Archive

Author Archive

ketika aku menyeruput kopi, tadi

February 27th, 2010

Srupuuttt..

Ah, sedapnya kopi hitam ini! Menyeruputnya sambil menghirup wangi aromanya adalah cara terbaik menikmatinya. Sudah cangkir kedua. Mataku agak lelah rupanya. Tiga jam terus menerus memandang layar laptop memang tidak baik. Aku melihat pemandangan dari balik jendela di belakangku. Aku duduk di pojok ruangan di sebuah kedai kopi, dekat dengan pintu masuk dan jendela. Tapi karena kedai kopi itu terbilang sepi, dekat dengan pintu masukpun tidak mengapa, tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja.

Srupuuttt..

Kali ini aku memandang ke sekelilingku, ke dalam ruangan di kedai kopi itu. Aku baru sadar, ruangan ini memiliki interior menarik rupanya. Warna coklat mendominasi ruangan ini. Dekorasinya sederhana, tapi cita rasanya pas. Gulungan kuno yang berisi perjalanan kopi di Indonesia misalnya. Kemudian ada juga lukisan budaya tradisional yang dibingkai pigura bambu, dan oh… mataku menangkap bayangan sosok seorang laki-laki! Dia sedang duduk di meja seberang sana. Aiihh, dia cukup tampan!!!

Srupuuttt..

Ketertarikanku jelas berganti! Interior ruangan ini tentu saja kalah menarik dibandingkan dengan sosok laki-laki yang kulihat saat ini. Sorot kedua matanya sangat sesuai dengan bingkai coklat kacamata yang ia kenakan. Hidungnya yang cukup besar memang agak kurang proporsional dengan wajahnya, tapi itu menjadi keunikan tersendiri buatku. Kemudian potongan rambutnya, rahangnya, dagunya, dan bekas luka yang tergores di alisnya. Ohh…. Tuhan pasti sedang memiliki mood yang sangat baik sewaktu menciptakan dirinya.

Srupuuttt..

Ia sedang membaca buku. Samar-samar aku membaca judul buku yang ia baca, “Arok Dedes”. Ah, ia juga suka Pramoedya! Klop kita. Aduh, ia memandangku! Ia kemudian tersenyum, aku tersenyum balik, sambil kikuk. Lalu aku segera saja pura-pura memandang layar laptopku. Fiuhh.. apakah ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya ya? Semoga saja tidak!

Srupuuttt..

Kembali aku melirik ke arahnya, ingin mencuri pandang ke wajah tampan itu lagi. Tiba-tiba aku teringat akan seorang laki-laki, seorang teman dari masa lalu. Iya, wajah tampan itu meningatkanku akan temanku di waktu SMP. Mirip sekali. Tentu saja dahulu temanku itu tidak setampan ini. Tapi manusia kan berubah. Dulu dia manis, sekarang dia tampan! Ketampanannya pasti berkembang seiring dengan usia. Dan goresan luka itu.. iya, itu pasti dia! Temanku itu juga memiliki goresan luka di alisnya dari sejak pertama kali kukenal dia. Namanya…. Pan..Pan… Panji atau Pandu ya? Aku lupa! Aku hanya ingat aku dan teman-teman memanggilnya hanya dengan sebutan “Pan!”. Si juara kelas dari kelas sebelah yang juga pandai bermain basket.

Srupuuttt..

Kyaaaaa… aku tertangkap lagi olehnya jika aku sedang memperhatikannya. Aku malu! Kurasakan pipiku bersemu merah. Eh, tapi mengapa aku harus malu? Jangan-jangan dia benar teman SMPku, dan dia juga sedang mengingat-ingat siapa diriku. Bukankah jika itu benar, itu menjadi alasan yang tepat untuk kita bercengkrama. Benar. Mengapa aku tidak mendatanginya saja dan menanyakan kabarnya. Kemudian kita bisa bercakap-cakap dan mengenang masa-masa SMP, sekedar reuni dan menanyakan kabar teman-teman lainnya. Lalu pembicaraan bisa beralih ke buku yang ia baca, kemudian kita bisa membahas buku-buku Pram lainnya. Dan oh, siapa tahu ia juga masih single, belum menikah, masih pintar dan baik seperti sedia kala. Jadi kan kita….. Eh, bicara apa sih aku! Jadi ngelantur. Itu sih urusan lain, bonus namanya, hihihi.

Srupuuttt..

Namun jika dia bukan teman SMPku bagaimana? Bukan si Panji atau Pandu yang itu? Ah, tak mengapa, yang penting aku sudah menghampirinya dan kita bisa mulai bercengkrama. Tapi mengapa harus aku yang memulai? Harusnya dia yang mendatangiku terlebih dulu, dia kan laki-laki. Hmmmmh… kenapa aku jadi berpikir demikian ya. Aku toh tidak bermaksud menyatakan cinta, meski di jaman sekarang, mau perempuan atau laki-laki yang menyatakan cinta pun sudah bukan soal. Saat ini, aku kan hanya ingin bertanya, apakah dia temanku atau bukan, itu saja. Lalu bercakap-cakap, lalu bersenda gurau, selesai. Kesempatan seperti ini tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Srupuutt..

Aku menghela nafas cukup panjang, bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. Jantungku sedikit berdegup ketika aku berdiri. Semakin aku mendekatinya, irama degup jantung ini semakin keras dan tak menentu. Aku sudah berada sekitar dua langkah di hadapannya dan mulutku siap membuka. Ketika baru empat kata aku lontarkan “Hai, mau tanya nih….”, tiba-tiba kalimatku terputus dengan suara anak perempuan kecil berusia sekitar 2 tahun, yang lari dari arah belakangku dan berteriak lantang, “Papaaaaaa…. aku dibeyiin boneca cama mama, cantiiiikk deehh”. Tepat di belakangnya, tersebutlah sosok perempuan anggun yang berwajah mirip dengan si anak perempuan itu.

Glek!

Aku salah tingkah. Mereka memandangku. Dan aku terpaksa melanjutkan kalimatku yang terputus,

“Hai, mau tanya nih… kamar mandi di kedai kopi ini di sebelah mana ya?”

-hasil sebuah lamunan; di kedai kopi; sore tadi-

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

jalan-jalan

February 27th, 2010

kangen jalan-jalan.

untuk menghirup segarnya udara, memandang luasnya langit, menjejak indahnya alam.

kangen jalan-jalan.

untuk bertemu dengan budaya baru, melakukan hal-hal baru, berkenalan dengan teman-teman baru.

kangen jalan-jalan.

ke tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk sejenak berhenti dari rutinitas kerja.

ke negeri dibalik gedung-gedung tinggi, untuk seketika meninggalkan hiruk pikuk kota.

kangen jalan-jalan.

denganmu.

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

pilih nyaman atau tampil cantik?

February 21st, 2010

Kemarin waktu saya ulang tahun, ketika teman-teman di kantor saya menyalami saya, ada salah seorang teman yang ketika menyalami dan mengecup kedua pipi saya berkata demikian, “Selamat ulang tahun yaaa….” kemudian ucapannya terputus sejenak. Dia mundur satu langkah, memandang saya dari atas kepala sampai ke bawah, dari rambut pendek saya yang tergerai bebas, wajah saya yang polos tanpa polesan make-up, kemeja cantik (menurut saya sih cantik), celana panjang saya, hingga ke sepatu teplek yang saya kenakan. Lalu dia meneruskan ucapannya, “…sepertinya kita harus membuat Program Putri untukmu!”

*gubrak!*

Dan seorang teman yang lain menyahut, “Coba aja kalo bisa!”

*glek!*

Di hari yang lain, pernah saya memuji (dengan tulus) penampilan seorang teman kantor saya yang lain lagi. Menurut saya cara berpakaiannya menarik. Baju-baju yang ia gunakan sampai dengan aksesoris yang melekat sungguh enak untuk dilihat. Secara spontan saya mengatakan padanya “Ah, kamu modis sekali! Kamu cocok sekali dengan pakaian-pakaian yang tiap hari kamu kenakan!”. Saya tidak sadar pada saat itu suasana kantor sedang hening, sehingga suara saya cukup terdengar ke berbagai sudut. Setelah saya menyelesaikan kalimat saya, tersebutlah suara teman saya yang lain, kali ini seorang laki-laki, “Pakaian dia sih biasa aja! Loe itu loh yang ancur!”

*ketimpa tangga!*

Baiklah..baiklah..harus saya akui, saya memang tidak oke dalam urusan merias diri, baik itu merias wajah ataupun merias diri. Saya bukan seorangyang tomboy, saya bahagia mengetahui saya seorang perempuan. Hanya, saya perempuan yang sederhana dalam urusan rias-merias. Terlalu simpel, demikian ujar teman-teman saya.

Saya sebenarnya tahu bagaimana cara menggunakan make-up. Meski terbatas pada yang dasar-dasar saja: (1) membersihkan wajah, (2) memberikan pelembab wajah, (3) memberi bedak, (4) memfokuskan diri merias mata dengan segala warna yang diinginkan, (5) memberikan pewarna pipi, dan terakhir (6) mengoleskan bibir dengan pelembab, pewarna, dan pengkilat. Benar kan langkah-langkah saya? Saya diajari hal ini sekitar 11-12 tahun lalu oleh sahabat-sahabat saya di waktu SMU *bangga mode on karena masi ingat, yay!* Tapi saya tidak pernah mempraktekkannya. Alasannya satu: ribet! Saya tidak suka yang ribet-ribet.

Bukan berarti wajah saya benar-benar polos. Sehabis mandi, saya menggunakan pelembab wajah yang mengandung perlindungan terhadap sinar matahari untuk kesehatan kulit wajah saya dan menggunakan bedak (bayi) untuk membuatnya segar. Sudah, itu saja. Lumayan kan? :)

Mengenai merias diri dengan pakaian, saya mencoba sebisa mungkin agar orang lain tidak sakit mata jika melihat saya. Maksudnya, saya tidak mengenakan warna-warna yang terlalu menyolok mata atau berkilau gemerlap di matahari siang hari, atau menabrakkan pola kotak-kotak dengan bunga-bunga di tubuh saya. Untuk menggunakan rok, saya beberapa kali mencobanya kok. Setidaknya saya punya 2 potong rok di lemari saya. Jika saya tidak sangat jarang sekali mengenakannya, itu karena saya tidak nyaman. Saya tidak bisa bergerak bebas. Pernah ketika saya menggunakan rok dan saya sedang duduk, seorang teman saya dari kejauhan memberikan tanda-tanda dengan tangannya. Ternyata dia memberikan saya tanda untuk mendekatkan kedua kaki saya satu dengan lainnya supaya tidak ada jarak diantaranya. Ahh, repot sekali menggunakan rok.

Menggunakan sepatu berhak tinggi? Itu sama saja dengan menyiksa saya. Saya salut dengan mereka yang mampu menggunakannya. 3cm, 5cm, 7cm, bahkan 12cm! Ckckckck… Saya punya dua pasang sepatu dengan hak 1cm untuk saya gunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman-teman saya. Saya mampu bertahan sampai dengan 2jam. Tapi jika lebih dari itu? Keram kaki sudah menanti saya dan saya kapok dengannya.

Menjadi seorang saya artinya harus berani tampil berbeda dengan perempuan-perempuan di sekeliling saya, terutama teman-teman kantor saya. Tapi saya tidak masalah. Meski saya tidak tampil dengan riasan di wajah dan pakaian oke, saya rasa saya cukup rapi dan tidak bau, sehingga saya tidak akan mengganggu mata dan hidung orang-orang di sekeliling saya :)

Kenyamanan saya dan orang lain harus ditempatkan di atas kecantikan dan estetika, bukan?

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

dua puluh delapan

February 16th, 2010

bertambah usia, akankah bertambah bijaksana?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

sendiriku

February 7th, 2010

Di cafe.

Di kedai kopi.

Aku lebih senang menyebutnya demikian.

Aku di kedai kopi, sendiri.

Iya, sendiri saja.

Kesepian?

Kesepian katamu?

Ah, tidak.

Aku jarang sekali merasa kesepian.

Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka memang tidak selamanya bersamaku.

Tapi mereka ada.

Di dalam hati ini.

Tidak, aku tidak merasa kesepian kok.

Dunia ini terlalu ramai buatku.

Terkadang malah terlalu gaduh.

Bukan, bukan aku ingin mengeluh, tapi itu kenyataannya.

Semua orang ingin bersuara, bercerita, berteriak.

Ada beberapa yang memilih untuk diam.

Namun jarang yang memilih untuk mendengarkan.

Aku pun kerap lupa untuk itu.

Lalu, mengapa aku sendiri saja?

Kamu benar-benar ingin tahu?

Aku…

Aku…

Umm, aku suka.

Iya, itu saja.

Seringkali aku suka dengan sendiriku.

Aku tahu, hampir semua orang yang mengenalku berkata aku adalah manusia sosial.

Maksudnya, manusia yang senang bergaul, berkumpul dengan teman-teman.

Ah,  jangankan teman, aku juga senang bercakap-cakap dengan orang yang tidak kukenal.

Hahaha, betul, itu memang menyenangkan buatku, berkenalan dan mendapat teman baru

Bisa akrab dengan mereka dan belajar dari hidup mereka.

Tapi, aku juga suka dengan sendiriku.

Aku menikmatinya.

Aku menikmati sewaktu aku menyeruput secangkir kopi.

Aku menikmati ketika aku membaca sebuah buku.

Aku menikmati saat aku merenung sekali dua.

Aku,

aku juga  menikmati kala aku memikirkanmu,

membayangkanmu,

mengharapkanmu,

dalam sendiriku.

Kamu apa kabar?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Hidup Suster!

January 6th, 2010

nurse

Setelah Suster Ngesot di tahun 2007, sekarang lagi diputar Suster Keramas di bioskop-bioskop Indonesia. Yang pertama masuk kategori film horor murni, yang kedua masuk kategori film horor plus (horor plus bokep! whew!).

Saya belum (dan tidak tertarik) menonton kedua film tersebut, namun saya sudah melihat trailer-nya dan juga membaca beberapa ulasan tentangnya. Tidak, saya tidak ingin mereview lagi tentang kedua film ini. Hanya saja, saya gatal dengan digunakannya profesi ini dalam kedua kategori film tersebut. Saya bukan suster, namun saya pembela profesi ini!

Setidaknya ada 3 profesi suster yang saya kenal: (1) suster yang bekerja di rumah sakit, (2) suster yang bekerja di rumah, baik itu membantu mengasuh adik bayi/batita, maupun mengasuh kakek/nenek yang sudah tua atau sakit-sakitan, dan (3) suster yang mengabdikan dirinya untuk melayani Tuhan di biara atau di masyarakat, nama lainnya adalah biarawati.

Suster di rumah sakit

Profesi dokter memang bagus, mereka bertugas mengobati orang-orang sakit. Namun buat saya, profesi yang mulia adalah sang suster. Merekalah yang dengan sabarnya merawat pasien. Tidak hanya sekedar mengecek suhu tubuh atau memberikan makanan dan obat, mereka jugalah yang memandikan sang pasien, menggantikan pakaian, membersihkan tubuh dari luka, muntah atau darah, bahkan ketika anggota keluarganya tidak bisa melakukannya. Saya teringat akan wajah-wajah tulus suster-suster yang membantu ibu, kakek, atau keluarga saya lainnya ketika mereka berada di rumah sakit.

Suster di rumah

Kedua orang tua saya bekerja ketika saya masih kecil. Oleh karenanya, mereka mengambil seorang suster untuk mengasuh saya di kala mereka bekerja. Saya sayang sekali dengan suster saya, demikian juga dengannya. Tak heran jika kala itu saya memanggilnya “mama-ute” (baca:  “mama-suster”). Ketika saya berusia 4 tahun, orang tua saya merasa saya sudah cukup usia untuk tidak diasuh oleh suster lagi (atau mungkin juga karena faktor biaya kali yaa.. ;) ). Namun karena keterikatan yang cukup tinggi, baik saya maupun sang suster menangis tidak rela ketika hendak dipisahkan. Tidak berhenti sampai di situ. Saya pun sakit selama seminggu akibat kepergian suster saya.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, datang lagi beberapa suster yang dipanggil ke rumah untuk mengasuh kakek saya (almarhum) yang dulu sakit-sakitan. Beberapa suster yang saya maksud di sini bukan langsung beberapa orang untuk mengurus dalam satu waktu, tapi bergantian satu demi satu karena tidak tahan dengan perlakuan kakek saya. Kakek saya waktu itu sakit stroke. Stroke tersebut menyerang saraf bicaranya, sehingga susah dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk para suster. Ketika tidak dimengerti apa keinginannya, kakek saya menjadi keras sehingga wajar jika para suster itu kewalahan. Tapi usaha mereka untuk memahami kakek saya dan juga kasih sayang mereka ke kakek saya dapat kami rasakan. Mereka pernah menjadi bagian dari keluarga kami.

Suster yang mengabdi pada Tuhan dan sesama

Saya tidak akan bercerita banyak tentang hal ini. Saya memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan profesi ini. Tapi ada sosok yang saya sangat kagumi: Suster Teresa. Kamu pasti tahu betapa mulianya beliau dalam aksi kemanusiaan, bukan? :)

Tidakkah ketiga profesi tersebut sungguh sangat mulia? Saya tidak rela dan tidak habis pikir kenapa ada yang menggunakan profesi ini untuk film-film tersebut sehingga berdampak akan muncul label yang tidak baik bagi profesi tersebut. Yuk, lebih kreatif dalam membuat karya kreatif! Sound of Music atau Sister Act misalnya. Jelas mutunya, kan?

Stop penggunaan suster dalam film horor (apalagi film bokep)!!

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

jelang tahun baru

January 6th, 2010

New_Year

Tiga hari yang lalu, satu hari setelah tahun baru, seorang sahabat saya bertambah usianya. Saya pun mengirimkan pesan pendek padanya, sebuah ucapan selamat beserta sebuah pertanyaan apakah yang ia ingin saya doakan untuk usianya yang baru itu. Saya membayangkan sebuah balasan pesan yang berisi permintaan doa supaya di usia yang baru dia bisa semakin sukses dalam karirnya, mendapat gaji dobel, atau mungkin doa supaya dia bisa cepat menikah (meski itu salah alamat, karena saya pun tidak cepat-cepat dalam menikah :) ). Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya: “Tolong doakan bapak saya ya, supaya Tuhan memberikannya kesembuhan”

Harapan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Dua hari yang lalu, saya bertemu seorang teman yang berasal dari Inggris yang telah menetap di Indonesia. Dia menghabiskan pergantian tahun di Pantai Pangandaran. Oleh karena sedih melihat begitu banyak sampah bertebaran di pantai, resolusi tahun barunya sederhana saja: di tempat-tempat wisata yang akan dia kunjungi, dia akan mengambil 10 sampah yang dibuang sembarangan oleh orang lain (biasanya ini perbuatan orang Indonesia! Fiuh!) untuk dia buang ke tempat sampah. Meski terlihat sederhana, dia melakukannya untuk membantu menjaga kelestarian alam.

Resolusi itu untuk pelestarian alam, bukan untuk dirinya.

Saya juga memiliki resolusi tahun baru. Bukan sebuah resolusi baru sebenarnya. Ketika resolusi yang lama belum kita jalankan dengan baik, rasanya tidak bijak jika membuat begitu banyak resolusi yang baru, begitu pikir saya. Oleh karenanya, saya akan meneruskan sebuah resolusi yang saya namakan “a better me-project” yang telah saya mulai beberapa bulan di tahun kemarin:

(1) Body: makan dengan teratur dan mengkonsumsi vitamin, berolahraga teratur 1x setiap minggu;

(2) Soul: memiliki waktu-waktu khusus dengan Tuhan setiap hari untuk saat teduh dan berefleksi, jalan-jalan ke tempat yang baru (dan seru!) 1 kali setiap 2 bulan;

(3) Mind: membaca sampai habis 1 buku setiap minggu, menulis 1 artikel setiap minggu (ups! ketawan deh kalo suka alpa! hehe);

(4) Smile: membuat Tuhan tersenyum dengan lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh, membuat orang lain tersenyum dengan lebih banyak mendengarkan dan sedikit berbicara (apalagi mengeluarkan kata-kata pedas! duh, virtri!)

Membandingkan resolusi saya dengan harapan dan resolusi kedua teman saya di atas membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, saya masih belum fokus, keinginan saya masih banyak. Kedua teman saya itu memiliki hanya satu resolusi, sedangkan saya memiliki beberapa. Salahkah itu? Tentu tidak! Bermimpilah sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya, dan tak lupa juga untuk mewujudkannya, itu yang saya pegang. Namun keahlian untuk memfokuskan diri dan belajar tentang prioritas mungkin harus saya kembangkan mulai saat ini.

Kedua, ini yang lebih penting: mereka mengajarkan saya untuk lebih memperhatikan orang lain, bahkan alam, dibanding dengan diri mereka sendiri. Teringat oleh saya sebuah konsep bahagia yang pernah saya dapatkan ketika kuliah “J-O-Y: Jesus-Others-You”. Tuhan dan alam ciptaannyalah yang utama, kemudian orang lain, dan terakhir barulah kita sendiri.

Ketika kita tidak mengutamakan diri sendiri, kita telah berbuat sesuatu untuk diri kita; menjadikannya manusia yang selangkah lebih baik.

Selamat tahun baru!!! Apa resolusimu di tahun yang baru ini?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Cicak, Buaya dan Tikus di Taman Belajar

November 8th, 2009

cicak buayaKemarin sore, saya ke rumah sahabat saya. Sahabat saya memiliki taman belajar gratis di tiap sabtu sore bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Sekitar duapuluhan hingga tigapuluhan anak dengan semangat tinggi datang untuk belajar di sana.

Keluwesan sahabat saya dalam bertutur, semangatnya untuk berbagi ilmu, dan kecintaannya kepada anak-anak, telah berhasil menawan hati anak-anak yang berusia lima hingga tiga belas tahun itu. Inti pelajaran yang diberikan adalah bahasa inggris, namun kemasannya sangat beragam. Mulai dari tanya jawab, bertutur, bercakap, bercerita dongeng, bernyanyi, bermain, sampai dengan diskusi.

Nah, kemarin itu sahabat saya cukup mengagetkan saya dengan mengangkat topik diskusi Cicak-Buaya di kelasnya. Iya, sahabat saya itu mengajak anak-anak didiknya untuk berdiskusi mengenai topik hangat yang sedang terjadi di tanah air ini. Rupanya anak-anak itu cukup merasa dekat dengan isu tersebut, namun tidak mengetahui apa yang terjadi. Ya, tentu saja mereka mengetahui isu itu dari bombardir siaran televisi belakangan ini.

Alhasil, jadilah kemarin itu terjadi sebuah diskusi politik yang sederhana. Sahabat saya menjelaskan tentang apa itu lembaga KPK dan perannya, tugas polisi, pengertian korupsi dan koruptor, hingga korelasinya dengan cicak dan buaya (dan juga tikus). Untuk memudahkannya dalam menjelaskan, beberapa anak diminta ke depan untuk berpura-pura menjadi cicak, buaya, dan tikus. Tak lupa, sahabat saya juga menjelaskan tentang istilah-istilah wewenang, menyadap, dan menyogok, lengkap dengan kosa kata bahasa inggrisnya dan moral dari kejadian ini.

Hal yang menarik buat saya adalah ternyata sebagian besar anak-anak itu cukup antusias dalam berdiskusi tentang hal ini. Kedekatan mereka dengan media televisi rupanya membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Informasi yang sepotong-sepotong mereka terima bisa jadi akan menyesatkan cara berpikir mereka. Misalnya, ketika sahabat saya itu bertanya kepada mereka,

“Ayo, siapa yang tahu tugasnya polisi itu apa???”

dan mereka menjawab spontan,

“Menangkap KPK!!!”

(glek, saya tersedak dan tertawa-tawa pada saat ini terjadi)

Adalah kita, saya dan anda, yang dapat berbuat sesuatu kepada adik-adik dan anak-anak di sekitar kita. Bahwa bekal untuk menyongsong masa depan tidak cukup dengan matematika, ilmu alam, bahasa, agama. Bahwa pendidikan politik sejak dini juga akan membantu menciptakan generasi kritis dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

terima kasih buat sahabat saya, si senyumpagi, yang tak henti menginspirasi saya dengan taman belajarnya

Author: virtri Categories: politikana Tags:

Tips Sehat A la Virtri

October 31st, 2009

“HAH?? Sudah habis lagi, Mbak? Padahal cuma minum sendiri ya? Itu pun cuma malam-malam atau pagi-pagi benar!”, demikian komentar mas-mas di tempat kost saya, ketika saya beli 1 galon air mineral barusan.

Menurutnya siklus saya membeli 1 galon air mineral, menghabiskannya (yang hanya di malam dan pagi hari karena pagi sampai malamnya saya pergi bekerja), kemudian membeli lagi, termasuk cukup cepat dibandingkan dengan ke-35 teman-teman kost saya yang lain, termasuk yang tinggal berdua dengan suami/istri mereka.

“Kan sehat, mas minum banyak air putih!” celetuk saya sekenanya.

“Betul juga sih, mbak!”

———

Setelah masuk kamar, saya kemudian berpikir, mungkin benar juga bahwa saya cukup sehat selama ini berkat mengkonsumsi air putih banyak-banyak. Sejauh ini saya belum pernah masuk rumah sakit. Sepertinya dalam daftar catatan penyakit saya selama hidup ini, belum pernah tercatat kasus yang terbilang parah. Sebut saja pilek, batuk, pusing (biasanya karena kerjaan), masuk angin (obatnya cuma minyak kayu putih saja, dijamin langsung sembuh!), jerawatan (terhitung sakit ga?), korengan (waktu kecil sering banget! hihihi),  sakit perut jika sedang haid (ugh, saya kategorikan ini sebagai sakit yang cukup parah), dan yang terparah adalah cacar air (ini pun sembuh hanya dalam hitungan hari). Jadi, boleh dong saya berkata bahwa saya cukup sehat dan saya akan membagi beberapa tips untuk hidup sehat yang tiba-tiba terlintas di benak saya.

1. Konsumsi air putih banyak-banyak

Selain siklus cepat dalam menghabiskan galon di kost, di kantor, ketika saya bekerja, saya pun menghabiskan lebih dari 1 teko air setiap harinya (di luar jam makan siang). Di mobil saya pun hampir selalu tersedia air mineral ukuran kecil yang bisa dihabiskan dan diganti lagi. Selain rasanya yang enak (buat saya, tawar itu terkadang nikmat), khasiat air putih sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Beberapa saudara saya mengkonsumsi air putih sebagai terapi penyembuhan sakit-sakit mereka. Oh iya, selain sehat, air putih juga berkhasiat untuk membuat orang semakin cantik atau ganteng. Maksudnya, membuat kulit lebih sehat.

2. Olah raga

Huahaha, semua orang juga tau kalo olah raga membuat orang menjadi sehat. Tips yang basi dan saya tidak kompeten untuk menulis masalah ini (karena saya termasuk orang yang jarang olah raga, namun sedang mencanangkan diri untuk setidaknya berolah raga 1 kali dalam seminggu). Tips saya dalam hal ini, sederhana saja: cari olah raga yang kamu sukai, dan lakukan! Saya sangat menyukai berenang, buat saya itu olah raga terbaik yang membuat kita tidak berkeringat dan membuat kita senang. Kamu suka apa?

3. Tidur

Tidur itu nikmat banget! Semua lelah akan pulih ketika kita bangun tidur. Ada jam-jam tertentu, jika saya tidak salah di waktu dini hari, ketika hormon-hormon anti-stres akan diproduksi jika kita tidur di jam tersebut. Jadi, jangan sering-sering begadang ya!

4. Mencintai & Dicintai

Ketika mencintai seseorang dan dicintai seseorang, semangat akan muncul dan tubuh dengan sendirinya menjadi lebih sehat. Kita pun cenderung menjaga kesehatan demi bisa melakukan aktivitas bersama orang-orang yang kita cintai.

5. Bahagia

Ada frasa yang cukup populer ‘men sana in corpore sano‘ (bener ga ya ejaannya?), artinya di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Itu benar, tapi menurut saya yang lebih tepat adalah “jiwa yang bahagia membuat tubuh menjadi sehat”. Adakasus-kasus yang menceritakan bahwa perasaan bahagia akan mempercepat proses penyembuhan orang yang sakit, dan ada juga kasus ketika orang yang fisiknya sehat bisa sakit karena tekanan dalam jiwanya.

Ah, dunia dan alam terlalu indah, hidup dan waktu terlalu singkat, sayang jika tidak kita nikmati. Saya yakin, perasaan bahagia akan membuat hidup menjadi lebih sehat.

*karena tulisan ini cuma bersifat ‘tiba-tiba terlintas di benak saya’ dengan kata lain ‘wangsit’ semata, jadi kamu boleh dipercaya, boleh tidak! huehehehe*

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Body, Mind, Heart

October 18th, 2009

mind heart body

 

 

Belakangan ini saya lagi dihinggapi rasa takut kehilangan. Bukan, bukan takut kehilangan dompet atau telepon seluler, karena dua benda ini termasuk hal yang biasa hilang bagi saya. Alasannya bukan karena saya kaya, tapi karena saya super teledor! Duh! :(

Bukan juga takut kehilangan pacar, karena kalau pacar sampai hilang, ya di telepon saja, pasti ketemu! Kan kita sama-sama punya telepon seluler. Eh,tapi kalau telepon seluler saya lagi hilang? (Yaaa, mari kita gunakan peluang ini untuk cari pacar baru! hihihi)

Saya kemudian mencoba membuat daftar tentang hal apa saja dalam diri saya yang akan membuat saya takut jika harus kehilangan. Bagi saya setiap manusia terbangun dari susunan fisik, pikiran dan hati. Bahasa ngetopnya Body, Mind and Heart.

Body

 Saya sempat berpikir, apakah yang akan terjadi jika saya kehilangan anggota tubuh saya?

Misalnya kedua mata saya, hingga saya tidak bisa melihat indahnya alam dan indahnya senyum yang terlukis di wajah manusia-manusia di sekitar saya.

Atau telinga saya, sehingga saya tidak bisa mendengar alunan musik jazz yang biasanya saya nikmati di kala saya bekerja, atau deru suara ombak yang membuat hati tergetar ketika saya menikmatinya di pinggir pantai, atau juga suara merdumu, gelak tawa canda, dan senggukan tangis kita.

Atau lidah saya, sehingga saya tidak bisa lagi mengecap nikmatnya nasi putih yang masih mengepulkan panas dengan kombinasi tempe goreng, pete bakar,  terong rebus dan sambel  terasi pedas (slurp, saya jadi meneteskan air liur ini, hehehe), juga aneka makanan minuman lain yang luar biasa sedap itu.

Atau tangan dan kaki saya, sehingga saya tidak lagi dapat beraktivitas dengan wajar, saya tidak lagi dengan mudahnya berpetualangan menjelajahi pelosok nusantara dan meraih mimpi saya mengarungi dunia.

Ah, tentunya sangat tidak mudah jika saya kehilangan satu atau beberapa bagian anggota tubuh saya. Namun, saya teringat akan orang-orang hebat yang tetap bisa menjalani hidup mereka dengan segala kekurangannya dan hidup mereka begitu luar biasa, begitu bermakna, lebih dari mereka yang sempurna secara fisik.

Dan saya berpikir, saya pasti akan sedih tak terhingga jika harus kehilangan anggota tubuh saya, tapi saya pikir, saya akan bisa menjalaninya jika hal tersebut terjadi pada saya (meski saya tidak mengharapkannya).

 

Mind

Sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri berlebih, saya cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa saya merasa diri saya cukup cerdas (*gubrak! narsis to the max mode on, hehehe*). Cerdas yang dimaksud di sini adalah kemampuan berpikir dan menalar (jadi, banyak toh yang termasuk orang cerdas, termasuk kamu juga :) ).

Saya tidak pernah terganggu dengan penampilan fisik saya, saya tidak pernah ambil pusing dengan standar kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. Saya tidak pernah iri dengan mereka yang dikatakan cantik dan seksi. Saat ini kulit saya sawo gosong, rambut saya pendek, wajah saya kusam berjerawat, badan saya kurus tidak berbentuk, tapi saya tetap merasa saya cantik. Saya jarang sekali terganggu dengan apa kata orang jika terkait dengan masalah fisik.

Namun jika terkait dengan masalah kecerdasan, jika saya dikatakan bodoh, lambat, kurang berpengetahuan, seringkali saya terusik, tidak gampang terima. Ketika melihat orang-orang di sekitar saya yang cerdas dan tokoh-tokoh  yang pandai, saya kagum dan iri, ingin seperti mereka dan kamu. Iya, kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Meski tidak secerdas mereka dan kamu, saya pikir saya masih masuk dalam kategori cukup cerdas. Saya termasuk pembelajar yang cepat. Saya juga cukup mampu mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di sekitar saya dan memiliki pendapat jika ditanya. Selain itu, saya juga cukup punya sedikit keahlian saya untuk menalar hal-hal yang cukup rumit, memahami hal kompleks dan menganalisanya (kok jadi mengiklankan diri begini, maaph:p)

Akhir-akhir ini, karena tekanan pekerjaan yang sedang tinggi, saya merasa otak saya melemah, tidak bekerja semaksimal biasanya. Dan saya mulai merasa kecerdasan saya menurun :( Saat-saat kecerdasan menurun seperti ini membuat saya sebal. Lalu saya berpikir bagaimana jika saya benar-benar kehilangan kemampuan berpikir saya, kecerdasan saya seutuh-utuhnya? Saya kehilangan kemampuan untuk mencerna buku yang saya baca, saya tidak bisa menuliskan apa yang ada di pikiran saya, saya tidak bisa memberikan opini tentang suatu hal.

Fiuh, ketika saya kehilangan kecerdasan, hal itu pasti akan membuat saya frustasi, rasa percaya diri saya akan hilang terbang seketika. Tapi setelah saya resapi dalam-dalam, mungkin saya akan tetap baik-baik saja juga. Kepercayaan diri saya luntur, namun saya masih akan ada. Keluarga dan sahabat-sahabat saya pasti akan selalu setia hadir bagi saya dan mencintai saya dengan apa adanya saya.

(Duh, saya kok tiba-tiba jadi merasa bersalah jika selama ini saya kerap bercanda, mengganggu teman-teman saya yang ‘tidak cepat’ bereaksi jika diajak bicara, tidak sabaran dengan mereka yang tidak bisa mengeluarkan pendapatnya, dan kadang menganggap rendah orang-orang yang yang selama ini dikatakan memiliki tingkat intelejensi rendah menurut standar IQ masyarakat kita. Ah, maafkan saya yaa..)

Heart

Jika kehilangan anggota tubuh dan kecersasan membuat saya sedih tapi saya yakin masih bisa mengatasinya, ada hal penting yang saya rasa saya tidak sanggup jika harus kehilangannya: hati.

Iya, bagi saya, inilah inti dari hidup manusia. Hatilah yang membuat saya amat sangat takut jika kehilangannya.

Kehilangan hati berarti kehilangan iman. Saya akan kehilangan kepercayaan saya kepada Tuhan. Hatilah yang selama ini membuat saya percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, yang tidak kasat mata. Hati memampukan saya merasakan keberadaan kasih Tuhan dalam dunia.  Hati membuat saya berharap akan kehidupan setelah dunia ini tidak ada. Jika hati hilang, yang tersisa adalah kekosongan jiwa dan matinya pengharapan.

Kehilangan hati berarti kehilangan seluruh perasaan dalam diri. Saya tidak bisa membayangkan jika saya kehilangan hati. Saya tidak lagi bisa merasa bahagia, sedih, bangga, cemas, kagum, khawatir, senang, semangat, puas, kecewa, iba, bersyukur dan seluruh warna perasaan yang ada di dalamnya. Hampa.

Kehilangan hati berarti kehilangan welas asih terhadap sesama; hidup yang menjadi tidak bermakna, ketidak pekaan terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, ketidakpedulian terhadap keluarga, sahabat, teman, orang lain, dunia, dan alam.

Kehilangan hati berarti kehilangan cinta.

Kehilangan hati berarti kehilangan hidup.

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags: