Archive

Archive for February, 2010

ketika aku menyeruput kopi, tadi

February 27th, 2010

Srupuuttt..

Ah, sedapnya kopi hitam ini! Menyeruputnya sambil menghirup wangi aromanya adalah cara terbaik menikmatinya. Sudah cangkir kedua. Mataku agak lelah rupanya. Tiga jam terus menerus memandang layar laptop memang tidak baik. Aku melihat pemandangan dari balik jendela di belakangku. Aku duduk di pojok ruangan di sebuah kedai kopi, dekat dengan pintu masuk dan jendela. Tapi karena kedai kopi itu terbilang sepi, dekat dengan pintu masukpun tidak mengapa, tidak mengganggu konsentrasiku dalam bekerja.

Srupuuttt..

Kali ini aku memandang ke sekelilingku, ke dalam ruangan di kedai kopi itu. Aku baru sadar, ruangan ini memiliki interior menarik rupanya. Warna coklat mendominasi ruangan ini. Dekorasinya sederhana, tapi cita rasanya pas. Gulungan kuno yang berisi perjalanan kopi di Indonesia misalnya. Kemudian ada juga lukisan budaya tradisional yang dibingkai pigura bambu, dan oh… mataku menangkap bayangan sosok seorang laki-laki! Dia sedang duduk di meja seberang sana. Aiihh, dia cukup tampan!!!

Srupuuttt..

Ketertarikanku jelas berganti! Interior ruangan ini tentu saja kalah menarik dibandingkan dengan sosok laki-laki yang kulihat saat ini. Sorot kedua matanya sangat sesuai dengan bingkai coklat kacamata yang ia kenakan. Hidungnya yang cukup besar memang agak kurang proporsional dengan wajahnya, tapi itu menjadi keunikan tersendiri buatku. Kemudian potongan rambutnya, rahangnya, dagunya, dan bekas luka yang tergores di alisnya. Ohh…. Tuhan pasti sedang memiliki mood yang sangat baik sewaktu menciptakan dirinya.

Srupuuttt..

Ia sedang membaca buku. Samar-samar aku membaca judul buku yang ia baca, “Arok Dedes”. Ah, ia juga suka Pramoedya! Klop kita. Aduh, ia memandangku! Ia kemudian tersenyum, aku tersenyum balik, sambil kikuk. Lalu aku segera saja pura-pura memandang layar laptopku. Fiuhh.. apakah ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya ya? Semoga saja tidak!

Srupuuttt..

Kembali aku melirik ke arahnya, ingin mencuri pandang ke wajah tampan itu lagi. Tiba-tiba aku teringat akan seorang laki-laki, seorang teman dari masa lalu. Iya, wajah tampan itu meningatkanku akan temanku di waktu SMP. Mirip sekali. Tentu saja dahulu temanku itu tidak setampan ini. Tapi manusia kan berubah. Dulu dia manis, sekarang dia tampan! Ketampanannya pasti berkembang seiring dengan usia. Dan goresan luka itu.. iya, itu pasti dia! Temanku itu juga memiliki goresan luka di alisnya dari sejak pertama kali kukenal dia. Namanya…. Pan..Pan… Panji atau Pandu ya? Aku lupa! Aku hanya ingat aku dan teman-teman memanggilnya hanya dengan sebutan “Pan!”. Si juara kelas dari kelas sebelah yang juga pandai bermain basket.

Srupuuttt..

Kyaaaaa… aku tertangkap lagi olehnya jika aku sedang memperhatikannya. Aku malu! Kurasakan pipiku bersemu merah. Eh, tapi mengapa aku harus malu? Jangan-jangan dia benar teman SMPku, dan dia juga sedang mengingat-ingat siapa diriku. Bukankah jika itu benar, itu menjadi alasan yang tepat untuk kita bercengkrama. Benar. Mengapa aku tidak mendatanginya saja dan menanyakan kabarnya. Kemudian kita bisa bercakap-cakap dan mengenang masa-masa SMP, sekedar reuni dan menanyakan kabar teman-teman lainnya. Lalu pembicaraan bisa beralih ke buku yang ia baca, kemudian kita bisa membahas buku-buku Pram lainnya. Dan oh, siapa tahu ia juga masih single, belum menikah, masih pintar dan baik seperti sedia kala. Jadi kan kita….. Eh, bicara apa sih aku! Jadi ngelantur. Itu sih urusan lain, bonus namanya, hihihi.

Srupuuttt..

Namun jika dia bukan teman SMPku bagaimana? Bukan si Panji atau Pandu yang itu? Ah, tak mengapa, yang penting aku sudah menghampirinya dan kita bisa mulai bercengkrama. Tapi mengapa harus aku yang memulai? Harusnya dia yang mendatangiku terlebih dulu, dia kan laki-laki. Hmmmmh… kenapa aku jadi berpikir demikian ya. Aku toh tidak bermaksud menyatakan cinta, meski di jaman sekarang, mau perempuan atau laki-laki yang menyatakan cinta pun sudah bukan soal. Saat ini, aku kan hanya ingin bertanya, apakah dia temanku atau bukan, itu saja. Lalu bercakap-cakap, lalu bersenda gurau, selesai. Kesempatan seperti ini tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Srupuutt..

Aku menghela nafas cukup panjang, bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya. Jantungku sedikit berdegup ketika aku berdiri. Semakin aku mendekatinya, irama degup jantung ini semakin keras dan tak menentu. Aku sudah berada sekitar dua langkah di hadapannya dan mulutku siap membuka. Ketika baru empat kata aku lontarkan “Hai, mau tanya nih….”, tiba-tiba kalimatku terputus dengan suara anak perempuan kecil berusia sekitar 2 tahun, yang lari dari arah belakangku dan berteriak lantang, “Papaaaaaa…. aku dibeyiin boneca cama mama, cantiiiikk deehh”. Tepat di belakangnya, tersebutlah sosok perempuan anggun yang berwajah mirip dengan si anak perempuan itu.

Glek!

Aku salah tingkah. Mereka memandangku. Dan aku terpaksa melanjutkan kalimatku yang terputus,

“Hai, mau tanya nih… kamar mandi di kedai kopi ini di sebelah mana ya?”

-hasil sebuah lamunan; di kedai kopi; sore tadi-

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

jalan-jalan

February 27th, 2010

kangen jalan-jalan.

untuk menghirup segarnya udara, memandang luasnya langit, menjejak indahnya alam.

kangen jalan-jalan.

untuk bertemu dengan budaya baru, melakukan hal-hal baru, berkenalan dengan teman-teman baru.

kangen jalan-jalan.

ke tempat yang belum pernah dikunjungi, untuk sejenak berhenti dari rutinitas kerja.

ke negeri dibalik gedung-gedung tinggi, untuk seketika meninggalkan hiruk pikuk kota.

kangen jalan-jalan.

denganmu.

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

pilih nyaman atau tampil cantik?

February 21st, 2010

Kemarin waktu saya ulang tahun, ketika teman-teman di kantor saya menyalami saya, ada salah seorang teman yang ketika menyalami dan mengecup kedua pipi saya berkata demikian, “Selamat ulang tahun yaaa….” kemudian ucapannya terputus sejenak. Dia mundur satu langkah, memandang saya dari atas kepala sampai ke bawah, dari rambut pendek saya yang tergerai bebas, wajah saya yang polos tanpa polesan make-up, kemeja cantik (menurut saya sih cantik), celana panjang saya, hingga ke sepatu teplek yang saya kenakan. Lalu dia meneruskan ucapannya, “…sepertinya kita harus membuat Program Putri untukmu!”

*gubrak!*

Dan seorang teman yang lain menyahut, “Coba aja kalo bisa!”

*glek!*

Di hari yang lain, pernah saya memuji (dengan tulus) penampilan seorang teman kantor saya yang lain lagi. Menurut saya cara berpakaiannya menarik. Baju-baju yang ia gunakan sampai dengan aksesoris yang melekat sungguh enak untuk dilihat. Secara spontan saya mengatakan padanya “Ah, kamu modis sekali! Kamu cocok sekali dengan pakaian-pakaian yang tiap hari kamu kenakan!”. Saya tidak sadar pada saat itu suasana kantor sedang hening, sehingga suara saya cukup terdengar ke berbagai sudut. Setelah saya menyelesaikan kalimat saya, tersebutlah suara teman saya yang lain, kali ini seorang laki-laki, “Pakaian dia sih biasa aja! Loe itu loh yang ancur!”

*ketimpa tangga!*

Baiklah..baiklah..harus saya akui, saya memang tidak oke dalam urusan merias diri, baik itu merias wajah ataupun merias diri. Saya bukan seorangyang tomboy, saya bahagia mengetahui saya seorang perempuan. Hanya, saya perempuan yang sederhana dalam urusan rias-merias. Terlalu simpel, demikian ujar teman-teman saya.

Saya sebenarnya tahu bagaimana cara menggunakan make-up. Meski terbatas pada yang dasar-dasar saja: (1) membersihkan wajah, (2) memberikan pelembab wajah, (3) memberi bedak, (4) memfokuskan diri merias mata dengan segala warna yang diinginkan, (5) memberikan pewarna pipi, dan terakhir (6) mengoleskan bibir dengan pelembab, pewarna, dan pengkilat. Benar kan langkah-langkah saya? Saya diajari hal ini sekitar 11-12 tahun lalu oleh sahabat-sahabat saya di waktu SMU *bangga mode on karena masi ingat, yay!* Tapi saya tidak pernah mempraktekkannya. Alasannya satu: ribet! Saya tidak suka yang ribet-ribet.

Bukan berarti wajah saya benar-benar polos. Sehabis mandi, saya menggunakan pelembab wajah yang mengandung perlindungan terhadap sinar matahari untuk kesehatan kulit wajah saya dan menggunakan bedak (bayi) untuk membuatnya segar. Sudah, itu saja. Lumayan kan? :)

Mengenai merias diri dengan pakaian, saya mencoba sebisa mungkin agar orang lain tidak sakit mata jika melihat saya. Maksudnya, saya tidak mengenakan warna-warna yang terlalu menyolok mata atau berkilau gemerlap di matahari siang hari, atau menabrakkan pola kotak-kotak dengan bunga-bunga di tubuh saya. Untuk menggunakan rok, saya beberapa kali mencobanya kok. Setidaknya saya punya 2 potong rok di lemari saya. Jika saya tidak sangat jarang sekali mengenakannya, itu karena saya tidak nyaman. Saya tidak bisa bergerak bebas. Pernah ketika saya menggunakan rok dan saya sedang duduk, seorang teman saya dari kejauhan memberikan tanda-tanda dengan tangannya. Ternyata dia memberikan saya tanda untuk mendekatkan kedua kaki saya satu dengan lainnya supaya tidak ada jarak diantaranya. Ahh, repot sekali menggunakan rok.

Menggunakan sepatu berhak tinggi? Itu sama saja dengan menyiksa saya. Saya salut dengan mereka yang mampu menggunakannya. 3cm, 5cm, 7cm, bahkan 12cm! Ckckckck… Saya punya dua pasang sepatu dengan hak 1cm untuk saya gunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman-teman saya. Saya mampu bertahan sampai dengan 2jam. Tapi jika lebih dari itu? Keram kaki sudah menanti saya dan saya kapok dengannya.

Menjadi seorang saya artinya harus berani tampil berbeda dengan perempuan-perempuan di sekeliling saya, terutama teman-teman kantor saya. Tapi saya tidak masalah. Meski saya tidak tampil dengan riasan di wajah dan pakaian oke, saya rasa saya cukup rapi dan tidak bau, sehingga saya tidak akan mengganggu mata dan hidung orang-orang di sekeliling saya :)

Kenyamanan saya dan orang lain harus ditempatkan di atas kecantikan dan estetika, bukan?

Author: virtri Categories: ngerumpi Tags:

dua puluh delapan

February 16th, 2010

bertambah usia, akankah bertambah bijaksana?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

sendiriku

February 7th, 2010

Di cafe.

Di kedai kopi.

Aku lebih senang menyebutnya demikian.

Aku di kedai kopi, sendiri.

Iya, sendiri saja.

Kesepian?

Kesepian katamu?

Ah, tidak.

Aku jarang sekali merasa kesepian.

Keluarga dan sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka memang tidak selamanya bersamaku.

Tapi mereka ada.

Di dalam hati ini.

Tidak, aku tidak merasa kesepian kok.

Dunia ini terlalu ramai buatku.

Terkadang malah terlalu gaduh.

Bukan, bukan aku ingin mengeluh, tapi itu kenyataannya.

Semua orang ingin bersuara, bercerita, berteriak.

Ada beberapa yang memilih untuk diam.

Namun jarang yang memilih untuk mendengarkan.

Aku pun kerap lupa untuk itu.

Lalu, mengapa aku sendiri saja?

Kamu benar-benar ingin tahu?

Aku…

Aku…

Umm, aku suka.

Iya, itu saja.

Seringkali aku suka dengan sendiriku.

Aku tahu, hampir semua orang yang mengenalku berkata aku adalah manusia sosial.

Maksudnya, manusia yang senang bergaul, berkumpul dengan teman-teman.

Ah,  jangankan teman, aku juga senang bercakap-cakap dengan orang yang tidak kukenal.

Hahaha, betul, itu memang menyenangkan buatku, berkenalan dan mendapat teman baru

Bisa akrab dengan mereka dan belajar dari hidup mereka.

Tapi, aku juga suka dengan sendiriku.

Aku menikmatinya.

Aku menikmati sewaktu aku menyeruput secangkir kopi.

Aku menikmati ketika aku membaca sebuah buku.

Aku menikmati saat aku merenung sekali dua.

Aku,

aku juga  menikmati kala aku memikirkanmu,

membayangkanmu,

mengharapkanmu,

dalam sendiriku.

Kamu apa kabar?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags: