Archive

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

jalan-jalan

February 27th, 2010

kangen jalan-jalan.

untuk menghirup segarnya udara, memandang luasnya langit, menjejak indahnya alam.

kangen jalan-jalan.

untuk bertemu dengan budaya baru, melakukan hal-hal baru, berkenalan dengan teman-teman baru.

kangen jalan-jalan.

ke tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk sejenak berhenti dari rutinitas kerja.

ke negeri dibalik gedung-gedung tinggi, untuk seketika meninggalkan hiruk pikuk kota.

kangen jalan-jalan.

denganmu.

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

dua puluh delapan

February 16th, 2010

bertambah usia, akankah bertambah bijaksana?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

sendiriku

February 7th, 2010

Di cafe.

Di kedai kopi.

Aku lebih senang menyebutnya demikian.

Aku di kedai kopi, sendiri.

Iya, sendiri saja.

Kesepian?

Kesepian katamu?

Ah, tidak.

Aku jarang sekali merasa kesepian.

Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka memang tidak selamanya bersamaku.

Tapi mereka ada.

Di dalam hati ini.

Tidak, aku tidak merasa kesepian kok.

Dunia ini terlalu ramai buatku.

Terkadang malah terlalu gaduh.

Bukan, bukan aku ingin mengeluh, tapi itu kenyataannya.

Semua orang ingin bersuara, bercerita, berteriak.

Ada beberapa yang memilih untuk diam.

Namun jarang yang memilih untuk mendengarkan.

Aku pun kerap lupa untuk itu.

Lalu, mengapa aku sendiri saja?

Kamu benar-benar ingin tahu?

Aku…

Aku…

Umm, aku suka.

Iya, itu saja.

Seringkali aku suka dengan sendiriku.

Aku tahu, hampir semua orang yang mengenalku berkata aku adalah manusia sosial.

Maksudnya, manusia yang senang bergaul, berkumpul dengan teman-teman.

Ah,  jangankan teman, aku juga senang bercakap-cakap dengan orang yang tidak kukenal.

Hahaha, betul, itu memang menyenangkan buatku, berkenalan dan mendapat teman baru

Bisa akrab dengan mereka dan belajar dari hidup mereka.

Tapi, aku juga suka dengan sendiriku.

Aku menikmatinya.

Aku menikmati sewaktu aku menyeruput secangkir kopi.

Aku menikmati ketika aku membaca sebuah buku.

Aku menikmati saat aku merenung sekali dua.

Aku,

aku juga  menikmati kala aku memikirkanmu,

membayangkanmu,

mengharapkanmu,

dalam sendiriku.

Kamu apa kabar?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

jelang tahun baru

January 6th, 2010

New_Year

Tiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah :) ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

Saya juga memiliki resolusi tahun baru. Bukan sebuah resolusi baru sebenarnya. Ketika resolusi yang lama belum kita jalankan dengan baik, rasanya tidak bijak jika membuat begitu banyak resolusi yang baru, begitu pikir saya. Oleh karenanya, saya akan meneruskan sebuah resolusi yang saya namakan “a better me-project” yang telah saya mulai beberapa bulan di tahun kemarin:

(1) Body: makan dengan teratur dan mengkonsumsi vitamin, berolahraga teratur 1x setiap minggu;

(2) Soul: memiliki waktu-waktu khusus dengan Tuhan setiap hari untuk saat teduh dan berefleksi, jalan-jalan ke tempat yang baru (dan seru!) 1 kali setiap 2 bulan;

(3) Mind: membaca sampai habis 1 buku setiap minggu, menulis 1 artikel setiap minggu (ups! ketawan deh kalo suka alpa! hehe);

(4) Smile: membuat Tuhan tersenyum dengan lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh, membuat orang lain tersenyum dengan lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara (apalagi mengeluarkan kata-kata pedas! duh, virtri!)

Membandingkan resolusi saya dengan harapan dan resolusi kedua teman saya di atas membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, saya masih belum fokus, keinginan saya masih banyak. Kedua teman saya itu memiliki hanya satu resolusi, sedangkan saya memiliki beberapa. Salahkah itu? Tentu tidak! Bermimpilah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, dan tak lupa juga untuk mewujudkannya, itu yang saya pegang. Namun keahlian untuk memfokuskan diri dan belajar tentang prioritas mungkin harus saya kembangkan mulai saat ini.

Kedua, ini yang lebih penting: mereka mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan orang lain, bahkan alam, dibanding dengan diri mereka sendiri. Teringat oleh saya sebuah konsep bahagia yang pernah saya dapatkan ketika kuliah “J-O-Y: Jesus-Others-You”. Tuhan dan alam ciptaannyalah yang utama, kemudian orang lain, dan terakhir barulah kita sendiri.

Ketika kita tidak mengutamakan diri sendiri, kita telah berbuat sesuatu untuk diri kita; menjadikannya manusia yang selangkah lebih baik.

Selamat tahun baru!!! Apa resolusimu di tahun yang baru ini?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Tips Sehat A la Virtri

October 31st, 2009

“HAH?? Sudah habis lagi, Mbak? Padahal cuma minum sendiri ya? Itu pun cuma malam-malam atau pagi-pagi benar!”, demikian komentar mas-mas di tempat kost saya, ketika saya beli 1 galon air mineral barusan.

Menurutnya siklus saya membeli 1 galon air mineral, menghabiskannya (yang hanya di malam dan pagi hari karena pagi sampai malamnya saya pergi bekerja), kemudian membeli lagi, termasuk cukup cepat dibandingkan dengan ke-35 teman-teman kost saya yang lain, termasuk yang tinggal berdua dengan suami/istri mereka.

“Kan sehat, mas minum banyak air putih!” celetuk saya sekenanya.

“Betul juga sih, mbak!”

———

Setelah masuk kamar, saya kemudian berpikir, mungkin benar juga bahwa saya cukup sehat selama ini berkat mengkonsumsi air putih banyak-banyak. Sejauh ini saya belum pernah masuk rumah sakit. Sepertinya dalam daftar catatan penyakit saya selama hidup ini, belum pernah tercatat kasus yang terbilang parah. Sebut saja pilek, batuk, pusing (biasanya karena kerjaan), masuk angin (obatnya cuma minyak kayu putih saja, dijamin langsung sembuh!), jerawatan (terhitung sakit ga?), korengan (waktu kecil sering banget! hihihi),  sakit perut jika sedang haid (ugh, saya kategorikan ini sebagai sakit yang cukup parah), dan yang terparah adalah cacar air (ini pun sembuh hanya dalam hitungan hari). Jadi, boleh dong saya berkata bahwa saya cukup sehat dan saya akan membagi beberapa tips untuk hidup sehat yang tiba-tiba terlintas di benak saya.

1. Konsumsi air putih banyak-banyak

Selain siklus cepat dalam menghabiskan galon di kost, di kantor, ketika saya bekerja, saya pun menghabiskan lebih dari 1 teko air setiap harinya (di luar jam makan siang). Di mobil saya pun hampir selalu tersedia air mineral ukuran kecil yang bisa dihabiskan dan diganti lagi. Selain rasanya yang enak (buat saya, tawar itu terkadang nikmat), khasiat air putih sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Beberapa saudara saya mengkonsumsi air putih sebagai terapi penyembuhan sakit-sakit mereka. Oh iya, selain sehat, air putih juga berkhasiat untuk membuat orang semakin cantik atau ganteng. Maksudnya, membuat kulit lebih sehat.

2. Olah raga

Huahaha, semua orang juga tau kalo olah raga membuat orang menjadi sehat. Tips yang basi dan saya tidak kompeten untuk menulis masalah ini (karena saya termasuk orang yang jarang olah raga, namun sedang mencanangkan diri untuk setidaknya berolah raga 1 kali dalam seminggu). Tips saya dalam hal ini, sederhana saja: cari olah raga yang kamu sukai, dan lakukan! Saya sangat menyukai berenang, buat saya itu olah raga terbaik yang membuat kita tidak berkeringat dan membuat kita senang. Kamu suka apa?

3. Tidur

Tidur itu nikmat banget! Semua lelah akan pulih ketika kita bangun tidur. Ada jam-jam tertentu, jika saya tidak salah di waktu dini hari, ketika hormon-hormon anti-stres akan diproduksi jika kita tidur di jam tersebut. Jadi, jangan sering-sering begadang ya!

4. Mencintai & Dicintai

Ketika mencintai seseorang dan dicintai seseorang, semangat akan muncul dan tubuh dengan sendirinya menjadi lebih sehat. Kita pun cenderung menjaga kesehatan demi bisa melakukan aktivitas bersama orang-orang yang kita cintai.

5. Bahagia

Ada frasa yang cukup populer ‘men sana in corpore sano‘ (bener ga ya ejaannya?), artinya di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Itu benar, tapi menurut saya yang lebih tepat adalah “jiwa yang bahagia membuat tubuh menjadi sehat”. Adakasus-kasus yang menceritakan bahwa perasaan bahagia akan mempercepat proses penyembuhan orang yang sakit, dan ada juga kasus ketika orang yang fisiknya sehat bisa sakit karena tekanan dalam jiwanya.

Ah, dunia dan alam terlalu indah, hidup dan waktu terlalu singkat, sayang jika tidak kita nikmati. Saya yakin, perasaan bahagia akan membuat hidup menjadi lebih sehat.

*karena tulisan ini cuma bersifat ‘tiba-tiba terlintas di benak saya’ dengan kata lain ‘wangsit’ semata, jadi kamu boleh dipercaya, boleh tidak! huehehehe*

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

ketika aku mati

July 31st, 2009

Ceritanya aku baru pulang dari acara perpisahan teman kantor. Dua orang sekaligus. Sedih deh :(

Namun kali ini aku tidak akan berbicara banyak tentang acara perpisahan kedua temanku itu. Hanya saja, sepulang acara itu aku jadi berpikir mengenai saat ketika aku mati :)

Hihihi, aku tidak berencana menakut-nakuti kamu dengan berbicara mengenai kematian, yang banyak orang katakan tabu untuk menyebut-nyebutnya. Aku juga tidak bermaksud lancang melanggar papaku yang pernah menegurku ketika aku berbicara mengenai kematianku kelak, ketika aku mengatakan aku mau menyerahkan anggota-anggota tubuhku yang masih bisa berfungsi untuk orang-orang yang membutuhkan (ah, semoga saja masih banyak yang bisa berfungsi dengan baik, mengingat pola makan dan olah ragaku yang semrawut, hehehe). Waktu itu papa berkata, “Hush, kamu ini ngomong apa tho, de? Ga baik ngomong2in kematian diri sendiri! Ga bagus!” Tanpa mengurangi rasa hormatku pada papaku tercinta, bagiku, berbicara mengenai kematian adalah hal yang wajar, sama seperti kita berbicara mengenai kelahiran, pernikahan, atau hal-hal lain dalam hidup.

Iya, tadi pada inti acara itu – seperti halnya pada acara perpisahan2 lainnya – tersebutlah sesi menyampaikan ucapan perpisahan. Setiap orang bergiliran menyampaikan perasaan, pendapat & kenangan pada orang yang akan berpisah, dalam hal ini mereka meninggalkan kita dan pindah ke kantor yang baru. Biasanya yang disampaikan adalah hal-hal baik yang kita alami dan kenang dengan dan dari orang tersebut. Aku yakin kamu pernah juga mengalami momen-momen ini bukan? Entah kamu yang meninggalkan atau kamu yang ditinggalkan.

Pikiranku pun melayang, ke saat ketika aku mati, kelak. Itu juga menjadi sebuah ajang perpisahan. Setiap orang yang kukenal dalam hidupku, yang memiliki pengalaman denganku, baik pengalaman manis atau pahit, akan memiliki pendapat dan perasaan tersendiri terhadapku. Kamu misalnya. Cara kamu mengenangku, pasti akan berbeda dengan orang lain yang mengenalku: keluargaku,sahabat-sahabatku, teman-teman sekolah, teman-teman kantor, teman-teman sepermainan, bahkan dengan mereka yang hanya sekali dua atau mungkin kerap bersua denganku lewat sapa atau kata.

Ketika aku mati, saat itu adalah saat terbaik untuk kamu dan mereka jujur mengatakan – meskipun tanpa suara – tentang siapa aku sebenarnya; tentang bagaimana aku dikenang.

Bila saat itu datang, aku jadi bertanya-tanya sudahkah aku mencapai tujuan hidupku pada orang-orang yang kutemui dalam hidupku?

Sudahkah aku berhasil melukis senyum pada wajahmu dan wajah-wajah mereka yang pernah dan kerap bersua dan bersapa denganku?

Atau justru sebaliknya, sedih dan luka pernah kubuat sehingga meninggalkan gores pada hatimu, juga pada hati mereka?


(ah, mumpung saat itu belum tiba! aku harus lebih banyak bekerja keras untuk menjadi seorang pelukis senyum! belakangan ini lidahku sangat tajam, sangat mungkin banyak hati yang tersayat olehnya. juga raut wajahku yang kerap kulihat masam akibat berbagai tekanan yang harusnya tidak perlu aku lebih-lebihkan atau tunjukkan. bagaimana bisa aku menjadi pelukis senyum di wajah orang jika tidak bisa kuawali dengan melukisnya di wajahku terlebih dulu. dan ah benar, kedua telingaku, juga hatiku, sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan untuk menjadi pendengar yang baik. ayo virtri, bekerja keraslah untuk itu!)

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

ini gayaku, gayamu?

May 13th, 2009

Kaos putih dan celana jeans biru. Itu menu utamanya. Menu tambahannya adalah tas hitam kecil dan sandal jepit hitam legam.

Aku suka menggunakan kaos putih. Sebagai orang yang ingin sekali menggemukkan tubuhnya, warna putih yang dipercaya memiliki efek ‘menggemukkan’ sedikit banyak mempengaruhiku memilih warna ini sebagai warna favoritku. Namun, faktor utamanya lebih karena aku melihat tidak ada yang lebih keren dari paduan kaos putih dengan celana jeans!

Celana jeans biru dengan warna yang sedikit pudar. Meski aku hanya memiliki 2 buah (salah satunya sudah berumur 6 tahun! sahabatku selalu berkata aku harus segera mencari celana jeans baru! hehehe), aku menyukai kala aku menggunakannya.

Tas hitam kecil. Tempat menaruh telepon seluler, dompet, dan kunci mobil. Tas itu bisa kuselempangkan sehingga kedua tanganku bebas bergerak ke atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri. Bisa senam deh pokoknya! :p

Terakhir, sandal jepit hitam. Sandal yang bisa membuat kakiku bernapas lega menghirup segarnya udara dan tentu saja sangat menyehatkan karena tidak memiliki hak yang bisa membuatnya senut-senut  tak karuan.

Jika aku sedang berpergian jauh, ada satu tambahan menu: tas ransel yang berisi buku dan sejumlah kecil pakaian.

Ya, itu saja. Ini gayaku, gayamu?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

ada sebuah sedih di pagi hari

April 1st, 2009

biasanya.

biasanya aku mendapati senyum ketika membuka hari, ada simpul ceria dan semangat yang terlukis di ujungnya. kedua simpul itu biasanya kupegang erat-erat untuk menapaki perjalanan hari. iya, tidak selamanya hari mudah dijalani. kadang sangat berliku. tapi dengan berbekalkan kedua simpul itu, rasanya lebih ringan. senyum dengan kedua simpulnya biasanya menjadi sarapan wajib buatku.

tak biasa.

hari ini memang tak biasa. aku kehilangan senyum di pagi hari ini. dia hilang tanpa pamit padaku. tidak sopan memang! dan yang membuatku lebih kesal, dia juga membawa kedua simpul itu; ceria dan semangat. aku kepayahan mencarinya. aku mencoba mengingat-ingat, apa yang membuatnya pergi dariku; yang telah membuatnya gusar sehingga menjauh dariku.

malam sebelumnya.

pertengkaranku dengan senyum memang sudah dimulai dari malam kemarin, malam sebelumnya. aku sebenarnya sudah hampir kehilangannya di malam itu. tentu saja aku tidak mau kehilangannya. aku suka bersamanya. tapi apa daya, ketika pertengkaran mulai sengit, dia mulai menjauh. aku coba kalahkan egoku. kami rujuk kembali. dan ya, aku tidak jadi kehilangannya. untunglah.

pagi ini.

aku tidak bisa tidak melepaskan senyum. sudah terlalu berat mempertahankannya di kala hati tidak ingin dia bersamaku. maaf, ternyata tidak mudah bagiku mempertahankan senyum untuk selalu mengembang di pagi hari. ternyata sulit untuk selamanya membiarkan senyum berada di wajahku; pun dengan kedua simpul yang selalu dibawanya.

aku kehilangan senyum di pagi ini.

aku mendapati sedih sebagai gantinya.

(dan aku masih manusia, kata seorang temanku, bijak)

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

November 7th, 2008

“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)

Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku.  Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.

Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.

Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen – jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.

Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.

Sekolahnya akan berada di sebuah pendopo tak berdinding, di atas halaman depan rumahku yang dihiasi rumput hijau muda. Rumahku akan kecil saja; seperti paviliun, berdinding dan berlantaikan kayu. Di sebelah pendopo tersebut akan ada ruang kecil sebagai perpustakaan. Di sebelahnya lagi, ada taman kecil yang nyaman yang memiliki kolam yang juga kecil yang bersenandungkan suara gemericik air kecil-kecil.

Sekolah ini bukan sekolah formal. Ini hanya tempat belajar. Untuk anak-anak yang berada di lingkungan setempat. Pelajaran yang diberikan adalah tambahan dari apa yang mereka dapatkan di sekolah dengan gaya belajar yang berbeda tentunya. Atau tentang sesuatu yang tidak mereka dapatkan di sekolah, misalnya aplikasi seni atau mengenal alam dan budaya secara lebih riil (iya, bagiku secara umum kurikulum sekolah saat ini terlalu kaku). Mereka yang tidak bersekolah secara formal, juga boleh belajar di sini. Ini sekolah yang terbuka. Kamu juga boleh datang ke sini.

Kita akan selalu punya kelas “bercerita”, mengungkapkan pendapat tentang buku-buku yang kita baca, film yang kita tonton, keluarga dan orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi, atau hal-hal kecil yang kita rasakan. Kelas ini akan membiasakan budaya bertutur, belajar mengungkapkan pendapat.

Ah ya, tentu saja kita juga memiliki pelajaran bermain! Misalnya permainan-permainan tradisional berkelompok yang sudah lama ditinggalkan. Pelajaran tentang kerja sama, keberanian, strategi, sikap menghadapi kemenangan dan hati yang lapang menghadapi kekalahan. 

Dalam mewujudkan mimpi ini, setidaknya aku sudah punya 3 orang yang akan mendukungnya: seorang sahabat nyamanku yang bersamanya aku membangun mimpi ini sebentuk demi sebentuk sambil tidak melupakan mimpinya; seorang sahabatku yang luar biasa yang sudah menyatakan diri ingin bergabung dalam mengembangkan sekolah ini (ah, jika dia bergabung, aku tidak bisa membayangkan betapa menariknya sekolah ini kelak, betapa mereka yang belajar di sini akan tidak takut untuk bercita-cita); dan kakakku sayang yang aku yakin akan berkarya dengan hati untuk mereka yang belajar di sekolahku ini (kecintaannya pada anak dan dunia pembelajaran, tak perlu kuragukan lagi).

Aku juga sudah punya daftar sahabat dan kawan yang akan kutawari menjadi pengajar di sekolahku ini. Sebagai pengajar tetap atau tamu. Sahabat dan temanku saat ini terbilang lebih dari banyak yang hebat-hebat; termasuk kamu.

Dan, ketika saat itu tiba, dalam karyaku mengelola sekolah sederhana ini, aku juga memiliki profesi sampingan sebagai seorang penulis ternama (mimpi bangettt yaaa).

“Ah, rasanya mimpiku sulit untuk kuraih,” sempat kulontarkan hal itu pada sahabat nyamanku.

lalu katanya:

“Buatku, mimpi itu justru memang sesuatu yang tidak mungkin untuk saat ini; masih terlihat sulit untuk diraih.  Jika saat ini kita sudah menjalaninya, itu bukan mimpi lagi.”

 Yuk kita wujudkan mimpi kita!

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

dia

September 23rd, 2008

aku bertemu lagi dengannya tadi malam.

sebenarnya aku sudah lama mengenalnya. kamu yang mengenalkanku padanya. kamu sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenal aku.

aku pikir aku sudah cukup mengenalnya, hingga tadi malam datang. pengenalanku ternyata belum cukup dalam. banyak hal yang belum kumengerti tentangnya.

tadi malam kami bertengkar (meskipun aku tidak yakin jika itu didefinisikan dengan kata bertengkar). saat itu, dia mendengarkan semua keluhku, sebalku, marahku, sedihku, dan raguku; padanya. aku jadi sangat kekanak-kanakkan. aku pikir, harusnya itu menjadi saat yang tepat juga untuknya jika dia ingin mengungkapkan hal yang sama: berkeluh, sebal, ragu dan marah padaku. ah, akan menjadi pertengkaran yang seru pastinya!

tapi tidak. dia tidak terpancing dengan emosiku. dia hanya sempat nyatakan sedih; itu pun tak lama. dan yang dia lakukan kemudian adalah mendengar, mendengarkan dan mendengarkanku, lalu ketika aku sudah mulai tenang, dia mengambil suatu sikap, sikap yang benar-benar bijak; sangat dewasa.

aku heran di mana dia mendapatkan kebijaksanaan itu; kedewasaan itu. kamu tak pernah sekalipun menceritakan padaku dari mana hal yang dimiliki dia itu berasal.

bagiku dia sangat luas dan dalam.

dia : hatimu.

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags: