Kemarin sore, saya ke rumah sahabat saya. Sahabat saya memiliki taman belajar gratis di tiap sabtu sore bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Sekitar duapuluhan hingga tigapuluhan anak dengan semangat tinggi datang untuk belajar di sana.
Keluwesan sahabat saya dalam bertutur, semangatnya untuk berbagi ilmu, dan kecintaannya kepada anak-anak, telah berhasil menawan hati anak-anak yang berusia lima hingga tiga belas tahun itu. Inti pelajaran yang diberikan adalah bahasa inggris, namun kemasannya sangat beragam. Mulai dari tanya jawab, bertutur, bercakap, bercerita dongeng, bernyanyi, bermain, sampai dengan diskusi.
Read more »

Jakarta macet? Perjalanan ke kantor memakan 2 – 3 jam? Ah bukannya itu soal biasa, makanan sehari-hari warganya bukan?
Masalah kemacetan di ibukota ini sudah menjadi pekerjaan rumah bagi gubernur Jakarta dari waktu ke waktu. Masalah yang sulit sekali diselesaikan. Mobil, motor, bis, angkot, truk, dan kendaraan lainnya yang tumpah ruah di jalan tidak sepadan dengan kapasitas jalannya. Bayangkan saja, 8.5 juta penduduk ada di kota ini. Dan jumlah itu membengkak di siang hari akibat para penglaju yang datang bekerja dari daerah lingkar luar Jakarta.
Penyebab kemacetan itu banyak sekali. Arus padat di jam pergi dan pulang kerja, lampu lalu lintas yang tidak berfungsi, kecelakaan lalu lintas, pembenahan jalan (baik penyempitan atau pelebaran jalan, dua-duanya membuat jalanan bertambah macet), banjir, kampanye Pemilu dengan pengerahan massa besar-besaran, dan sederetan penyebab lainnya.
Namun, ada 2 penyebab yang saya unggulkan sebagai nominator penyebab kemacetan yang paling menyebalkan hati saya.
Read more »

Senang dipijat? Kalau begitu sama donnkk dengan saya!!
Saya yakin, banyak dari kita yang senang dipijat. Kalau tidak, tak mungkin ada panti pijat, tukang pijat keliling, dukun pijat bayi, juga salon & spa yang menyediakan fasilitas pijat yang kini kian menjamur (orang lebih senang menyebutnya ‘massage’, katanya lebih keren?!). Pijat itu sendiri diminati karena punya banyak fungsi. Utamanya adalah untuk kesehatan, yakni melancarkan peredaran darah, mengendurkan otot yang kaku, dst.
Setelah pulang dari Jogja kemarin, saya letih sekali. Pegal-pegal seluruh badan ini. Pasalnya, saya & beberapa kawan pergi ke Puncak Suroloyo, Kulonprogo. Untuk mendapatkan keindahan kota magelang dari atas (Candi Borobudur juga kelihatan loh dari sana), ratusan anak tangga harus didaki. Oleh karena tubuh ini jarang dilatih dengan olahraga, perjalanan menanjak rasanya begitu menyiksa betis dan paha. Nafas pun  tersenggal-senggal tak karuan. Keesokannya, sesampainya di Jakarta, saya sudah harus bekerja dari pagi sampai malam di kantor. Kaki rasanya sudah mau copot di hari itu.
Pijat menjadi pilihan saya dalam mengatasi kondisi itu. Saya langsung terbayang-bayang “Kaki Plus” di Jogja, tempat pijat paling cihuy buat saya, harganya murah & rasanya manttaaabbb. Nah di Jakarta? Pengetahuan saya terbatas akan pijat enak di sini. Yang saya tau di Pluit, tapi jauh banget dari tempat saya berada. Akhirnya saya memilih untuk menelepon salah satu Pijat Kesehatan Keluarga “XX” – Layanan 24 jam, yang selebarannya sering dibagi-bagi di kost saya. Lumayan, pikir saya. Tanpa perlu pergi ke luar dan bermacet-macet ria, saya bisa mendapatkan yang saya butuhkan. Harganya pun termasuk murah dibanding pijat yang di salon & spa.
Read more »

Saya baru saja mendarat dalam perjalanan Jakarta – Jogja. Naik salah satu maskapai penerbangan negeri ini yang terkenal dengan harga murahnya. Awalnya saya sempat khawatir, mengingat maraknya kecelakaan di udara belakangan ini. Namun apa daya, dompet saya mengarahkan saya naik pesawat ini!
Dalam perjalanan tadi, tiba-tiba terlintas di benak saya: hidup di suatu negara itu tak ubahnya seperti naik pesawat, tentu saja dengan kompleksitas yang berbeda.
Kita namakan saja negara yang saya diami ini bernama Pesawat Indonesia. Kapten penerbangan, yakni si pilot adalah presidennya. Di sampingnya duduk co-pilot, yaitu wakil presiden. Awak kabin adalah mereka yang duduk di pemerintahan lainnya (misalkan para menteri, anggota DPR, dsb) yang bertugas melayani (catat: melayani!) kita para penumpangnya, yang saya analogikan sebagai penduduk bangsa, yang sudah membayar tiket untuk naik pesawat tersebut. Anggap saja tiket adalah pajak yang kita bayarkan untuk memberikan gaji pada mereka.
Pesawat Indonesia ini sedang terbang menuju suatu tempat, yakni kehidupan bangsa yang lebih baik.
Read more »
Saya alumnus mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Jogja. Awal dulu saya masuk kuliah, terus terang saya bingung. Mengapa jurusan ini berada di Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik (Fisipol) dan bukan mendirikan fakultas sendiri, seperti halnya di Bandung. Di Jakarta juga demikian, ilmu komunikasi masuk dalam jajaran ilmu-ilmu di Fisip (saat ini saya juga belum tahu kenapa kalau di Jogja disingkat Fisipol, sedangkan di Jakarta disingkat Fisip)
Dalam bayangan saya dulu, dengan kuliah di jurusan Komunikasi, saya akan banyak belajar teori-teori mengenai Kepenyiaran, Jurnalistik, Periklanan, atau Hubungan Masyarakat (konon bagi bangsa yang suka kebarat-baratan ini, nama kerennya Hubungan Masyarakat adalah Public Relation atau Corporate Relation dan nama ga kerennya: Jubir! Ups! ). Atau setidaknya, di jurusan ini saya bisa belajar bagaimana berbicara depan publik dengan lebih baik. Sehingga ketika nanti saya diminta berpidato di acara ulang tahun saya sendiri, saya tidak menjadi gugup.
Saya kemudian beranggapan, mungkin saja karena universitas saya ini tidak punya cukup banyak uang (dulu loh ya!) untuk mendirikan satu fakultas lagi, yakni untuk satu jurusan: Ilmu Komunikasi. Kalau ini masalahnya, saya punya sebuah pendapat, mengapa tidak dimasukkan saja ke dalam Fakultas Psikologi. Toh komunikasi terkait erat dengan ilmu tentang diri. Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, manusia harus mengerti tentang dirinya sendiri dulu kan, bagaimana kepribadiannya, dan seterusnya. Memang, hal ini juga menjadi ambigu ketika pusat kajian hanya diri. Bagaimana jika kelak ilmu komunikasi menjadi salah arah dan malah membuat orang suka berbicara sendiri (dan senyum-senyum sendiri).
Read more »