Archive for » 2010 «

Mbak Ica

Bagaimana caramu menghukum seorang anak kecil yang nakal? Mengurungnya di kamar kah? Memarahinya habis-habisan?

Sekitar 5 tahun yang lalu di Jogja, ketika kakak saya belum menikah dan saya baru awal-awal bekerja, terdapatlah adik-adik sepupu laki-laki yang tinggal bersama dengan kami di rumah. Mereka duduk di bangku SD dan sedang nakal-nakalnya. Mogok sekolah, main playstation di luar tanpa bilang-bilang, atau lainnya.

Kakak saya telaten sekali menghadapi mereka. Hukuman yang diberikan kakak saya tidak pernah hukuman fisik. Yang paling saya ingat adalah ketika kakak saya menghukum mereka dengan meminta mereka membuat puisi, pantun, atau prosa. Hihihi. Hukuman yang sulit buat mereka, tapi di satu sisi membuat mereka kreatif.

Jikapun akhirnya kita harus menghukum, ada pilihan-pilihan cerdas & kreatif untuk itu. Itu yang saya pelajari darinya.

Category: 123  4 Comments

Mbak Ni

 

Kata mama, ketika kakak saya masih kecil dan susah makan, cara mama membuat kakak saya mau makan adalah dengan bercerita, lalu berhenti di tengah-tengah. Kakak saya pun penasaran ingin dengar kelanjutannya. Dan mama akan melanjutkan ceritanya jika kakak saya mau makan dulu.

Mungkin karena rasa penasaranya yang tinggi itulah, kakak saya tumbuh menjadi pendengar yang baik. Sering kakak saya menanyakan bagaimana kelanjutan cerita saya yang sempat terpotong. Rasanya menyenangkan sekali mengetahui lawan bicara kita benar-benar memperhatikan apa yang kita ceritakan.

Kakak saya juga pintar menempatkan diri kapan harus mendengarkan. Baru-baru ini dia menegur saya ketika saya asik membaca buku di tengah-tengah sanak saudara yang sedang bercakap-cakap dalam pertemuan keluarga.

Darinya, saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan bijak mengetahui kapan waktunya mendengar.

Category: 123  2 Comments

Your Job Is NOT Your Career

Embrace your passion. Live a life of action. Build our nation.

Kata-kata ini sangat mengena sejak pertama kali saya mendengarnya dari salah satu stasiun radio dalam perjalanan saya menuju ke kantor di suatu pagi yang cerah. Selain enak didengar karena dirangkai dengan tiga rima yang sama, saya benar-benar menyukainya karena makna di dalamnya: bekerja sesuai kesukaan (passion sebenarnya lebih dari sekedar kesukaan, apa ya bahasa Indonesia yang tepat untuk itu?), bekerja dalam tindakan (tidak sekedar ‘ngomong doang’), dan pada akhirnya bekerja untuk memberi sesuatu yang bisa memajukan bangsa atau masyarakat. Bisa memberi makna pada orang lain.

Sejak pagi itu, saya pun semakin sering mendengarnya. Iya, jika salah satu radio favoritmu adalah Hard Rock FM dan kamu tinggal di Jakarta, maka kamu akan sering mendengar kata-kata atau slogan tersebut. Ini berasal dari Program CareerCoach yang dibawakan Rene Suhardono di radio tersebut.

Dari telinga naik ke mata, dari mata turun ke hati. Dari beberapa kali mendengarkan programnya Rene di radio, saya barusan ini membaca bukunya, dan saya cukup jatuh cinta pada bukunya. Buku Rene yang baru saya baca itu berjudul “Your Job Is NOT Your Career”.

more »

Category: baca-baca  4 Comments

Papa

Jika melihat tayangan film-film keluarga, biasanya seorang ayah sangat protektif dengan anak perempuannya, terutama jika menyangkut pergaulan anaknya dengan teman-teman yang berjenis kelamin laki-laki. Huaaah, sifat protektif tersebut akan dibungkus dengan kegalakan yang bisa membuat teman-teman laki sang anak menjadi keder dibuatnya.

Tidak demikian halnya dengan papa yang saya miliki. Sejak SMP, papa membiarkan saya berteman dengan banyak teman-teman laki-laki. Dari mulai lari pagi, jalan-jalan di siang hari, atau bahkan keluar untuk makan malam, bermain, atau beraktivitas hingga larut malam jika saya memiliki alasan yang tepat. Sampai saat ini, ia pun tidak masalah jika saya travelling ke luar kota dan hanya berdua dengan sahabat laki-laki saya.

Rasa percaya yang ia berikan pada saya. Ya, hal ini yang membuat saya terus belajar bertanggung jawab.

Category: 123  2 Comments

Mama

Setiap ibu biasanya punya nasihat buat anaknya. Mungkin saja itu salah satu perwujudan kasih mereka.

Mama saya juga demikian. Dari sekian banyak wejangannya buat saya, yang paling melekat buat saya adalah ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu saya sedang menceritakan apa yang saya alami di sekolah kepada mama. Cerita detailnya saya lupa. Namun mama tiba-tiba menasihati saya demikian “Jangan merasa dirimu paling pandai, karena pasti ada yang lebih pandai. Namun juga jangan merasa dirimu paling bodoh, karena pasti ada yang di bawahmu. Jangan kamu merasa paling kaya, pasti ada yang lebih kaya. Tapi juga jangan sedih dan merasa kamu paling miskin, pasti ada yang lebih miskin”

Sejak saat itu, saya belajar untuk tidak tinggi hati, tapi juga tidak rendah diri.

Category: 123  Leave a Comment

123

1, 2, dan 3. Sederhana bukan. Iya, sesederhana seperti ketika kita belajar menghitung ketika masih berusia balita. Kita tidak memulainya dengan angka 0, atau dari -1. Tiga angka yang pertama kita sebutkan adalah 1,2 dan 3! Bilangan itu pun kemudian digunakan untuk memulai banyak hal dalam hidup. Yang paling sering adalah dijadikan aba-aba, baik oleh pemimpin paduan suara, wasit dalam pertandingan olah raga, atau ketika kita ingin meniup lilin-lilin di kue ulang tahun kita.

Dalam 123 kata, saya akan mencoba merajut cerita, tentang mereka yang ada di sekeliling saya, keluarga saya, sahabat, teman, atau mereka yang tak sengaja berpapasan dengan saya. Tentang bagaimana mereka telah menginspirasi saya. Tak hanya menginspirasi, tapi mengajarkan saya banyak hal. Cerita sederhana. Cerita yang telah mewarnai hidup saya.

Category: 123  2 Comments

Gadis Papan Luncur

“Slider, Sir! Slider, Miss!”

Namanya Tui, usianya 10 tahun. Dia gadis mungil yang cantik, terutama jika dia tersenyum. Bisa meluluhkan hati, manis sekali. Tapi yang mempesona hati ini bukanlah manis wajahnya, melainkan kepintaran dan sikapnya.

Jika kamu jalan-jalan ke Vietnam, tepatnya jika kamu ke Mui Ne, kamu bisa menemui dia di salah satu objek wisata cantik di sana, Red Sand Dunes (gurun pasir berwarna merah).

Siang hari itu, saya dan Kakilangit, sahabat saya, menapakkan kaki di hamparan pasir merah sambil terus menerus berdecak kagum. Baru beberapa meter kami berjalan, gadis mungil ini menghampiri kami sambil berucap menawarkan papan luncurnya, “Slider, Sir! Slider, Miss!

Kami memang berencana untuk menyewa papan luncur dan meluncur di hamparan pasir Red Sand Dunes seperti yang direkomendasikan beberapa traveller setelah mereka berkunjung ke Mui Ne. Tapi tidak di 5 menit pertama kami datang menginjakkan kaki kami di sana. Hamparan pasir nan cantik itu menggoda kami untuk segera kami abadikan dalam kamera kami.

more »

Category: jalan-jalan  5 Comments

Dua Kursi dan Satu Meja

Malam ini aku butuh dua kursi dan satu meja, untuk aku letakkan di sudut kamarku. Iya, jangan berada di tengah, bantu aku untuk meletakkannya di dekat jendela, bersisian dengan balkon yang menghadap ke luar. Balkon tempat kita bisa menatap langit bertabur bintang dan sepotong bulan bulat penuh. Aku ingin kita bisa merasakan udara segar malam yang menyusup ke dalam kamar, membiarkan angin sesekali menyapa kita yang duduk di atas dua kursi dan ditemani satu meja itu. Akan kubuatkan dua cangkir kopi hitam untuk kuletakkan di atas meja, satu untukmu dan satu untukku.

Beberapa kawanku pernah tergelak mendengar keinginanku meletakkan dua kursi dan satu meja di dalam kamar. Apalagi ketika mendengar bahwa dua kursi dan satu meja yang kumaksud adalah yang terbuat dari kayu atau bambu yang terjalin anyaman lipat, bukan sofa empuk. “Untuk apa dua kursi dan satu meja berada di dalam kamar?” tanya mereka.

Untuk apa? Ah, aku membutuhkannya di saat-saat seperti sekarang. Ketika aku ingin bercakap mengenai rasa, karsa, karya. Bercakap tentang bahagia, sedih, lega dan penat. Tentang keluarga, sahabat, dan juga kawan. Pun mereka yang baru kutemui. Meski tidak kukenal namun raut wajah mereka melekat dalam ingatan. Mereka yang berada di sekitar kita. Ada yang berpeluh karena kerja keras, dan membuatku belajar tentang arti semangat. Ada yang memancarkan guratan duka yang menyentuh hati, dan membuatku ingin menggantinya dengan lukisan senyum. Ada yang tak henti menabur kasih dan menginspirasi untuk berbuat lebih hari demi hari, dan mengajarku arti berbagi.

Aku juga ingin mempercakapkan mimpi-mimpi. Mimpiku, mimpimu, mimpi kita. Tentang esok dan tentang masa depan. Tentang tujuan dan kekhawatiran yang sesekali menyergap. Tentang cita-cita dan semangat untuk meraihnya. Bercakap dan bercakap. Tentang manusia, lingkungan, dan alam. Tentang Tuhan, tuhan dan setan. Tentang imajinasi dan tentang realitas. Bercakap dan bercakap dan bercakap. Aku dan kamu bergantian. Tentang hidup dan setiap titik makna di dalamnya. Bercakap dan bercakap dan bercakap dan bercakap. Hingga tidak ada lagi yang bisa dipercakapkan karena hari benar-benar larut malam dan subuh telah menjelang. Hingga letih. Hingga hanya bisa diam. Hingga hanya terdengar bunyi kita menyeruput kopi bergantian.

Dua kursi dan satu meja. Untuk menikmati percakapan dan untuk menikmati diam.

Aduhai Shanghai!

“Carilah ilmu sampai ke negeri Cina!”

Kira-kira sebulan lalu, saya memang mencari ilmu sampai ke negeri Cina. Maksudnya, saya dikirim kantor untuk ikut salah satu training yang semoga berguna untuk pekerjaan saya. Hehe. Training tersebut memakan waktu 4 hari dan total hari kami di sana 5-6hari. Jika hanya dihabiskan untuk training di hotel rasanya sayang, bukan? Banyak hal-hal yang aduhai indah dan mengasyikkan di Shanghai.

Saya dan sahabat saya, Natalia, pun berhasil memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya untuk jalan-jalan melihat cantiknya kota “atas laut” itu (shang: atas, hai: laut). Sewaktu kami ke sana, sedang berlangsung Shanghai Expo. Seru deh! Tapi yang jauh lebih seru adalah pengalaman kami bersentuhan dengan kota ini, orang-orangnya, dan tempat-tempat cantik di dalamnya.

Ya, ini adalah pengalaman kami ke Shanghai. Tanpa ‘lonely planet‘ di saku, namun berbekalkan info seadanya dari internet dan buku poket ‘Latihan Percakapan Harian Mandarin‘, kami pun melangkah dengan percaya diri. Hasilnya? Tentu saja kami terbentur sana-sini! Hehehe. Nah, berikut saya bagi-bagi sedikit tips jika kamu hendak berpergian ke Shanghai.

more »

Category: jalan-jalan  4 Comments

Candu Topeng Kaca

Saya seorang pencandu. Saya kecanduan membaca komik Topeng Kaca (Garasu No Kamen). Saya membaca puluhan atau mungkin ratusan serial komik jepang atau yang disebut juga manga. Tapi serial yang satu ini mampu menyihir saya secara luar biasa. Maksudnya luar biasa adalah, ya itu, saya kecanduan. Saya tidak bosan-bosan untuk membacanya berulang kali.

Topeng Kaca berkisah tentang kecintaan seorang gadis kecil terhadap akting dan dunia teater. Namanya Maya Kitajima. Dia seorang yang biasa-biasa saja. Cenderung diremehkan banyak orang bahkan. Namun bakat akting Maya ditemukan dan diasah oleh mantan aktris besar Mayuko Tsukikage, seseorang yang memiliki hak pementasan karya agung yang disebut Bidadari Merah. Tersebutlah pula Ayumi Himekawa yang menjadi saingannya di sepangjang karir aktingnya. Ayumi terlahir dari keluarga aktor/aktris terkenal, cantiknya luar biasa dan kemampuan aktingnya juga hebat. Maya dan Ayumi kemudian memperebutkan peran sebagai Bidadari Merah. Perjalanan mereka dari akting yang satu ke akting yang lain apik di jalin oleh pengarangnya, Suzue Miuchi. Tak lupa, ada juga bumbu kisah percintaan Maya dan Masumi Hayami.

more »

Category: baca-baca  10 Comments