Archive for » August, 2010 «

Dua Kursi dan Satu Meja

Malam ini aku butuh dua kursi dan satu meja, untuk aku letakkan di sudut kamarku. Iya, jangan berada di tengah, bantu aku untuk meletakkannya di dekat jendela, bersisian dengan balkon yang menghadap ke luar. Balkon tempat kita bisa menatap langit bertabur bintang dan sepotong bulan bulat penuh. Aku ingin kita bisa merasakan udara segar malam yang menyusup ke dalam kamar, membiarkan angin sesekali menyapa kita yang duduk di atas dua kursi dan ditemani satu meja itu. Akan kubuatkan dua cangkir kopi hitam untuk kuletakkan di atas meja, satu untukmu dan satu untukku.

Beberapa kawanku pernah tergelak mendengar keinginanku meletakkan dua kursi dan satu meja di dalam kamar. Apalagi ketika mendengar bahwa dua kursi dan satu meja yang kumaksud adalah yang terbuat dari kayu atau bambu yang terjalin anyaman lipat, bukan sofa empuk. “Untuk apa dua kursi dan satu meja berada di dalam kamar?” tanya mereka.

Untuk apa? Ah, aku membutuhkannya di saat-saat seperti sekarang. Ketika aku ingin bercakap mengenai rasa, karsa, karya. Bercakap tentang bahagia, sedih, lega dan penat. Tentang keluarga, sahabat, dan juga kawan. Pun mereka yang baru kutemui. Meski tidak kukenal namun raut wajah mereka melekat dalam ingatan. Mereka yang berada di sekitar kita. Ada yang berpeluh karena kerja keras, dan membuatku belajar tentang arti semangat. Ada yang memancarkan guratan duka yang menyentuh hati, dan membuatku ingin menggantinya dengan lukisan senyum. Ada yang tak henti menabur kasih dan menginspirasi untuk berbuat lebih hari demi hari, dan mengajarku arti berbagi.

Aku juga ingin mempercakapkan mimpi-mimpi. Mimpiku, mimpimu, mimpi kita. Tentang esok dan tentang masa depan. Tentang tujuan dan kekhawatiran yang sesekali menyergap. Tentang cita-cita dan semangat untuk meraihnya. Bercakap dan bercakap. Tentang manusia, lingkungan, dan alam. Tentang Tuhan, tuhan dan setan. Tentang imajinasi dan tentang realitas. Bercakap dan bercakap dan bercakap. Aku dan kamu bergantian. Tentang hidup dan setiap titik makna di dalamnya. Bercakap dan bercakap dan bercakap dan bercakap. Hingga tidak ada lagi yang bisa dipercakapkan karena hari benar-benar larut malam dan subuh telah menjelang. Hingga letih. Hingga hanya bisa diam. Hingga hanya terdengar bunyi kita menyeruput kopi bergantian.

Dua kursi dan satu meja. Untuk menikmati percakapan dan untuk menikmati diam.

Aduhai Shanghai!

“Carilah ilmu sampai ke negeri Cina!”

Kira-kira sebulan lalu, saya memang mencari ilmu sampai ke negeri Cina. Maksudnya, saya dikirim kantor untuk ikut salah satu training yang semoga berguna untuk pekerjaan saya. Hehe. Training tersebut memakan waktu 4 hari dan total hari kami di sana 5-6hari. Jika hanya dihabiskan untuk training di hotel rasanya sayang, bukan? Banyak hal-hal yang aduhai indah dan mengasyikkan di Shanghai.

Saya dan sahabat saya, Natalia, pun berhasil memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya untuk jalan-jalan melihat cantiknya kota “atas laut” itu (shang: atas, hai: laut). Sewaktu kami ke sana, sedang berlangsung Shanghai Expo. Seru deh! Tapi yang jauh lebih seru adalah pengalaman kami bersentuhan dengan kota ini, orang-orangnya, dan tempat-tempat cantik di dalamnya.

Ya, ini adalah pengalaman kami ke Shanghai. Tanpa ‘lonely planet‘ di saku, namun berbekalkan info seadanya dari internet dan buku poket ‘Latihan Percakapan Harian Mandarin‘, kami pun melangkah dengan percaya diri. Hasilnya? Tentu saja kami terbentur sana-sini! Hehehe. Nah, berikut saya bagi-bagi sedikit tips jika kamu hendak berpergian ke Shanghai.

more »

Category: jalan-jalan  4 Comments

Candu Topeng Kaca

Saya seorang pencandu. Saya kecanduan membaca komik Topeng Kaca (Garasu No Kamen). Saya membaca puluhan atau mungkin ratusan serial komik jepang atau yang disebut juga manga. Tapi serial yang satu ini mampu menyihir saya secara luar biasa. Maksudnya luar biasa adalah, ya itu, saya kecanduan. Saya tidak bosan-bosan untuk membacanya berulang kali.

Topeng Kaca berkisah tentang kecintaan seorang gadis kecil terhadap akting dan dunia teater. Namanya Maya Kitajima. Dia seorang yang biasa-biasa saja. Cenderung diremehkan banyak orang bahkan. Namun bakat akting Maya ditemukan dan diasah oleh mantan aktris besar Mayuko Tsukikage, seseorang yang memiliki hak pementasan karya agung yang disebut Bidadari Merah. Tersebutlah pula Ayumi Himekawa yang menjadi saingannya di sepangjang karir aktingnya. Ayumi terlahir dari keluarga aktor/aktris terkenal, cantiknya luar biasa dan kemampuan aktingnya juga hebat. Maya dan Ayumi kemudian memperebutkan peran sebagai Bidadari Merah. Perjalanan mereka dari akting yang satu ke akting yang lain apik di jalin oleh pengarangnya, Suzue Miuchi. Tak lupa, ada juga bumbu kisah percintaan Maya dan Masumi Hayami.

more »

Category: baca-baca  10 Comments

Setelah bluvi pergi

Bluvi sudah berada di Jogja sejak seminggu yang lalu. Dia sudah tinggal dengan tentram di sana bersama keluarga saya tercinta. Sekarang dia sudah memiliki partner-partner baru.

Saya selama ini telah sedemikian terikat dengannya. Dia yang setia mengantar saya ke manapun saya ingin pergi; dari satu tempat ke tempat lainnya; dari satu kota ke kota lainnya; satu provinsi ke provinsi lainnya: jawa timur, jawa tengah, jawa barat, jakarta, dan jogja; mengarungi perkotaan, pedesaan, perkampungan, pegunungan, juga pantai. Iya, dia itu keren banget! Tahan banting! Sama seperti si Eric & Keea. Hehehe, sepertinya mereka yang di sekeliling saya harus tahan banting :)

more »