Hari kelima
Hari terakhir! Saatnya siap-siap untuk pulang. Kami tidak mentargetkan untuk ke tempat-tempat tertentu. Alasannya karena sudah tidak ada target lagi di daftar kunjungan kami. Alasan lainnya adalah daya dan tenaga sepertinya sudah pada titik limit. Kami sudah membayangkan tempat pijat refleksi murah di Jakarta. Hehehe.
Bras Basah Complex
Kami mendedikasikan hari terakhir ini untuk mencari oleh-oleh. Sempat di hari sebelumnya kami mampir sebentar di Bras Basah Complex, pusat buku-buku murah, namun tak bisa berlama-lama. Nah, hari inilah saatnya. Iya, saya sudah berencana mau berbelanja buku di kota ini. Sempat patah arang mengetahui di Kinokuniya harganya selangit. Namun again, thanks to Shoe, dialah yang menginformasikan tempat buku-buku murah. Ya di sini ini!
Huaaaaaa…. Huaaaa…. Huaaaa… Itu kata maksimal yang bisa saya lontarkan di Bras Basah Complex. Kata apa lagi yang bisa menggambarkan kegembiraan saya bertemu buku-buku second namun keadaannya masih bagus dan harganya (ampuuuun) murah banget! Bayangkan, buku-buku Enid Blyton hanya dijual $1. English version lagi! (Ya iya lah ya.. masa bahasa hindi!). Perbandingannya dengan buku barunya 1:15! Rp. 7000 : Rp. 105.000! Dududu…
Read more »
Hari Keempat
Tidak terasa kami sudah masuk di hari keempat. Badan remuk tapi daftar di secarik kertas yang menjadi target kami, belum semuanya dicoret. Di hari sebelumnya, 2 telur di pagi hari terbukti bisa menenangkan naga di perut kami sehingga ia tidak menggelepar-gelepar. Jurus itulah yang kami gunakan kembali di pagi hari ini. Semangaaatttt!!!
Raffles Hotel, Mint Museum
Berhenti di Stasiun City Hall, kami menuju Mint Museum. Penasaran, pengen tahu seperti apa museum mainan yang konon katanya terkenal bukan main. Perjalanan dari City Hall ke Mint Museum melewati Hotel Raffles yang luasnya ampuunnn deh! Cantik pula! Ya, janganlah bangunan tersebut kita sia-siakan, bukan? Ayo, mari-mari.. siapa yang ingin berfoto-foto sejenak di sini?
Dari luar, Mint Museum ini tidak seperti museum-museum lainnya yang kami kunjungi. Kecil, terletak di bangunan berlantai 5. Lantai 1-nya sudah digunakan untuk Café. Meski tidak meyakinkan, kami berprinsip “Don’t judge book by its cover!” Ya, kami masih meyakini bahwa di dalamnya sudah ada kejutan-kejutan buat kami. Ditambah lagi, harga tiket masuknya lebih premium dibanding museum-museum sebelumnya, $15 per orang. Perjalanan museum dimulai dari lantai 5, turun ke 4, dst.
Benar kan… kami dikejutkan!!! Kejutannya adalah…… tidak ada apa-apa! Iya, itu kejutannya! Kami sudah menaruh ekspektasi tinggi pada museum ini, tapi ternyata isinya hanya koleksi mainan yang tidak banyak. Uh, apa boleh buat… bagus atau jelek, sesuai ekspektasi atau pun tidak, haruslah kami syukuri! Syukur loe! Udah bayar mahal ga dapet apa-apa! Rasain! Hihihi.
Read more »
Hari Ketiga
Belajar dari pengalaman di hari pertama, kami sarapan dengan porsi 2 telur hari ini. Kami harus lebih matang dalam mempersiapkan hari dengan perut lebih berisi, bukan? Hehehe.
Singapore Art Museum
Tujuan pertama kami adalah Singapore Art Museum (SAM). Kami penasaran dengan isinya. Dari promosi yang ada di Majalah MUSE yang kami ambil di National Museum hari sebelumnya, museum ini harusnya juga menarik. Turunlah kami di Stasiun Dhoby Gout dan berjalan menuju SAM.
Ada dua tempat yang tergabung dalam manajemen SAM. Selain bangunan utama, ada juga galeri-galeri yang terletak di 8Q, kurang lebih 100 meter dari bangunan utama. Letaknya di depan Gereja St. Paul and St. Peter (Kami bergurau kalau gereja ini maruk nama sekali. Mbok pilih, mau St. Paul aja atau St. Peter aja! Hihihi). Tiket masuk ke SAM ini $10 juga. Sudah untuk kedua bangunan.
Yang dipamerkan dalam SAM cukup menarik. Bagus-bagus. Ya, saya memang bukan seorang yang memiliki daya artistik tinggi, tapi saya cukup bisa memaknai sebuah karya seni kok (dari kaca mata orang awam, hehehe). Salah satu yang sedang mengadakan pameran di salah satu galeri ternyata seorang warga Indonesia: FX Harsono
Read more »
Hari Kedua
Sudah pernah sarapan di backpacker hostel? Seru loh! Kita dikasih jatah 2 potong roti tawar, dengan selai berbagai rupa, 2 telur mentah, kopi dan atau teh yang bisa diambil sesukanya. Disediakan kompor, berikut pan dan minyak goring untuk kita memasak sendiri telur kita. Setelah selesai makan, jangan lupa untuk mencuci piring dan gelasnya masing-masing ya. Itu memang aturannya, mandiri!
Perjalanan hari kedua pun kami mulai. Tujuan utama hari itu adalah National Museum. Oleh karena salah membaca peta, kami turun di stasiun MRT Orchard dan bukannya di City Hall. Tanggung karena sudah sampai di Orchard Road dan kalau menurut Pak Satpam Plaza yang kami temui, kami bisa berjalan kaki 15-20menit saja untuk mencapai National Museum, berjalanlah kami.
Orchard Road

Ini tempat berkumpulnya plaza dan mal yang menjual barang-barang bermerek ternama. Sebut saja merek apa yang kamu mau, kamu akan mendapatkannya di sini. Pusat belanja! Tempat berkumpulnya para shopaholic. Yang dari Indonesia? Tentu saja banyak ditemui di tempat ini (iya, perasaan ini tempat kedua terbanyak saya bertemu orang-orang dari Indonesia setelah bandara ). Tidak ada yang special selain mal-mal yang bertebaran. Umm, ada dink! Ada istana negara di jalan ini, tapi kita tidak diperkenankan masuk. Ada juga Singapore Management University yang sejuk dan bisa dijadikan tempat beristirahat ketika lelah datang. Gimana ga lelah.. 15-20menit dari Stasiun Orchard ke National Museum yang dimaksud oleh Pak Satpam itu sebenarnya bukan ditempuh dengan berjalan kaki, tapi jika kita lari! Capek banget, saudara-saudara! Hihihi.
Read more »

“Hah? Mau jalan-jalan ke Singapore, Vir? Ck..ck..ck.. lagi kaya ya?” demikian tanya teman saya.
Hihihi, ke Singapore ga perlu nunggu jadi orang kaya! Kelamaan! Total pengeluaran ke Singapore ga beda jauh kok dengan pengeluaran jalan-jalan dalam negeri. Ga percaya? Ini pengalaman saya dan sahabat saya, si Kakilangit, kemarin. Kamu boleh membuktikannya sendiri jika kamu tertarik! Oia, sebagai catatan, ketika kemarin kami jalan-jalan, $1 (dollar Singapore) sama dengan Rp.7rb yaa..
Read more »
Srupuuttt..
Ah, sedapnya kopi hitam ini! Menyeruputnya sambil menghirup wangi aromanya adalah cara terbaik menikmatinya. Sudah cangkir kedua. Mataku agak lelah rupanya. Tiga jam terus menerus memandang layar laptop memang tidak baik. Aku melihat pemandangan dari balik jendela di belakangku. Aku duduk di pojok ruangan di sebuah kedai kopi, dekat dengan pintu masuk dan jendela. Tapi karena kedai kopi itu terbilang sepi, dekat dengan pintu masukpun tidak mengapa, tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja.
Srupuuttt..
Kali ini aku memandang ke sekelilingku, ke dalam ruangan di kedai kopi itu. Aku baru sadar, ruangan ini memiliki interior menarik rupanya. Warna coklat mendominasi ruangan ini. Dekorasinya sederhana, tapi cita rasanya pas. Gulungan kuno yang berisi perjalanan kopi di Indonesia misalnya. Kemudian ada juga lukisan budaya tradisional yang dibingkai pigura bambu, dan oh… mataku menangkap bayangan sosok seorang laki-laki! Dia sedang duduk di meja seberang sana. Aiihh, dia cukup tampan!!!
Srupuuttt..
Read more »
kangen jalan-jalan.
untuk menghirup segarnya udara, memandang luasnya langit, menjejak indahnya alam.
kangen jalan-jalan.
untuk bertemu dengan budaya baru, melakukan hal-hal baru, berkenalan dengan teman-teman baru.
kangen jalan-jalan.
ke tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk sejenak berhenti dari rutinitas kerja.
ke negeri dibalik gedung-gedung tinggi, untuk seketika meninggalkan hiruk pikuk kota.
kangen jalan-jalan.
denganmu.
Kemarin waktu saya ulang tahun, ketika teman-teman di kantor saya menyalami saya, ada salah seorang teman yang ketika menyalami dan mengecup kedua pipi saya berkata demikian, “Selamat ulang tahun yaaa….” kemudian ucapannya terputus sejenak. Dia mundur satu langkah, memandang saya dari atas kepala sampai ke bawah, dari rambut pendek saya yang tergerai bebas, wajah saya yang polos tanpa polesan make-up, kemeja cantik (menurut saya sih cantik), celana panjang saya, hingga ke sepatu teplek yang saya kenakan. Lalu dia meneruskan ucapannya, “…sepertinya kita harus membuat Program Putri untukmu!”
*gubrak!*
Dan seorang teman yang lain menyahut, “Coba aja kalo bisa!”
*glek!*
Di hari yang lain, pernah saya memuji (dengan tulus) penampilan seorang teman kantor saya yang lain lagi. Menurut saya cara berpakaiannya menarik. Baju-baju yang ia gunakan sampai dengan aksesoris yang melekat sungguh enak untuk dilihat. Secara spontan saya mengatakan padanya “Ah, kamu modis sekali! Kamu cocok sekali dengan pakaian-pakaian yang tiap hari kamu kenakan!”. Saya tidak sadar pada saat itu suasana kantor sedang hening, sehingga suara saya cukup terdengar ke berbagai sudut. Setelah saya menyelesaikan kalimat saya, tersebutlah suara teman saya yang lain, kali ini seorang laki-laki, “Pakaian dia sih biasa aja! Loe itu loh yang ancur!”
*ketimpa tangga!*
Read more »
bertambah usia, akankah bertambah bijaksana?
Di cafe.
Di kedai kopi.
Aku lebih senang menyebutnya demikian.
Aku di kedai kopi, sendiri.
Iya, sendiri saja.
Kesepian?
Kesepian katamu?
Ah, tidak.
Aku jarang sekali merasa kesepian.
Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.
Mereka memang tidak selamanya bersamaku.
Tapi mereka ada.
Di dalam hati ini.
Read more »