Author Archive

Di Sebuah Kotak, Di Tengah Jalan

BIP BIP

Telepon selularku berbunyi pelan tanda ada pesan pendek masuk. Sambil tetap berjalan menuju kotak mungil tempat kerjaku, kubuka pesan itu.

“Selamat pagi. Sekali lagi makasih ya, San! Kamu memang malaikatku!”

Pesan dari Mbak Kanti rupanya. Aku menggantikan shift kerjanya hari ini setelah dia membujukku mendadak tadi malam selagi kita bersiap pulang. Tanpa ia bujuk, sebenarnya aku akan dengan senang hati menggantikannya. Bukan, bukan karena aku suka bekerja keras di hari yang seharusnya aku libur. Hanya saja, Mbak Kanti bercerita ia ingin mengajak anak-anaknya yang libur di Hari Libur Imlek ini. Mereka ingin pergi ke Ragunan katanya. Aku bisa membayangkan wajah-wajah anak-anak Mbak Kanti ketika bertemu dengan hewan-hewan di sana. Mereka pasti bersorak-sorak kegirangan.

“Sama-sama, Mbak. Semoga jalan-jalannya seru yah! Salam buat Kaka & Kiki” kubalas pesan pendek itu.

Jam menunjukkan pukul 5 dini hari. Musim hujan di bulan Januari ini menghasilkan angin kencang di pagi hari yang kerap menyusup sendi-sendi, membuat gigi-geligi tak jarang bergemeletuk. Pak Tono sepertinya sudah berbenah, siap untuk kugantikan.

more »

Resolusi atau Evolusi?

Tahun baru t’lah tiba!!!

Bahagia rasanya melewati pergantian tahun tadi malam. Meski tidak ke mana-mana, suasana ceria mereka yang antusias merayakannya sangat terasa, di televisi, di twitterland, di facebook world, dan terutama yang terlihat jelas dari balkon.

Iya, pergantian tahun adalah perayaan semua umat manusia, tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, dan berat badan (juga tampang, demikian ujar teman saya, hihihi).

Seperti tahun-tahun yang silam, pergantian tahun kali ini juga dipenuhi oleh resolusi-resolusi yang dibuat banyak orang. Resolusi yang paling banyak dilakukan adalah untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, misalnya berolah raga dua kali dalam seminggu, berhenti merokok, ikut kursus bahasa asing, menjadi vegetarian, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, biasanya di bulan ketiga atau keempat, resolusi-resolusi itu terlupakan dan kebiasaan lama pun berulang. Begitu setiap tahunnya.

Saya sendiripun sering mengalami hal yang serupa. Seringkali malu karena beberapa resolusi tidak juga terlaksana. Hanya manis di bibir saja ketika mengucapkan, hanya menggebu-gebu di dada saja ketika membuatnya.

Lalu apakah saya berhenti membuat resolusi? Seperti halnya beberapa target demi target saya yang belum tercapai, namun saya tidak pantang menyerah, demikian halnya dengan resolusi saya.

Saya selalu bersyukur dengan adanya tahun baru dan juga ulang tahun. Keduanya adalah momen untuk saya berefleksi. Iya, saya memang belum juga memenuhi semua resolusi dan semua target saya. Namun saya percaya akan adanya sebuah evolusi untuk menjadi manusia yang lebih baik dari setiap penggalan-penggalan pemenuhan resolusi.

Selamat tahun baru! Selamat membuat dan melaksanakan resolusi-resolusi baru! Dan selamat terus berevolusi menjadi manusia yang lebih baik! :)

Target

Kamu tahu, ini tulisan saya yang ke 100 di Dunia Luna lho!

Antara senang dan sedih. Senang akhirnya mencapai angka 100, tapi sedih karena kalau dipikir-pikir, ternyata baru 100 tulisan saja! Huhuhu. Saya yang mengaku suka menulis hanya menghasilkan 100 tulisan dalam 5 tahun-an blog saya. Artinya setiap tahun saya hanya menulis sekitar 20 tulisan. Awal tahun lalu, saya sempat memiliki resolusi untuk menulis setidaknya seminggu 1 tulisan supaya saya bisa terus belajar menulis. Artinya sebulan saya bisa mendapat 4 tulisan. Tapi faktanya, saya hanya bisa menulis sebulan 1-2 tulisan saja. Saya sempat sedih karena target saya tidak terpenuhi.

Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan malam saya bersama seorang sahabat di sebuah kedai kopi di salah satu mal. Kami, dua orang perempuan single yang cantik dan menawan ini (eh!), bercakap-cakap tentang hal-hal remeh temeh hingga hal-hal yang serius.

Berawal dari sahabat saya yang berkomentar tentang seorang sahabat kami yang lain yang sudah menikah, sahabat saya berkata, “Ah, dia sudah menang, 2 langkah lebih maju dari kita, Vir! Dengan usia yang sama dengan kita, dia sudah menikah dan dia sudah memiliki anak. Sedangkan kita?”

“Ada apa dengan kita?” Saya tidak setuju dengan pernyataan sahabat saya dan terusik karenanya (terusik dan sensitif bersaudara tidak ya? Hehehe)

Menurut saya, tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah untuk urusan ini. Setiap orang punya targetnya mereka masing-masing untuk urusan ini dan tidak pas jika dibandingkan dengan orang lain, apalagi dengan ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat. Jika perempuan umur sudah 30 dan belum menikah, masyarakat akan berpikir bahwa si perempuan adalah seorang yang pilih-pilih pasangan hidup atau seorang yang gila kerja. Pun jika benar pemikiran masyarakat, ada yang salah dengan itu? Tidakkah pasangan hidup memang harus dipilih dengan baik (dan bukan karena keadaan) dan pilihan suka bekerja dengan tujuan tertentu adalah sah adanya.

more »

Category: pikir-pikir  8 Comments

Boracay Getaway

Lagi-lagi, dalam rangka memanfaatkan ‘kesempatan dalam kesempitan’ setelah perjalanan tugas kerja, saya jalan-jalan ke Boracay, sendirian! Sebenarnya, bukan kali pertama buat saya jalan-jalan sendirian. Namun untuk jalan-jalan sendirian ke tempat baru di luar negeri Indonesia tercinta, ini kali yang pertama. Cukup mendebarkan, namun saya sangat percaya diri. Bukan, saya bukan percaya diri karena persiapan saya sangat matang (oh, persiapan matang itu sama sekali bukan seorang virtri!), sejak awal saya percaya diri karena saya yakin saya akan menikmati perjalanan saya ini. Dan itu benar-benar terjadi.

Kamu tau berita bencana taifun atau angin topan yang menimpa Manila di akhir bulan September kemarin? Pada saat itu, saya sedang berada di sana. Dan dalam minggu itulah saya berangkat ke Boracay. Sempat khawatir juga sih membayangkan kondisi Boracay dengan melihat kondisi Manila yang berawan dan hujan di minggu itu. Mana menurut wikitravel, bulan Juni hingga Oktober memang rawan taifun di sana. Tapi kekhawatiran saya tak terjadi, angin topan dan badai (dalam pengertian sebenarnya) tak bisa menghalangi perjalanan kali ini! Terima kasih Tuhan, Boracay cerah secerah-cerahnya! Wohooo!!

more »

Category: jalan-jalan  2 Comments

Berani Beda

“Pin lo berapa, Vir? Tar gw bbm ya.” “Nope, gw ga pake bb!”

“Hah, serius lo ga pake bb? Hari gini ga pake bb”

“Iya. Emang kenapa? Ada yang salah?”


Iya, ada yang salahkah  ketika saya tidak menggunakan BB sampai saat ini?

Sejak Blackberry (BB) baru muncul hingga berjamur luar biasa di Indonesia saat ini, saya tidak pernah tertarik menggunakannya. Di awal kemunculannya, tentu saja alasan utama saya tidak menggunakannya karena mahal harganya. Bentuknya pun menurut saya terlalu serius. Setiap melihat BB, saya teringat akan kerjaan. Duh, gawat kan! Saat ini, ketika harga dan bentuk BB semakin bervariatif, semakin saya enggan menggunakannya. Masalahnya cuma satu, hampir semua orang memilikinya!

Saya jadi teringat akan masa jaya Nokia di waktu silam, ketika BB belum agresif. Nokia adalah HP sejuta umat kala itu. Semua orang, dari anak kecil hingga kakek-nenek menggunakannya. Dan saya memilih untuk memiliki HP lain, Motorola dilanjutkan dengan Sony Ericsson, menjadi partner saya sehari-hari.  Tiga empat tahun terakhir ini, ketika BB yang berjaya, saya memilih Nokia (Keea) dan dilanjutkan dengan Samsung (Lubi) untuk menemani saya. Sebenarnya cinta saya pada iPhone. Namun, setelah dipikir-pikir, yang layak menemani saya adalah mereka yang murah, meriah dan tahan banting. Jadi, iPhone masih saya kesampingkan saat ini. Lagipula, Lubi punya berbagai sifat yang mirip dengan iPhone sejauh ini. Saya akan gunakan iPhone ketika mungkin kelak semua akan berpindah ke Samsung.

Iya, entah mengapa saya tidak nyaman memiliki barang yang digunakan oleh orang banyak. Menjadi berbeda buat saya lebih menyenangkan. Lebih variatif dan tidak membosankan. Bukankah tiap orang seharusnya unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing? Mengapa harus memiliki HP yang sama?

Dulu keunggulan BB adalah sistem push mail-nya. Namun sekarang hampir semua smart phone bisa melakukannya. Beberapa teman berkata alasan menggunakan BB adalah aplikasi BBM (Blackberry Messenger)-nya. Tapi sekarang ada ‘Whatsapp‘ (dan teman-temannya). Aplikasi yang mirip dan bahkan lebih ramah karena tidak eksklusif dari segi penggunanya. Jadi sejauh ini saya belum melihat alasan menarik untuk saya berpaling dan menggunakannya. Yang iya, sindrom saya teringat kerjaan setiap kali melihat BB masih tetap ada sampai sekarang. Membuat saya lebih tidak ingin menggunakannya.

Tapi saya menghargai mereka yang memilih BB memang karena mereka menyukainya. Yang saya kurang setuju adalah mereka yang memilih karena gensi tiada henti untuk menyamakan diri dengan lingkungannya atau akibat dorongan sosial.

Tidak hanya untuk urusan pilihan BB, tapi juga dalam banyak pilihan-pilihan dalam hidup. Opini, pandangan hidup, pekerjaan, pendidikan, bahkan jalan hidup.

Berbeda dalam pilihan? Kenapa tidak! :)

Kenikmatan dalam kesempatan dalam kesempitan

Ketika masih kuliah, saya punya banyak waktu untuk berlibur panjang, punya banyak waktu untuk membaca buku, tapi sayang tidak punya uang untuk jalan-jalan berlibur dan tidak punya banyak uang untuk membeli banyak buku-buku bagus. Sekarang ketika sudah bekerja, saya punya cukup uang (belum banyak, namun cukup lah) untuk berlibur dan mengoleksi buku, tapi kesulitan mendapatkan waktu untuk mendapatkan liburan dan menikmati membaca buku selembar demi selembar, kata per kata.

Namun, dengan semangat kancil yang banyak akal, saya mencoba untuk cerdik dalam melihat setiap kesempatan yang bisa saya manfaatkan sebagai waktu liburan dan bisa bersantai membaca. Dan saya mendapatkan kesempatan-kesempatan itu, pada setiap akhir pekan setelah saya melakukan perjalanan kerja, terutama untuk tugas luar kota atau luar negeri. Memang cuma sebentar, tapi jika dimaksimalkan sebesar-besarnya, tentunya sangat bermanfaat bagi jiwa dan raga!

Bulan Juni lalu misalnya, saya manfaatkan tugas luar kota saya ke Menado yang jatuh di hari Jumat hingga Sabtu dengan memperpanjangnya ke hari Minggu. Memang benar, itu waktu yang sangat amat pendek! Tapi setelah saya mengingat-ingat lagi, cukup banyak juga yang saya lakukan dalam 3 hari itu. Saya mengoptimalkan diri di kota tempat setengah darah yang mengalir di tubuh saya berasal (untuk pertama kalinya).

more »

Category: jalan-jalan  3 Comments

Melukis secercah senyum

Beberapa jam yang lalu, sambil mendengarkan acara televisi mengenai  keputusan menteri agama akan kepastian hari idul fitri tahun ini, tiba-tiba saya, kakak saya dan ayah saya bercakap-cakap. Tentang zakat, tentang kurban, tentang persepuluhan, tentang persembahan.

Percakapan diawali ketika ayah saya sempat mengkritisi  konsep zakat sesungguhnya. Kakak saya pun menyambung dengan cerita  bagaimana konsep zakat fitrah di tempat yang satu dapat berbeda dengan tempat lainnya. Ketika mereka ingin mengetahui konsep perpuluhan/persembahan di gereja, saya pun juga menyambung pembicaraan mengenai tidak adanya ketentuan khusus di gereja yang saya anut mengenai besarnya persembahan (menyenangkan bukan ketika kami bisa berdiskusi dengan belajar dari perspektif masing-masing :) )

Ya, buat saya, apa pun itu namanya, zakat, kurban, perpuluhan, persembahan, bukan soal harus berapa besarnya, harus bagaimana bentuk sah-nya. Tidak ada hitung-hitungan yang yang pasti, tidak ada bentuk yang paling benar, dan terutama tidak perlu ada kata keharusan di sana.

Buat saya, zakat, kurban, perpuluhan, persembahan, baiknya dikembalikan pada tujuannya: untuk diberikan dengan setulus hati; untuk melukis secercah senyum di wajah sesama kita yang membutuhkan.

Selamat Hari Idul Fitri buat Papa, Mbak Ni, Mbak Ic, dan semua yang merayakan hari kemenangan ini :)

ps: Jika ada yang merayakannya hari rabu, selamat in advance ya :)

You are what you read!

Saya suka membaca. Sejak kecil. Belakangan, buku-buku favorit di masa kecil saya kini banyak yang saya baca ulang dan saya koleksi. Yang dominan menghiasi masa kecil saya adalah Buku-buku karya Enid Blyton dan Komik-komik Jepang, di samping Majalah Bobo.

Buku-buku karya Enid Blyton yang saya gemari adalah cerita tentang kehidupan anak-anak di sekolah-sekolah asrama di Inggris. Sebut saja serial Malory Towers, St. Clare’s, dan yang paling saya suka adalah The Naughtiest Girl, Si Gadis Paling Badung di Sekolah. Gara-gara buku ini, saya ingin sekali sekolah di asrama dan hidup mandiri. Sempat saya mendaftarkan diri di SMA Taruna Nusantara hanya karena tertarik dengan asramanya (dan gratisnya! :p), tanpa mengetahui lebih dalam bahwa itu lebih mendekati sekolah tentara dibanding sekolah asyik (bukan bermaksud tentara itu ga asyik loh ya). Untung saja saya gagal. Dan Taruna Nusantara juga beruntung tidak mendapatkan saya sebagai murid didikannya. Nanti mereka akan merasa gagal sebagai pendidik. Hihihi.

Sementara judul-judul komik favorit saya adalah Topeng Kaca, Miss Modern, dan Pop Corn. Topeng Kaca membuat saya mencintai teater. Sejak SD saya bergabung dalam sanggar teater. Bakat tidak bakat, yang penting tampil! Hehe. Bukan tampilnya sih yang terutama, tapi lebih ke bagaimana saya belajar mengungkapkan ekspresi saya, belajar berimajinasi, dan mencoba mendalami karakter-karakter berbagai peran. Seru!!

Berbicara mengenai karakter, saya pikir sedikit banyak karakter-karakter dari tokoh-tokoh utama dari buku-buku yang kita gemari akan mempengaruhi karakter kita. Kesadaran ini timbul ketika saya membaca ulang buku-buku ini dan saya merasa kemiripan karakter si tokoh utama dengan saya.

more »

Category: baca-baca  3 Comments

Natalia

“Aku ingin menjadi seorang ibu yang kelak bisa membesarkan anak-anakku dengan baik, menciptakan rumah yang hangat dan nyaman, melimpahi keluargaku dengan penuh cinta”

Itulah mimpinya, mimpi sahabat saya, Natalia. Kami berkerja di bidang yang sama. Ketika awal-awal aku mengenalnya, dia pernah berucap, “Kita tuh berbeda banget, Vir. Aku suka sekali dengan urusan domestik rumah tangga.” Awalnya aku hanya menganggap angin lalu hal tersebut.

Tahun berganti tahun. Semakin aku mengenalnya, semakin dia membuktikan diri bahwa dia benar-benar ingin mewujudkan mimpinya untuk membangun keluarganya dengan kelihaiannya dalam urusan rumah tangga: merajut, menjahit, memasak, bercocok tanam, membuat prakarya, seni merawat dan mempercantik rumah. Saya pun tak henti mengaguminya. Dia pasti bisa mewujudkan mimpinya itu.

Rasanya indah menjadi ibu rumah tangga berdasarkan sebuah pilihan, bukan karena keterpaksaan.

Category: 123  Leave a Comment

Berbagi 250cc

Hari ini saya kembali melakukan donor darah. Saya memang memasukkan “donor darah 4x” dalam daftar 29 hal yang saya akan lakukan dalam usia 29 tahun ^^. Kenapa 4x? Konon berdasarkan alasan kesehatan, tidak baik jika diambil darah sebanyak itu beberapa kali dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan. Jadi, cukup 1x setiap 3 bulan kita melakukan donor darah.

Sebelumnya, saya sering kesulitan untuk menjadi pendonor. Bukan, bukan karena berat badan saya yang terlalu langsing ini. Meski saya kurang berbobot dalam banyak hal, tapi untuk urusan berat badan, rupanya bobot tubuh ini cukup memadai sebagai seorang pendonor. 52kg! Lumayan kan! Kamu tidak percaya saya berbobot demikian berat? Kamu lupa ya kalau dosa yang banyak mungkin bisa menambah berat badan! Nah, dalam kesempatan ini saya mengaku kalau saya memang seorang pendosa^^.

more »