktu itu papa berkata, “Hush, kamu ini ngomong apa tho, de? Ga baik ngomong2in kematian diri sendiri! Ga bagus!” Tanpa mengurangi rasa hormatku pada papaku tercinta, bagiku, berbicara mengenai kematian adalah hal yang wajar, sama seperti kita berbicara mengenai kelahiran, pernikahan, atau hal-hal lain dalam hidup.

Iya, tadi pada inti acara itu – seperti halnya pada acara perpisahan2 lainnya – tersebutlah sesi menyampaikan ucapan perpisahan. Setiap orang bergiliran menyampaikan perasaan, pendapat & kenangan pada orang yang akan berpisah, dalam hal ini mereka meninggalkan kita dan pindah ke kantor yang baru. Biasanya yang disampaikan adalah hal-hal baik yang kita alami dan kenang dengan dan dari orang tersebut. Aku yakin kamu pernah juga mengalami momen-momen ini bukan? Entah kamu yang meninggalkan atau kamu yang ditinggalkan.

Pikiranku pun melayang, ke saat ketika aku mati, kelak. Itu juga menjadi sebuah ajang perpisahan. Setiap orang yang kukenal dalam hidupku, yang memiliki pengalaman denganku, baik pengalaman manis atau pahit, akan memiliki pendapat dan perasaan tersendiri terhadapku. Kamu misalnya. Cara kamu mengenangku, pasti akan berbeda dengan orang lain yang mengenalku: keluargaku,sahabat-sahabatku, teman-teman sekolah, teman-teman kantor, teman-teman sepermainan, bahkan dengan mereka yang hanya sekali dua atau mungkin kerap bersua denganku lewat sapa atau kata.

Ketika aku mati, saat itu adalah saat terbaik untuk kamu dan mereka jujur mengatakan – meskipun tanpa suara – tentang siapa aku sebenarnya; tentang bagaimana aku dikenang.

Bila saat itu datang, aku jadi bertanya-tanya sudahkah aku mencapai tujuan hidupku pada orang-orang yang kutemui dalam hidupku?

Sudahkah aku berhasil melukis senyum pada wajahmu dan wajah-wajah mereka yang pernah dan kerap bersua dan bersapa denganku?

Atau justru sebaliknya, sedih dan luka pernah kubuat sehingga meninggalkan gores pada hatimu, juga pada hati mereka?


(ah, mumpung saat itu belum tiba! aku harus lebih banyak bekerja keras untuk menjadi seorang pelukis senyum! belakangan ini lidahku sangat tajam, sangat mungkin banyak hati yang tersayat olehnya. juga raut wajahku yang kerap kulihat masam akibat berbagai tekanan yang harusnya tidak perlu aku lebih-lebihkan atau tunjukkan. bagaimana bisa aku menjadi pelukis senyum di wajah orang jika tidak bisa kuawali dengan melukisnya di wajahku terlebih dulu. dan ah benar, kedua telingaku, juga hatiku, sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan untuk menjadi pendengar yang baik. ayo virtri, bekerja keraslah untuk itu!)

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Si Biang Kerok Kemacetan jakarta

June 11th, 2009

macet1

Jakarta macet? Perjalanan ke kantor memakan 2 – 3 jam? Ah bukannya itu soal biasa, makanan sehari-hari warganya bukan?

Masalah kemacetan di ibukota ini sudah menjadi pekerjaan rumah bagi gubernur Jakarta dari waktu ke waktu. Masalah yang sulit sekali diselesaikan. Mobil, motor, bis, angkot, truk, dan kendaraan lainnya yang tumpah ruah di jalan tidak sepadan dengan kapasitas jalannya. Bayangkan saja, 8.5 juta penduduk ada di kota ini. Dan jumlah itu membengkak di siang hari akibat para penglaju yang datang bekerja dari daerah lingkar luar Jakarta.

Penyebab kemacetan itu banyak sekali. Arus padat di jam pergi dan pulang kerja, lampu lalu lintas yang tidak berfungsi, kecelakaan lalu lintas, pembenahan jalan (baik penyempitan atau pelebaran jalan, dua-duanya membuat jalanan bertambah macet), banjir, kampanye Pemilu dengan pengerahan massa besar-besaran, dan sederetan penyebab lainnya.

Namun, ada 2 penyebab yang saya unggulkan sebagai nominator penyebab kemacetan yang paling menyebalkan hati saya.

Si Raja Jalan

Bis kota yang ugal-ugalan. Si raja jalan yang nekad, demikian saya menyebutnya. Mereka ini melaju seenak hatinya dan berhenti seenak perutnya. Berebutan mengambil dan menurunkan penumpang tepat di tengah-tengah jalan, itu kebiasaan mereka. Mengambil jalan yang berada di bahu jalan, menghegemoni jalan yang diperuntukkan untuk transjakarta, melintang di tengah jalan (berhenti dalam posisi miring dengan kecondongan sempurna) dalam rangka menyalip kendaraan di sekitarnya, meraung-raung dengan keras dan mengeluarkan kepulan asap hitam dari knalpotnya, sampai dengan berputar balik arah dengan cara menaiki batas jalan, itu semua keahlian mereka. Tidak perlu kaget dengan hal ini.

Mereka tidak akan pernah berhenti beraksi demikian sampai dengan ada pengaturan yang proporsional pada transportasi umum ini. Sejauh ini tidak pernah ada sanksi yang berat jika mereka melanggar peraturan lalu lintas. Jika mereka melanggar, polisi menangkap dan mendenda. Denda tersebut besarnya terbilang kecil jika dibandingkan dengan denda untuk mobil pribadi, tapi buat mereka sebenarnya cukup mengurangi jatah setoran harian. Tapi apa yang terjadi setelahnya? Mereka tancap gas lagi, memaki-maki sang polisi, dan kembali melakukan aksi mereka. Mereka mencari jumlah setoran yang hilang dengan cara yang sama. Bahkan harus lebih lagi aksinya agar bisa mencari penumpang lebih banyak sehingga setoran tak hanya balik modal, tapi harus menyisa untuk uang rokok atau kebutuhan rumah tangga mereka.

Jika si raja jalan ini bersenggolan dengan mobil pribadi, yaah si pemilik mobil pribadi terpaksa hanya bisa mengelus-elus dada. Atau jika emosi sedikit tersulut, paling mentok yang bisa dilakukan adalah memaki-maki sang supir dan kondekturnya sambil sudah mulai membayangkan akan merogoh uang berapa banyak untuk memperbaiki mobilnya itu. Tak bisa berbuat lebih jauh. Mengharapkan mereka mengganti uang untuk mereparasi mobil? Itu sama saja dengan membuat anak-anak mereka putus sekolah; sama juga dengan mengurangi uang belanja istri mereka yang tak seberapa untuk makan keluarga mereka tiap harinya.

Si Raja Rusuh

Saya bingung harus menamai mereka apa. Beda dengan bis kota yang kondisi bisnya sudah sepatutnya mendapat perhatian oleh menteri & dinas perhubungan, si raja rusuh ini tampil memukau di jalan. Biasanya berwarna hitam legam. Nomor plat kendaraannya tidak banyak dan biasanya berakhiran ‘RI’. Sebelum mereka melintas, kita akan melihat iring-iringan motor dan mobil polisi yang sirenenya memusingkan mata dan memekakkan telinga. Setelah mereka melintas, iring-iringan karnaval sirene ini pun masih ada juga.

Saya tak habis pikir. Isi mobil hitam tersebut paling hanya satu atau dua orang saja. Tapi korbannya? Mereka semua (termasuk saya yang seringkali mendapati kejadian ini, ugh!) harus berhenti dan mengalah. Menambah waktu macet di jalan lebih dan lebih lagi. Jumat sore minggu lalu misalnya, dalam perjalanan saya dari Jakarta selatan menuju bandara, entah ratusan atau ribuan mobil dari Gatot Subroto sampai dengan Slipi, tidak bisa masuk ke jalan tol karena jalan tol terebut harus dikosongkan atau dilengangkan karena hendak digunakan oleh Si Raja Rusuh. Pada saat-saat biasa saja, ketika tiap kendaraan bisa masuk jalan tol, Jakarta sudah macet, apalagi mereka dipaksakan semuanya berada di jalanan luar tol. Bisa membayangkan betapa sumpek dan tidak bisa bergeraknya kendaraan-kendaraan tersebut bukan?

Demi kepentingan satu atau beberapa orang di dalam mobil hitam legam itu, kepentingan banyak orang harus dikorbankan. Kita ambil contoh mereka yang akan ke bandara, hitung saja berapa orang yang jadi terlambat ke bandara karena terhambat kemacetan tersebut. Dan mungkin saja sejumlah dari mereka yang hendak ke bandara itu, mereka sudah menabung cukup keras untuk membeli tiket pesawat dan pergi karena urusan penting yang tak bisa ditunda. Oleh karena kejadian tersebut, uang hilang, kesempatan pun melayang.

Melanggar peraturan lalu lintas? Tentu saja! Jelas-jelas mereka tetap melaju di kala lampu berwarna merah.

Didenda? Jelas tidak! Lha wong polisinya ikut rombongan mereka kok. Polisi juga yang mengijinkan mereka tetap berjalan di lampu berwarna merah (dan memberhentikan kendaraan-kendaraan dari arah lain meski lampu di sana sudah berwarna hijau).

Disenggol kendaraan lain? Mana bisa! Rombongan polisi yang mengawalnya itu jelas memberikan jarak pada kendaraan-kendaraan di sampingnya. Jika ada kesempatan, saya pengen banget bisa ‘mengenalkan’ atau menyentuhkan mobil saya dengan mobil mereka :) (vandalisme mode on nih jadinya, hehehe)

Pemenang

Pada akhirnya, dengan mempertimbangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh kedua nominator di atas, saya menobatkan Si Raja Rusuh sebagai pemenang untuk kategori Si Biang Kerok Kemacetan Jakarta!!

Hal ini terjadi karena setelah saya pikir-pikir, Si Raja Jalan setidaknya punya kelebihan khusus. Mereka membantu menyehatkan jantung para penumpangnya, memacu adrenalin, dan memberikan kesempatan pada mereka yang malas ke Dufan dengan menyediakan wahana seru nan menantang yang tak kalah dengan Halilintar atau Tornado :D

Epilog

Si Raja Rusuh seringkali disebut wakil rakyat atau pengabdi masyarakat. Saya kok suka mulas mendengar sebutan itu. Mereka jelas-jelas tidak mencerminkan hal tersebut. Jika tidak pernah merasakan apa yang rakyat rasakan, bagaimana mereka bisa mewakili rakyat atau menyatakan dirinya pro-rakyat. Ini baru soal macet lho, belum soal perut dan lainnya.

Author: virtri Categories: politikana Tags:

‘Pijat’ vs ‘Pijat Plus-Plus’

May 29th, 2009

pijat

Senang dipijat? Kalau begitu sama donnkk dengan saya!!

Saya yakin, banyak dari kita yang senang dipijat. Kalau tidak, tak mungkin ada panti pijat, tukang pijat keliling, dukun pijat bayi, juga salon & spa yang menyediakan fasilitas pijat yang kini kian menjamur (orang lebih senang menyebutnya ‘massage’, katanya lebih keren?!). Pijat itu sendiri diminati karena punya banyak fungsi. Utamanya adalah untuk kesehatan, yakni melancarkan peredaran darah, mengendurkan otot yang kaku, dst.

Setelah pulang dari Jogja kemarin, saya letih sekali. Pegal-pegal seluruh badan ini. Pasalnya, saya & beberapa kawan pergi ke Puncak Suroloyo, Kulonprogo. Untuk mendapatkan keindahan kota magelang dari atas (Candi Borobudur juga kelihatan loh dari sana), ratusan anak tangga harus didaki. Oleh karena tubuh ini jarang dilatih dengan olahraga, perjalanan menanjak rasanya begitu menyiksa betis dan paha. Nafas pun  tersenggal-senggal tak karuan. Keesokannya, sesampainya di Jakarta, saya sudah harus bekerja dari pagi sampai malam di kantor. Kaki rasanya sudah mau copot di hari itu.

Pijat menjadi pilihan saya dalam mengatasi kondisi itu. Saya langsung terbayang-bayang “Kaki Plus” di Jogja, tempat pijat paling cihuy buat saya, harganya murah & rasanya manttaaabbb. Nah di Jakarta? Pengetahuan saya terbatas akan pijat enak di sini. Yang saya tau di Pluit, tapi jauh banget dari tempat saya berada. Akhirnya saya memilih untuk menelepon salah satu Pijat Kesehatan Keluarga “XX” – Layanan 24 jam, yang selebarannya sering dibagi-bagi di kost saya. Lumayan, pikir saya. Tanpa perlu pergi ke luar dan bermacet-macet ria, saya bisa mendapatkan yang saya butuhkan. Harganya pun termasuk murah dibanding pijat yang di salon & spa.

Singkat cerita, saya pun dipijat, wuenaaakkkkk tenannnn ;) Nah, dalam 1.5jam saya dipijat, berceritalah Si Mbak Pijat (kita sebut saja Mbak Tini, bukan nama sebenarnya, namun ini kisah sebenarnya):

“Saya senang mbak kalau diminta bos saya untuk tugas pijat ke kost-kostan, apalagi yang panggil perempuan. Meski malam hari, tenang rasanya hati ini. Kalau yang manggil laki-laki, di atas jam 11 malam, wah saya biasanya was-was. Terutama kalau dapat tugas untuk ke orang  India, Arab, Jepang, Filipina, wah saya ngeri, Mbak. Mereka suka ga sopan. Kalau bule sih masih agak sopan.

Mereka berpikiran pijat yang saya lakukan adalah pijat plus-plus. Jadi ketika saya datang untuk memijat, kelakuan mereka aneh-aneh. Mereka melepas seluruh pakaian, saya minta mereka telungkup, eh maunya terlentang, lalu memasang film biru dan meminta saya melakukan lebih dari sekedar pijat.

Saya biasanya menjelaskan pada mereka bahwa saya ini datang untuk ‘pijat beneran’. Saya ini loh kukunya tidak panjang-panjang, tubuh saya gemuk, saya juga sudah berusia 55 tahun (meskipun jika melihat penampilannya, kita akan berpikir Mbak Tini berusia 35-40tahun)

Beberapa dari mereka, meskipun sudah saya jelaskan, tetap saja memaksa dengan menawarkan bayaran jauh lebih besar. Duh, kalau kejadiannya kayak begini, saya biasanya pura-pura minta ijin ke kamar mandi, kemudian saya kabur. Buat saya mbak, hasil sedikit tidak mengapa asalkan halal.

Menolak untuk pergi tugas? Saya tidak bisa menolak bos saya, mbak. Saya kan ikut dia di sini. Saya juga bisanya cuma pijat. Maunya sih saya buka tempat pijat sendiri, yang benar-benar untuk pijat. Tapi saya SD saja tidak lulus, saya juga ga punya banyak uang. Saya dari kampung mbak, aslinya Ungaran. Anak saya tinggal di situ, sama neneknya. Saya sudah cerai dengan bapaknya, sudah lama. Habis bapaknya suka main perempuan, saya tidak tahan”

Ya, itulah sekelumit cerita dari Mbak Tini malam itu. Miris rasanya hati saya mendengar cerita dari Mbak Tini yang benar-benar ingin bekerja dengan baik di dunia pijat-memijat. Citra pekerja pijat dan panti pijat dari dulu memang identik dengan dunia prostitusi.

Ada tempat-tempat pijat yang embel-embelnya ’sehat’, ‘bersih’, ‘keluarga’, namun di dalamnya banyak kemesuman terjadi. Tapi, banyak juga tempat pijat yang meskipun embel-embelnya ‘plus’ seperti tempat pijat favorit saya di jogja, namun dapat saya garansi ‘kebersihan’nya (karena maksud ‘plus’ pada kata ‘kaki-plus’ di sini adalah pijat kaki, plus tangan, plus punggung J)

Melihat keadaan seperti ini, saya sangat berharap adanya pemisahan yang jelas antara dunia pijat-memijat yang saya cintai ini dengan dunia pijat plus-plus atau prostitusi. Tidak, saya tidak akan berbicara banyak tentang dunia prostitusi kali ini. Itu topik yang lain lagi.

Saat ini, saya hanya berharap pemerintah punya kebijakan yang bijaksana untuk dunia pijat-memijat ini, jangan sampai mereka yang benar-benar ingin bekerja memijat dengan tujuan mulia yakni menyehatkan konsumen, malah menjadi objek penderita karena konsumennya mesum.

Sedikit tentang kebijakan pemerintah, saya tidak setuju jika caranya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kota Batu Malang yang mewajibkan pegawai perempuan di panti-panti pijat Kota Batu menggunakan gembok pada pakaian dalamnya guna mencegah tindakan tak patut dari konsumen. (Mengapa bukan sebaliknya ya: tangan dan pakaian dalam konsumennya yang digembok, misalnya, hehehe.  Namun dua cara tersebut, tetaplah tidak bijaksana).

CCTV yang dapat dipantau oleh kantor tempat pijat mungkin bisa menjadi alternatif. Atau ruang pijat bersama yang lebih terbuka (hanya disekat oleh kain atau sekat separuh ruangan. Atau kebijakan lain yang tentunya pemerintah bisa memikirkannya karena harusnya pemerintah jauh lebih pintar dari saya.

Saya juga berharap pada para pemilik jasa pijat untuk tidak membuka jasa pijat tersebut 24 jam. Kasihan bukan para pekerja Anda. Bagi manusia normal pada umumnya, malam sampai pagi  adalah jam biologis untuk istirahat, bukan bekerja.

Terakhir, saya berharap pada para pembaca untuk membedakan para pekerja pijat dan para pekerja plus-plus. Mereka berbeda loh. Memang sih ada kesamaannya. Keduanya menghasilkan tubuh yang lebih rileks. Tapi perbedaannya, setelah dipijat beneran, badan segar, hati pun tentram. Tapi pijat plus-plus, badan boleh segar, tapi hati? :D


Author: virtri Categories: politikana Tags:

Yuk Naik Pesawat Indonesia!

May 26th, 2009

pesawat

Saya baru saja mendarat dalam perjalanan Jakarta – Jogja. Naik salah satu maskapai penerbangan negeri ini yang terkenal dengan harga murahnya. Awalnya saya sempat khawatir, mengingat maraknya kecelakaan di udara belakangan ini. Namun apa daya, dompet saya mengarahkan saya naik pesawat ini! :)

Dalam perjalanan tadi, tiba-tiba terlintas di benak saya: hidup di suatu negara itu tak ubahnya seperti naik pesawat, tentu saja dengan kompleksitas yang berbeda.

Kita namakan saja negara yang saya diami ini bernama Pesawat Indonesia. Kapten penerbangan, yakni si pilot adalah presidennya. Di sampingnya duduk co-pilot, yaitu wakil presiden. Awak kabin adalah mereka yang duduk di pemerintahan lainnya (misalkan para menteri, anggota  DPR, dsb) yang bertugas melayani (catat: melayani!) kita para penumpangnya, yang saya analogikan sebagai penduduk bangsa, yang sudah membayar tiket untuk naik pesawat tersebut. Anggap saja tiket adalah pajak yang kita bayarkan untuk memberikan gaji pada mereka.

Pesawat Indonesia ini sedang terbang menuju suatu tempat, yakni kehidupan bangsa yang lebih baik.

Bayangkan jika awak kabin tidak bekerja dengan baik. Mereka memberikan petunjuk prosedur keselamatan dengan asal-asalan, bukannya menyapa kita dengan senyum tulus, eh malah marah-marah sambil teriak-teriak, lalu bukannya membantu penumpang untuk menyimpan barang bawaannya di kabin, eh malahan mengambil isi barang bawaan para penumpang tanpa ketahuan (hmm, jadi mengingatkan saya pada korupsi yang terjadi di negeri ini). Tentu kita sangat tidak nyaman dengan keadaan ini.

Kemudian, bayangkan jika sang pilot dan ko-pilot tidak bekerja dengan benar. Dalam mengendalikan pesawat mereka main-main, sembarangan pencet2 tombol, sibuk foto-foto bergaya untuk dipasang di facebook, atau mungkin malah main catur berduaan. Alhasil, pesawat akan melaju dengan naik turun, ke kanan ke kiri dan oleng tak karuan. Mual dan mabuk akan menjadi santapan utama para penumpang selama di pesawat.

Dan para penumpang tak bisa sembarangan minta diturunkan di tengah-tengah perjalanan seperti halnya naik bis atau ojek. Jika pun dibolehkan turun,  meski minum Coca Cola Zero atau Sprite Zero lima galon, rasanya tetap saja kita tidak bisa melayang di udara dan mendarat dengan selamat.

Sementara, melalui kaca jendela kita melihat pesawat-pesawat lain, yakni pesawat-pesawat luar negeri. Pesawat-pesawat itu  melaju dengan cantiknya, mulus sekali. Beberapa penumpang yang memiliki teropong mencoba melihat ke bagian depan pesawat-pesawat itu. Ah, betapa seriusnya pilot dan ko-pilot dalam mengemudikan pesawat. Dan raut muka-muka itu, mereka menampakkan rasa tanggung jawab terhadap keselamatan pesawat dan penumpangnya. Lalu, ada penumpang yang dengan sengaja memperhatikan seragam pilot-pilot tersebut. Pada bagian label namanya terbaca gelar edukasi pilot-pilot tersebut. Fiuh, wajar saja jika demikian, ujarnya.

Banyak dari pesawat-pesawat itu yang lepas landas (baca: merdeka) setelah Pesawat Indonesia lepas landas. Namun saat ini, posisi pesawat-pesawat tersebut telah melesat jauh di depan pesawat Indonesia, ribuan langkah lebih maju bahkan.

Saya pun berhenti melamun dan mencoba berpikir realistis. Ah, tidak sepenuhnya kehidupan berbangsa dan  bernegara ini seperti halnya ketika kita naik ‘Pesawat Indonesia’ yang saya ceritakan rupanya. Iya, sebagian besar dari kita tidak bisa memilih mau menjadi warga negara Indonesia atau tidak. Lebih sering keadaannya adalah keadaan terpaksa. Plong, oeekkk…oeekkk.. ketika keluar dari rahim ibu kita, kita memiliki orang tua yang adalah penduduk Indonesia. Mau pindah kewarganegaraan, repot & mahal. Akhirnya kita memilih untuk tetap menjadi bangsa ini.

Tapi kita bukan bangsa yang pasif, penumpang pesawat yang tidak bisa apa-apa. Kita bisa menentukan siapa yang pantas menjadi awak kabin kita, dan terutama siapa pilot dan ko-pilot kita, apakah mereka berkompetensi memimpin penerbangan ini atau tidak. Kita punya hak untuk menentukan ke mana Pesawat Indonesia ini akan menuju dengan memilih presiden, wakil presiden, dan pemerintah yang tepat.

Selamat menyongsong pemilu presiden! :)

*bandara adi sutjipto, jogjakarta -

Author: virtri Categories: politikana Tags:

ini gayaku, gayamu?

May 13th, 2009

Kaos putih dan celana jeans biru. Itu menu utamanya. Menu tambahannya adalah tas hitam kecil dan sandal jepit hitam legam.

Aku suka menggunakan kaos putih. Sebagai orang yang ingin sekali menggemukkan tubuhnya, warna putih yang dipercaya memiliki efek ‘menggemukkan’ sedikit banyak mempengaruhiku memilih warna ini sebagai warna favoritku. Namun, faktor utamanya lebih karena aku melihat tidak ada yang lebih keren dari paduan kaos putih dengan celana jeans!

Celana jeans biru dengan warna yang sedikit pudar. Meski aku hanya memiliki 2 buah (salah satunya sudah berumur 6 tahun! sahabatku selalu berkata aku harus segera mencari celana jeans baru! hehehe), aku menyukai kala aku menggunakannya.

Tas hitam kecil. Tempat menaruh telepon seluler, dompet, dan kunci mobil. Tas itu bisa kuselempangkan sehingga kedua tanganku bebas bergerak ke atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri. Bisa senam deh pokoknya! :p

Terakhir, sandal jepit hitam. Sandal yang bisa membuat kakiku bernapas lega menghirup segarnya udara dan tentu saja sangat menyehatkan karena tidak memiliki hak yang bisa membuatnya senut-senut  tak karuan.

Jika aku sedang berpergian jauh, ada satu tambahan menu: tas ransel yang berisi buku dan sejumlah kecil pakaian.

Ya, itu saja. Ini gayaku, gayamu?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Ilmu Komunikasi kok di FISIPOL

May 1st, 2009

Saya alumnus mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Jogja. Awal dulu saya masuk kuliah, terus terang saya bingung. Mengapa jurusan ini berada di Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik (Fisipol) dan bukan mendirikan fakultas sendiri, seperti halnya di Bandung. Di Jakarta juga demikian, ilmu komunikasi masuk dalam jajaran ilmu-ilmu di Fisip (saat ini saya juga belum tahu kenapa kalau di Jogja disingkat Fisipol, sedangkan di Jakarta disingkat Fisip)

Dalam bayangan saya dulu, dengan kuliah di jurusan Komunikasi, saya akan banyak belajar teori-teori mengenai Kepenyiaran, Jurnalistik, Periklanan, atau Hubungan Masyarakat (konon bagi bangsa yang suka kebarat-baratan ini, nama kerennya Hubungan Masyarakat adalah Public Relation atau Corporate Relation dan nama ga kerennya: Jubir! Ups! ). Atau setidaknya, di jurusan ini saya bisa belajar bagaimana berbicara depan publik dengan lebih baik. Sehingga ketika nanti saya diminta berpidato di acara ulang tahun saya sendiri, saya tidak menjadi gugup.

Saya kemudian beranggapan, mungkin saja karena universitas saya ini tidak punya cukup banyak uang (dulu loh ya!) untuk mendirikan satu fakultas lagi, yakni untuk satu jurusan: Ilmu Komunikasi. Kalau ini masalahnya, saya punya sebuah pendapat, mengapa tidak dimasukkan saja ke dalam Fakultas Psikologi. Toh komunikasi terkait erat dengan ilmu tentang diri. Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, manusia harus mengerti tentang dirinya sendiri dulu kan, bagaimana kepribadiannya, dan seterusnya. Memang, hal ini juga menjadi ambigu ketika pusat kajian hanya diri. Bagaimana jika kelak ilmu komunikasi menjadi salah arah dan malah membuat orang suka berbicara sendiri (dan senyum-senyum sendiri).

Fakultas Ilmu Sosial. Mungkin jika berhenti sampai di situ saja, saya bisa dengan lapang dada menerimanya. Komunikasi setidaknya membutuhkan dua pihak: pemberi pesan dan penerima pesan. Ada hubungan sosial yang terjalin di situ. Ya, itu lebih tepat pikir saya, FIS: Fakultas Ilmu Sosial.

Jadi, sebenarnya yang mengganjal saya itu adalah kata “ilmu politik”-nya itu loh. Politik dulu saya yakini sebagai ilmu yang bersaudara dengan kekuasaan dan hal-hal seram lainnya. Kalau Ilmu Hubungan Internasional itu wajar dilabelkan politik. Ilmu Pemerintahan apalagi. Lha Komunikasi?

Untunglah saya tidak berlama-lama terkebak dalam ruang tanda tanya saya. Kuliah demi kuliah yang saya ikuti akhirnya memberi gambaran secara lugas bahwa kajian komunikasi itu jelas: media. Apapun mata kuliahnya: kepenyiaran, jurnalistik, periklanan, hubungan masyarakat, dst., kita mempelajari media; media sebagai pembawa pesan.

Saya pun juga bisa melihat politik tidak dengan kacamata seram lagi, namun lebih jernih. Saya suka dengan arti politik yang diberi oleh Aristoteles: usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Akhirnya saya mengerti bahwa ilmu komunikasi tidak saja berkawan erat dengan ilmu sosial namun juga bersahabat dekat dengan ilmu politik. Media menjadi tidak bermakna jika ia berada dalam ruang hampa; berdiri sendiri. Ia menjadi berperan ketika ia ditempatkan dalam suatu sistem sosial dan memberi nilai untuk menwujudkan kebaikan bersama. Politikana semoga bisa menjadi salah satunya.

(baru mendaftarkan diri menjadi warga politikana.com nih)

Author: virtri Categories: politikana Tags:

ada sebuah sedih di pagi hari

April 1st, 2009

biasanya.

biasanya aku mendapati senyum ketika membuka hari, ada simpul ceria dan semangat yang terlukis di ujungnya. kedua simpul itu biasanya kupegang erat-erat untuk menapaki perjalanan hari. iya, tidak selamanya hari mudah dijalani. kadang sangat berliku. tapi dengan berbekalkan kedua simpul itu, rasanya lebih ringan. senyum dengan kedua simpulnya biasanya menjadi sarapan wajib buatku.

tak biasa.

hari ini memang tak biasa. aku kehilangan senyum di pagi hari ini. dia hilang tanpa pamit padaku. tidak sopan memang! dan yang membuatku lebih kesal, dia juga membawa kedua simpul itu; ceria dan semangat. aku kepayahan mencarinya. aku mencoba mengingat-ingat, apa yang membuatnya pergi dariku; yang telah membuatnya gusar sehingga menjauh dariku.

malam sebelumnya.

pertengkaranku dengan senyum memang sudah dimulai dari malam kemarin, malam sebelumnya. aku sebenarnya sudah hampir kehilangannya di malam itu. tentu saja aku tidak mau kehilangannya. aku suka bersamanya. tapi apa daya, ketika pertengkaran mulai sengit, dia mulai menjauh. aku coba kalahkan egoku. kami rujuk kembali. dan ya, aku tidak jadi kehilangannya. untunglah.

pagi ini.

aku tidak bisa tidak melepaskan senyum. sudah terlalu berat mempertahankannya di kala hati tidak ingin dia bersamaku. maaf, ternyata tidak mudah bagiku mempertahankan senyum untuk selalu mengembang di pagi hari. ternyata sulit untuk selamanya membiarkan senyum berada di wajahku; pun dengan kedua simpul yang selalu dibawanya.

aku kehilangan senyum di pagi ini.

aku mendapati sedih sebagai gantinya.

(dan aku masih manusia, kata seorang temanku, bijak)

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

November 7th, 2008

“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)

Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku.  Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.

Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.

Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen – jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.

Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.

Sekolahnya akan berada di sebuah pendopo tak berdinding, di atas halaman depan rumahku yang dihiasi rumput hijau muda. Rumahku akan kecil saja; seperti paviliun, berdinding dan berlantaikan kayu. Di sebelah pendopo tersebut akan ada ruang kecil sebagai perpustakaan. Di sebelahnya lagi, ada taman kecil yang nyaman yang memiliki kolam yang juga kecil yang bersenandungkan suara gemericik air kecil-kecil.

Sekolah ini bukan sekolah formal. Ini hanya tempat belajar. Untuk anak-anak yang berada di lingkungan setempat. Pelajaran yang diberikan adalah tambahan dari apa yang mereka dapatkan di sekolah dengan gaya belajar yang berbeda tentunya. Atau tentang sesuatu yang tidak mereka dapatkan di sekolah, misalnya aplikasi seni atau mengenal alam dan budaya secara lebih riil (iya, bagiku secara umum kurikulum sekolah saat ini terlalu kaku). Mereka yang tidak bersekolah secara formal, juga boleh belajar di sini. Ini sekolah yang terbuka. Kamu juga boleh datang ke sini.

Kita akan selalu punya kelas “bercerita”, mengungkapkan pendapat tentang buku-buku yang kita baca, film yang kita tonton, keluarga dan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi, atau hal-hal kecil yang kita rasakan. Kelas ini akan membiasakan budaya bertutur, belajar mengungkapkan pendapat.

Ah ya, tentu saja kita juga memiliki pelajaran bermain! Misalnya permainan-permainan tradisional berkelompok yang sudah lama ditinggalkan. Pelajaran tentang kerja sama, keberanian, strategi, sikap menghadapi kemenangan dan hati yang lapang menghadapi kekalahan. 

Dalam mewujudkan mimpi ini, setidaknya aku sudah punya 3 orang yang akan mendukungnya: seorang sahabat nyamanku yang bersamanya aku membangun mimpi ini sebentuk demi sebentuk sambil tidak melupakan mimpinya; seorang sahabatku yang luar biasa yang sudah menyatakan diri ingin bergabung dalam mengembangkan sekolah ini (ah, jika dia bergabung, aku tidak bisa membayangkan betapa menariknya sekolah ini kelak, betapa mereka yang belajar di sini akan tidak takut untuk bercita-cita); dan kakakku sayang yang aku yakin akan berkarya dengan hati untuk mereka yang belajar di sekolahku ini (kecintaannya pada anak dan dunia pembelajaran, tak perlu kuragukan lagi).

Aku juga sudah punya daftar sahabat dan kawan yang akan kutawari menjadi pengajar di sekolahku ini. Sebagai pengajar tetap atau tamu. Sahabat dan temanku saat ini terbilang lebih dari banyak yang hebat-hebat; termasuk kamu.

Dan, ketika saat itu tiba, dalam karyaku mengelola sekolah sederhana ini, aku juga memiliki profesi sampingan sebagai seorang penulis ternama (mimpi bangettt yaaa).

“Ah, rasanya mimpiku sulit untuk kuraih,” sempat kulontarkan hal itu pada sahabat nyamanku.

lalu katanya:

“Buatku, mimpi itu justru memang sesuatu yang tidak mungkin untuk saat ini; masih terlihat sulit untuk diraih.  Jika saat ini kita sudah menjalaninya, itu bukan mimpi lagi.”

 Yuk kita wujudkan mimpi kita!

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags: