Archive

Archive for the ‘ngerumpi’ Category

ketika aku menyeruput kopi, tadi

February 27th, 2010

Srupuuttt..

Ah, sedapnya kopi hitam ini! Menyeruputnya sambil menghirup wangi aromanya adalah cara terbaik menikmatinya. Sudah cangkir kedua. Mataku agak lelah rupanya. Tiga jam terus menerus memandang layar laptop memang tidak baik. Aku melihat pemandangan dari balik jendela di belakangku. Aku duduk di pojok ruangan di sebuah kedai kopi, dekat dengan pintu masuk dan jendela. Tapi karena kedai kopi itu terbilang sepi, dekat dengan pintu masukpun tidak mengapa, tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja.

Srupuuttt..

Kali ini aku memandang ke sekelilingku, ke dalam ruangan di kedai kopi itu. Aku baru sadar, ruangan ini memiliki interior menarik rupanya. Warna coklat mendominasi ruangan ini. Dekorasinya sederhana, tapi cita rasanya pas. Gulungan kuno yang berisi perjalanan kopi di Indonesia misalnya. Kemudian ada juga lukisan budaya tradisional yang dibingkai pigura bambu, dan oh… mataku menangkap bayangan sosok seorang laki-laki! Dia sedang duduk di meja seberang sana. Aiihh, dia cukup tampan!!!

Srupuuttt..

Ketertarikanku jelas berganti! Interior ruangan ini tentu saja kalah menarik dibandingkan dengan sosok laki-laki yang kulihat saat ini. Sorot kedua matanya sangat sesuai dengan bingkai coklat kacamata yang ia kenakan. Hidungnya yang cukup besar memang agak kurang proporsional dengan wajahnya, tapi itu menjadi keunikan tersendiri buatku. Kemudian potongan rambutnya, rahangnya, dagunya, dan bekas luka yang tergores di alisnya. Ohh…. Tuhan pasti sedang memiliki mood yang sangat baik sewaktu menciptakan dirinya.

Srupuuttt..

Ia sedang membaca buku. Samar-samar aku membaca judul buku yang ia baca, “Arok Dedes”. Ah, ia juga suka Pramoedya! Klop kita. Aduh, ia memandangku! Ia kemudian tersenyum, aku tersenyum balik, sambil kikuk. Lalu aku segera saja pura-pura memandang layar laptopku. Fiuhh.. apakah ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya ya? Semoga saja tidak!

Srupuuttt..

Kembali aku melirik ke arahnya, ingin mencuri pandang ke wajah tampan itu lagi. Tiba-tiba aku teringat akan seorang laki-laki, seorang teman dari masa lalu. Iya, wajah tampan itu meningatkanku akan temanku di waktu SMP. Mirip sekali. Tentu saja dahulu temanku itu tidak setampan ini. Tapi manusia kan berubah. Dulu dia manis, sekarang dia tampan! Ketampanannya pasti berkembang seiring dengan usia. Dan goresan luka itu.. iya, itu pasti dia! Temanku itu juga memiliki goresan luka di alisnya dari sejak pertama kali kukenal dia. Namanya…. Pan..Pan… Panji atau Pandu ya? Aku lupa! Aku hanya ingat aku dan teman-teman memanggilnya hanya dengan sebutan “Pan!”. Si juara kelas dari kelas sebelah yang juga pandai bermain basket.

Srupuuttt..

Kyaaaaa… aku tertangkap lagi olehnya jika aku sedang memperhatikannya. Aku malu! Kurasakan pipiku bersemu merah. Eh, tapi mengapa aku harus malu? Jangan-jangan dia benar teman SMPku, dan dia juga sedang mengingat-ingat siapa diriku. Bukankah jika itu benar, itu menjadi alasan yang tepat untuk kita bercengkrama. Benar. Mengapa aku tidak mendatanginya saja dan menanyakan kabarnya. Kemudian kita bisa bercakap-cakap dan mengenang masa-masa SMP, sekedar reuni dan menanyakan kabar teman-teman lainnya. Lalu pembicaraan bisa beralih ke buku yang ia baca, kemudian kita bisa membahas buku-buku Pram lainnya. Dan oh, siapa tahu ia juga masih single, belum menikah, masih pintar dan baik seperti sedia kala. Jadi kan kita….. Eh, bicara apa sih aku! Jadi ngelantur. Itu sih urusan lain, bonus namanya, hihihi.

Srupuuttt..

Namun jika dia bukan teman SMPku bagaimana? Bukan si Panji atau Pandu yang itu? Ah, tak mengapa, yang penting aku sudah menghampirinya dan kita bisa mulai bercengkrama. Tapi mengapa harus aku yang memulai? Harusnya dia yang mendatangiku terlebih dulu, dia kan laki-laki. Hmmmmh… kenapa aku jadi berpikir demikian ya. Aku toh tidak bermaksud menyatakan cinta, meski di jaman sekarang, mau perempuan atau laki-laki yang menyatakan cinta pun sudah bukan soal. Saat ini, aku kan hanya ingin bertanya, apakah dia temanku atau bukan, itu saja. Lalu bercakap-cakap, lalu bersenda gurau, selesai. Kesempatan seperti ini tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Srupuutt..

Aku menghela nafas cukup panjang, bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. Jantungku sedikit berdegup ketika aku berdiri. Semakin aku mendekatinya, irama degup jantung ini semakin keras dan tak menentu. Aku sudah berada sekitar dua langkah di hadapannya dan mulutku siap membuka. Ketika baru empat kata aku lontarkan “Hai, mau tanya nih….”, tiba-tiba kalimatku terputus dengan suara anak perempuan kecil berusia sekitar 2 tahun, yang lari dari arah belakangku dan berteriak lantang, “Papaaaaaa…. aku dibeyiin boneca cama mama, cantiiiikk deehh”. Tepat di belakangnya, tersebutlah sosok perempuan anggun yang berwajah mirip dengan si anak perempuan itu.

Glek!

Aku salah tingkah. Mereka memandangku. Dan aku terpaksa melanjutkan kalimatku yang terputus,

“Hai, mau tanya nih… kamar mandi di kedai kopi ini di sebelah mana ya?”

-hasil sebuah lamunan; di kedai kopi; sore tadi-

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

pilih nyaman atau tampil cantik?

February 21st, 2010

Kemarin waktu saya ulang tahun, ketika teman-teman di kantor saya menyalami saya, ada salah seorang teman yang ketika menyalami dan mengecup kedua pipi saya berkata demikian, “Selamat ulang tahun yaaa….” kemudian ucapannya terputus sejenak. Dia mundur satu langkah, memandang saya dari atas kepala sampai ke bawah, dari rambut pendek saya yang tergerai bebas, wajah saya yang polos tanpa polesan make-up, kemeja cantik (menurut saya sih cantik), celana panjang saya, hingga ke sepatu teplek yang saya kenakan. Lalu dia meneruskan ucapannya, “…sepertinya kita harus membuat Program Putri untukmu!”

*gubrak!*

Dan seorang teman yang lain menyahut, “Coba aja kalo bisa!”

*glek!*

Di hari yang lain, pernah saya memuji (dengan tulus) penampilan seorang teman kantor saya yang lain lagi. Menurut saya cara berpakaiannya menarik. Baju-baju yang ia gunakan sampai dengan aksesoris yang melekat sungguh enak untuk dilihat. Secara spontan saya mengatakan padanya “Ah, kamu modis sekali! Kamu cocok sekali dengan pakaian-pakaian yang tiap hari kamu kenakan!”. Saya tidak sadar pada saat itu suasana kantor sedang hening, sehingga suara saya cukup terdengar ke berbagai sudut. Setelah saya menyelesaikan kalimat saya, tersebutlah suara teman saya yang lain, kali ini seorang laki-laki, “Pakaian dia sih biasa aja! Loe itu loh yang ancur!”

*ketimpa tangga!*

Baiklah..baiklah..harus saya akui, saya memang tidak oke dalam urusan merias diri, baik itu merias wajah ataupun merias diri. Saya bukan seorangyang tomboy, saya bahagia mengetahui saya seorang perempuan. Hanya, saya perempuan yang sederhana dalam urusan rias-merias. Terlalu simpel, demikian ujar teman-teman saya.

Saya sebenarnya tahu bagaimana cara menggunakan make-up. Meski terbatas pada yang dasar-dasar saja: (1) membersihkan wajah, (2) memberikan pelembab wajah, (3) memberi bedak, (4) memfokuskan diri merias mata dengan segala warna yang diinginkan, (5) memberikan pewarna pipi, dan terakhir (6) mengoleskan bibir dengan pelembab, pewarna, dan pengkilat. Benar kan langkah-langkah saya? Saya diajari hal ini sekitar 11-12 tahun lalu oleh sahabat-sahabat saya di waktu SMU *bangga mode on karena masi ingat, yay!* Tapi saya tidak pernah mempraktekkannya. Alasannya satu: ribet! Saya tidak suka yang ribet-ribet.

Bukan berarti wajah saya benar-benar polos. Sehabis mandi, saya menggunakan pelembab wajah yang mengandung perlindungan terhadap sinar matahari untuk kesehatan kulit wajah saya dan menggunakan bedak (bayi) untuk membuatnya segar. Sudah, itu saja. Lumayan kan? :)

Mengenai merias diri dengan pakaian, saya mencoba sebisa mungkin agar orang lain tidak sakit mata jika melihat saya. Maksudnya, saya tidak mengenakan warna-warna yang terlalu menyolok mata atau berkilau gemerlap di matahari siang hari, atau menabrakkan pola kotak-kotak dengan bunga-bunga di tubuh saya. Untuk menggunakan rok, saya beberapa kali mencobanya kok. Setidaknya saya punya 2 potong rok di lemari saya. Jika saya tidak sangat jarang sekali mengenakannya, itu karena saya tidak nyaman. Saya tidak bisa bergerak bebas. Pernah ketika saya menggunakan rok dan saya sedang duduk, seorang teman saya dari kejauhan memberikan tanda-tanda dengan tangannya. Ternyata dia memberikan saya tanda untuk mendekatkan kedua kaki saya satu dengan lainnya supaya tidak ada jarak diantaranya. Ahh, repot sekali menggunakan rok.

Menggunakan sepatu berhak tinggi? Itu sama saja dengan menyiksa saya. Saya salut dengan mereka yang mampu menggunakannya. 3cm, 5cm, 7cm, bahkan 12cm! Ckckckck… Saya punya dua pasang sepatu dengan hak 1cm untuk saya gunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman-teman saya. Saya mampu bertahan sampai dengan 2jam. Tapi jika lebih dari itu? Keram kaki sudah menanti saya dan saya kapok dengannya.

Menjadi seorang saya artinya harus berani tampil berbeda dengan perempuan-perempuan di sekeliling saya, terutama teman-teman kantor saya. Tapi saya tidak masalah. Meski saya tidak tampil dengan riasan di wajah dan pakaian oke, saya rasa saya cukup rapi dan tidak bau, sehingga saya tidak akan mengganggu mata dan hidung orang-orang di sekeliling saya :)

Kenyamanan saya dan orang lain harus ditempatkan di atas kecantikan dan estetika, bukan?

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Hidup Suster!

January 6th, 2010

nurse

Setelah Suster Ngesot di tahun 2007, sekarang lagi diputar Suster Keramas di bioskop-bioskop Indonesia. Yang pertama masuk kategori film horor murni, yang kedua masuk kategori film horor plus (horor plus bokep! whew!).

Saya belum (dan tidak tertarik) menonton kedua film tersebut, namun saya sudah melihat trailer-nya dan juga membaca beberapa ulasan tentangnya. Tidak, saya tidak ingin mereview lagi tentang kedua film ini. Hanya saja, saya gatal dengan digunakannya profesi ini dalam kedua kategori film tersebut. Saya bukan suster, namun saya pembela profesi ini!

Setidaknya ada 3 profesi suster yang saya kenal: (1) suster yang bekerja di rumah sakit, (2) suster yang bekerja di rumah, baik itu membantu mengasuh adik bayi/batita, maupun mengasuh kakek/nenek yang sudah tua atau sakit-sakitan, dan (3) suster yang mengabdikan dirinya untuk melayani Tuhan di biara atau di masyarakat, nama lainnya adalah biarawati.

Suster di rumah sakit

Profesi dokter memang bagus, mereka bertugas mengobati orang-orang sakit. Namun buat saya, profesi yang mulia adalah sang suster. Merekalah yang dengan sabarnya merawat pasien. Tidak hanya sekedar mengecek suhu tubuh atau memberikan makanan dan obat, mereka jugalah yang memandikan sang pasien, menggantikan pakaian, membersihkan tubuh dari luka, muntah atau darah, bahkan ketika anggota keluarganya tidak bisa melakukannya. Saya teringat akan wajah-wajah tulus suster-suster yang membantu ibu, kakek, atau keluarga saya lainnya ketika mereka berada di rumah sakit.

Suster di rumah

Kedua orang tua saya bekerja ketika saya masih kecil. Oleh karenanya, mereka mengambil seorang suster untuk mengasuh saya di kala mereka bekerja. Saya sayang sekali dengan suster saya, demikian juga dengannya. Tak heran jika kala itu saya memanggilnya “mama-ute” (baca:  “mama-suster”). Ketika saya berusia 4 tahun, orang tua saya merasa saya sudah cukup usia untuk tidak diasuh oleh suster lagi (atau mungkin juga karena faktor biaya kali yaa.. ;) ). Namun karena keterikatan yang cukup tinggi, baik saya maupun sang suster menangis tidak rela ketika hendak dipisahkan. Tidak berhenti sampai di situ. Saya pun sakit selama seminggu akibat kepergian suster saya.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, datang lagi beberapa suster yang dipanggil ke rumah untuk mengasuh kakek saya (almarhum) yang dulu sakit-sakitan. Beberapa suster yang saya maksud di sini bukan langsung beberapa orang untuk mengurus dalam satu waktu, tapi bergantian satu demi satu karena tidak tahan dengan perlakuan kakek saya. Kakek saya waktu itu sakit stroke. Stroke tersebut menyerang saraf bicaranya, sehingga susah dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk para suster. Ketika tidak dimengerti apa keinginannya, kakek saya menjadi keras sehingga wajar jika para suster itu kewalahan. Tapi usaha mereka untuk memahami kakek saya dan juga kasih sayang mereka ke kakek saya dapat kami rasakan. Mereka pernah menjadi bagian dari keluarga kami.

Suster yang mengabdi pada Tuhan dan sesama

Saya tidak akan bercerita banyak tentang hal ini. Saya memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan profesi ini. Tapi ada sosok yang saya sangat kagumi: Suster Teresa. Kamu pasti tahu betapa mulianya beliau dalam aksi kemanusiaan, bukan? :)

Tidakkah ketiga profesi tersebut sungguh sangat mulia? Saya tidak rela dan tidak habis pikir kenapa ada yang menggunakan profesi ini untuk film-film tersebut sehingga berdampak akan muncul label yang tidak baik bagi profesi tersebut. Yuk, lebih kreatif dalam membuat karya kreatif! Sound of Music atau Sister Act misalnya. Jelas mutunya, kan?

Stop penggunaan suster dalam film horor (apalagi film bokep)!!

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Body, Mind, Heart

October 18th, 2009

mind heart body

 

 

Belakangan ini saya lagi dihinggapi rasa takut kehilangan. Bukan, bukan takut kehilangan dompet atau telepon seluler, karena dua benda ini termasuk hal yang biasa hilang bagi saya. Alasannya bukan karena saya kaya, tapi karena saya super teledor! Duh! :(

Bukan juga takut kehilangan pacar, karena kalau pacar sampai hilang, ya di telepon saja, pasti ketemu! Kan kita sama-sama punya telepon seluler. Eh,tapi kalau telepon seluler saya lagi hilang? (Yaaa, mari kita gunakan peluang ini untuk cari pacar baru! hihihi)

Saya kemudian mencoba membuat daftar tentang hal apa saja dalam diri saya yang akan membuat saya takut jika harus kehilangan. Bagi saya setiap manusia terbangun dari susunan fisik, pikiran dan hati. Bahasa ngetopnya Body, Mind and Heart.

Body

 Saya sempat berpikir, apakah yang akan terjadi jika saya kehilangan anggota tubuh saya?

Misalnya kedua mata saya, hingga saya tidak bisa melihat indahnya alam dan indahnya senyum yang terlukis di wajah manusia-manusia di sekitar saya.

Atau telinga saya, sehingga saya tidak bisa mendengar alunan musik jazz yang biasanya saya nikmati di kala saya bekerja, atau deru suara ombak yang membuat hati tergetar ketika saya menikmatinya di pinggir pantai, atau juga suara merdumu, gelak tawa canda, dan senggukan tangis kita.

Atau lidah saya, sehingga saya tidak bisa lagi mengecap nikmatnya nasi putih yang masih mengepulkan panas dengan kombinasi tempe goreng, pete bakar,  terong rebus dan sambel  terasi pedas (slurp, saya jadi meneteskan air liur ini, hehehe), juga aneka makanan minuman lain yang luar biasa sedap itu.

Atau tangan dan kaki saya, sehingga saya tidak lagi dapat beraktivitas dengan wajar, saya tidak lagi dengan mudahnya berpetualangan menjelajahi pelosok nusantara dan meraih mimpi saya mengarungi dunia.

Ah, tentunya sangat tidak mudah jika saya kehilangan satu atau beberapa bagian anggota tubuh saya. Namun, saya teringat akan orang-orang hebat yang tetap bisa menjalani hidup mereka dengan segala kekurangannya dan hidup mereka begitu luar biasa, begitu bermakna, lebih dari mereka yang sempurna secara fisik.

Dan saya berpikir, saya pasti akan sedih tak terhingga jika harus kehilangan anggota tubuh saya, tapi saya pikir, saya akan bisa menjalaninya jika hal tersebut terjadi pada saya (meski saya tidak mengharapkannya).

 

Mind

Sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri berlebih, saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa saya merasa diri saya cukup cerdas (*gubrak! narsis to the max mode on, hehehe*). Cerdas yang dimaksud di sini adalah kemampuan berpikir dan menalar (jadi, banyak toh yang termasuk orang cerdas, termasuk kamu juga :) ).

Saya tidak pernah terganggu dengan penampilan fisik saya, saya tidak pernah ambil pusing dengan standar kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. Saya tidak pernah iri dengan mereka yang dikatakan cantik dan seksi. Saat ini kulit saya sawo gosong, rambut saya pendek, wajah saya kusam berjerawat, badan saya kurus tidak berbentuk, tapi saya tetap merasa saya cantik. Saya jarang sekali terganggu dengan apa kata orang jika terkait dengan masalah fisik.

Namun jika terkait dengan masalah kecerdasan, jika saya dikatakan bodoh, lambat, kurang berpengetahuan, seringkali saya terusik, tidak gampang terima. Ketika melihat orang-orang di sekitar saya yang cerdas dan tokoh-tokoh  yang pandai, saya kagum dan iri, ingin seperti mereka dan kamu. Iya, kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Meski tidak secerdas mereka dan kamu, saya pikir saya masih masuk dalam kategori cukup cerdas. Saya termasuk pembelajar yang cepat. Saya juga cukup mampu mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di sekitar saya dan memiliki pendapat jika ditanya. Selain itu, saya juga cukup punya sedikit keahlian saya untuk menalar hal-hal yang cukup rumit, memahami hal kompleks dan menganalisanya (kok jadi mengiklankan diri begini, maaph:p)

Akhir-akhir ini, karena tekanan pekerjaan yang sedang tinggi, saya merasa otak saya melemah, tidak bekerja semaksimal biasanya. Dan saya mulai merasa kecerdasan saya menurun :( Saat-saat kecerdasan menurun seperti ini membuat saya sebal. Lalu saya berpikir bagaimana jika saya benar-benar kehilangan kemampuan berpikir saya, kecerdasan saya seutuh-utuhnya? Saya kehilangan kemampuan untuk mencerna buku yang saya baca, saya tidak bisa menuliskan apa yang ada di pikiran saya, saya tidak bisa memberikan opini tentang suatu hal.

Fiuh, ketika saya kehilangan kecerdasan, hal itu pasti akan membuat saya frustasi, rasa percaya diri saya akan hilang terbang seketika. Tapi setelah saya resapi dalam-dalam, mungkin saya akan tetap baik-baik saja juga. Kepercayaan diri saya luntur, namun saya masih akan ada. Keluarga dan sahabat-sahabat saya pasti akan selalu setia hadir bagi saya dan mencintai saya dengan apa adanya saya.

(Duh, saya kok tiba-tiba jadi merasa bersalah jika selama ini saya kerap bercanda, mengganggu teman-teman saya yang ‘tidak cepat’ bereaksi jika diajak bicara, tidak sabaran dengan mereka yang tidak bisa mengeluarkan pendapatnya, dan kadang menganggap rendah orang-orang yang yang selama ini dikatakan memiliki tingkat intelejensi rendah menurut standar IQ masyarakat kita. Ah, maafkan saya yaa..)

Heart

Jika kehilangan anggota tubuh dan kecersasan membuat saya sedih tapi saya yakin masih bisa mengatasinya, ada hal penting yang saya rasa saya tidak sanggup jika harus kehilangannya: hati.

Iya, bagi saya, inilah inti dari hidup manusia. Hatilah yang membuat saya amat sangat takut jika kehilangannya.

Kehilangan hati berarti kehilangan iman. Saya akan kehilangan kepercayaan saya kepada Tuhan. Hatilah yang selama ini membuat saya percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, yang tidak kasat mata. Hati memampukan saya merasakan keberadaan kasih Tuhan dalam dunia.  Hati membuat saya berharap akan kehidupan setelah dunia ini tidak ada. Jika hati hilang, yang tersisa adalah kekosongan jiwa dan matinya pengharapan.

Kehilangan hati berarti kehilangan seluruh perasaan dalam diri. Saya tidak bisa membayangkan jika saya kehilangan hati. Saya tidak lagi bisa merasa bahagia, sedih, bangga, cemas, kagum, khawatir, senang, semangat, puas, kecewa, iba, bersyukur dan seluruh warna perasaan yang ada di dalamnya. Hampa.

Kehilangan hati berarti kehilangan welas asih terhadap sesama; hidup yang menjadi tidak bermakna, ketidak pekaan terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, ketidakpedulian terhadap keluarga, sahabat, teman, orang lain, dunia, dan alam.

Kehilangan hati berarti kehilangan cinta.

Kehilangan hati berarti kehilangan hidup.

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Kamu Layak Bahagia

September 26th, 2009

Kedai kopi, Februari

Kamu datang sambil berlari-lari kecil. Perasaan senang jelas terlukis di wajahmu.

“Aku jadiaaannnnnn!!!!”, teriakmu sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekeliling kita menoleh dan tersenyum.

“Oh ya?? Selamaatt yaa!! Dengan dia yang kamu ceritakan padaku itu?” sambutku dengan peluk hangat.

“Iyaaaaaa.. Ah, aku seneng banggeettt. Akhirnya kami kopi darat hari minggu lalu, terus ketemu lagi hari selasa dan jalan lagi kemarin malam. Nah, kemaren itu dia nembak, dan aku terimaaa donk!”

“Wahh.. selamat ya, sayang! Aku turut senang untukmu. Facebook emang hebat deh! Mak comblang elektronik yang jitu!”

“Tulll.. Aku cinta facebook! Aku cinta dia! Kamu tau ga? Dia itu baik banget loh… Dia itu orangnya… Dia itu yaa…. dan kami… terus….”

Kita tersenyum-senyum sepanjang sore itu. Kamu berperan sebagai pencerita dan aku berperan sebagai pendengar; pendengar cerita orang yang dilanda jatuh cinta.

Restoran Padang, April

“Hai! Maaf ya aku datang sedikit terlambat”, katamu sambil menarik kursi

“Gapapa, aku juga baru nyampe kok.”

Krriiiinnnngggg….

Baru saja kamu duduk, ponselmu berbunyi.

“Bunyi hp-mu jadul amat”

“Hehe, iya. Bentar yaa…

Halo sayang… Iya, aku baru mau makan siang….. Sama sahabatku…… Ya perempuanlah, dia belum ganti jenis kelamin kok! Hehehe….. Di food court tempat kita biasa makan itu loh… Kenapa?… Engga, cuma sama dia doang, kita berdua aja kok….. Ok… I love you too, honey. Bye”

“Cieee… mesra amaatt!”, godaku.

“Iya donk.. Dia sayang banget sama aku. Aku selalu di telepon, dibangunin pagi-pagi, terus ditanyain udah sarapan, makan siang, makan malem, sampai dengan udah bobo atau belum..”

“Wah, reminder gratis tuh!”

“Hihihi, iya. Terus dia juga jaga aku banget loh. Dia mau aku aman dan baik-baik saja. Dia selalu tanya aku dimana dan dengan siapa saja.”

“Hmm, kok jadi kayak polisi. Terus kayak yang di iklan ga? Selalu tanya “Di mana? Sama Siapa? Ngapain?” Hehehe.. Ati-ati cowok posesif loh!”

“Engga lah.. Beda tau antara cowok posesif dengan cowok yang sayang banget!”

Lagi-lagi, siang itu kamu banyak bercerita tentang dia. Bagaimana dia sayang denganmu, perhatian, berusaha keras menjemput dan mengantarmu dari kost ke tempat kerja dan sebaliknya; hampir setiap hari.

Iya, semenjak kamu jadian dengannya, memang aku jadi kesulitan mengajakmu jalan-jalan seperti biasanya. Sebagian besar waktu luangmu, kamu habiskan dengannya.

Namun, aku pikir itu wajar, toh kalian memang butuh banyak waktu untuk mengenal satu dengan yang lain.

Kostmu, Agustus

Kamu yang dulu seorang yang ceria kini menjadi pendiam.

“Aku bingung! Apa aku berhenti kerja aja ya? Aku lelah dicemburui…” sembari mengatakannya, matamu sembab.

“Ngawur! Kamu kan udah mati-matian dapetin pekerjaan ini! Ini pekerjaan yang kamu impikan sejak SMA kan! Masa hanya karena dia ga suka dengan teman-teman kerjamu, kemudian kamu harus behenti kerja!”

“Yaa.. aku cari kerja lainnya aja. Yang ga banyak berhubungan dengan teman-teman kerja, dengan orang-orang lain, terutama kaum laki-laki..…”

“Fiuuuhhhh……” aku menarik napas panjang

Sekarang, kamu memang benar-benar berubah. Kadang aku tidak mengenalmu. Kamu mulai menarik diri dari Cihui Club – kumpulan 5 orang yang maniak dengan kopi & buku yang sejak di bangku kuliah sudah berteman akrab. Kamu juga tidak datang di acara reuni SMA kita di bulan Juni lalu, padahal dulu kamu ketua OSIS angkatan kita. Alasannya sederhana, karena kamu menghindar bertemu dengan mantan pacarmu dulu. Kemudian kamu meng-non-aktifkan account-mu di Facebook & Friendster, dengan alasan kamu ingin fokus kerja dan sibuk. Belakangan aku tau hal itu karena dia melarangmu menjalin relasi yang akrab dengan teman-temanmu. Huh, aku memang merasa dia sangat pencemburu. Posesif kronis lebih tepatnya. Jika saja dia tidak sedang keluar kota minggu ini, bisa jadi tidak diperbolehkannya aku main ke kostmu saat ini.

“Sepertinya dia sangat posesif terhadapmu. Kamu seperti tidak diperbolehkan bertemu dengan orang-orang lain.”

“Bukan begitu. Dia hanya sayang sama aku. Cemburu kan berarti sayang. Dia bersikap begini karena mantan pacarnya dahulu berhianat dan meninggalkan dia karena laki-laki lain. Aku harus membuktikan aku beda dengan mantannya”

“Helloooowww.. Cemburu = Sayang? Sayang caranya begini? Membuatmu tertekan? Sampai mau berhenti kerja segala?”

“Iya. Pada dasarnya dia itu baik, aku seperti menemukan sosok ayahku dalam dirinya, dia sangat perhatian dan melindungi aku. Dia juga romantis, begitu memujaku. Dia hanya keras jika ada teman laki-lakiku mendekatiku. Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan kepercayaannya kepada perempuan. Dia janji dia akan berubah suatu hari untuk tidak sekeras saat ini dalam hal itu.”

Kostku, Desember

Hari sudah larut malam dan layar ponselku menyala, ada sms masuk darimu:

“Kami baru saja bertengkar hebat. Aku di UGD sekarang, bibirku harus dijahit. Dia menamparku keras tadi. Aku sangat takut.”

Aku segera meneleponmu, namun kamu tidak jua mengangkatnya. Segera aku bergegas ke rumah sakit. Ini sudah keterlaluan!

Rumah sakit

Aku mendekati ruang UGD dan aku berhenti di samping tirai yang memisahkan aku dengan tempat tidurmu. Terdengar jelas suaranya, dengan sesenggukan dia memohon-mohon maaf padamu, dengan menangis dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

Ah, aku muak mendengarnya, kamu layak bahagia, sahabat..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

Dicari: Gadis/Jejaka

August 31st, 2009

jodoh

Gadis Jawa, 27, 165/50, S1, karyawati, sawo matang, manis, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, tidak materialistis, apa adanya, sehat jasmani-rohani, senang menjahit dan memasak, serius, siap nikah.

Mendambakan jejaka, 30-40 tahun,  min.165cm, Diploma/S1/S2, kerja tetap/PNS/BUMN/swasta, menarik, baik, sabar, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, pengertian, terbuka, sehat jasmani –rohani, tidak materialistis, tidak merokok/judi/miras/narkoba, menerima apa adanya, serius, siap nikah.

Jangan tertipu! Deskripsi di atas bukan tentang saya, karena deskripsi perempuan di atas terlalu bagus untuk saya. Ini hanya petikan dari salah satu rubrik tetap di sebuah surat kabar. Iya, biasanya di surat kabar atau di majalah terdapat rubrik yang menyediakan jasa perjodohan seperti di atas. Buat saya, hal ini menarik. Tujuan dari rubrik ini mulia adanya, sarana untuk membantu mempertemukan mereka yang menantikan pasangan hidupnya, jodohnya, atau tulang rusuknya yang hilang yang sekian lama dicari tak kunjung ditemukan. Sarana-sarana lain yang bertujuan mulia juga misalnya ajang pertemanan maya seperti Friendster & Facebook (hmm, setidaknya 3 orang teman dekat saya menikah berkat dunia maya ini, senangnya!). Atau, yang bisa kita saksikan di televisi, yang ratingnya lagi top-topnya adalah acara Take Him Out atau Take Me Out (saya sendiri belum pernah nonton acara ini secara tuntas sih, hehehe)

Kembali ke rubrik jasa perjodohan di surat kabar/majalah, pada dasarnya saya mendukung rubrik seperti ini.  Hanya saja, semakin saya perhatikan isi rubrik ini, isinya kok semakin monoton ya. Maksud saya monoton ya itu..ya  seperti contoh di awal tulisan ini. Semua laki-laki/perempuan/gadis/jejaka/janda/duda yang mengisi rubrik ini, sepertinya memiliki karakter yang sama satu dengan yang lainnya dengan deskripsi di atas. Semua mengedepankan yang baik-baik tentang dirinya, dan mengharapkan yang baik-baik dari calon pasangannya.

Ah, pasti anda akan mengatakan “Ya jelas tho.. Semua orang pasti mengharapkan yang terbaik untuknya”. Saya setuju 100% untuk itu. Tapi, yang menjadi ganjalan buat saya adalah hal-hal berikut ini:

1)      Hal-hal fisik selalu dijelaskan dan sepertinya mendapat tempat utama di rubric itu, misalnya usia. Apa salahnya jika usia berbeda jauh atau misalnya yang perempuan lebih tua dibanding yang laki-laki. Tingkat kedewasaan seseorang juga tidak diukur dari usia bukan? Kemudian tinggi badan/berat badan. Duh, penting ya? Bukankah tiap orang unik adanya?

2)      Sifat-sifat yang dideskripsikan tentang mereka atau yang diharapkan dari pasangannya kok bagus-bagus semuanya  ya? Rasanya mustahil, meskipun bisa saja ada mereka yang seperti itu, tapi saya dan orang-orang/teman-teman yang saya kenal selama ini jarang banget tuh yang memenuhi kriteria  semua sifat itu (apa saya salah pergaulan ya? * berefleksi mode on*).

 Sebagian dari sifat-sifat baik itu pastinya ada di diri tiap manusia. Tapi jika semua sifat tersebut ada dan semua orang seperti itu, kok saya jadi ngeri ya hidup dengan manusia yang homogen, yang sama semua, dan baik-baik semua (dan saya pasti akan berefleksi lagi, saya masih di dunia ataukah sudah di surga? Hihihi).

 Harusnya sifat yang baik diimbangi dengan sifat yang masih harus diperbaiki, misalnya: baik dan ramah, tapi mudah emosi, tidak suka masak, tapi suka belanja makanan sekaligus pintar menawar . Nah, cukup seimbang kan :)

 Namun, di samping ganjalan-ganjalan itu, ada hal-hal yang saya suka dari rubrik tersebut, antara lain sudah mulai terlihat adanya mereka yang terbuka terhadap masa lalu calon pasangannnya. Misalnya, tidak ada syarat khusus untuk asal suku/etnis pasangannya demi terciptanya Indonesia Raya. Lalu, seorang gadis tidak hanya menginginkan jejaka, tapi juga ok-ok saja dengan duda (meskipun kadang-kadang masih ada embelnya: duda yang ditinggal meninggal istrinya. Duh!). Para jejaka juga sudah mulai membuka diri terhadap janda (meskipun kasus ini jaraaannngg sekali saya temui).

 Saya juga suka dengan satu pernyataan sifat yang sering muncul, yakni memiliki sifat “apa adanya”. Apa adanya bukan berarti “saya ada apa-apa” (hehehe), tapi berarti “saya ya begini keadaannya (baik dan buruk)”.  Harusnya pernyataan ini cukup, tanpa harus dibumbui (terlalu) banyak sifat baik, yang jadi terlihat dibuat-buat.

 Saya orang yang percaya bahwa manusia pada dasarnya tidak sempurna, masih banyak memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Dengan menjadi makhluk sosial, salah satunya dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis, maka terbukalah ruang untuk saling memperbaiki diri masing-masing, belajar menjadi yang terbaik untuk pasangannnya dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang terus-menerus berproses, bukan makhluk ting ketiplak ketipluk sudah terbentuk sempurna sifatnya.

 Ah, saya terlalu banyak cakap ya. Menikah saja belum, sudah banyak omong mengenai harus dan tidak harus dalam sebuah jalinan asmara laki-laki & perempuan! Tua juga belum, sudah banyak omong tentang manusia sebagai makhluk berproses! :p

 Saya hanya seorang perempuan cerewet yang tiba-tiba kepikiran kalau saya gabung di rubriktersebut, saya akan menuliskan seperti ini:

 Gadis (sepertinya sih masih), 27 tahun (itu hanya usia lho, karena kata orang-orang: tampang saya jauh lebih tua dari usia saya, kelakuan saya jauh di bawah usia saya, kekanak-kanakan maksudnya), bentuk tubuh tidak seproporsional orang pada umumnya (tapi saya bersyukur pada Tuhan untuk tubuh saya), warna kulit belang-belang putih-coklat-hitam, dengan beberapa bekas luka di kaki (waktu kecil pernah korengan soalnya, hihihi), ga manis, ga terlalu cantik (meski saya suka narsis di depan cermin), kurang bertanggung jawab, kurang perhatian, sehat jasmani (sejauh ini) dan rohani (dalam arti tidak gila), ga merokok tapi suka minum anggur/bir (meski tak pernah sampai mabuk), ga bisa masak, ga bisa jahit, belum siap menikah dan belum tahu akankah setia atau tidak, karena sampai sekarang masih suka lirak-lirik laki-laki yang ok punya, hihihi

Dan saya mendambakan………….  laki-laki yang mencintai saya apa adanya :)

 Kira-kira, ada ga ya yang mau sama saya? Hehehe..

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags: