Archive for the Category »Uncategorized «

Penculikan Seorang Sahabat

Seorang sahabat saya, si Ceriadunia, berulang tahun di hari Sabtu kemarin. Saya dan Senyumpagi sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Sebuah kejutan yang seru! Kamu mau tau bagaimana ceritanya?

Saya dan Senyumpagi tidak pura-pura lupa kalau dia ulang tahun seperti yang dilakukan orang-orang jika ingin membuat suatu kejutan. Yang kami lakukan justru kami menanyakan apa rencana Ceriadunia dan kami meminta agar kita bisa bertemu untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, kami katakan jika Senyumpagi harus liputan penting di hari Sabtu, sehingga kami tidak akan bisa bertemu dan merayakan hari ulang tahunnya pas di hari Sabtu tersebut. Akhirnya, kami sepakat untuk merayakannya dengan makan malam bersama di Jumat malam. Saya dan Senyumpagi pun mengarahkan tempat makan kita ke restoran yang memiliki kolam renang sehingga Ceriadunia membawa pakaian renang.

Jumat malam itu, berkumpulah saya, Senyumpagi, Ceriadunia, Pendongeng ajaib (suami Senyumpagi), dan Natalia – seorang sahabat kami lainnya, di Pancious, Permata Hijau. Kami pun berakting kecewa karena tidak bisa berenang di sana (meski sebenarnya kami sudah tahu benar jika kolam renang di sana tidak mungkin bisa digunakan untuk berenang. Ya iyalah, mau jadi tontonan segar para pengunjung apa? Hihihi). Fettuccini Mushroom, Spaghetti Salmon Marinara, Pasta Tuna, dan berbagai pancake dan waffle seperti  Coco Baileys dan Coco Berries menjadi pilihan kami di malam tersebut. Kami mentraktir Ceriadunia di malam itu dengan alasan itulah hadiah kami untuknya. Kami meyakinkannya bahwa demikianlah cara orang Eropa memperlakukan mereka yang berulang tahun.

more »

dua puluh delapan

bertambah usia, akankah bertambah bijaksana?

sendiriku

Di cafe.

Di kedai kopi.

Aku lebih senang menyebutnya demikian.

Aku di kedai kopi, sendiri.

Iya, sendiri saja.

Kesepian?

Kesepian katamu?

Ah, tidak.

Aku jarang sekali merasa kesepian.

Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka memang tidak selamanya bersamaku.

Tapi mereka ada.

Di dalam hati ini.

more »

jelang tahun baru

New_YearTiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah :) ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

more »

Tips Sehat A la Virtri

“HAH?? Sudah habis lagi, Mbak? Padahal cuma minum sendiri ya? Itu pun cuma malam-malam atau pagi-pagi benar!”, demikian komentar mas-mas di tempat kost saya, ketika saya beli 1 galon air mineral barusan.

Menurutnya siklus saya membeli 1 galon air mineral, menghabiskannya (yang hanya di malam dan pagi hari karena pagi sampai malamnya saya pergi bekerja), kemudian membeli lagi, termasuk cukup cepat dibandingkan dengan ke-35 teman-teman kost saya yang lain, termasuk yang tinggal berdua dengan suami/istri mereka.

“Kan sehat, mas minum banyak air putih!” celetuk saya sekenanya.

“Betul juga sih, mbak!”

———

Setelah masuk kamar, saya kemudian berpikir, mungkin benar juga bahwa saya cukup sehat selama ini berkat mengkonsumsi air putih banyak-banyak. Sejauh ini saya belum pernah masuk rumah sakit. Sepertinya dalam daftar catatan penyakit saya selama hidup ini, belum pernah tercatat kasus yang terbilang parah. Sebut saja pilek, batuk, pusing (biasanya karena kerjaan), masuk angin (obatnya cuma minyak kayu putih saja, dijamin langsung sembuh!), jerawatan (terhitung sakit ga?), korengan (waktu kecil sering banget! hihihi),  sakit perut jika sedang haid (ugh, saya kategorikan ini sebagai sakit yang cukup parah), dan yang terparah adalah cacar air (ini pun sembuh hanya dalam hitungan hari). Jadi, boleh dong saya berkata bahwa saya cukup sehat dan saya akan membagi beberapa tips untuk hidup sehat yang tiba-tiba terlintas di benak saya.

more »

ketika aku mati

Ceritanya aku baru pulang dari acara perpisahan teman kantor. Dua orang sekaligus. Sedih deh :(

Namun kali ini aku tidak akan berbicara banyak tentang acara perpisahan kedua temanku itu. Hanya saja, sepulang acara itu aku jadi berpikir mengenai saat ketika aku mati :)

Hihihi, aku tidak berencana menakut-nakuti kamu dengan berbicara mengenai kematian, yang banyak orang katakan tabu untuk menyebut-nyebutnya. Aku juga tidak bermaksud lancang melanggar papaku yang pernah menegurku ketika aku berbicara mengenai kematianku kelak, ketika aku mengatakan aku mau menyerahkan anggota-anggota tubuhku yang masih bisa berfungsi untuk orang-orang yang membutuhkan (ah, semoga saja masih banyak yang bisa berfungsi dengan baik, mengingat pola makan dan olah ragaku yang semrawut, hehehe). Waktu itu papa berkata, “Hush, kamu ini ngomong apa tho, de? Ga baik ngomong2in kematian diri sendiri! Ga bagus!” Tanpa mengurangi rasa hormatku pada papaku tercinta, bagiku, berbicara mengenai kematian adalah hal yang wajar, sama seperti kita berbicara mengenai kelahiran, pernikahan, atau hal-hal lain dalam hidup.

more »

ini gayaku, gayamu?

Kaos putih dan celana jeans biru. Itu menu utamanya. Menu tambahannya adalah tas hitam kecil dan sandal jepit hitam legam.

Aku suka menggunakan kaos putih. Sebagai orang yang ingin sekali menggemukkan tubuhnya, warna putih yang dipercaya memiliki efek ‘menggemukkan’ sedikit banyak mempengaruhiku memilih warna ini sebagai warna favoritku. Namun, faktor utamanya lebih karena aku melihat tidak ada yang lebih keren dari paduan kaos putih dengan celana jeans!

Celana jeans biru dengan warna yang sedikit pudar. Meski aku hanya memiliki 2 buah (salah satunya sudah berumur 6 tahun! sahabatku selalu berkata aku harus segera mencari celana jeans baru! hehehe), aku menyukai kala aku menggunakannya.

Tas hitam kecil. Tempat menaruh telepon seluler, dompet, dan kunci mobil. Tas itu bisa kuselempangkan sehingga kedua tanganku bebas bergerak ke atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri. Bisa senam deh pokoknya! :p

Terakhir, sandal jepit hitam. Sandal yang bisa membuat kakiku bernapas lega menghirup segarnya udara dan tentu saja sangat menyehatkan karena tidak memiliki hak yang bisa membuatnya senut-senut  tak karuan.

Jika aku sedang berpergian jauh, ada satu tambahan menu: tas ransel yang berisi buku dan sejumlah kecil pakaian.

Ya, itu saja. Ini gayaku, gayamu?

ada sebuah sedih di pagi hari

biasanya.

biasanya aku mendapati senyum ketika membuka hari, ada simpul ceria dan semangat yang terlukis di ujungnya. kedua simpul itu biasanya kupegang erat-erat untuk menapaki perjalanan hari. iya, tidak selamanya hari mudah dijalani. kadang sangat berliku. tapi dengan berbekalkan kedua simpul itu, rasanya lebih ringan. senyum dengan kedua simpulnya biasanya menjadi sarapan wajib buatku.

tak biasa.

hari ini memang tak biasa. aku kehilangan senyum di pagi hari ini. dia hilang tanpa pamit padaku. tidak sopan memang! dan yang membuatku lebih kesal, dia juga membawa kedua simpul itu; ceria dan semangat. aku kepayahan mencarinya. aku mencoba mengingat-ingat, apa yang membuatnya pergi dariku; yang telah membuatnya gusar sehingga menjauh dariku.

malam sebelumnya.

pertengkaranku dengan senyum memang sudah dimulai dari malam kemarin, malam sebelumnya. aku sebenarnya sudah hampir kehilangannya di malam itu. tentu saja aku tidak mau kehilangannya. aku suka bersamanya. tapi apa daya, ketika pertengkaran mulai sengit, dia mulai menjauh. aku coba kalahkan egoku. kami rujuk kembali. dan ya, aku tidak jadi kehilangannya. untunglah.

pagi ini.

aku tidak bisa tidak melepaskan senyum. sudah terlalu berat mempertahankannya di kala hati tidak ingin dia bersamaku. maaf, ternyata tidak mudah bagiku mempertahankan senyum untuk selalu mengembang di pagi hari. ternyata sulit untuk selamanya membiarkan senyum berada di wajahku; pun dengan kedua simpul yang selalu dibawanya.

aku kehilangan senyum di pagi ini.

aku mendapati sedih sebagai gantinya.

(dan aku masih manusia, kata seorang temanku, bijak)

Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)

Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku.  Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.

Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.

Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen – jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.

Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.

more »

dia

aku bertemu lagi dengannya tadi malam.

sebenarnya aku sudah lama mengenalnya. kamu yang mengenalkanku padanya. kamu sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenal aku.

aku pikir aku sudah cukup mengenalnya, hingga tadi malam datang. pengenalanku ternyata belum cukup dalam. banyak hal yang belum kumengerti tentangnya.

tadi malam kami bertengkar (meskipun aku tidak yakin jika itu didefinisikan dengan kata bertengkar). saat itu, dia mendengarkan semua keluhku, sebalku, marahku, sedihku, dan raguku; padanya. aku jadi sangat kekanak-kanakkan. aku pikir, harusnya itu menjadi saat yang tepat juga untuknya jika dia ingin mengungkapkan hal yang sama: berkeluh, sebal, ragu dan marah padaku. ah, akan menjadi pertengkaran yang seru pastinya!

tapi tidak. dia tidak terpancing dengan emosiku. dia hanya sempat nyatakan sedih; itu pun tak lama. dan yang dia lakukan kemudian adalah mendengar, mendengarkan dan mendengarkanku, lalu ketika aku sudah mulai tenang, dia mengambil suatu sikap, sikap yang benar-benar bijak; sangat dewasa.

aku heran di mana dia mendapatkan kebijaksanaan itu; kedewasaan itu. kamu tak pernah sekalipun menceritakan padaku dari mana hal yang dimiliki dia itu berasal.

bagiku dia sangat luas dan dalam.

dia : hatimu.