Author Archive

Pagi

Saya jatuh cinta pada pagi.

Menikmati pagi kini menjadi kebiasaan yang sangat menyenangkan! Ah, kamu sekarang pasti sedang mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan ini sambil berujar, “Hah, seorang Virtri suka bangun pagi? Rasanya ada yang salah!”

Hahaha, iya memang, harus diakui, sudah bertahun-tahun lamanya saya menjadi penikmat (tidur) pagi. Oh, hal tersebut nikmat sekali. Bagaimana tidak, tinggal tidak jauh dari tempat kerja membuat saya santai sekali dan terbiasa untuk bangun siang. Puas rasanya bisa tidur sampai jam 8.30 pagi di hari kerja dan bahkan bangun lebih siang lagi di akhir pekan.

Namun itu tidak berlaku lagi sekarang. Sejak saya pindah sebulan yang lalu. Tidak bisa lagi saya nikmati tidur berlama-lama di pagi hari. Perjalanan ke kantor yang harus ditempuh dalam waktu 1 hingga 2 jam membuat bangun pagi mutlak hukumnya.

Awalnya, saya pikir saya akan tersiksa. Tapi apa yang terjadi? Bahkan di akhir pekan, ketika saya tidur demikian larut, saya tetap mencari pagi. Saya jatuh cinta pada pagi sejak hari pertama saya pindah di tempat saya sekarang ini. Lihat betapa cantiknya pagi di tempat ini di kala saya bangun jam 5.30.

sunrise at balcony

more »

Gnicuk

Tadi malam lagi-lagi aku bertemu dia. Dia berdiri tiga meter di depanku. Dia menatapku tajam, seakan penuh murka. Pandangannya sangat menusuk, mengarah tepat ke wajahku, ke kedua bola mataku. Aku tak tahu apa lagi salahku di saat itu. Tapi aku tak berdaya jika harus bertanya padanya. Biasanya kami memang hanya bungkam ketika bersua, tanpa kata-kata.

Tanpa kata-kata, aku mencoba mencari tahu alasan murka matanya. Satu, dua, tiga detik aku masih bisa bertahan untuk menatapnya balik. Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dia tak satu kalipun berkedip. Ah, aku tak tahan sudah. Lagi-lagi aku yang lebih dulu berkedip, menunduk, lalu memalingkan wajah. Aku tak kuat melihat tajam matanya.

Aku melihat sekeliling, ada banyak orang. Aku dan orang-orang itu sama keadaanya. Tapi mengapa dia hanya mengarahkan matanya padaku. Aku tak mengerti mengapa aku lagi sasarannya.

Oh tidak, dia mulai melangkah mendekatiku. Aku tak ingin didekatinya, aku pun kembali menghindarinya. Untunglah langkahnya tidak secepat langkah kakiku. Aku segera mencari tempat perlindungan. Fiuh, aku aman.

Pertemuan aku dengannya adalah sesuatu yang tak terelakan. Kami bisa bertemu di sudut-sudut kota manapun. Aku tidak ingin mengulang kejadian yang sama dari waktu ke waktu. Aku ingin sekali bisa berteman dengannya dan tak perlu takut dengan tatapan matanya.

Ah, andaikan tatapan matamu bisa lebih bersahabat, Gnicuk!

Ale & Tio

Tersebutlah dua orang atasan saya di kantor, Ale dan Tio*.

Suatu hari, pernah saya bertanya pada Ale, mengapa dia tertarik untuk bergabung dalam tim OTC**. Ia menjawab “Karena saya bisa membantu menyembuhkan orang yang sakit.” Jawabannya menyentak hati saya. Tidak pernah terpikirkan ketika saya bergabung di tim OTC, saya juga berkontribusi untuk kesehatan orang lain.

Di hari yang lain, dalam perbincangan saya dan beberapa teman mengenai kredo***, Tio yang sedang bergabung bersama kami menyeletuk, “Saya suka dengan kredo perusahaan kita karena di dalamnya terdapat pernyataan bahwa work is fun”. Sesungguhnya tidak ada pernyataan seperti itu dalam kredo kami, tapi saya kemudian sadar, inilah alasan mengapa Tio sangat-sangat suka bekerja.

Ya, mereka berdua mengajarkan saya untuk memiliki makna dalam bekerja dan menjalaninya dengan sukacita.

 

Catatan:

* Bukan nama sebenarnya :D

**OTC: Over The Counter, istilah untuk produk obat-obat yang dijual bebas di pasar

***Kredo: dokumen mengenai pernyataan akan kepercayaan dan atau tanggung jawab

Category: 123  Leave a Comment

Perempuan dan Kopi Hitam

“Mau dibuatin minum apa, Mbak?”

“Kopi boleh deh”

“Kopi susu kan?”

“Engga, kopi hitam aja”

“Hah? Kopi hitam? Kayak Bapak-bapak lainnya? Sekalian rokoknya ga, Mbak?”

Ketika saya masih bekerja di lapangan, berkunjung dari satu distributor ke distributor lainnya, dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya, seringkali percakapan di atas terjadi. Perempuan yang bekerja di lapangan, menyetir sendirian ke mana-mana, menurut mereka tidak biasa, apalagi perempuan yang sama juga menggemari kopi hitam.

Saya pikir itu hanya berlaku ketika saya masih di daerah, tapi saya salah. Di kantor pusat yang berlokasi di Jakarta, beberapa orang juga masih melihat aneh perempuan yang suka minum kopi hitam. Isu gender sepertinya belum juga usai. Pelekatan atribut-atribut tertentu pada perempuan dan laki-laki dalam konteks sosial masih banyak terjadi.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman laki-laki berujar mengenai apa yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan dan bisa dilakukan oleh laki-laki dalam kehidupan sosial ini, dan sebaliknya. Saya tergelitik dan secara spontan langsung mengajaknya berdiskusi. Obrolan kami cukup panjang dan saya pun mengajaknya untuk membuat daftar apa saja yang bisa dilakukan perempuan dan laki-laki. Malam itu berakhir dengan kesepakatan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan adalah hanya untuk aspek biologis seperti melahirkan dan cara pipis, hehehe.

Saya yang tidak sering menggunakan rok, saya yang berantakan, saya yang suka tertawa keras, saya yang suka petualangan, saya yang cukup bisa membaca peta dan kurang bisa mendengar (ingat buku “Why women can’t read maps and men don’t listen”?), saya yang tidak suka berdandan, saya yang suka minum kopi hitam; semua tidak ada hubungannya dengan keperempuanan saya.

Ayolah, saya masih perempuan dan saya suka menjadi perempuan. Perempuan yang suka menyeruput kopi hitam. Itu saja.

29 dan bahagia

“Ah, indahnya Jakarta jika seperti ini” demikian ujarmu kala matahari memang belum muncul dari peraduannya dini hari tadi, ketika aku mengantarmu menuju salah satu tempat perhentian bis menuju ke bandara.

Ya, Jakarta berubah rupa di dini hari, jauh lebih bersahabat, hanya sesekali dua mobil lalu lalang. Beda jauh dengan selang dua hingga tiga jam setelahnya, carut marut akan mewarnai jalan yang sama yang kita lewati. Kota ini memang tidak senyaman Yogyakarta, kota kita. Namun aku tinggal di sini, kamu pun juga akan tinggal di sini. Tidak perlu lama-lama. Lima atau enam tahun lagi sudah cukup. Atau setidaknya satu tahun lagi, ketika aku menjalani 29 ku.

Ada 29 hal yang aku tulis dalam buku putih cantik yang diberikan sahabat-sahabatku di bulan Februari kemarin. 29 hal yang berisi harapan dan pencapaian yang ingin aku lakukan di usia 29ku ini. 29 hal tentang bagaimana aku ingin menjadi lebih baik dan bisa lebih bermakna bagi orang lain. Beberapa terasa mustahil ketika aku menuliskannya. Tapi bukan tak mungkin terlaksana.

Belum ada satu bulan, sudah ada beberapa pencapaian dari 29 hal tersebut bisa aku tandai dengan tanda ‘berhasil’. Bukan karena aku saja, tapi juga karena kamu, juga mereka, dan juga Tuhan, ketika tangan-Nya turut serta.

Aku menuliskan ‘bahagia’ pada angka 1 dan angka 29. Agar aku tidak lupa untuk tetap berbahagia di 29-ku, meski jalanku tidak selamanya mulus, meski akan ada air mata mewarnai, meski banyak hal-hal pada angka-angka di tengah-tengah 1 dan 29 yang tidak bisa aku tandai ‘berhasil’. Terlalu banyak alasan buatku untuk tetap berbahagia dan mensyukuri hidup.

Selamat pagi, selamat berbahagia!

Dia

“Doakan ya!”

“Pastinya!”

Dua kalimat itu banyak mewarnai keseharian kita ketika sedang menghadapi sesuatu masalah yang ingin diselesaikan atau dalam mengawali sesuatu yang baru. Kita meminta keluarga atau sahabat kita untuk mendoakan kita. Demikian pula sebaliknya, mereka meminta kita berdoa untuk mereka. Namun berapa sering kita benar-benar berdoa untuk mereka?

Ida adalah sahabat saya sejak saya kuliah. Sahabat saya ini kerap bertanya pada saya “Apa yang ingin aku doakan untukmu?” setelah ia mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” atau “Selamat Tahun Baru”. Dan dalam pertemuan-pertemuan kami berikutnya, Dia akan menanyakan perkembangan hal yang saya minta ia doakan untuk saya. Awalnya saya terkesiap. Lalu saya sadar akan kesungguhannya.

Dia dan doa.

Dari Ida saya belajar untuk sungguh-sungguh berdoa buat orang lain yang meminta saya berdoa untuknya.

Category: 123  One Comment

Di Sini Calo, Di Sana Calo

Tadi malam saya berkeinginan untuk menonton sebuah pertunjukkan sendratari di Taman Ismail Marzuki. Saya yang tidak pernah bertobat-tobat dari kebiasaan go show (langsung datang ke tempat tujuan dan membeli tiket di tempat) mengulangi hal yang sama tadi malam. Alhasil, seperti yang sudah ditebak, saya tidak kebagian tiket, sudah terjual habis kata mereka yang di belakang loket tiket. Hiks.

Iya, benar, sudah terjual habis. Tapi tidak semuanya terjual habis untuk mereka yang ingin menonton. Sebagian lainnya jatuh ke tangan para calo. Calo-calo itu berdiri tepat di pintu masuk tempat penjualan tiket dan tempat pertunjukkan. Satu, dua, ah.. saya melihat lebih dari dua orang yang gelagatnya serupa. Sambil melangkahkan kaki ke tempat parkir sembari mengurungkan niat untuk menonton, saya didekati mereka.

more »

Ceriadunia

Ceriadunia. Nama itu datang begitu saja ketika saya bercerita tentang sahabat saya, Winta. Keberadaan Winta memang sangat terasa jika kami sedang berkumpul. Gaya berceritanya yang menyenangkan, celetukan-celetukannya yang segar, tawanya yang renyah memang bisa menceriakan orang-orang di sekitarnya, menceriakan dunia.

Beberapa kali Winta bercerita tentang tantangan yang dia hadapi di kantor. Ya, kita semua pasti punya tantangan kita masing-masing di kantor. Namun sepertinya tidak ada kata menyerah dalam kamus Winta untuk menyelesaikan tantangan yang ia hadapi. Kerjaan yang sepele sampai kerjaan yang rumit, persoalan sederhana hingga yang cukup kompleks, dia mampu jalani dan hadapi.

Best Employee of The Year! Itu yang dia dapatkan di akhir tahun kemarin. Saya yakin, selain kecerdasannya, kemampuannya menceriakan dunia sekitarnya itulah yang membuat dia menjadi sahabat yang membanggakan.

Category: 123  2 Comments

Psychopatika

Kami memanggilnya Ika. Namanya memang terdengar biasa, banyak yang memiliki nama ini. Tapi percayalah, Ika sahabat saya ini beda dengan ika-ika lain yang kamu kenal. Yang ini unik, beda sendiri dari yang lainnya. Cantik, matanya bulat besar, rambutnya ikal bergelombang, pakaiannya aneh-aneh tapi tetap membuatnya terlihat menawan. Lho kok jadi bicara tentang fisik, hehehe.

Yang paling membuat Ika berbeda adalah cara bagaimana ia dan suaminya mengucap syukur kepada Tuhan dengan cara berbagi kasih terhadap sesama dengan mewujudkan Taman Belajar Senyumpagi. Sudah hampir 2 tahun di setiap Sabtu, mereka membuka kelas belajar bahasa Inggris dan juga pelajaran lainnya untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Menarik, seru  dan menyenangkan!

Keinginan ika agar anak-anak bisa pandai, komitmen, konsistensi, dan terutama kecintaannya terhadap anak-anak itu buat saya sungguh mengagumkan.

Category: 123  Leave a Comment

Dieng, Tempat Persembunyian Dewa-Dewi

Rupanya Dieng tidak seterkenal Bromo. Banyak yang tidak tahu di mana keberadaan dataran tinggi cantik ini. Padahal tempat ini masuk salah satu dataran tertinggi di dunia. Banyak info yang menyebutkan dataran ini di posisi setelah Nepal. Ketinggian dataran tinggi Dieng terletak di 2,093m dpl. Suhu udara di tempat ini berkisar 10-15 derajat celcius di malam hari, dan bisa mencapai titik 0 derajat celcius di musim kemarau. Sampai-sampai di sana terdapat embun beku di pagi hari yang dinamakan embun racun oleh masyarakat setempat karena bisa membuat tanaman mereka mati.

Dalam perjalanan kami dari Jogja menuju Jakarta di akhir tahun 2010, saya dan Kakilangit, sahabat saya, mampir di tempat ini. Letak Dieng tidak jauh dari Kota Wonosobo, sekitar 20-30km dari pusat kota. Jalan menuju ke sana cukup mulus, namun sangat berkelok-kelok dan ada beberapa area yang rawan longsor.

Kami sampai di jalan raya dieng sudah malam. Penerangan sepanjang jalan hampir tidak ada, lampu mobillah yang kami andalkan. Jika turun kabut, jarak pandang hanya sekitar 3-5m. Jadi, kalau kesana malam-malam hati-hati ya. Tapi pulangnya, melintasi jalan yang sama di siang hari, terasa sangat berbeda. Pemandangan yang terhampar di depan mata: kecantikan alam tiada tara. Membuatmu tak henti berdecak kagum akan semesta.

more »