Home > politikana > Cicak, Buaya dan Tikus di Taman Belajar

Cicak, Buaya dan Tikus di Taman Belajar

November 8th, 2009

cicak buayaKemarin sore, saya ke rumah sahabat saya. Sahabat saya memiliki taman belajar gratis di tiap sabtu sore bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Sekitar duapuluhan hingga tigapuluhan anak dengan semangat tinggi datang untuk belajar di sana.

Keluwesan sahabat saya dalam bertutur, semangatnya untuk berbagi ilmu, dan kecintaannya kepada anak-anak, telah berhasil menawan hati anak-anak yang berusia lima hingga tiga belas tahun itu. Inti pelajaran yang diberikan adalah bahasa inggris, namun kemasannya sangat beragam. Mulai dari tanya jawab, bertutur, bercakap, bercerita dongeng, bernyanyi, bermain, sampai dengan diskusi.

Nah, kemarin itu sahabat saya cukup mengagetkan saya dengan mengangkat topik diskusi Cicak-Buaya di kelasnya. Iya, sahabat saya itu mengajak anak-anak didiknya untuk berdiskusi mengenai topik hangat yang sedang terjadi di tanah air ini. Rupanya anak-anak itu cukup merasa dekat dengan isu tersebut, namun tidak mengetahui apa yang terjadi. Ya, tentu saja mereka mengetahui isu itu dari bombardir siaran televisi belakangan ini.

Alhasil, jadilah kemarin itu terjadi sebuah diskusi politik yang sederhana. Sahabat saya menjelaskan tentang apa itu lembaga KPK dan perannya, tugas polisi, pengertian korupsi dan koruptor, hingga korelasinya dengan cicak dan buaya (dan juga tikus). Untuk memudahkannya dalam menjelaskan, beberapa anak diminta ke depan untuk berpura-pura menjadi cicak, buaya, dan tikus. Tak lupa, sahabat saya juga menjelaskan tentang istilah-istilah wewenang, menyadap, dan menyogok, lengkap dengan kosa kata bahasa inggrisnya dan moral dari kejadian ini.

Hal yang menarik buat saya adalah ternyata sebagian besar anak-anak itu cukup antusias dalam berdiskusi tentang hal ini. Kedekatan mereka dengan media televisi rupanya membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Informasi yang sepotong-sepotong mereka terima bisa jadi akan menyesatkan cara berpikir mereka. Misalnya, ketika sahabat saya itu bertanya kepada mereka,

“Ayo, siapa yang tahu tugasnya polisi itu apa???”

dan mereka menjawab spontan,

“Menangkap KPK!!!”

(glek, saya tersedak dan tertawa-tawa pada saat ini terjadi)

Adalah kita, saya dan anda, yang dapat berbuat sesuatu kepada adik-adik dan anak-anak di sekitar kita. Bahwa bekal untuk menyongsong masa depan tidak cukup dengan matematika, ilmu alam, bahasa, agama. Bahwa pendidikan politik sejak dini juga akan membantu menciptakan generasi kritis dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

terima kasih buat sahabat saya, si senyumpagi, yang tak henti menginspirasi saya dengan taman belajarnya

Author: virtri Categories: politikana Tags:
  1. November 10th, 2009 at 05:43 | #1

    memang…
    suka tidak suka..politik adalah cara untuk mengubah suatu sistem atau kondisi menjadi lebih baik.

  2. ika
    November 10th, 2009 at 17:37 | #2

    huehehhehe..duh susah nya ngomong politik ke anak-anak..keringat dingin aku dibuatnya :)

  3. November 16th, 2009 at 21:04 | #3

    @ilma
    politik sudah terlanjur dicap kotor oleh banyak orang, sehingga tidak sedikit yang tidak menyukai politik.. padahal politik itu seru loh! :D

    @ika
    hihihi, ah.. kamu guru yang handal ika (dan juga seksi! hehe)

  4. November 27th, 2009 at 21:35 | #4

    Paparan menarik, menunggu bahasan lebih lanjut. Terimakasih dan salam dari Redaksi KamusHukum.com.

  5. January 1st, 2010 at 09:12 | #5

    hehehe… tempat temanmu yg belom aku kunjungi lagi…. :p

    dulu, di kampus ada kaos yg sangat populer dg tulisan: don’t believe in tv…hihihi… mungkin, anak² pun pusing juga ketika berbagai pihak mengeluarkan pandangannya di tv. namun, dengan celetukan berjamaah itu, paling tidak anak² sdh bisa mengambil kesimpulan, walo salah…. hehehehe…

    *tring*

  6. January 2nd, 2010 at 19:01 | #6

    @Redaksi kamushukum
    terima kasiiihhh :)

    @rouf
    kemaren di grebeg buku jogja, aku juga ngeliat kaos dengan gambar TV dimasukin ke tempat sampah, mas. tadinya mau aku beli, tapi terus ga jadi, dan aku bilang sama temenku, “umm, tapi nanti orang2 jadi ga bisa liat iklan Combantrin-ku di TV” hehehe…

  7. January 5th, 2010 at 04:13 | #7

    thanks… atas inspiring story-nya ;)
    Jd terinspirasi ingin membuat taman belajar spt itu, tp utk anak2 sendiri dulu aja deh yaaa…. (“balas dendam” selama ini kurang “mendidik” anak… hehe… resolusi tahun baru!)

  8. January 6th, 2010 at 22:14 | #8

    @mb ni
    ditunggu loh cerita tentang “mendidik anak sendiri” yang bisa menginspirasi banyak orang di !nspirer post di mostlook.com ;)

  1. No trackbacks yet.